MELALUI RUANG

Friday, November 13, 2020

Drama Korea 18 Again: Drama Keluarga yang Menyentuh

November 13, 2020 0
Drama Korea 18 Again: Drama Keluarga yang Menyentuh

Baru-baru ini saya telah selesai menonton drama korea 18 Again di platform daring Iqiyi. Drama 18 Again merupakan adaptasi dari film Amerika berjudul 17 Again. Drama ini begitu kental akan hubungan keluarga dan persahabatan yang bisa dibilang relate dengan kehidupan sebagian orang. Drama tentang keluarga selalu mampu membuat hati saya tersentuh.

Drama Korea 18 Again
(sumber: AsianWiki)

Alur Cerita

Nah, sebenarnya menceritakan tentang apa sih 18 Again? Drama 18 Again berkisah tentang seorang pria berusia 37 tahun bernama Hong Dae Young (diperankan oleh Yoon Sang Hyun) yang kehidupan rumah tangganya kacau, bahkan di ambang perceraian. Suatu ketika Dae Young membuat permohonan agar ia bisa kembali kepada istrinya, Jung Da Jung (diperankan oleh Kim Ha Neul), walaupun sebenarnya tidak sesederhana itu. Lalu, seusai meminta permohonan itu, ia tiba-tiba kembali ke wujud ketika usianya 18 tahun (Dae Young muda diperankan oleh Lee Do Hyun).

Setelah kembali muda, awalnya Dae Young berniat kembali meraih impiannya sebagai pemain basket yang sempat tertunda, karena harus menikah muda. Namun, ketika ia kenal dan lebih dekat dengan anak-anaknya di sekolah sebagai teman (Dae Young menyamar sebagai Woo Young), ia sadar bahwa ia harus memperbaiki kesalahannya di masa lalu. Selama itulah banyak hal yang tidak pernah ia ketahui tentang istri dan anak-anaknya (Hong Shi Ah dan Hong Si Woo) terkuak.

Adegan kilas balik dalam 18 Again ini turut menjadi pelengkap, bagaimana semuanya bermula. Penonton diajak untuk bernostalgia ketika Dae Young dan Da Jung muda. Ada kejadian-kejadian yang begitu manis, tapi juga kelewat pahit. Banyak hal yang Dae Young ataupun Da Jung sembunyikan ketika mereka menikah, hanya karena berpikir untuk menjaga perasaan masing-masing. Pada akhirnya ketidakjujuran tersebut membuat mereka terluka. Prasangka dan spekulasi bahkan memperburuk keadaan.

Sibuk bekerja demi bertahan hidup, sibuk bertengkar satu sama lain dan menutupi perasaan masing-masing, Dae Young dan Da Jung pun lalai dalam perannya sebagai orang tua bagi Shi Ah dan Si Woo yang menginjak remaja. Mereka tidak tahu apa yang anak-anaknya inginkan dan alami di sekolah. Anak-anaknya pun menjaga jarak, karena merasa mereka adalah beban orang tua. Setiap kali Dae Young dan Da Jung bertengkar, itu begitu melukai hati Shi Ah dan Si Woo.

Ada satu quote yang saya ingat sekali, "Orang tua yang bahagia akan membesarkan anak-anak yang bahagia." Saya sependapat. Kenyataannya Dae Young dan Da Jung mengalami banyak kepahitan. Namun, di antara kejadian pahit tetap ada hal manis. Dan itu adalah kekuatan untuk tetap bertahan.

Karakter

Menurut saya di drama 18 Again ini banyak karakter yang lovable, sehingga saya kesulitan memilih mana yang terbaik. Setiap karakter memiliki perkembangan yang unik dari awal cerita hingga akhir. Lalu, atribut-atribut yang melekat pada karakter juga beralasan dan bisa menggerakkan cerita. Contohnya sifat overprotective Dae Young kepada anak-anaknya. Itu disebabkan, karena Dae Young ingin anak-anaknya hidup lebih baik daripada dirinya. Lalu, sifat tertutup Shi Ah dan Si Woo disebabkan karena mereka tahu, bahwa orang tua mereka tidak mau mendengarkan pendapat mereka. Semua selalu berakhir dengan pertengkaran.

