June 2019 - MELALUI RUANG

Tuesday, June 25, 2019

Maxx Coffee: Coffee Shop Lokal yang Eksis

June 25, 2019 0
Maxx Coffee: Coffee Shop Lokal yang Eksis
Kalian sudah tahu kan kalau Maxx Coffee itu coffee shop lokal? Jangan bilang belum. Maxx Coffee ini milik Lippo Grup guys. Bisnis kopi di Indonesia memang menjanjikan, maka Lippo Grup merambah ke bisnis ini. Maxx Coffee didirikan pada tahun 2015 dan sekarang sudah memiliki banyak gerai di seluruh Indonesia.


Maxx Coffee di Semarang yang saya kunjungi kali ini di Duta Pertiwi Mall alias DP Mall. Setting area kurang lebih sama dengan coffee shop pada umumnya. Maxx Coffee di DP Mall ini baru saja mengalami renovasi mengikuti mall yang juga lagi tahap renovasi. Banyak hal yang berubah. Tadinya areanya lebih luas sebelum renovasi, tapi tidak mengurangi kenyamanan kok. Ada meja dengan colokan listrik juga, tapi terbatas. Untuk yang mau merokok disediakan area non AC, tepatnya di teras Maxx Coffee.


Varian kopi yang disajikan di Maxx Coffee beragam dari kopi asli Indonesia hingga mancanegara. Kopi asal Indonesia ada Aceh Gayo, Kintamani, hingga Flores. Mantap kan. Saya suka nih sama coffee shop yang menggunakan kopi-kopi lokal. Kopi Indonesia itu kan sudah terkenal kenikmatannya, harus semakin diberdayakan.


Soal harga lumayan mahal kalau untuk kantong saya yang pas-pasan. Dibandingkan sama Starbuck atau Coffee Bean 11:12 lah, lebih murah Maxx Coffee dikit. Buat contoh waktu itu saya beli Espresso Frappe reguler harganya Rp. 42.000; tambah topping ada biaya tambahan Rp. 5000;. Terus kalau Americano itu sekitar Rp. 35.000; lah. Silakan disimpulkan sendiri mahal mana atau malah sama.
Coffee Espresso Frappe
Dokumentasi pribadi


Espresso Frappe itu enak banget sih, kopinya terasa banget. Waktu itu pernah juga beli Caramel Macchiato, rasanya biasa saja. Tapi sayangnya Espresso Frappe yang saya beli itu terlalu manis, soalnya saya tambah topping caramel (Menyesal tambah topping.). Padahal sih whipping cream itu sudah manis kan. Hahaa… Terus yang tidak suka whipping cream bisa tidak disertakan (Tapi jadinya bukan frappe dong ya.).


Buat menu makanannya kue-kue gitu, tapi saya tidak pernah pesan. Hahaha… Tujuan saya ngopi doang. Kurang tertarik juga makan yang manis-manis. Eh tapi yang gurih ada juga sih.


Nah gimana kalian pecinta kopi lebih suka nongkrong di coffee shop mana? Starbuck, Coffee Bean, atau Maxx Coffee? Saya lebih prefer di Maxx Coffee deh, secara punya lokal. :)


Jangan lupa tinggalkan komentar, langganan, dan sebarkan. Terima kasih telah berkunjung.

Tuesday, June 18, 2019

Cafe Joko Kopi di Kota Ungaran

June 18, 2019 2
Cafe Joko Kopi di Kota Ungaran
Alamat: Jalan Gedongsongo No.9, Kelurahan Candirejo, Kec. Ungaran Barat, Kab. Semarang, Jawa Tengah 50512
Jam buka: 12:00 - 00.00 (Menurut google maps, tapi untuk lebih detail follow instagramnya. Mereka selalu update jam buka.)


Saya sudah lama ingin nongkrong di cafe Joko Kopi ini, akhirnya kesampain. Padahal sih dekat sama rumah saya. Letak Joko Kopi ini bisa dibilang kurang strategis, karena bukan di pusat keramaian kota Ungaran. Tapi jangan salah pengunjungnya banyak. Sebagai patokan, Joko Kopi ini letaknya sekitaran Kampus Ngudi Waluyo, tapi masih masuk beberapa meter lagi dan dari jalan utama Joko Kopi ada di sebelah kanan.


