March 2020 - MELALUI RUANG

Thursday, March 19, 2020

Hero Coffee di Kota Lama Semarang

March 19, 2020 0
Hero Coffee di Kota Lama Semarang
Alamat: Jl. Kepodang No.33, Purwodinatan, Kec. Semarang Tengah, Kota Semarang, Jawa Tengah 50137

Di Kota Lama Semarang memang banyak tersebar kedai kopi, sampai-sampai saya ingin menjelajahi semuanya. Saya tahu Hero Coffee saat mengikuti festival literasi Patjar Merah tahun lalu. Kebetulan gedung untuk acara tersebut bersebelahan dengan Hero Coffee. Dalam hati saya berencana untuk mampir. Yah, tapi baru kesampaian akhir-akhir ini.
Hero Coffee Kota Lama Semarang
Bagian Depan Hero Coffee ©

Ketika memasuki Hero Coffee, interior café tersebut langsung mencuri perhatian saya. Dinding Hero Coffee mempertahankan dinding lama yang catnya tampak mengelupas, tapi justru seninya di situ. Beberapa dekorasi retro pun tertempel di dinding.

Area dalam sangat luas dan langit-langitnya tinggi. Konsep dapur di Hero Coffee ini opened kitchen dan berada di ruang pertama. Setelah ruang pertama ini ada area outdoor lagi (selain area outdoor di depan café). Lalu masuk lagi masih ada sitting area, toilet dan musala.

Menu kopi yang disediakan di Hero Coffee ini sangat lengkap, sampai saya bingung mau pesan yang mana. Ada kategori espresso classic yang menunya yaitu, espresso, doppio, piccolo, guillermo, espresso con panna, coffee con hielo, macchiato, flat white, long black, cream brule, americano, cappuccino, affogato, mochacino, dan caffe latte. Nah, banyak banget kan, itu baru satu kategori. Ada kategori single origin yang cara seduhnya macam-macam, mau pakai metode tubruk, pour over pakai kalita ataupun V60, aero press, french press, bahkan syphon. Selain itu, ada kategori signature alias minuman yang racikannya cuma Hero Coffee miliki. Agak lupa apa saja, yang paling saya ingat adalah terracheese dan espresso wave.
Cream Brule Coffee di Hero Coffee Kota Lama Semarang
Cream Brule Coffee ©

Setelah melihat begitu banyak menu kopi yang menggiurkan, saya bersikeras untuk kembali ke Hero Coffee lagi. Untuk kunjungan kali ini saya mencoba cream brule coffee dan terracheese. Cream brule coffee terbuat dari espresso dan susu karamel dengan brown sugar yang dilumerkan di bagian atasnya. Rasa kopinya tidak over powering, tapi tetap kuat. Tidak terlalu manis. Sementara terracheese adalah perpaduan kopi, tiramisu, es krim, keju. Namun, bagi saya terracheese terlalu manis dan heavy.

Menu makanan juga bervariasi, dari snack hingga makanan berat. Sebenarnya saya tidak terbiasa minum kopi sambil makan berat, tapi saat itu saya kelaparan. Alhasil saya memesan rice bowl shredded beef alias rice bowl daging suwir. Di luar dugaan porsinya bikin kenyang. Nasinya harum, tampaknya digoreng dengan margarin dan bawang. Lalu ada sayuran yang ditumis dan tentu saja daging suwirnya. Sayangnya saus daging suwirnya terlalu asin. Namun, overall saya menikmati menu tersebut.

Overall, Hero Coffee sangat recommended baik dari menu, area, dan pelayanan. Waktu tunggu menu keluar normal dan harga menu bisa dibilang menengah ke atas. Area memadai untuk kelompok besar. Kebetulan saat saya datang ada rombongan ibu-ibu dan bapak-bapak. Friendly untuk yang suka kopi atau tidak, karena ada minuman non kopi juga. Mau untuk nongkrong, diskusi, atau makan saja, Ok.