Selain karakter utama, karakter pendukung di 18 Again ini juga menarik banget. Kisah Ye Ji Hoon si pemain baseball yang naksir Da Jung ini sangat menyentuh. Ternyata apa yang diberitakan di media berita tentang sifat Ji Hoon begitu jauh dengan kenyataan sesungguhnya. Lalu, kisah percintaan sahabat Dae Young yang bernama Deok Jin dengan Bu Ok (guru di SMA Serim) itu kocak dan menyentuh. Hingga kisah Ja Sung (diperankan oleh Hwang In Yeop)—teman sekelas Shia Ah yang merupakan perundung Si Woo—pun dijelaskan, kenapa ia bersikap kasar dan sewenang-wenang.

Semua karakter pendukung di 18 Again itu memiliki fungsi yang pas dan tidak sia-sia keberadaannya. Bahkan direktur JBC yang menyebalkan di tempat Da Jung bekerja pun punya fungsi tersendiri.  Oh iya, ada lagi satu karakter yang lebih menyebalkan daripada direktur JBC, yaitu guru olah raga, Il Kwon. Il Kwon ini asli ngeselin, tapi ya keberadaannya memang berpengaruh ke alur dan melengkapi.

Ending

Saya tidak akan spoiler ending 18 Again bagaimana, tapi overall saya puas dengan ending 18 Again. Semua pertanyaan dalam cerita terjawab dengan cara yang masuk akal, walaupun masih agak penasaran dengan bapak tua pelanggan jasa perbaikan mesin cuci yang sempat Dae Young tangani.

Satu hal lagi, saya suka banget dengan soundtrack di drama 18 Again. Terutama Hello yang dinyanyikan oleh Sohyang dan Somebody oleh Clara C. Rasanya terenyuh dengerin lagu itu.

Saturday, October 3, 2020

Review TV Series Cross Fire

October 03, 2020 0
Review TV Series Cross Fire

Apa sih yang menarik dari Cross Fire?

Seusai menonton serial Bad Genius, saya mencari secara acak serial televisi lainnya. Lalu, saya menemukan Cross Fire dengan premis yang menurut saya menarik. Cross Fire terbilang memiliki jumlah episode yang banyak dalam satu musim, yaitu 36 episode, dengan durasi per episode sekitar 45 - 60 menit. Serial televisi ini release tahun 2020 dan bisa ditonton di WeTV ataupun Iflix. Kalian bisa menontonnya secara gratis, tapi tentu saja ada iklannya. Jika ingin menonton tanpa gangguan iklan, kalian bisa berlangganan OTT tersebut.

Chinese Drama Cross Fire
Sumber: Drama Wiki


Cross Fire merupakan serial televisi China yang bertema e-sport. Dan, ini pertama kalinya saya menonton serial televisi bertema e-sport. Serial televisi tersebut diadaptasi dari game dengan judul yang sama. Cross Fire menceritakan dua gamer yang saling bertemu di permainan, tapi mereka berada di tahun yang berbeda; Xiao Feng (diperankan oleh Luhan) adalah ketua tim 1Coin dan Lu Xiao Bei (diperankan oleh Leo Wu) adalah seorang gamer yang ingin menjadi pemain profesional. Akhirnya keduanya akrab dan saling membantu. Tapi, apakah benar hanya sampai di situ? Ada suatu kejadian mengejutkan yang menjadi benang merah antara Xiao Feng dan Lu Xiao Bei. Xiao Feng dan Lu Xiao Bei bertemu bukan tanpa alasan.

Saya pikir, episode yang banyak membuat saya akan bosan di beberapa bagian, tapi Cross Fire tidak kehilangan intensitasnya di setiap episode, walaupun tidak semua episode ada cliffhanger-nya. Tahu lah kalian yang sering menonton serial Korea, hati kalian dibuat terombang-ambing dan terus bertanya-tanya di akhir episode. Itulah yang disebut dengan cliffhanger. Nah, pada Cross Fire hanya di beberapa episode, tapi itu tidak membuat saya berhenti penasaran dengan kisah Xiao Feng dan Lu Xiao Bei. Petunjuk ditebar dan misteri dibuka satu per satu tanpa terburu-buru.