Area parkir Joko Kopi sangat luas, jadi yang bawa mobil tidak perlu khawatir. Hanya saja parkirnya bayar. Sementara itu area dalam juga luas yang terdiri dari dua lantai. Bagi yang merokok pun disediakan smoking area. Lalu ada juga tempat duduk outdoor. Kalau mau menyaksikan pemandangan gunung ungaran dan sawah lebih jelas pilihlah tempat duduk di lantai dua atau pun lantai satu bagian luar.
Joko Kopi
Dok. pribadi
Menu kopi di Joko Kopi sangat bervariasi, ada speciality coffee (single origin) hingga non kopi. Untuk single origin bisa memilih metode seduh, yaitu tubruk, plunger/french press, atau pour over. Harga terbilang standar, malahan murah untuk cita rasa kopi yang berkualitas.


Saya kalap dong pesan kopi di Joko Kopi, sampai minum dua cangkir. Tadinya saya cuma pesan Paket Pendekar, tapi tergoda dengan single origin, maka saya memutuskan pesan Flores Robusta yang pakai metode pour over. Paket Pendekar apa sih? Paket Pendekar itu terdiri dari satu sloki espresso, satu cangkir cappuccino, dan air putih. Sudah minum segitu banyak masih nyendok affogato punya Kakak saya juga. Rakus bener.
Kopi Joko Kopi
Dok. pribadi
Cappuccino dan espresso yang sepaket itu cita rasa kopinya sama, tapi kurang tahu blend-nya apa saja. Saya merasakan cita rasa fruity dan pahit yang kuat, untuk acidity mungkin medium (Kurang yakin juga, haha…). Untung lah ya yang satunya saya pesan Flores Robusta untuk mengimbangi kopi Paket Pendekar dengan acidity itu. Flores Robusta adalah kopi tanpa acidity. Cita rasanya sudah lupa saya, tapi kalau dari menu tercantum sweet/tobacco/chocolate/nutty. Kalau rasa pahitnya sih tidak begitu tajam dan cenderung light menurut saya. Beneran lebih pekat Paket Pendekar. Lol.


Selain kopi, di Joko Kopi juga menyediakan minuman non kopi yang variasinya banyak. Milk based drink dengan rasa thai tea, taro, red velvet, green tea, vanilla, caramel, mint, bahkan ginger. Minuman yang light juga ada. Makanan berat dan snack-nya pun bermacam-macam, mulai dari nasi goreng, mie, rice bowl, onion ring, roti bakar, hingga mendoan. Dessert juga ada lho. Kurang lengkap apa coba.


Cafe Joko Kopi pokoknya recommended banget. Saya pasti akan kembali berkunjung. Oh iya colokan, tampaknya benda itu tidak saya lihat ada di meja-meja pengunjung. Berarti murni untuk nongkrong lah, kecuali Anda bukan pejuang colokan seperti saya.


Kalau lewat kota Ungaran mampir sebentar ke Joko Kopi ya. Thanks sudah menyimak ulasan saya. Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar.

Saturday, June 15, 2019

Review Novel 13 Reasons Why (Kisah Tragis Hannah Baker)

June 15, 2019 1
Review Novel 13 Reasons Why (Kisah Tragis Hannah Baker)
Tanggal 14 Juni 2019, pukul 12:24 baru saja selesai membaca 13 Reasons Why
Penulis: Jay Asher
Penerbit: Spring
Tahun terbit: 2018
Halaman: 324
Genre/sub genre: kata Jay Asher ini genre Suspense, sub genrenya saya rasa Young Adult atau Coming of Age (Kalau mau tahu genre Suspense apa klik di sini)


Blurb
Kau tidak bisa menghentikan masa depan. Kau tidak bisa mundur ke masa lalu. Satu-satunya cara untuk mengetahui rahasia itu adalah menekan… Play.


Clay Jensen pulang dari sekolah dan menemukan sebuah paket berisi setumpuk kaset. Namun ternyata pengirim kaset-kaset itu adalah Hannah Baker, teman sekolahnya yang bunuh diri dua minggu lalu. Dalam kaset-kaset itu, Hannah menjelaskan alasan-alasan kenapa dia bunuh diri dan siapa saja yang terlibat di dalamnya. Clay menjadi salah satunya.


