January 2021 - MELALUI RUANG

Friday, January 22, 2021

Review Drama Mandarin The Bad Kids

January 22, 2021 0
Review Drama Mandarin The Bad Kids
Serial The Bad Kids release tahun 2020, diadaptasi dari novel dengan judul sama yang ditulis oleh Zi Jin Chen. Sejujurnya saya belum membaca novelnya. Gara-gara nonton serial The Bad Kids saya jadi pengin baca novelnya. Dengar-dengar ada penerbit Indonesia yang sedang menerjemahkan novel The Bad Kids. Apa intensitas ketegangannya bakal sama seperti serialnya? Atau, malah lebih tegang baca novelnya? Well, lanjut ke penjelasan serial The Bad Kids. Serial bergenre suspense thriller ini memiliki jumlah episode sebanyak 12, dengan durasi rata-rata 1 jam. Kalian bisa menonton serial The Bad Kids di iQIYI secara gratis (dengan iklan tentu saja, kalau tanpa iklan bisa langganan sebulan Rp. 30.000).

The Bad Kids berkisah tentang tiga orang anak (Chaoyang, Yan Liang, Yue Pu/Pupu) berasal dari latar belakang keluarga berbeda yang tidak sengaja menyaksikan pembunuhan di Liufeng Mountain, ketika merekam video kebersamaan mereka di sana. Awalnya, mereka ingin memberikan video itu kepada polisi, tapi karena suatu hal, mereka justru menjual rekaman itu. Dari situlah perjalanan gila trio itu dimulai.

Tokoh-tokoh dalam The Bad Kids

Tokoh utama dalam The Bad Kids:
  • Zhang Dongsheng diperankan oleh Qin Hao
  • Chen Guansheng diperankan oleh Wang Jingchun
  • Zhu Chaoyang diperankan oleh Rong Zishan
  • Yan Liang diperankan oleh Shi Pengyuan
  • Yue Pu/Pupu diperankan oleh Wang Shengdi
Chaoyang dan Yan Liang adalah teman semasa kecil dan mereka seumuran, sedangkan Yue Pu adalah seorang anak perempuan yang tinggal di panti asuhan yang sama dengan Yan Liang. Yan Liang dan Yue Pu kabur dari panti asuhan dengan suatu misi. Mereka menemui Chaoyang untuk meminta bantuan. Sejak itulah mereka bertiga terus bersama-sama.

Trio The Bad Kids ini memiliki karakter yang berbeda-beda. Chaoyang adalah murid teladan yang selalu juara 1 kelas. Namun, ia tidak memiliki teman di sekolah dan lebih suka menyendiri. Chaoyang digambarkan sebagai anak penurut dan taat aturan. Sementara itu, Yan Liang adalah anak seorang narapidana yang berakhir menjadi gila, sehingga Yan Liang harus tinggal di panti asuhan. Yan Liang selalu ingin bertemu dengan ayahnya, tapi mengalami banyak kesulitan. Yan Liang digambarkan sebagai sosok pemberontak dan pemberani. Yue Pu atau dipanggil Pupu adalah teman Yan Liang di panti asuhan. Pupu sangat pandai menyanyi. Ia digambarkan sebagai sosok yang cerdik dan pemberani. 

Dongsheng adalah guru matematika di suatu lembaga pendidikan yang kehidupan rumah tangganya berantakan dan diambang perceraian. Ia tidak ingin kehilangan istrinya, sehingga ia melakukan suatu perbuatan nekat. Awalnya tidak ada yang aneh dengan sikap Dongsheng sebagai guru yang baik dan penyabar. Namun, seiring berjalannya cerita, sikap Dongsheng berubah drastis. Keinginannya untuk memulai segalanya dari awal tidak berjalan sesuai harapan. Hidupnya semakin berantakan.