Sedikit informasi bahwa Xiao Feng hidup di tahun 2008, sedangkan Lu Xiao Bei hidup di tahun 2019. Xiao Feng dan Lu Xiao Bei bermain di map Transport Ship, yang mana waktu tahun 2008 Lu Xiao Bei pernah bermain dengan kakaknya di map tersebut. Setelah saya sedikit mencari tahu tentang map yang ada di Cross Fire, ternyata jumlah map-nya luar biasa banyak. Map Transport Ship sendiri memiliki beberapa versi. Dan memang game Cross Fire release di China tahun 2008. Saat itu dunia game belum berkembang pesat seperti sekarang. Itulah sebabnya Xiao Feng mengalami banyak kesulitan ketika menjadi gamer saat itu. Banyak orang yang meremehkan 1Coin dan menganggap game hanya akan membuat kecanduan. Intinya, belum banyak apresiasi untuk atlet e-sport. Berbeda dengan tahun 2019, Lu Xiao Bei bahkan mengikuti kompetisi untuk masuk ke tim profesional. Banyak kompetisi di tingkat kota, nasional, bahkan internasional.

Karakter-karakter dalam Cross Fire

Berada di setting waktu yang berbeda tentu membuat alur cerita Cross Fire semakin kompleks, ditambah jumlah karakter penting di Cross Fire juga banyak. Xiao Feng memiliki dunianya sendiri dan konflik dengan teman-temannya, begitu pula Lu Xiao Bei; sampai keduanya saling terhubung.

Luhan dan Leo Wu ini berhasil memainkan karakter Xiao Feng dan Lu Xiao Bei dengan baik. Mereka juga memiliki chemistry yang kuat dan meyakinkan. Bahkan chemistry kedua pemain utama dengan pemain pendukung lainnya juga tidak diragukan lagi. 

Xiao Feng adalah seorang pemuda yang tidak memiliki pekerjaan, hidup seadanya, tengil, jujur, berkarisma dan memiliki prinsip yang kuat. Luhan benar-benar menggambarkan sosok Xiao Feng dengan apik, baik dari penampilan maupun pembawaan. Beberapa orang mungkin tahu, bahwa Luhan ini memiliki image baby face, tapi siapa sangka ia bisa membangun karakter Xiao Feng yang tengil dan 'pemberontak'.

Sementara itu, Lu Xiao Bei adalah seorang remaja yang duduk di kursi roda, hidup di keluarga berkecukupan, pandai membuat taktik dalam permainan, memiliki tekad kuat, agak savage (Eh, bukan agak lagi). Namun, hubungannya dengan ayahnya tidak terlalu baik. Ayah Lu Xiao Bei bisa dibilang terlalu protektif. Seperti halnya Xiao Feng, Lu Xiao Bei sangat menghargai persahabatan. Dan, Leo Wu mendalami perannya dengan baik sebagai seorang yang berkebutuhan khusus, mengalami berbagai tekanan, dan luka dari masa lalu yang tidak bisa dia lepaskan.

Selain itu yang membuat saya puas menonton Cross Fire adalah perkembangan setiap karakternya. Seiring berjalannya cerita, setiap tokoh mengalami perkembangan yang masuk akal, tidak mengada-ada. Semua sifat yang melekat pada karakter memiliki fungsi ketika tokoh mengambil keputusan (yang tentunya akan memajukan alur cerita), sehingga tidak sia-sia dan sekadar tempelan.

Banyak quote dari Cross Fire yang saya sukai, tapi kesalahan saya adalah tidak mencatatnya saat itu juga. Dan yang paling saya ingat adalah ucapan Xiao Feng, "Laki-laki harus memiliki kepercayaan diri yang tidak realistis jika ingin sukses." Sebenarnya tidak semata-mata kepercayaan diri sih. Perjuangan yang dilakukan Xiao Feng ini juga tidak mudah. Banyak hal yang harus dia korbankan. Banyak keringat dan air mata. Jika dia tidak bertekad dan terus maju, dia mungkin akan berakhir menjadi seseorang yang menyedihkan.

Nah, kalian sudah cukup penasaran belum dengan serial Cross Fire? Menurut saya worth it kok untuk ditonton. Ada kisah persahabatan, keluarga, percintaan, kompetisi, impian. Ada tawa, ada air mata (episode 11 menurut saya paling banyak menguras air mata).

Monday, April 20, 2020

Review Novel Credit Roll of the Fool (Hyouka 2)

April 20, 2020 2
Review Novel Credit Roll of the Fool (Hyouka 2)
Penulis: Yonezawa Honobu
Penerbit: Haru Media
Tahun terbit: 2018
Jumlah halaman: 260

Blurb
Oreki Hotaro lagi-lagi terseret oleh rasa ingin tahu Chitanda Eru. Melawan keinginannya, kali ini Hotaro harus menebak penyelesaian skenario naskah film misteri kelas 2-F yang akan ditayangkan saat Festival Kanya nanti.