Hannah Baker sudah tiada. Seharusnya rahasia-rahasia gadis itu terkubur bersamanya. Namun, setelah mendengarkan isi kaset, Clay menjadi paham kenapa dia menjadi salah satu alasan Hannah.


Sepanjang malam, Clay mendengarkan kaset Hannah. Dia mengikuti petunjuk yang Hannah berikan untuk menyusuri kota kecilnya. Namun, yang dia temukan kemudian mengubah hidupnya selamanya…
***
Thirteen Reasons Why
Dok. pribadi
Saya tertarik baca buku 13 Reasons Why setelah menonton TV Series-nya di Netflix. Lucu sih, harusnya karena semua sudah terungkap tidak ada rasa penasaran lagi ya. Tapi saya tetap ingin baca bukunya. Novel 13 Reasons Why ini saya beli tahun 2018, ikut PO yang ada hadiah tote bag sama peta. Namun baru saya baca sekarang, karena tumpukan buku lain yang belum saya baca juga. Hahaha… Saya yang penting punya bukunya dulu, bacanya entah kapan.


Well, sebab saya sudah menonton TV Series-nya saya bahas sedikit perbedaan keduanya (tenang saya tidak akan spoiler). Thirteen Reasons Why versi TV Series ada beberapa perubahan dan penambahan yang tentunya bertujuan untuk penyesuaian. Dan itu tidak mengubah jalan cerita utama kok, justru menurut saya sebagian penambahan itu melengkapi novel 13 Reasons Why.


Pada novel 13 Reasons Why kedalaman setiap karakter--yang berperan menjadi alasan Hannah Baker bunuh diri--kurang mendalam. Di novel hanya Hannah dan Clay yang perasaannya ditunjukkan lebih mendalam. Sementara di TV Series, tokoh-tokoh lainnya bisa digambarkan lebih mendalam. Tentu ini karena keterbatasan halaman. Kalau semua tokoh itu dijelaskan secara mendalam sudah pasti bukunya bakal lebih tebal daripada kamus.


Di novel 13 Reasons Why juga ada bonus berupa dialog-dialog yang dihapus, kata pembuka, dan ending cerita sebelum disunting. Dan ternyata ending sebelum disunting itu berbeda banget lho dengan ending yang sekarang. Bahkan judulnya pun tadinya bukan 13 Reasons Why.


Saya sarankan baca dulu novel 13 Reasons Why baru nonton TV Series-nya. TV Series 13 Reasons Why itu adalah pelengkap novelnya. Tunggu dulu! TV Series-nya ada dua musim sejauh ini dan season 1 menurut saya tetap paling bagus. Namun di season 2 ada bagian yang tentunya bisa menjadi pelengkap atas nasib kasus Hannah Baker yang mana tidak ada di novelnya. Sayangnya tidak semua episode di season 2 seasik season 1.


Mari lanjut membahas tokoh-tokoh dalam novel. Hannah Baker menggambarkan sosok remaja yang mencari jati dirinya, yang belum memahami dirinya sendiri secara utuh, katakanlah masih labil. Dan itu bukan salah dia menjadi labil. Siapa sih yang tidak pernah melewati masa-masa labil? Semua pasti pernah. Namun, sayangnya dia tidak berhasil melewati masa-masa itu. Dia memilih untuk menyerah, karena tidak mendapatkan pertolongan yang dia harapkan.


Clay Jensen, anak baik, setidaknya itu yang semua orang pikirkan (termasuk saya dan memang demikian). Meskipun Clay masuk ke dalam daftar Hannah, menurut saya itu tidak membuat dia jahat. Dia hanya terlibat dalam situasi rumit dan tidak tahu bagaimana bertindak. Namun, entah kenapa saya tidak begitu bisa merasakan emosi Clay di dalam novel. Clay yang di TV Series itu terlihat lebih emosional. Akting Dylan Minnette memang bagus. Dia berhasil menggambarkan Clay yang kacau.


Tokoh Tony di novel hanya memiliki porsi sedikit. Sepanjang membaca saya membayangkan wajah Christian Navarro, tapi tokoh Tony di novel jadi tidak terasa cocok dengannya. Tony memang lebih keren yang di TV Series. Sedikit bocoran, sebenarnya di novel orientasi Tony itu tidak disebutkan sama sekali, bahkan secara eksplisit pun tidak. Saya suka ¾ Tony di TV Series dan ¼ Tony di novel. Hahaha…


Kalaupun tokoh lain tidak, tokoh Jessica Davis harusnya bisa dijelaskan sedikit lebih banyak, tapi di novel tidak. Intinya di novel itu ya mostly adalah Clay yang sedang mendengarkan kaset. Bahkan dia tidak banyak berinteraksi dengan murid lain yang ada dalam daftar, kalau pun ada hanya sambil lalu.


