January 2020 - MELALUI RUANG

Tuesday, January 28, 2020

Review Novel Metropop: False Beat

January 28, 2020 0
Review Novel Metropop: False Beat
Penulis: Vie Asano
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2018
Jumlah halaman: 296

Blurb
"Lo tinggal pilih aja mau yang mana. Pertama, lo diam dengan kesadaran lo sendiri. Kedua, gue yang bikin lo diam. Kalau perlu, gue bakalan cium lo di sini, sampai lo kehabisan napas dan pingsan."

Gara-gara terlilit utang dengan om-nya, Aya harus rela menjadi manajer Keanu & the Squad. Sebenarnya pekerjaan itu tak seburuk yang dia bayangkan andai saja bukan Keanu yang harus dihadapinya. Vokalis sekaligus pentolan band itu mungkin punya banyak fans. Dan harus dicatat, Keanu tuh memiliki wajah ganteng, bibir yang kissable, penampilan trendi, dan suara yang bagus banget. Namun, Keanu punya segudang kelakuan ajaib yang membuat Aya tak bisa berkutik, juga membuat jadwal roadshow band itu berantakan.

Aya pun mencari cara agar dapat mengendalikan Keanu karena itu satu-satunya cara agar roadshow berjalan lancar. Baru saja merasa menemukan jawaban, Aya malah terjerumus dalam masalah baru: mengetahui rahasia besar yang disimpan Keanu rapat-rapat dan membuatnya terperangkap dalam drama tak berujung.
***
Ebook novel False Beat di aplikasi iPusnas. False Beat ditulis oleh Vie Asano.
Ebook False Beat di aplikasi iPusnas ©

False Beat adalah ebook pertama yang selesai saya baca. Bangga. Hahaha... Soalnya saya kurang betah kalau baca ebook dari ponsel (Maklum belum punya tablet). Bahkan kali ini saya terbilang cepat membaca novel ini saking serunya. For your information, saya membaca novel False Beat di aplikasi iPusnas. Di iPusnas banyak sekali ebook gratis dan yang pasti legal. Jangan sampai ya kalian membaca ebook ilegal yang sering dijual melalui web atau media sosial lainnya. Ebook ilegal itu biasanya dijual murah, misalnya 10.000 dapat tiga; terus bisa di-share begitu saja biasanya dalam bentuk pdf. Kalau mau membaca ebook legal bisa beli di Gramedia Digital atau yang mau baca gratis ya di iPusnas.


Lanjut membahas novel False Beat, saya suka dengan bab awal novel ini, karena langsung menampilkan permasalahan. Dengan begitu pembaca dibuat penasaran dengan apa yang akan terjadi dengan tokoh selanjutnya. Alur cerita dan pembagian bab juga menarik. Jadi cerita ini dibagi menjadi intro, verse, prechorus, chorus, bridge, dan outro; seperti bagian yang ada di dalam lagu. Alur cerita yang naik turun memberikan sensasi campur aduk, ada seru, ada sedih, ada bahagia. Dan, terkejut, karena plot twist-nya itu lho. Walaupun sudah mencium hal-hal yang disembunyikan, saya justru berpikiran kebalikannya lho. Terkecoh.

Penulis tentu telah melakukan riset yang mendalam, terbukti tokoh-tokoh dalam False Beat ini memiliki karakter yang kuat dan tidak dangkal. Misalnya, tokoh Keanu sebagai penyanyi digambarkan dengan baik melalui adegan-adegan ketika menciptakan lagu, menyanyi, tampil di panggung. Itu semua sampai ke pembaca, jadi pembaca percaya kalau Keanu adalah penyanyi, bukan tokoh yang seolah-olah digambarkan sebagai penyanyi. Tentu tidak mudah dalam menggambarkan tokoh yang mahir menyanyi dan bermain musik dalam bentuk tulisan. Di dalam kata pengantar penulis juga menyampaikan, jika pembaca ingin lebih mendapat gambaran tentang Keanu & the Squad bisa melihat penampilan band One OK Rock.

Tokoh favorit saya dalam novel ini tentu saja Kevin. Kenapa tidak Aya atau Keanu? Kalian akan mendapat jawabannya ketika membaca novel False Beat. Namun, kalau membicarakan tokoh mana yang paling menonjol, ya menurut saya Keanu. Auranya itu lho bisa sampai ke pembaca. Tapi Kevin juga memiliki karakter yang menarik. Dan saya sebagai pembaca sangat bersimpati dengan karakter Kevin.

Saya bersyukur ending cerita ini adalah close ending. Sebab, setelah semua masalah yang dialami para tokoh, rasanya terlalu kejam jika dibuat akhir yang mengambang. Overall, saya sangat menikmati membaca novel False Beat. Sedikit jadi paham tentang manajemen band, karena ada beberapa catatan kaki untuk istilah-istilah yang asing di telinga awam.