Guansheng adalah seorang polisi. Ia juga adalah teman ayah Yan Liang, yang akhirnya akan menjadi ayah angkat Yan Liang. Menurut saya, tokoh Guangsheng mewakili sosok orang tua yang selalu mengkhawatirkan anak-anak mereka. Ia tidak ingin Yan Liang berakhir seperti ayahnya, menjadi kriminal dan dipenjara. Oleh sebab itu ia selalu ikut campur semua urusan Yan Liang.

Tokoh-tokoh dalam The Bad Kids mempunyai karakter yang kuat. Mereka mengalami perkembangan berbeda seiring berkembangnya cerita. Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidup mereka menjadi pemicu perubahan-perubahan itu. Selain karakter tokoh yang kuat dan tokoh yang berkembang, akting para aktornya harus diacungi jempol. Mereka melebur dalam karakter tokoh dan membuat tokoh menjadi hidup.

Setting The Bad Kids

Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan setting waktu The Bad Kids, walaupun atmosfer dan latar tempatnya terlihat tidak modern. Saya pikir bisa saja kan tokoh tinggal di kota kecil. Tapi, saat melihat para tokoh menggunakan ponsel nokia lawas, saya langsung tersadar. Saya duga setting waktu The Bad Kids berada di awal tahun hingga pertengahan 2000an. Semakin memperhatikan, kostum para tokoh juga berbeda sih dengan tren masa kini. Hal lain yang menggambarkan tahun 2000 banget itu adalah soda dalam botol kaca. Lumayan sering lihat tokoh minum produk soda dalam botol kaca. Dan merk produk-produk itu juga familiar buat saya. Tidak begitu berbeda jauh sama yang ada di Indonesia. Kayaknya kalau sekarang soda dalam botol kaca itu sudah tidak eksis. Mostly pakai botol plastik atau kaleng.

Plot Cerita The Bad Kids

Opening episode 1 The Bad Kids itu kampret banget. Sebenarnya jiwa kriminal saya sudah berpikir sampai ke adegan yang bakal terjadi selanjutnya. Opening yang langsung menggambarkan/menunjukkan masalah itu memang lebih menarik daripada opening yang datar-datar saja. Itu bikin penonton ingin terus menonton. Yah, efeknya nyaris sama dengan cliffhanger yang biasa ada di akhir episode. Nah, pada beberapa episode di The Bad Kids memiliki pembuka yang memberi hook (sesuatu yang didesain untuk menangkap perhatian orang) dan diakhiri dengan cliffhanger (ending pada suatu episode drama yang membuat penonton tegang dan bertanya-tanya).

Saya suka dengan transisi di setiap adegannya. Tidak patah dan mulus. Flow ceritanya juga tetap terjaga dari awal hingga akhir. Adegan-adegannya masuk akal (kayaknya sih nggak ada plot hole). Saya juga takjub dengan cara penulis skenario mempertemukan tokoh-tokoh dalam satu frame.

Beberapa adegan bikin saya merasa miris sekaligus bikin perasaan campur aduk. Tegang, sedih, kesal, marah dan terenyuh; semuanya bercampur. Beberapa hal juga memberikan efek yang tidak bisa saya jelaskan dengan kata-kata. Misalnya, kehidupan Dongsheng yang jungkir balik. Di bagian klimaks itu saya sudah speechless sih sama tindakan-tindakan Dongsheng. It's like when you've killed people once, the twice is nothing. Kan gila ya. Dongsheng sempat ingin memulai hidup baru, tapi dengan niat ingin mengubur rahasia gelapnya, maka kehidupan baru tidak akan pernah dimulai. Kebalikannya, Chaoyang dan Yan Liang ingin memulai hidup baru, setelah segala permasalahan yang mereka buat. Mereka berani untuk mengakui segala perbuatan mereka, meskipun itu salah. Hanya dengan begitu mereka lega.

Untuk ending The Bad Kids saya cukup puas. Awalnya sudah merasa was-was bakal seperti apa nasib trio The Bad Kids. Takutnya bakal lebih tragis (sebenarnya dari awal pun sudah tragis sih). Overall, menurut saya The Bad Kids diracik dengan baik, mulai dari penokohan; plot cerita; latar; bahkan properti dan make up.