Saturday, March 14, 2020

Review Drama Mandarin The Big Boss season 2

March 14, 2020 0
Review Drama Mandarin The Big Boss season 2
Sebelumnya saya sudah menulis ulasan The Big Boss season 1 di sini, silakan baca dulu. Sebelum membahas season 2 (16 episode), saya jelaskan sedikit gambaran tentang drama mandarin The Big Boss. The Big Boss ini diangkat dari manhua dengan judul Ban Zhang Da Ren karya Chen Lan. The Big Boss berkisah tentang kehidupan SMA seorang remaja perempuan bernama Ye Mu Xi (nickname: Yezi). Ia memiliki musuh bebuyutan bernama Liao Dan Yi, seorang remaja laki-laki yang pintar dan dingin. Sifat Dan Yi sangat bertolak belakang dengan Yezi. Selama 9 tahun belajar Yezi selalu sekelas dengan Dan Yi. Selama itu pula Dan Yi selalu menjadi ketua kelas yang sering mengatur Yezi, karena Yezi pemalas dan nilainya jelek.

Saat SMA Yezi pikir ia akan terbebas dari Dan Yi, ternyata ia salah. Dan Yi masuk ke sekolah yang sama dengannya. Lebih parahnya mereka sekelas lagi. Semestinya Dan Yi berada di kelas 1, tapi gara-gara sakit ia tidak hadir di ujian penentuan kelas. Alhasil ia berada di kelas 10, kelas paling buruk nilainya. Tidak ingin diatur oleh Dan Yi, Yezi pun memberanikan diri untuk mengajukan diri menjadi ketua kelas.

Jika untuk season 1 tidak fokus dengan hubungan asmara, maka tidak dengan season 2. Di season 2 ini mulai terlihat kisah percintaan para tokohnya. Dan ketahuilah, setelah nonton season 2 saya baru sadar Liao Dan Yi yang dingin ternyata sebucin itu sama Yezi. Sementara itu, Xue Xiao Dong si artis yang tadinya tidak bisa sekolah, karena terlalu sibuk dan banyak dikejar-kejar fans sehingga tidak leluasa, akhirnya menunjukkan perasaannya kepada Yezi. Namun, Yezi yang kurang peka itu hanya menganggap kebaikan Xue Xiao Dong sebagai kebaikan antar teman. Lalu, ketua kelas 1 yang naksir berat dengan Dan Yi itu, selalu kena apes saat mencoba mendekati Dan Yi atau saat membayangkan kebersamaannya dengan Dan Yi. Kocak sih bagian ini.

Di season 2 ini Nenek Dan Yi masih muncul dan ada konflik baru juga terkait Nenek Dan Yi dan Ayah Dan Yi. Permasalahan itu juga sempat membuat hubungan Dan Yi dan Yezi renggang. Bahkan Dan Yi memutuskan untuk mengajukan transfer kelas. Meskipun beberapa kali dibuat kesal oleh Dan Yi, tapi Yezi merasa kehilangan saat Dan Yi tidak berada di sekitarnya. Terus gimana dong hubungan keduanya berlanjut? Akan terus musuhan atau lebih parahnya menjadi asing satu sama lain? Nonton deh.

Sesungguhnya saya kecewa dengan season 2, karena menurut saya editing-nya berantakan. Banyak adegan tidak penting yang mengganggu dan plot hole di beberapa adegan. Seolah-olah adegan itu cuma untuk nambah-nambahin durasi. Ada juga konflik yang menurut saya penting, tapi tidak ada penyelesaiannya. Sangat disayangkan. Namun, sekitar 3 episode terakhir editing-nya mulai rapi lagi. Saya merasa yang nge-direct beda orang, terus editor jadi kesulitan menyunting gambar. Entahlah yang bermasalah yang mana.

Sedikit contoh bagian yang merusak season 2 (spoiler alert):
1. Adegan tidak penting
Ngapain sih ada adegan Huang Nan, Huang Yi, dan cewek yang suka meramal (lupa namanya siapa) tasnya nyangkut di pohon. Adegan itu sama sekali tidak ada sangkut pautnya sama plot di episode tersebut. Adegannya juga cuma beberapa detik, semestinya dihapus saja.

2. Plot hole
Di suatu episode sudah masuk masa liburan. Bahkan Dan Yi sudah mulai ikut pelajaran tambahan untuk Olimpiade, sedangkan Yezi bermalas-malasan di rumah. Eh, kok di episode selanjutnya ada adegan nongkrong teman-teman Yezi, tapi mereka pakai seragam. Kayak habis pulang sekolah.