Seorang siswa terjebak dalam kamar tertutup bangunan terbengkalai, mati setelah tangannya terpotong. Namun, siapa yang membunuh? Bagaimana caranya? Film itu selesai begitu saja tanpa penjelasan. Hotaro-lah yang bertugas menebak siapa dan bagaimana trik pembunuhan itu dilakukan.

Namun, hanya itukah masalahnya? Atau ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar menyelesaikan skenario film?
***

Ini dia ulasan buku kedua Hyoka yang berjudul Credit Roll of the Fool. Baru saya baca bulan April ini dan syukurlah selesai tanpa penundaan-penundaan. Ngomong-ngomong, dua hari lalu saya baru saja beli buku ketiganya, the Kudryavka Sequence. Tunggu ulasan selanjutnya ya. Kalau belum baca ulasan buku pertama bisa klik di sini.

Beberapa waktu lalu saya sempat membaca fakta novel Hyouka di Instagram penerbit Haru. Ternyata awalnya Hyouka ini hanya ada 3 buku. Namun, saat Yonezawa Honobu sudah merampungkan novel ketiganya, penerbit yang menaungi dua buku Hyouka sebelumnya tutup. Lalu ada penerbit lain yang menanyakan apakah Yonezawa memiliki naskah novel. Yonezawa pun mengajukan novel Hyouka ketiga. Penerbit baru itu meminta novel tersebut diubah menjadi novel baru (bukan terusan Hyouka), maka terbitlah novel Sayonara Yosei atau Goodbye Fairy (Novel Goodbye Fairy ini juga akan diterbitkan oleh penerbit Haru). Setelah beberapa lama, akhirnya penerbit Hyouka kembali buka dan memutuskan untuk melanjutkan buku Hyouka. Jadilah Hyouka ini berlanjut sampai buku keenam.
Novel Credit Roll of the Fool oleh Yonezawa Honobu diterbitkan oleh penerbit Haru
Novel Credit Roll of the Fool ©

Kasus di buku kedua ini bercerita tentang naskah skenario film yang belum rampung. Film itu sendiri tentang cerita misteri pembunuhan di ruang tertutup. Kalau sudah soal pembunuhan di ruang tertutup saya langsung mikir ini penyelesainnya akan rumit atau sebaliknya cara yang terlampau sederhana sampai tidak terpikirkan.

Sejak awal membaca sudah banyak kejanggalan yang ditampilkan, seperti tidak rampungnya skenario, apa yang sebenarnya terjadi dengan penulis skenario, kenapa harus Hotaro yang menebak trik akhir, bagaimana menciptakan pembunuhan di ruang tertutup. Tentu saja semua pertanyaan-pertanyaan itu akan terjawab di akhir cerita. Dan, memang tidak tertebak apa yang sebenarnya terjadi, walaupun saya sudah mencium keanehan-keanehan di awal. Soal alur, jelas buku kedua lebih rumit dari yang pertama, karena di buku kedua juga melibatkan analisis orang dari luar Klub Sastra Klasik. Belum juga manipulasi dari pihak luar.

Di dalam novel kedua ini terdapat beberapa analisis, salah satunya adalah analisis milik Hotaro. Ketiga analisis lainnya adalah milik siswa kelas 2-F itu sendiri. Secara keseluruhan, saya paling puas dengan analisis milik Hotaro. Namun, apakah analisis milik Hotaro memang yang diharapkan oleh penulis skenario? Temukan jawabannya setelah membaca Credit Roll of the Fool.

Yang paling berkesan dari Credit Roll of the Fool adalah cara penulis menyisipkan petunjuk-petunjuk dari setiap analisis orang yang berbeda. Sampai ada juga perbedaan novel detektif di era Arthur Conan Doyle dengan era Agatha Christie. Berkat itu saya jadi sedikit paham era cerita-cerita detektif. Selama ini saya membaca novel-novel detektif ya tinggal baca saja. Tidak kepikiran mendalami perbedaan-perbedaannya. Misalnya, disebutkan bahwa di masa Arthur Conan Doyle belum ada kasus pembunuhan yang menggunakan trik eksplisit. Trik eksplisit muncul saat era Agatha Christie. Selain itu ada juga istilah 10 Commandments dalam cerita detektif yang digagas oleh Ronald Knox. Sepuluh Firman oleh Knox tersebut berisi hal-hal yang harus dihindari dalam cerita detektif. Kalau mau tahu detailnya bisa Googling, banyak banget situs yang membahasnya.

