April 2021 - MELALUI RUANG

Thursday, April 22, 2021

Review Drama Korea Misaeng: Incomplete Life

April 22, 2021 0
Review Drama Korea Misaeng: Incomplete Life
Drama Korea Misaeng: Incomplete Life release pada tahun 2014 dan berjumlah 20 episode. Durasi masing-masing episode lumayan panjang, lebih dari 1 jam bahkan ada yang 1,5 jam. Drama Korea Misaeng diperankan oleh Im Si Wan (sebagai Jang Geu Rae), Lee Sung Min (sebagai Oh Sang Shik), Kang So Ra (sebagai Ahn Young Yi), Kang Ha Neul (sebagai Jang Baek Gi), Byun Yo Han (sebagai Han Seok Yool), dan Kim Dae Myung (Kim Dong Shik). Misaeng bisa kalian tonton di aplikasi IQIYI.

Misaeng mengisahkan kehidupan urban, para pegawai kantor yang bekerja di sebuah perusahaan internasional. Cerita dimulai dari seorang tokoh bernama Jang Geu Rae yang mengikuti magang di perusahaan One International, setelah ia gagal menjadi pemain baduk profesional. Namun, ia mendapat banyak kesulitan, karena ia bukan lulusan perguruan tinggi. Terlebih ia mendapat koneksi untuk bisa menjadi pegawai magang, sehingga itu menyebabkan pegawai magang lain tidak suka dengannya dan meremehkannya.

Saat tiba penentuan pegawai yang diangkat, Jang Geu Rae terpilih bersama tiga pegawai magang lain, yaitu Ahn Young Yi, Jang Baek Gi, dan Han Seok Yool. Tapi, hanya Jang Geu Rae yang menjadi pegawai kontrak, karena ia tidak memenuhi kualifikasi sebagai pegawai tetap. Setelah itu Jang Geu Rae beradaptasi dalam lingkungan kerja yang membutuhkan ketepatan dan kecepatan. Ia menggunakan permainan baduk sebagai panduannya dalam menghadapi berbagai situasi di dunia kerja.

Jujur saja waktu memutuskan nonton Misaeng karena saya suka sama aktingnya Im Si Wan, efek habis nonton Stranger from Hell. Eh tahunya ada Kang Ha Neul juga. Ketika nonton episode 1 rasanya lama banget, terang saja durasinya 1,5 jam. Saya agak khawatir gimana kalau durasi yang panjang itu bikin saya kurang betah, apalagi ini tentang dunia perkantoran, ternyata tidak. Memasuki episode 2 saya enjoy banget nonton. Saya bisa menikmati setiap episodenya.

Misaeng ini juga tidak melulu fokus ke kehidupan Jang Geu Rae, tapi juga para tokoh lain. Misalnya Oh Sang Shik, manager penjualan tim 3 tersebut memiliki masa lalu buruk terkait pegawai magang yang pernah bergabung dalam timnya. Masa lalu itu terus membayanginya dan membuatnya merasa bersalah. Belum juga ia harus patuh dengan atasannya yang bermain 'politik' di dalam perusahaan, yang mana itu sangat bertolak belakang dengan hati nuraninya.

Lalu, ada Ahn Young Yi yang menjadi generasi sandwich (terhimpit karena harus membiayai dua generasi). Meskipun di sini Ahn Young Yi belum menikah dan tidak membiayai anak, tapi ia terbebani oleh orang tuanya yang memiliki banyak hutang. Sampai ia tidak pernah merasa lega dan menikmati gajinya, karena harus selalu menekan pengeluarannya. Bahkan sampai sepatunya rusak, ia menahan diri untuk membeli yang baru. Ada juga dialog yang diucapkan oleh Oh Sang Shik kepada Ahn Young Yi, "Jangan nikmati sandwich-mu sendiri." Kalimat itu bagi saya bisa diartikan lain, bukan sekadar menyuruh untuk makan bareng rekan-rekan lain. Namun juga bisa berarti: jangan menanggung beban sendiri. Selain itu Ahn Young Yi sebagai pegawai wanita juga kerap diremehkan, padahal ia memiliki kemampuan luar biasa. Di sini terlihat jelas ada isu seksisme di dunia kerja. Ada juga isu pelecehan terhadap pegawai wanita. Pelecehan itu bukan hanya secara fisik, tapi juga verbal.