3. Konflik yang tidak diberikan penyelesaian
Jadi ada masalah yang membuat Ayah Dan Yi tidak suka dengan Yezi. Lalu Ayah Dan Yi menyuruh Dan Yi menjauhi Yezi. Sebenarnya konflik tersebut bisa dikembangkan dan diberi penyelesaian daripada menyisipkan adegan tidak penting yang sama sekali tidak ngaruh ke alur. Bisa kan pada akhirnya dibuat Ayah Dan Yi melunak.

Sebelumnya sempat saya singgung betapa bucinnya Dan Yi ke Yezi, sebenarnya dalam arti positif sih. Dan Yi ingin Yezi mandiri dan lebih bertanggungjawab, makanya ia rela sekelas terus sama Yezi. Sebab menurutnya dengan sekelas ia bisa lebih leluasa mengawasi perkembangan akademik Yezi. Di akhir cerita kan mestinya Dan Yi pindah ke kelas 1, tapi ia tidak jadi pindah. Again and again, Dan Yi alasan sakit, jadi ia tidak ikut ujian kepindahan kelas. Ini membuat saya berspekulasi, jangan-jangan waktu awal-awal masuk sekolah ia juga pura-pura sakit biar bisa sekelas sama Yezi. Oh my… Hahaha…

Ok segitu saja, nanti saya kebanyakan spoiler lagi. Nonton saja untuk tahu detailnya.

Karena tak ada satu pun hal darimu yang hanya sepele bagiku. (Dan Yi kepada Yezi)

Thursday, March 12, 2020

Fiksi: Plot Driven vs Character Driven

March 12, 2020 0
Fiksi: Plot Driven vs Character Driven
Sebelumnya, ketika menulis cerita fiksi saya tidak terlalu memerhatikan mau menggunakan plot driven atau character driven. Biasanya lebih fokus ke genre, tokoh, alur, dan POV. Tanpa saya sadari, saya lebih banyak berkutat di plot driven. Lalu, saat kelas menulis skenario Ernest Prakasa, plot driven dan character driven sedikit disinggung. Semenjak itu jadi cari tahu lebih tentang plot driven dan character driven. Apakah itu plot driven dan character driven? Apa perbedaan dari keduanya? Simak penjelasan saya berikut.
Plot Driven Story vs Character Driven Story
©️

Plot Driven

Cerita fiksi yang ditulis menggunakan plot driven umumnya fokus terhadap kejadian eksternal yang akan mendorong cerita terus bergerak. Tujuan dari cerita juga akan lebih eksternal, karena plot driven fokus pada pengembangan situasi. Ciri-ciri cerita plot driven biasanya terdapat plot twist, ada aksi, dan konflik eksternal.

Pada umumnya tokoh di cerita plot driven dipaksa untuk mengambil tindakan cepat. Tindakan tokoh tersebutlah yang akan berdampak ke pengembangan karakter dan plot. Contoh cerita fiksi yang  kerap menggunakan plot driven adalah cerita fantasi, misteri, romance.

Pada cerita plot driven, plot ibaratkan lintasan yang harus diikuti oleh pembaca. Kekuatan utama dari cerita tersebut ya ada pada plotnya. Sebisa mungkin pembaca harus dibawa naik turun agar bisa merasakan sensasi cerita.

Character Driven

Cerita fiksi dengan character driven berfokus pada tokoh dan perubahan internal. Konflik yang terjadi pun adalah konflik internal. Ketika pembaca membaca cerita jenis ini, mereka akan ikut memikirkan perilaku, pikiran, tindakan, perasaan, keputusan, dan perubahan yang terjadi terhadap tokoh. Hal-hal internal tokoh itulah yang akan membentuk keseluruhan cerita.

Saya sempat bereksperimen membuat cerita pendek menggunakan character driven. Cerita tersebut bisa dibaca di sini. Cerita tersebut menggunakan POV orang pertama, karena menurut saya akan lebih leluasa menggambarkan pikiran dan perasaan si tokoh. Jadi lebih deep, karena yang berbicara si tokoh itu sendiri.

Jadi, sebelum menulis cerita pilih dulu faktor pendorong cerita, mau plot driven atau character driven. Lalu bereksperimenlah dengan tulisanmu.

Terima kasih telah berkunjung di Melalui Ruang. Silakan tinggalkan komentar. Mari berdiskusi!

Comment