Kepingan puzzle nggak bakal pernah membentuk gambar kalau kita nggak berusaha menyusunnya.

Sunday, January 26, 2020

Review Novel Hyouka (Novel Pertama dari Kotenbu Series)

January 26, 2020 2
Review Novel Hyouka (Novel Pertama dari Kotenbu Series)
Penulis: Yonezawa Honobu
Penerbit: Haru Media
Tahun terbit: 2017
Jumlah halaman: 244

Blurb
Kalau kita menyelidikinya, mungkin akan terjadi hal-hal yang tidak baik.

Oreki Hotaro adalah pemuda hemat energi. Mottonya adalah, "Kalau tidak butuh dikerjakan, lebih baik tidak dikerjakan. Kalau harus dikerjakan, sebisanya saja."

Hanya saja, semua itu berubah saat dia terpaksa bergabung dengan Klub Sastra Klasik. Chitanda Eru, gadis dengan rasa penasaran yang tinggi, mengubah hari-hari Hotaro, dan dia harus memecahkan misteri demi misteri yang terjadi di sekitar mereka.

Gara-gara Chitanda, mereka dihadapkan pada kasus 33 tahun yang lalu. Hanya saja, petunjuk mereka hanyalah sebuah antologi berjudul Hyouka.
***
Novel Hyouka oleh Yonezawa Honobu
Novel Hyouka ©


Sebelum membaca novel Hyouka, saya cari dulu arti Hyouka di Google Translate. Maklum penasaran. Jadi, menurut Google Translate dan tentu saja penulisan kanjinya sesuai dengan yang ada di kaver, Hyouka berarti 'makanan penutup es'. Kurang padu ya terjemahannya, tapi kurang lebih itu sejenis makanan penutup yang terbuat dari es. Kalau buka di Wikipedia langsung ada judul bahasa Indonesianya, Hyouka yang berarti 'es krim'.

Baiklah lanjut saja bahas tentang novel Hyouka. Hyouka adalah buku pertama dari Kotenbu series atau Classic Literature Club series. Novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama, yang tidak lain adalah Oreki Hotaro, si tokoh utama. Sudut pandang orang pertama ini memiliki keterbatasan, di mana cerita yang dituturkan hanya berdasarkan apa yang dialami, dilihat, dirasa si tokoh secara langsung. Tokoh tidak bisa cerita apa pun kalau tidak ada di lokasi/setting.

Baru beberapa lembar membaca Hyouka, saya langsung mendapat kesan bahwa Hotaro ini sebelas dua belas sama Nara Shikamaru (tokoh di manga Naruto, salah satu tokoh favorit saya juga selain Gaara). Hotaro ini tidak suka dibuat repot, bahasa gaulnya mageran, tapi cerdas (Tuh kan mirip Shikamaru). Dia juga tidak suka menjadi murid yang menonjol ataupun kebalikannya. Dia adalah tipe murid biasa-biasa saja, kalau kata temannya, Hotaro ini orang yang abu-abu. Apakah dia akan menjadi orang yang abu-abu terus? Baca novelnya.

Teka-teki di novel Hyouka awalnya terdengar sederhana, namun semakin ke belakang memang teka-tekinya tidak sesederhana kelihatannya. Dan jujur saja selama membaca Hyouka saya tidak banyak menebak-nebak, kecuali soal kaver Antologi Hyouka. Apa ya, mungkin clue itu ada di setiap bagian cerita, tapi terlalu tersembunyi dengan adanya opini-opini berbeda. Jadi susah saja menarik kesimpulan. Namun, bisa menebak misteri yang tersembunyi itu bukan keharusan, dan ternyata memang lebih seru membaca tanpa menebak-nebak apa pun. Lebih takjub dengan alur ceritanya.

Membaca novel ini tiba-tiba mengingatkan saya kepada komik Kindaichi, entah kenapa seatmosfer gitu. Ya mungkin karena sama-sama bergenre misteri. Misalnya, saat dihadapkan oleh sebuah misteri Hotaro ini adalah tipe pengamat, sementara teman-temannya sibuk beropini. Dari diamnya itu diam-diam dia menganalisis, sampai akhirnya dia dapat menarik kesimpulan. Gara-gara itu semua temannya takjub dengan kemampuan Hotaro. Tapi ya dasarnya orangnya cuek, dia bilangnya itu semua karena dia mendapatkan ilham.

Bahasa yang digunakan di novel Hyouka mudah dipahami, walaupun ada beberapa catatan kaki, karena ada istilah-istilah Jepang dan penggunaan huruf kanji pada teks aslinya. Tentu kalau diaplikasikan ke alfabet akan ada penyesuaian, karena di novel ini ada permainan kata. Tapi tenang saja catatan-catatan kaki itu tidak mengganggu.