Wednesday, January 6, 2021

Review Series Thailand Blacklist

January 06, 2021 0
Review Series Thailand Blacklist

Setelah selesai maraton nonton The Gifted series (season 1 & 2), saya nemu series Blacklist di channel Youtube GMMTV. Coba nonton deh. Serupa dengan The Gifted, series Blacklist juga memiliki tema kehidupan sekolah (yang penuh rahasia gelap, nggak mungkin normal-normal aja). Series Blacklist release tahun 2019, berjumlah 12 episode dan diproduksi oleh GMMTV.

Series Blacklist berkisah tentang enam murid yang tergabung dalam kelompok Blacklist. Mereka berusaha membongkar keburukan sekolah dengan bimbingan salah satu guru, bernama Padej. Misi mereka dimulai dengan menyelidiki seorang murid di sekolah mereka bernama Fah—kakak Traffic—yang menghilang secara misterius. Namun, saat menyelidiki kasus menghilangnya Fah, anggota Blacklist justru menemukan rahasia mengerikan di sekolah mereka. Di sekolah mereka ada kelompok bernama The God's Hand yang kemungkinan berkaitan dengan menghilangnya Fah. Namun, semakin Blacklist menguak kelompok The God's Hand, semakin banyak hal-hal buruk terjadi.

Premis series Blacklist menjanjikan sih, tapi tidak dengan eksekusinya. Pada episode awal hingga pertengahan semua berjalan dengan mulus. Plot dan transisinya masih terbilang rapi. Namun, memasuki episode tengah ke belakang, transisinya kurang mulus. Ada beberapa adegan kurang masuk akal dan lini masa yang perlu dipertanyakan. Lalu, cerita yang dimaksudkan sebagai plot twist justru terkesan dipaksakan.

Secara plot dan transisi series Blacklist memang memiliki beberapa kekurangan. Namun, saya menyukai karakterisasi kelompok Blacklist. Kelompok Blacklist terdiri dari enam anggota yang memiliki kemampuan dan karakter berbeda-beda. Karakter yang melekat pada tokoh tersebut akan berguna untuk menjalankan cerita. Jadi bukan sekadar tempelan.

  • Tokoh Traffic (diperankan oleh Nanon) adalah pemimpin kelompok Blacklist. Ia digambarkan sebagai sosok yang dingin, tenang, dan penuh pertimbangan. Ia memiliki kepercayaan terhadap kemampuan timnya dan berperan sebagai back up tim.
  • Tokoh Andrew (diperankan oleh Chimon) digambarkan sebagai sosok yang gegabah, pemberontak, suka memakai kekerasan dan mengintimidasi orang lain. Namun, kemampuannya berimprovisasi dalam situasi genting tidak bisa diragukan.
  • Tokoh Highlight (diperankan oleh Ohm) digambarkan sebagai tokoh pendiam, tenang, tertutup, pandai menganalisis suatu kasus (Hobinya membaca komik Detective Conan, jadi ia belajar banyak dari komik itu).
  • Tokoh Title (diperankan oleh Drake) digambarkan sebagai tokoh yang ceplas-ceplos, humoris, dan suka tebar pesona ke cewek-cewek (tapi cewek yang disukai cuma Cupcake). Ia memiliki kemampuan bela diri.
  • Tokoh Jim Bae (diperankan oleh First) sepaket dengan Title, sama-sama tokoh yang ceplas-ceplos dan kocak. Ia memiliki kemampuan sebagai mata-mata, karena pandai bergaul. Ia juga pandai bermain berbagai jenis board game.
  • Tokoh Bantad (diperankan oleh Frank) digambarkan sebagai sosok yang cerdas dan pandai dalam dunia IT. Ia berperan meretas perangkat, melacak lokasi, dan mencari informasi melalui dunia maya.

Spoiler alert!