Anyway, bagi pecinta novel misteri patut mencicipi buku series yang ditulis Yonezawa ini. Saya lagi berusaha baca semua seriesnya. Di Indonesia sendiri baru ada empat buku yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh penerbit Haru. Untuk buku kelima (the Approximation of the Distance of Two) dan keenam (Even Though I'm Told I Now Have a Wings) semoga juga akan diterbitkan dalam bahasa Indonesia.

Jangan sungkan tinggalkan komentar di kolom komentar ya. Terima kasih telah berkunjung di Melalui Ruang.

Thursday, March 19, 2020

Hero Coffee di Kota Lama Semarang

March 19, 2020 0
Hero Coffee di Kota Lama Semarang
Alamat: Jl. Kepodang No.33, Purwodinatan, Kec. Semarang Tengah, Kota Semarang, Jawa Tengah 50137

Di Kota Lama Semarang memang banyak tersebar kedai kopi, sampai-sampai saya ingin menjelajahi semuanya. Saya tahu Hero Coffee saat mengikuti festival literasi Patjar Merah tahun lalu. Kebetulan gedung untuk acara tersebut bersebelahan dengan Hero Coffee. Dalam hati saya berencana untuk mampir. Yah, tapi baru kesampaian akhir-akhir ini.
Hero Coffee Kota Lama Semarang
Bagian Depan Hero Coffee ©

Ketika memasuki Hero Coffee, interior café tersebut langsung mencuri perhatian saya. Dinding Hero Coffee mempertahankan dinding lama yang catnya tampak mengelupas, tapi justru seninya di situ. Beberapa dekorasi retro pun tertempel di dinding.

Area dalam sangat luas dan langit-langitnya tinggi. Konsep dapur di Hero Coffee ini opened kitchen dan berada di ruang pertama. Setelah ruang pertama ini ada area outdoor lagi (selain area outdoor di depan café). Lalu masuk lagi masih ada sitting area, toilet dan musala.

Menu kopi yang disediakan di Hero Coffee ini sangat lengkap, sampai saya bingung mau pesan yang mana. Ada kategori espresso classic yang menunya yaitu, espresso, doppio, piccolo, guillermo, espresso con panna, coffee con hielo, macchiato, flat white, long black, cream brule, americano, cappuccino, affogato, mochacino, dan caffe latte. Nah, banyak banget kan, itu baru satu kategori. Ada kategori single origin yang cara seduhnya macam-macam, mau pakai metode tubruk, pour over pakai kalita ataupun V60, aero press, french press, bahkan syphon. Selain itu, ada kategori signature alias minuman yang racikannya cuma Hero Coffee miliki. Agak lupa apa saja, yang paling saya ingat adalah terracheese dan espresso wave.
Cream Brule Coffee di Hero Coffee Kota Lama Semarang
Cream Brule Coffee ©

Setelah melihat begitu banyak menu kopi yang menggiurkan, saya bersikeras untuk kembali ke Hero Coffee lagi. Untuk kunjungan kali ini saya mencoba cream brule coffee dan terracheese. Cream brule coffee terbuat dari espresso dan susu karamel dengan brown sugar yang dilumerkan di bagian atasnya. Rasa kopinya tidak over powering, tapi tetap kuat. Tidak terlalu manis. Sementara terracheese adalah perpaduan kopi, tiramisu, es krim, keju. Namun, bagi saya terracheese terlalu manis dan heavy.

Menu makanan juga bervariasi, dari snack hingga makanan berat. Sebenarnya saya tidak terbiasa minum kopi sambil makan berat, tapi saat itu saya kelaparan. Alhasil saya memesan rice bowl shredded beef alias rice bowl daging suwir. Di luar dugaan porsinya bikin kenyang. Nasinya harum, tampaknya digoreng dengan margarin dan bawang. Lalu ada sayuran yang ditumis dan tentu saja daging suwirnya. Sayangnya saus daging suwirnya terlalu asin. Namun, overall saya menikmati menu tersebut.