Jika ditanya apa saya menyesal membaca bukunya, kan mendingan nonton TV Series-nya saja. Jawaban saya adalah tidak. Nah kalian terserah mau baca bukunya saja atau nonton TV Series-nya saja atau keduanya, itu tidak akan mengurangi pesan yang coba disampaikan melalui cerita Hannah Baker.


Mengutip kalimat dalam novel 13 Reasons Why, “Segala sesuatu memengaruhi segalanya”. Tindakan dan ucapan kita bisa jadi berdampak pada orang lain, jadi kendalikanlah. Kita juga diajak peka terhadap sekitar. Kita tidak bisa menunggu orang meminta pertolongan, kadang mereka tidak sadar bahwa mereka membutuhkan pertolongan itu. Kita lah yang harus mengulurkan tangan.


Bagi saya novel 13 Reasons Why sangat inspiratif, banyak pelajaran yang bisa dipetik. Jangan segan untuk membaca novel ini.


Saya tunggu komentar-komentar kalian di bawah ini. Terima kasih telah berkunjung.

Monday, June 10, 2019

Film Rim of the World Rasa Stranger Things

June 10, 2019 0
Film Rim of the World Rasa Stranger Things
Rim of the World adalah original movie dari Netflix. Film ini berkisah tentang sekelompok anak yang tertinggal di perkemahan pasca keadaan darurat (dalam hal ini invasi alien). Ketika itu pun sebuah kapsul yang membawa seorang astronot mendarat di perkemahan karena salah koordinat. Bersama dengan kapsul tersebut ada alien yang menumpang, maka dimulai lah aksi melarikan diri dari kejaran alien. Selain itu mereka juga dititipi kunci--oleh astronot sebelum dia mati--yang dipercaya mampu mengakhiri invasi alien.

Premisnya cukup menarik kan, tapi eksekusinya itu lho. Benar-benar bikin ekspektasi saya runtuh seketika.

⚠ Spoiler Alert
Tidak bermaksud membandingkan, tapi ketika saya menonton trailer Rim of the World yang terlintas di benak saya adalah Stranger Things. Bagian yang paling bernuansa Stranger Things ya aliennya. Kalau kalian sudah nonton Stranger Things pasti paham. Bentuk alien di Rim of the World nyaris sama, memiliki beberapa kaki seperti laba-laba dan juga dapat membelah diri menjadi lebih kecil menyerupai anjing. Ini benar-benar mengingatkan saya sama Demodogs.

Selain itu sepeda klasik yang tokoh utama gunakan sangat Stranger Things banget. Padahal kalau dilihat dari setting waktu itu sudah zaman modern bukan tahun 80’an, kenapa juga di perkemahan cuma ada sepeda jadul. Namun, ketika sutradara Rim of the World diwawancarai di suatu channel yang saya tonton di Youtube dia mengaku menyukai E.T. dan Stranger Things. Ya mungkin beliau terinspirasi, tapi kan eksekusinya itu lho.

Ok mari lanjut bahas para tokoh. Di film Rim of the World ada empat tokoh utama yaitu, Alex (Jack Gore) si anak nerd dan gila sains yang memiliki suatu trauma; Zhen Zhen (Miya Cech) anak perempuan yang kabur dari rumahnya di Tiongkok (Iya dia minggat ke US bersama orang yang dia bayar untuk menyamar jadi pamannya.); Dariush (Benjamin Flores Jr.) anak pemilik dealer mobil mewah yang sangat kaya; dan terakhir Gabriel (Alessio Scalzotto) penduduk sekitar perkemahan yang kehidupan ekonomi keluarganya kurang baik.

Keempat tokoh utama tersebut memiliki karakter yang berbeda-beda dan itu bagus. Kalau ditanya tokoh mana yang paling menarik seharusnya saya jawab Zhen Zhen, tapi beberapa hal ganjil menghancurkan karakter ini, sama halnya dengan karakter Gabriel. Tokoh yang konsisten di sini adalah Alex dan Dariush. Alex konsisten menjadi tokoh yang merasa insecure sepanjang waktu. Dariush konsisten menjadi tokoh yang kocak, ceplas-ceplos, dan berisik.