Sebenarnya Blacklist ini kan membicarakan isu penggunaan obat terlarang agar kinerja murid dalam belajar lebih meningkat demi mendongkrak nilai. Isu itu sepertinya pernah ada di Indonesia juga, lupa tahun berapa. Masalahnya, pengemasan isu itu ke dalam cerita yang disajikan dalam series Blacklist terlalu melebar, kurang fokus pada isu yang ingin diangkat. Bahkan lingkup permasalahan sampai melibatkan mafia dan tindakan kriminal. Kasus Fah yang menjadi inciting incident (kejadian yang mendorong suatu tokoh untuk mengambil tindakan) bagi tokoh Traffic, seakan diabaikan. Kasus Fah jadi semacam tempelan dan cuma bakal digunakan sebagai plot twist pada dua episode terakhir, yang itu pun terkesan dipaksakan.

Banyak detail adegan yang tidak diperhatikan, misalnya saat Title masuk ke kamar Champ. Baru beberapa detik Title di dalam kamar dan belum ngapa-ngapain, tiba-tiba Champ sudah ada di dalam kamarnya. Padahal tadi ia sudah turun menggunakan lift. At least, berikan jeda agak lama. Lalu, adegan Champ melompat dari jendela dan ditangkap oleh Jim Bae menggunakan tempat tidur dorong juga aneh. Gimana ceritanya salah satu tangan Champ menyelip ke terali besi di sisi tempat tidur. Intinya posisi Champ unbelievable banget deh. Selain itu, transisi yang terlalu mendadak juga terjadi saat kejar-kejaran antara kelompok Blacklist dan Viking (yang nyamar menjadi pemimpin kelompok The God's Hand). Transisinya terasa patah.

Beberapa tokoh dalam Blacklist juga tidak konsisten. Tokoh polisi di cerita Blacklist pun sangat tidak meyakinkan. Saya pikir, semestinya polisi tidak mudah percaya dengan laporan yang sumbernya tidak jelas. Namun, ketika ada laporan tentang Traffic yang melakukan percobaan pembunuhan terhadap Fah, mereka langsung percaya begitu saja. Mereka menggeledah apartemen Traffic dan Fah, lalu menemukan makanan kotak yang mengandung racun. Menurut delivery man, orang yang memesan makanan adalah Traffic. Padahal delivery man juga bisa dicurigai sebagai pelaku. Tapi, polisi tidak curiga sama sekali dengan delivery man, hanya karena ada surat dari Fah yang menyatakan bahwa Traffic berbuat jahat terhadap Fah. Mereka juga tidak melacak saluran telepon untuk memastikan si pemesan makanan, yang ternyata adalah Guru Jinmanee.

Ada juga nih adegan cringe abis. Salah satunya adegan di ruang kepala sekolah, saat Melon dan Phukkad sedang memeriksa ponsel Guru Jinmanee agar mereka bisa menemukan bukti percakapan Guru Jinmanee dengan delivery man. Lebih anehnya, kenapa percakapan itu disimpan sama Guru Jinmanee. Bukti kejahatan mah mestinya dimusnahkan langsung. Selain itu, adegan setelah Pak Karin ditangkap polisi itu juga aneh. Ngapain sih Pak Karin sama satu polisi masih berdiri di halaman rumah Pak Karin, kayak nungguin seseorang datang gitu. Lalu, beneran Traffic menghampiri mereka dan minta bicara empat mata sama Pak Karin. Dibolehin dong sama polisinya. Speechless.

Langsung kesimpulan saja deh. Overall, saya tidak puas sama series Blacklist. Sayang banget, premis dan isu yang mau disampaikan sebenarnya cukup menarik. Tapi, plotnya tidak disusun dengan rapi, sehingga banyak plot hole. Detail dan transisi adegan juga banyak yang diabaikan. Beberapa tokoh memiliki karakter yang kurang meyakinkan.