Ada pula Jang Baek Gi yang merasa tidak memiliki kontribusi dan pencapaian selama bekerja. Ia terobsesi untuk bisa melakukan hal-hal yang akan menarik perhatian. Ia merasa pintar dan tidak perlu mempelajari hal-hal dasar seperti yang disarankan seniornya, karena lulus dari universitas bergengsi dibandingkan Jang Geu Rae. Namun ia menganggap seniornya hanya tidak menyukainya, maka ia tidak pernah mendapat tugas penting. Padahal setiap tugas sekecil dan sesederhana apa pun itu penting. Hal itu membuat Jang Baek Gi terus dipenuhi rasa iri kepada Jang Geu Rae dan justru tidak fokus bekerja. Bahkan ia sempat berpikir untuk keluar dari One International.

Sama seperti rekan lainnya, Han Seok Yool juga memiliki masalah sendiri di divisi tekstil. Ia harus menghadapi senior yang suka cari muka di depan pimpinan dan melimpahkan semua tugas kepada dirinya. Saat pekerjaan Seok Yool bagus yang mendapat pujian seniornya, tapi saat ada masalah Seok Yool yang disalahkan. Seok Yool juga sempat berpikir untuk resign.

Sementara itu Jang Geu Rae terus bertahan dengan bekerja keras, karena ia merasa selama ini belum bekerja keras. Ia ingin membuktikan perkataannya kepada Oh Sang Shik, bahwa ia memiliki kualitas dan kuantitas yang banyak dan unik (semacam ada kebaruan yang ia tawarkan, karena baru saat itu ia berusaha dengan maksimal). Ia mencoba mengesampingkan tekanan dari orang lain yang masih meragukan kemampuannya dan mencibirnya karena memiliki koneksi dengan petinggi One International. Ia membungkam omongan orang-orang dengan hasil pekerjaan yang luar biasa.

Banyak banget insight yang bisa didapat saat nonton Misaeng. Dan tidak sedikit hal yang relate dengan kehidupan sehari-hari seorang pegawai. Overall, saya merekomendasikan banget drama ini. Akting para aktornya tentu tidak perlu diragukan. Mereka melebur dalam kehidupan pegawai kantor. Penyelesaian ceritanya pun juga realistis. Btw, ada prekuel Misaeng, tapi dalam bentuk film, yang mengisahkan kehidupan Jang Geu Rae saat menjadi pemain baduk. Tapi, saya belum nonton sih.

Meskipun jalan terbuka untuk semua orang, tapi tidak semua orang bisa berjalan di jalan itu. 
Kamu lakukan saja apa yang kamu anggap benar. Sisanya bukan sesuatu yang bisa kamu kendalikan
Meskipun kehilangan satu batu dalam permainan Baduk, permainan tetap berlanjut.

Tuesday, April 6, 2021

Kopi Boja Arabika Wine Process

April 06, 2021 0
Kopi Boja Arabika Wine Process
Pengolahan biji kopi untuk menghasilkan cita rasa baru begitu bervariasi. Beberapa waktu lalu saya baru mencoba kopi dengan honey process, sekarang mencoba kopi dengan wine process. Wah, bedanya apa ya? Buat orang awam seperti saya, kopi dengan honey process itu memiliki flavour manis dan khas buah-buahan gitu (fruity), rasa pahit tidak dominan. Sementara itu, untuk kopi dengan wine process flavour-nya khas minuman fermentasi. Jika kalian pernah meminum minuman fermentasi tradisional, kurang lebih cita rasanya seperti itu. Aromanya sangat kuat. Nah, tapi apa sih bedanya honey process dengan wine process dilihat dari segi pengolahan biji kopi? Saya sudah merangkum penjelasan dari berbagai sumber. Yuk, simak lebih lanjut penjelasannya.

Pada honey process buah kopi yang baru saja dipanen dipisahkan antara biji dan kulitnya. Kemudian biji yang pada permukaannya terdapat getah/lendir atau sisa-sisa dari pemisahan biji—dikeringkan. Getah/lendir pada biji tersebut berperan penting dalam proses pembentukan flavour kopi. Kopi dengan honey process dikategorikan menjadi kuning, merah, dan hitam; tergantung pada intensitas flavour kopi yang dihasilkan.

Sementara itu, pada wine process, buah kopi dibiarkan melewati masa pematangan (over-ripen), sehingga konsentrasi gula pada biji meningkat dan memberikan flavour khas fermentasi. Buah kopi utuh (tidak ada proses pemisahan biji dan kulit) tersebut kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari atau menggunakan solar tunnel dryer, yaitu alat yang dilengkapi dengan kipas untuk menyebarkan udara panas. Pada wine process buah kopi akan mengalami fermentasi secara alami.