Hal ganjil seperti apa yang ada pada tokoh Zhen Zhen dan Gabriel? Saya jelaskan. Zhen Zhen minggat sebenarnya karena ingin berpetualang. Dia memang ingin banget pergi ke perkemahan Rim of the World. Belakangan diketahui bahwa Zhen Zhen ini yatim piatu. Saya tidak paham gimana dia pergi ke US begitu saja dan mendaftar ke perkemahan Rim of the World, SENDIRI (Note: Dia dan orang sewaannya itu berpisah sejak keluar dari bandara.). Apakah perkemahan semacam itu tidak ada persetujuan orang tua/wali? Entahlah. Yang kedua adalah saat mengendarai mobil lawas. Iya Zhen Zhen yang mengendarai mobil itu, layaknya seorang profesional dia bermanuver. Aneh. Ya bisa saja sih ada anak kecil yang sudah bisa naik mobil, tapi ya kali bisa beratraksi.

Tokoh Gabriel juga tidak kalah aneh. Sejak kemunculannya saja sudah aneh. Tadinya saya pikir dia termasuk anak-anak yang ikut perkemahan seperti Alex, Zhen Zhen, dan Dariush; ternyata bukan saudara-saudara. Dia muncul menolong Alex yang sedang dirundung oleh Dariush. Anehnya di daerah perbukitan gitu dia mengenakan pakaian super rapi. Keanehan ini semakin kuat ketika fakta tentang Gabriel yang kabur dari tahanan terkuak. Demi apa habis kabur dari penjara, terus sembunyi di perbukitan pakaiannya rapi gitu?! Saya tahu Alesso Scalzotto yang jadi Gabriel ini cakep, tampang dan perawakan seorang model, tapi jangan gitu juga kali. Dia dikasih baju kumal juga ok kok. Gabriel ini juga memiliki kelemahan terhadap angka. Dia tidak bisa menangkap angka yang diucapkan, angka itu harus ditulis baru dia paham angka apa yang dimaksud. Namun dia termasuk cerdik lho, dibuktikan dengan strategi dia bikin perangkap untuk alien.

Hal lain yang bikin saya tidak habis pikir adalah adegan product placement yang berlebihan. Jadi ada adegan ketika mereka masuk ke pusat perbelanjaan yang terbengkalai untuk cari baju ganti. Di salah satu area ada produk sport wear (Tidak perlu saya sebutin merknya kan?), mereka pun mengambil baju itu. Nah adegan setelah pakai baju baru kenapa pakai nari-nari segala woi! Kegirangan gitu. Please ya itu kan keadaan darurat mana sempat sih senang-senang.

Hal ganjil lain adalah penjahat yang dibebaskan oleh Alex. Tolong kalau kalian penjahat jawab pertanyaan saya. Ketika ada invasi alien mana yang kalian pilih, menyelamatkan nyawa atau berusaha merampas kunci--demi sejumlah uang--dari sekumpulan anak-anak yang mungkin tidak bisa sepenuhnya kalian percayai tentang kunci milik NASA yang mereka bawa? Yah mungkin dia tidak sayang nyawa. Baiklah.

Keanehan akan terus berlanjut saudara-saudara. Ada adegan saat Dariush terluka karena cakaran alien. Akhirnya mereka bisa kabur dan masuk ke gedung NASA yang sudah porak poranda. Itu kan ada jeda lah sampai alien mengejar mereka lagi. Kenapa sih luka Dariush tidak diapa-apain. Tidak punya kotak P3K? Baiklah. Ada adegan ketika  pergi dari perkemahan Zhen Zhen mengemasi beberapa barang yang bisa dia temukan di perkemahan. Kan tahu nih ya mereka tadi dikejar-kejar alien, kenapa tidak bawa P3K buat jaga-jaga, lha wong light stick saja dibawa. Terus nih ya yang lain kenapa tidak bawa perbekalan juga, kenapa cuma Zhen Zhen yang inisiatif. Perjalanan kalian itu panjang dan tidak tahu apa yang akan kalian hadapi. Kesel!