Friday, January 1, 2021

Review Series Thailand The Gifted Graduation

January 01, 2021 0
Review Series Thailand The Gifted Graduation

The Gifted Graduation release tahun 2020. Kalian bisa menontonnya melalui aplikasi Iflix ataupun WeTV. Masih sama dengan season 1 (The Gifted), series ini punya jumlah 13 episode. The Gifted Graduation mengisahkan tentang kelanjutan perjuangan Pang, setelah Program Unggulan sempat ditutup. Pada tahun ajaran baru, Pak Supot kembali membuka Program Unggulan. Namun, Kementerian menolak proposal Pak Supot. Lalu, seorang murid angkatan baru bernama Time—yang memiliki impian untuk bisa masuk Program Unggulan—membuat petisi agar Kementerian mengizinkan SMA Ritdha membuka Program Unggulan. Akhirnya, Program Unggulan dibuka kembali. Mendengar berita tersebut, murid Unggulan angkatan XV tidak mau tinggal diam. Mereka merencanakan sesuatu. (Angkatan XV itu angkatannya Pang.)

The Gifted Graduation
(sumber: mydramalist)

Sejujurnya, saya lebih suka The Gifted daripada The Gifted Graduation. Di season 2 ini saya menemukan potensi plot hole. Plot hole ini bikin ganjalan banget di suatu cerita. Selain itu, peraturan-peraturan yang dimasukkan untuk world building di The Gifted Graduation semakin wow (Aduh, nggak ada kata yang bisa mengekspresikannya). Semua memang terserah sama yang nulis skenario. Ia sah-sah saja memasukkan peraturan yang akan mendukung plot. Namun, ada beberapa hal yang terkesan dipaksakan.

Lingkup permasalahan dalam The Gifted Graduation sudah bukan di sekolah saja, tapi sampai Kementerian, bisa dikatakan nasional. Masalahnya semakin kompleks dan berkembang luas. Banyak tokoh-tokoh baru, seperti Time; Grace; dan Third  yang merupakan murid Unggulan baru. Ada orang baru juga dari Kementerian yang masuk ke lingkungan SMA Ritdha, Bu Darin—yang tentunya bakal membawa masalah baru. Lalu, tokoh Namtaan tidak ambil bagian dalam cerita. Tokoh Namtaan diceritakan pindah sekolah. Ia cuma muncul di akhir episode.

Tokoh Pak Supot semakin menjadi-jadi di The Gifted Graduation. Asli kasihan sama Pang. Emosinya diacak-acak berkali-kali, sampai Pang putus asa. Emosi penonton juga diacak-acak dong. Kesel saya tuh, sampai tidak bisa percaya sama apa pun yang ditampilkan di setiap episode. Pasti bakal ada apa-apanya. Di review The Gifted yang saya tulis (bisa dibaca di sini), saya pernah menyinggung kalau plot twist di The Gifted Graduation 'gila'. Nah itu, hati-hati saja ranjaunya banyak. Kalian tidak akan dibiarkan tenang hingga akhir.

Spoiler alert!

Di season 2 ini Pang dibikin tidak berdaya dan karakternya dibuat goyah. Sesaat sempat tidak sependapat dengan keputusan-keputusan yang diambil Pang, tapi di sisi lain bisa paham juga kenapa ia bersikap gegabah (dengan memercayai Pak Supot). Pak Supot ini karakter yang bahaya banget, manipulatif, jahat. Jadi, Pang harus mengatur strategi baru dengan tidak secara terang-terangan melawan Pak Supot dan Kementerian.

Walaupun sempat putus asa karena gagal terus, tapi Pang tetap bisa bangkit. Ia nyaris lupa, bahwa selalu ada teman-temannya yang bersedia membantunya. Ia tidak harus berjuang dan berkorban sendiri. Meskipun sempat tidak akur dengan teman-temannya, pada akhirnya mereka kembali bersatu.