Novel Hyouka ini masih ada kelanjutannya. Judul novel keduanya adalah Credit Roll of the Fool, novel ketiganya berjudul The Kudryavka Sequence, dan novel keempatnya berjudul The Dool That Took a Detour. Lisensi di Penerbit Haru memang baru sampai novel keempat, sebenarnya di Jepang novel karya Yonezawa ini ada 6 buku. Mari kita tunggu novel kelima dan keenamnya diterjemahkan.

Friday, January 24, 2020

Review Novel Happy Birth-die (BWM 3)

January 24, 2020 3
Review Novel Happy Birth-die (BWM 3)
Penulis: Risma Ridha Anissa
Penerbit: Bentang Belia
Tahun terbit: 2019
Jumlah halaman: 344

Blurb
Pijar sering kali dipanggil zombi oleh teman-temannya. Cewek itu dikenal misterius karena penampilannya yang seram, wajah datar, dan nggak pernah senyum. Banyak yang nggak mau berurusan dengannya, ngeri!


Sayangnya, Heksa mau nggak mau harus berdekatan dengan Pijar karena harus tampil bareng di acara sekolah. Heksa sebenarnya malas, takut popularitasnya turun. Lagian, zombi mau ngapain sih di panggung nanti? Bisa-bisa semua penonton kabur ketakutan.


Karena acara itu, Pijar dan Heksa jadi dekat. Pijar tahu kelemahan Heksa yang memalukan. Heksa juga tahu kemampuan mistis Pijar. Ternyata cewek itu bisa melihat tahun kematian seseorang saat berulang tahun. Fakta ini membuat hari-hari keduanya dipenuhi ketegangan. 

***

Novel Happy Birth-die oleh Risma Ridha Anissa, Belia Writing Marathon 3
Novel Happy Birth-die ©


Novel Happy Birth-die ini menjadi novel terakhir yang saya baca tahun 2019, sekaligus menjadi novel pertama di tahun 2020. Kalau tidak salah ingat saya mulai membaca novel ini sehari sebelum Natal dan merampungkannya tepat tanggal 01 Januari 2020. Lumayan cepat bagi saya yang kecepatan membacanya lelet ini.


Novel Happy Birth-die merupakan jebolan Belia Writing Marathon 3 yang diadakan oleh Bentang Belia. Novel ini di-publish di akun Wattpad Bentang Belia bersama cerita lainnya, dan berhasil menjadi pemenang. Happy Birth-die sudah dibaca lebih dari 1,4 juta kali lho. Kalau sekarang pastinya sudah melampaui 1,4 juta. Kalian bisa check akun Wattpad Bentang Belia atau beli bukunya saja di toko buku, karena ada beberapa part spesial yang tentunya tidak ada di Wattpad.

Risma Ridha Anissa penulis novel Happy Birth-die
Penulis Happy Birth-die ©

Happy Birth-die memiliki genre campuran romance, horor, dan fantasi dengan alur cerita maju mundur. Novel ini juga memiliki teka-teki yang seru untuk diikuti. Tokoh utama perempuan, Pijar, yang memiliki kemampuan melihat tahun kematian manusia tentu membuatnya didera berbagai masalah. Lalu, tokoh utama laki-laki, Heksa, yang banyak tingkah itu harus dihadapkan dengan Pijar yang dingin. Perpaduan yang bertolak belakang, tapi di situlah salah satu serunya. Masalah-masalah yang timbul itulah yang akan menjalankan cerita.

Point of view yang digunakan dalam novel Happy Birth-die adalah orang ketiga serba tahu. Ini POV paling dinamis sih menurut saya, karena bisa banyak ekplorasi tokoh-tokohnya. Bahasa yang digunakan juga mudah dipahami dan tidak ada kata yang asing. Enak juga dibaca sambil santai dan refresh banget sih, karena saya selalu dibuat tertawa dengan tingkah Heksa yang kalau ngomong tidak pakai filter. Hahaha...

Tokoh yang paling berkesan buat saya Heksa. Heksa ini punya kepribadian yang unik, pecicilan, lebay, kepo, kalau ngomong suka asal, tapi di balik semua itu dia care sama sahabat-sahabatnya dan orangnya positif. Dia juga tidak serta merta menjadi seseorang yang terpuruk, meskipun masa lalunya kelam. Sebaliknya, Pijar itu dingin, tanpa ekspresi, acuh tak acuh; tapi berani berkorban demi keselamatan orang lain yang kadang malah bikin dia sendiri celaka.

Nah udah makin penasaran dong sama novel Happy Birth-die? Buruan baca deh!


Kepada suara-suara yang memekik kencang
kepada Tuhan-nya,
mengancam macam-macam,
bahkan meminta takdirnya dipercepat.
Sekarang, aku menantangmu,
silakan pilih lilinmu dan bawa kemari,
kita nyalakan bersama-sama.
Jangan ragu untuk ditiup,
akan kubisikkan kapan dan bagaimana kau akan mati,
mungkin dengan cara itu,
akal sehatmu akan kembali terbuka.

Comment