Overall, Hero Coffee sangat recommended baik dari menu, area, dan pelayanan. Waktu tunggu menu keluar normal dan harga menu bisa dibilang menengah ke atas. Area memadai untuk kelompok besar. Kebetulan saat saya datang ada rombongan ibu-ibu dan bapak-bapak. Friendly untuk yang suka kopi atau tidak, karena ada minuman non kopi juga. Mau untuk nongkrong, diskusi, atau makan saja, Ok.

Saturday, March 14, 2020

Review Drama Mandarin The Big Boss season 2

March 14, 2020 0
Review Drama Mandarin The Big Boss season 2
Sebelumnya saya sudah menulis ulasan The Big Boss season 1 di sini, silakan baca dulu. Sebelum membahas season 2 (16 episode), saya jelaskan sedikit gambaran tentang drama mandarin The Big Boss. The Big Boss ini diangkat dari manhua dengan judul Ban Zhang Da Ren karya Chen Lan. The Big Boss berkisah tentang kehidupan SMA seorang remaja perempuan bernama Ye Mu Xi (nickname: Yezi). Ia memiliki musuh bebuyutan bernama Liao Dan Yi, seorang remaja laki-laki yang pintar dan dingin. Sifat Dan Yi sangat bertolak belakang dengan Yezi. Selama 9 tahun belajar Yezi selalu sekelas dengan Dan Yi. Selama itu pula Dan Yi selalu menjadi ketua kelas yang sering mengatur Yezi, karena Yezi pemalas dan nilainya jelek.

Saat SMA Yezi pikir ia akan terbebas dari Dan Yi, ternyata ia salah. Dan Yi masuk ke sekolah yang sama dengannya. Lebih parahnya mereka sekelas lagi. Semestinya Dan Yi berada di kelas 1, tapi gara-gara sakit ia tidak hadir di ujian penentuan kelas. Alhasil ia berada di kelas 10, kelas paling buruk nilainya. Tidak ingin diatur oleh Dan Yi, Yezi pun memberanikan diri untuk mengajukan diri menjadi ketua kelas.

Jika untuk season 1 tidak fokus dengan hubungan asmara, maka tidak dengan season 2. Di season 2 ini mulai terlihat kisah percintaan para tokohnya. Dan ketahuilah, setelah nonton season 2 saya baru sadar Liao Dan Yi yang dingin ternyata sebucin itu sama Yezi. Sementara itu, Xue Xiao Dong si artis yang tadinya tidak bisa sekolah, karena terlalu sibuk dan banyak dikejar-kejar fans sehingga tidak leluasa, akhirnya menunjukkan perasaannya kepada Yezi. Namun, Yezi yang kurang peka itu hanya menganggap kebaikan Xue Xiao Dong sebagai kebaikan antar teman. Lalu, ketua kelas 1 yang naksir berat dengan Dan Yi itu, selalu kena apes saat mencoba mendekati Dan Yi atau saat membayangkan kebersamaannya dengan Dan Yi. Kocak sih bagian ini.

Di season 2 ini Nenek Dan Yi masih muncul dan ada konflik baru juga terkait Nenek Dan Yi dan Ayah Dan Yi. Permasalahan itu juga sempat membuat hubungan Dan Yi dan Yezi renggang. Bahkan Dan Yi memutuskan untuk mengajukan transfer kelas. Meskipun beberapa kali dibuat kesal oleh Dan Yi, tapi Yezi merasa kehilangan saat Dan Yi tidak berada di sekitarnya. Terus gimana dong hubungan keduanya berlanjut? Akan terus musuhan atau lebih parahnya menjadi asing satu sama lain? Nonton deh.

Sesungguhnya saya kecewa dengan season 2, karena menurut saya editing-nya berantakan. Banyak adegan tidak penting yang mengganggu dan plot hole di beberapa adegan. Seolah-olah adegan itu cuma untuk nambah-nambahin durasi. Ada juga konflik yang menurut saya penting, tapi tidak ada penyelesaiannya. Sangat disayangkan. Namun, sekitar 3 episode terakhir editing-nya mulai rapi lagi. Saya merasa yang nge-direct beda orang, terus editor jadi kesulitan menyunting gambar. Entahlah yang bermasalah yang mana.