Satu lagi deh. Alien itu kan menumpang di kapsul milik NASA. Posisi dia di luar dan bisa bertahan saat melewati atmosfer bumi, berarti dia tahan panas dong. Eh tapi, tapi, tapi dia bisa mati lho waktu dibakar. Bisa gitu ya, ajaib. Atau saya yang tidak paham dengan mekanisme alien tersebut?

Meskipun banyak keganjilan, tapi masih ada yang bisa dipetik dari film Rim of the World. Product placement yang berlebihan itu tidak baik, eh bukan itu maksud saya, apa pun rintangan yang ada di depan kalian pasti bisa dilewati jika kalian yakin dan jangan kabur dari rasa takut tapi hadapi.

Saya juga suka quote dari Zhen Zhen, “Meskipun orang tersebut bersalah, tapi kita tidak memiliki hak untuk menentukan dia harus hidup atau mati.” Kurang lebih seperti itu.

Sekian ulasan saya tentang film Rim of the World. Tolong kasih tahu saya di kolom komentar kalau ada keganjilan yang saya lewatkan. Ups.

Saturday, June 8, 2019

Review Novel Gramedia Seventeen Once Again

June 08, 2019 0
Review Novel Gramedia Seventeen Once Again
Baru saja selesai membaca Seventeen Once Again 17 Mei 2019 pukul 14:18
Penulis: Handi Namire
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 288
Tahun terbit: 2017
Genre/Sub-genre: Romance/Young Adult

Blurb
Raka membalas perasaan Briana. Ya, Raka, ketua OSIS yang digandrungi banyak siswi di sekolah. Raka yang juga pacar Tara, sahabat baiknya! Eh, bukankah itu artinya Briana merebut pacar sahabatnya sendiri? Ah, entahlah! Saat study tour, Raka berjanji akan membuat hubungan mereka jelas.

Sayangnya, saat semua akan terjawab, Briana mengalami kecelakaan di India. Sejak kecelakaan itu Briana sulit mengingat hal-hal yang terjadi. Lebih menyebalkan lagi, Mama malag memindahkannya ke Bandung, jauh dari Raka; Tara; dan teman-teman dekatnya.

Selain itu, di sekolah batunya Briana dihadapkan pada drama yang menyebalkan. Ben, ketua klub penyiaran, ngotot merekrut Briana jadi anggota! Di sisi lain, Alisha, cewek sok berkuasa, memintanya untuk menjauhi Ben.

Seolah semuanya belum cukup, Briana mulai merasakan keganjilan pada hidupnya. Kenapa keberadaan Raka misterius? Kenapa teman-teman Briana tidak menghubunginya lagi? Dan… bebenarkah Briana berusia tujuh belas tahun.
***
Seventeen Once Again adalah novel terbitan Gramedia. Novel tersebut merupakan pemenang kedua Gramedia Writing Project batch 3.
Novel Seventeen Once Again ©

Novel Seventeen Once Again ini merupakan juara kedua kompetisi menulis Gramedia Writing Project batch 3. Kisah Briana yang mengalami usia 17 tahun sekali lagi (sesuai dengan judulnya ya) ini sukses membuat saya membacanya tanpa henti. Apa lagi ada misteri di balik kisah Briana yang dikeluarkan secara perlahan-lahan. Mungkin tema cerita novel ini pernah kalian dengar dari beberapa film tertentu, tapi novel ini memang ditulis dengan baik dan berbeda jadi tidak ada kesan bosan.

Di novel Seventeen Once Again tidak melulu menyuguhkan kisah cinta, ada harapan dan cita-cita yang berusaha digapai oleh tokoh. Deskripsi profesi dan klub penyiaran juga sangat meyakinkan, tidak hanya tempelan yang kurang informatif. Saya juga bisa membayangkan setiap adegan. Alur novel tidak terlalu cepat juga tidak lambat, pas banget. Setiap adegan memang penting dan sesuai porsinya.

Soal karakter tidak ada yang jadi favorit saya. Briana bukan sosok yang lovable sih bagi saya. Ben yang cowok populer pun tidak membuat saya berpihak padanya (Hahaha…), apa lagi Raka.

Jika kalian sedang mencari novel genre romance yang tidak cuma cinta-cintaan, maka Seventeen Once Again patut menjadi wishlist kalian. Happy reading! Jangan lupa tinggalkan komentar. :)

Comment