March 2018 - MELALUI RUANG

Saturday, March 17, 2018

Perpustakaan Kecil di Angkutan

March 17, 2018 0
Perpustakaan Kecil di Angkutan
Di suatu sore itu habis turun hujan, sekitar jam 17:00 saya naik angkutan seperti biasa. Namun, ada yang tidak biasa dengan angkutan yang saya naiki. Di bagian belakang angkutan terdapat deretan buku dan air mineral gratis. Cukup takjub dengan angkutan tersebut karena sejak dulu menggunakan jasa angkutan sampai sekarang belum pernah menemui angkutan serupa. Hal tersebut membuat saya tersentuh, sambil mencari nafkah supir angkutan tersebut menyebarkan budaya membaca di masyarakat.

Dokumentasi pribadi

Di depan deretan buku tersebut ada tulisan 'timbang ngalamun moco buku lur, nek ngelak ngombeo, gratis', yang artinya 'daripada melamun baca buku saudara, kalau haus minum saja, gratis'. Buku yang diletakkan di rak tersebut memang masih sedikit, sekitar sepuluh mungkin. Namun, bagi saya ajakan untuk membaca itulah yang patut diapresiasi.

Saat saya naik angkutan turut juga seorang anak dan ada beberapa ibu-ibu juga. Anak tersebut nampak tertarik membaca buku cerita, sedangkan ibu-ibu membuka-buka buku resep masakan. Hal itu menunjukkan sebenarnya keinginan masyarakat untuk membaca itu ada hanya mungkin ada beberapa faktor penghambat, entah karena harga buku masih relatif mahal bagi mereka atau keberadaan perpustakaan yang kurang maksimal.

Sebagai seorang yang suka baca buku saya sendiri belum bisa melakukan tindakan nyata untuk mengajak masyarakat membaca buku, tapi saya berharap suatu saat bisa berpartisipasi. Semoga semakin banyak masyarakat Indonesia yang sadar akan pentingnya membaca.

Thursday, March 1, 2018

Buku yang Saya Baca Februari 2018

March 01, 2018 0
Buku yang Saya Baca Februari 2018
Memasuki bulan kedua di tahun 2018, cukup baik masih konsisten membaca buku. Sebenarnya Februari ini saya khususkan untuk membaca buku tahun lalu yang belum sempat saya selesaikan, alias mandek di tengah jalan.

Critical Eleven

15 Februari - 22 Februari 2018 pukul 22:30 baru saja selesai membaca Critical Eleven
Siapa sih yang tidak tahu novel ini, pasti sudah pada tahu ya, apalagi setelah difilmkan. Saya mendapat novel ini gratis, dapat dari acara Gramedia punya sekitar bulan Juli 2017. Sebelumnya cuma tahu mengenai Critical Eleven ya dari trailer filmnya (cuma trailer belum pernah nonton juga). Kapan saya mulai baca novel ini jawabannya adalah lupa, mungkin bulan Agustus atau September, entahlah. Yang jelas setelah itu malah mandek. Apa alasan saya berhenti? Bukan karena tidak tertarik, tapi saat itu lebih banyak meluangkan waktu untuk menulis (yang hasilnya belum nampak sampai sekarang hahaha).

Novel Critical Eleven oleh Ika Natassa
Critical Eleven ©

Buku ini memakai sudut pandang orang pertama yang secara bergantian antara Anya dan Ale. Kesan saya baca buku ini cukup enjoy, suka gaya bahasanya, tapi menurut saya alurnya lamban. Sejujurnya saya tidak terlalu suka alur lamban, yah tergantung selera ya. Selama membaca saya mudah membayangkan tokoh-tokoh yang ada, terlebih saya sudah nonton trailernya jadi yang terbayang ya Adinia Wirasti dan Reza Rahadian. Selain itu, flashback yang disajikan dalam novel ini menurut saya menjadi salah satu yang menarik. Meskipun alurnya maju mundur tapi saya tidak kesulitan memahami ceritanya.

Bagi saya membaca buku juga harus bisa memetik makna di balik cerita yang disuguhkan atau sekadar baca untuk hiburan tidak apa-apa juga sih. Di sini saya menangkap, 'oh ini toh yang namanya five stages of grief'. Stages tersebut antara lain, penyangkalan, kemarahan, menawar, depresi, dan penerimaan. Anya dan Ale mengalami masalah berat, yang kemudian penyelesaiannya melalui tahapan-tahapan tersebut. Dan, konflik di antara mereka bagi saya terlihat nyata dan natural.

Kumpulan Budak Setan

24 Februari 2018 baru saja selesai membaca Kumpulan Budak Setan
Saya lupa sekali beli buku ini bulan kapan dan mulai baca kapan (penyakit!). Saya juga tidak yakin kenapa kalau membaca kumpulan cerpen suka berhenti-berhenti. Jadi, buku ini ditulis oleh Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, dan Ugoran Prasad. Kumpulan cerpen ini semacam didedikasikan untuk penulis lampau bernama Abdullah Harahap. Saya sendiri belum pernah membaca karya beliau (Dan saya yakin pasti bukunya langka).

Kesan singkat setelah baca buku ini -> sama kayak judulnya, 'ini budak setan banget'. Jangan mengharapkan happy ending, never happened! Sudah itu saja (seriusan singkat).

Buku Kumpulan Budak Setan oleh Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, Ugoran Prasad
Kumpulan Budak Setan ©

Resign

24 Februari - 25 Februari 2018 pukul 16:00 baru saja selesai membaca Resign
Buku ini baru saja saya beli, jadi tidak masuk prokrastinasi saya. Awalnya tertarik beli karena baca tweet salah satu editor GPU yang suka lewat di timeline (efektif ini), jadi penasaran banget. Katanya ada versi wattpadnya, tapi saya belum pernah baca yang di wattpad. Novel ini ditulis oleh Almira Bastari, mengisahkan kehidupan kantor para Cungpret (kacung kampret) yang overload. Mereka melakukan taruhan agar bisa resign lebih dahulu dari yang lain. Ibaratkan kalau 17 Agustus ada lomba balap karung, nah kalau ini lomba balap resign.

Novel Resign oleh Almira Bastari
Resign ©

Overall buatku novel ini menghibur sekali. Bikin senyum-senyum sendiri, kadang juga bikin saya mengangguk-angguk setuju dengan opini para Cungpret ini. Selama saya membaca buku ini enjoy sekali, tidak ada halaman yang membuat saya bosan. Ringan juga, tidak perlu mikir terlalu keras, cocok dibaca buat santai di akhir pekan.

Sama dengan bulan lalu, bulan ini saya baru mampu baca tiga buku, tapi lumayanlah. Itu dia kesan saya baca novel-novel tersebut. Semoga bulan Maret saya bisa baca buku lebih dari tiga ya, semoga.


Comment