Sedikit contoh bagian yang merusak season 2 (spoiler alert):
1. Adegan tidak penting
Ngapain sih ada adegan Huang Nan, Huang Yi, dan cewek yang suka meramal (lupa namanya siapa) tasnya nyangkut di pohon. Adegan itu sama sekali tidak ada sangkut pautnya sama plot di episode tersebut. Adegannya juga cuma beberapa detik, semestinya dihapus saja.

2. Plot hole
Di suatu episode sudah masuk masa liburan. Bahkan Dan Yi sudah mulai ikut pelajaran tambahan untuk Olimpiade, sedangkan Yezi bermalas-malasan di rumah. Eh, kok di episode selanjutnya ada adegan nongkrong teman-teman Yezi, tapi mereka pakai seragam. Kayak habis pulang sekolah.

3. Konflik yang tidak diberikan penyelesaian
Jadi ada masalah yang membuat Ayah Dan Yi tidak suka dengan Yezi. Lalu Ayah Dan Yi menyuruh Dan Yi menjauhi Yezi. Sebenarnya konflik tersebut bisa dikembangkan dan diberi penyelesaian daripada menyisipkan adegan tidak penting yang sama sekali tidak ngaruh ke alur. Bisa kan pada akhirnya dibuat Ayah Dan Yi melunak.

Sebelumnya sempat saya singgung betapa bucinnya Dan Yi ke Yezi, sebenarnya dalam arti positif sih. Dan Yi ingin Yezi mandiri dan lebih bertanggungjawab, makanya ia rela sekelas terus sama Yezi. Sebab menurutnya dengan sekelas ia bisa lebih leluasa mengawasi perkembangan akademik Yezi. Di akhir cerita kan mestinya Dan Yi pindah ke kelas 1, tapi ia tidak jadi pindah. Again and again, Dan Yi alasan sakit, jadi ia tidak ikut ujian kepindahan kelas. Ini membuat saya berspekulasi, jangan-jangan waktu awal-awal masuk sekolah ia juga pura-pura sakit biar bisa sekelas sama Yezi. Oh my… Hahaha…

Ok segitu saja, nanti saya kebanyakan spoiler lagi. Nonton saja untuk tahu detailnya.

Karena tak ada satu pun hal darimu yang hanya sepele bagiku. (Dan Yi kepada Yezi)

Thursday, March 12, 2020

Fiksi: Plot Driven vs Character Driven

March 12, 2020 0
Fiksi: Plot Driven vs Character Driven
Sebelumnya, ketika menulis cerita fiksi saya tidak terlalu memerhatikan mau menggunakan plot driven atau character driven. Biasanya lebih fokus ke genre, tokoh, alur, dan POV. Tanpa saya sadari, saya lebih banyak berkutat di plot driven. Lalu, saat kelas menulis skenario Ernest Prakasa, plot driven dan character driven sedikit disinggung. Semenjak itu jadi cari tahu lebih tentang plot driven dan character driven. Apakah itu plot driven dan character driven? Apa perbedaan dari keduanya? Simak penjelasan saya berikut.
Plot Driven Story vs Character Driven Story
©️

Plot Driven

Cerita fiksi yang ditulis menggunakan plot driven umumnya fokus terhadap kejadian eksternal yang akan mendorong cerita terus bergerak. Tujuan dari cerita juga akan lebih eksternal, karena plot driven fokus pada pengembangan situasi. Ciri-ciri cerita plot driven biasanya terdapat plot twist, ada aksi, dan konflik eksternal.

Pada umumnya tokoh di cerita plot driven dipaksa untuk mengambil tindakan cepat. Tindakan tokoh tersebutlah yang akan berdampak ke pengembangan karakter dan plot. Contoh cerita fiksi yang  kerap menggunakan plot driven adalah cerita fantasi, misteri, romance.

Pada cerita plot driven, plot ibaratkan lintasan yang harus diikuti oleh pembaca. Kekuatan utama dari cerita tersebut ya ada pada plotnya. Sebisa mungkin pembaca harus dibawa naik turun agar bisa merasakan sensasi cerita.

Character Driven

Cerita fiksi dengan character driven berfokus pada tokoh dan perubahan internal. Konflik yang terjadi pun adalah konflik internal. Ketika pembaca membaca cerita jenis ini, mereka akan ikut memikirkan perilaku, pikiran, tindakan, perasaan, keputusan, dan perubahan yang terjadi terhadap tokoh. Hal-hal internal tokoh itulah yang akan membentuk keseluruhan cerita.