Di season 2 ini bromance antara Pang dan Wave semakin bikin melting. Saya terkesan dengan kesetiakawanan Wave. Wave menelepon Pang sampai 25 kali saat Pang tiba-tiba menarik diri, walaupun tetap tidak diangkat sama Pang. Ia rela minum NYX 88 (virus yang menginfeksi sel Unggulan) demi menemukan Pang. Di ending cerita ia juga mau masuk ke universitas swasta biar bisa bantu Pang, secara Pang tidak mungkin masuk ke universitas negeri (Pang saja tidak mikirin gimana ujiannya). Tapi, pengorbanan Pang buat teman-temannya juga 'gila'. Ia pasang badan untuk mereka.

Nah, mau sedikit bahas tokoh Grace yang juga jadi kunci cerita. Ada paradoks yang sering bikin bingung dan ini ada kaitannya dengan kekuatan super Grace. Grace bisa berkomunikasi dengan dirinya yang berasal dari masa depan dan dirinya dari masa depan bisa mengambil alih kesadaran Grace. Namun, di akhir episode ada adegan Grace memilih untuk menghilangkan potensinya. Menurut saya itu bakal jadi masalah dan mempengaruhi peristiwa-peristiwa sebelumnya.

Perkembangan potensi Grace tidak lepas dari bantuan Grace dari masa depan. Dirinya dari masa depan itulah yang memanggil Grace. Grace dari masa depan jugalah yang membuat berbagai rencana demi memuluskan rencana Pang dkk. Ia juga sudah mencari berbagai kemungkinan agar hasil akhirnya Pak Supot yang kalah. Ia melatih dirinya untuk bisa menguasai kesadaran Grace di masa lalu. Kalau Grace saja menghapus potensinya, maka Grace dari masa depan tidak akan bisa membantu Pang dkk. Itu serupa dengan temporal paradox atau time travel paradox.

Hal lain yang menimbulkan pertanyaan bagi saya adalah kemampuan Korn dalam mempercepat penyembuhan. Menurut saya itu tidak ada hubungannya sama kemampuannya untuk terjaga selama 24 jam. Itu salah satu peraturan tambahan yang saya singgung di paragraf kedua dan terkesan dipaksakan. Kalau tidak ada peraturan itu, Korn pasti mati setelah melompat dari gedung tinggi. Awalnya pun saya mengira Korn mati. Well, mungkin penulis ingin memberikan keadilan bagi tokoh Korn. Membuat Korn mati pasti terasa kejam (karena sudah banyak kekejaman lainnya). Namun, selalu ada alternatif lain biar alasannya lebih bisa diterima, kan.

Setelah melewati episode-episode dengan cerita yang padat. Ending The Gifted Graduation tidak serta merta melegakan, justru menimbulkan dilema. Pang memiliki beberapa pilihan yang sama-sama berisiko. Pertama, pilihan dari Grace: Tidak boleh ada Unggulan (dengan kata lain setiap kekuatan super harus dihapus). Namun, pilihan dari Grace itu akan berefek juga untuk Grace dari masa depan. Pilihan kedua, menyebarkan audio yang membangkitkan kekuatan super ke seluruh murid. Pilihan tersebut juga gila sih. Kalau kekuatan super dimiliki orang yang tidak bertanggungjawab bisa menimbulkan kekacauan, kan. Tapi, Pang ingin memberikan murid-murid lain pilihan dan kesempatan. Ia tidak mau egois dengan menutup kesempatan bagi mereka (Sejak awal Pang memang humanis). Andai murid tersebut ternyata tidak menyukai potensinya, ia boleh menghapusnya. Contohnya Korn, ia merasa tersiksa memiliki kemampuan terjaga selama 24 jam. Ia ingin bisa tidur nyenyak dan bermimpi.

Setelah tahu ending The Gifted Graduation, saya tidak terlalu berharap akan ada season 3. Lebih tepatnya tidak terbayang akan seperti apa kalau ada season 3. Kalau pun ada season 3, mungkin perjuangan/tujuan tokoh akan berbeda. Dan yang terpenting, saya tidak berharap masih ada Pak Supot.

Comment