Saya sempat bereksperimen membuat cerita pendek menggunakan character driven. Cerita tersebut bisa dibaca di sini. Cerita tersebut menggunakan POV orang pertama, karena menurut saya akan lebih leluasa menggambarkan pikiran dan perasaan si tokoh. Jadi lebih deep, karena yang berbicara si tokoh itu sendiri.

Jadi, sebelum menulis cerita pilih dulu faktor pendorong cerita, mau plot driven atau character driven. Lalu bereksperimenlah dengan tulisanmu.

Terima kasih telah berkunjung di Melalui Ruang. Silakan tinggalkan komentar. Mari berdiskusi!

Saturday, February 29, 2020

Situs Gramedia Writing Project Bertransformasi

February 29, 2020 2
Situs Gramedia Writing Project Bertransformasi
Di artikel sebelumnya saya sempat membahas writing platform di Indonesia, salah satunya GWP (klik di sini). Namun di saat itu tampilan GWP masih lawas, sekarang GWP telah bertransformasi dengan tampilan yang lebih fresh. Alamat situs yang semula gwp.co.id pun berganti menjadi gwp.id.

Gramedia Writing Project

Sebelum membahas perbedaan GWP dulu dan sekarang, kenalan sebentar yuk dengan GWP. Apa sih GWP itu? Gramedia Writing Project alias GWP adalah
platform menulis yang dinaungi oleh Gramedia. Siapa pun yang menulis di GWP memiliki kesempatan diterbitkan karyanya dalam bentuk digital ataupun cetak oleh penerbit yang tergabung dalam Gramedia. Penerbit tersebut adalah Gramedia, Elexmedia, Grasindo, BIP, KPG, dan M&C. Satu lagi ada Rekata (bukan penerbit). Sejauh pengetahuan saya, Rekata itu yang memproduksi short movie Tak Ada yang Gila di Kota Ini. Dengan banyaknya penerbit yang bergabung, maka peluang penulis agar tulisannya dilirik penerbit tentu besar ya.

Apa bedanya GWP yang dulu dan sekarang?

Situs GWP yang baru memiliki interface lebih menarik. Selain itu ada tambahan fitur langganan cerita, mengikuti, dan notifikasi. Kalian bisa berlangganan cerita yang ingin kalian baca dan melihatnya kembali di pilihan koleksiku. Jika masuk ke profil tampilannya akan seperti di bawah ini (tampilan jika log in ke akun anda). Di profil menampilkan deskripsi/bio dan jumlah cerita yang kalian tulis, baik yang sudah kalian published atau yang masih berupa draft. Kalian juga bisa menautkan akun media sosial di profil.

Gramedia Writing Project

Ketika kalian membaca cerita, pada setiap bab akan ada fitur vote dan komentar. Daftar bab dalam cerita juga ditampilkan, sehingga memudahkan untuk memilih bab. Sayangnya, masih ada beberapa kekurangan, terutama ketika menulis. Terkadang muncul simbol-simbol di bagian tertentu, jika tulisan disalin dari Word. Lalu, kata-kata yang semula italic ataupun bold pun berubah, sehingga harus diedit lagi satu per satu. Tentu hal itu membuat tidak efisien.

Untuk saat ini GWP belum tersedia dalam bentuk aplikasi di mobile, tentunya sedang proses pengembangan. Situs GWP pun juga masih dalam perbaikan terus menerus agar penulis dan pembaca nyaman ketika menulis ataupun membaca.

Bagi kalian yang sudah memiliki akun di situs GWP yang lama, jangan khawatir, akun kalian tidak hilang. Kalian bisa log in dengan akun lama tersebut. Tulisan-tulisan yang dulu juga masih ada di situs baru ini. Jika kalian belum punya akun GWP buruan bikin.

Harapan saya ke depan semoga web GWP lebih mobile friendly, secara saya lebih sering nulis lewat HP daripada laptop. Apalagi di web GWP ini saya pertama kali mengunggah cerita fiksi yang saya tulis. Sebelumnya juga punya akun Wattpad, tapi hingga saat ini belum ada cerita yang saya unggah. Sementara itu, di web GWP ada tiga cerita yang saya unggah. Salah satunya cerita horor misteri yang berjudul Piala Kehormatan. Silakan klik di sini kalau mau membaca cerita saya.

Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya, jangan sungkan untuk meninggalkan komentar.

Comment