Kopi dengan honey process biasanya menghasilkan kopi dengan flavour manis, aroma karamel, selai, dan blueberry; sedangkan kopi dengan wine process menghasilkan kopi dengan flavour mirip wine, buah-buahan, atau buah blueberry yang melewati masa pematangan (overripe).
Kopi Boja Arabika Wine Process
Kopi Arabika Boja Wine Process ©

Pada kopi Boja Arabika (Wine Process) dengan roast-type medium, aroma khas fermentasi sudah tercium ketika kantong kopi dibuka. Apalagi setelah digiling aroma khas fermentasi dan buah-buahan semakin kuat. Biji kopinya berwarna coklat gelap. Ketika diseduh warna kopi lebih gelap daripada kopi dengan honey process (cenderung coklat terang).

Jujur saja saya belum paham mengenai tipe sangrai, penggilingan halus/kasar dan suhu air pada penyeduhan, tapi tentu saja proses tersebut akan berpengaruh pada aroma, rasa, dan flavour kopi. Saya pribadi tidak merasa terganggu dengan aroma khas fermentasi pada kopi. Dibandingkan dengan kopi honey process, saya lebih memilih kopi dengan wine process. Entahlah, saya tidak terlalu suka flavour manis pada kopi saya. (Oya, perlu diketahui aroma, taste, dan flavour itu berbeda ya guys. Aroma adalah sensasi yang dirasakan melalui indra penciuman. Taste merupakan sensasi yang dapat dirasakan menggunakan indra pengecapan. Sedangkan flavour adalah persepsi yang muncul dari kombinasi rasa, aroma, dan tekstur.)

Sumber: baristainstitute.com, vinepair.com, ptscoffee.com

Thursday, April 1, 2021

Review Novel 24 Jam Bersama Gaspar

April 01, 2021 0
Review Novel 24 Jam Bersama Gaspar
Penulis : Sabda Armandio
Penerbit : Buku Mojok
Halaman : 228
Tahun terbit : 2017

Blurb 
Tiga lelaki. Tiga perempuan. Dan satu motor berencana merampok toko emas. Semua karena sebuah kotak hitam.

“Ringan dan menyenangkan. Ia menghadirkan individu-individu yang sepintas tampak sepele namun sesungguhnya kaya dan mengayakan; mengandung kesadaran sekaligus kritik atas konvensi cerita detektif. Dialog tokoh-tokohnya tampak berbobot, mengena, dengan alusi yang mengarah ke semesta dunia.” (Dewan Juri Sayembara Novel, Dewan Kesenian Jakarta 2016) 

Novel 24 Jam Bersama Gaspar
Novel 24 Jam Bersama Gaspar ©

Setelah sekian lama memasukkan 24 Jam Bersama Gaspar dalam wishlist, akhirnya buku ini berada di tangan saya dan selesai saya baca bulan Maret lalu. Mengingat saya menyukai Kamu (Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya), makanya saya memburu karya lain Sabda Armandio.

Novel 24 Jam Bersama Gaspar mengisahkan tentang perjalanan Gaspar dan teman-temannya dalam merencanakan sebuah perampokan toko emas (tidak benar-benar merencanakan sih). Setiap tokoh memiliki motivasi sendiri kenapa mereka mau merampok. Dan dalam perjalanan itu, ada cerita-cerita masa lampau yang dikuak.

Novel 24 Jam Bersama Gaspar ini menjadi salah satu naskah unggulan dalam kompetisi Dewan Kesenian Jakarta tahun 2016. Tidak heran, karena novel ini memiliki ‘penyajian’ unik dan cerita yang menyihir. Saya sebut menyihir karena saat saya membaca 24 Jam Bersama Gaspar, saya merasa ikut serta dalam perjalanan Gaspar. Saya dengan tenang mengikuti jalan-jalan yang dilalui Gaspar, walaupun dia sulit dimengerti. Entahlah, saya percaya (seperti halnya orang-orang yang mengikuti dia) akan ada jawaban di akhir cerita atau setidaknya kejelasan tentang apa yang sebenarnya sedang dia perjuangkan (goal si tokoh yang sesungguhnya). 

Tokoh-tokoh di dalam cerita memiliki karakter yang kuat dan suara yang berbeda. Karakter mereka digambarkan melalui Gaspar yang bernarasi ataupun dialog-dialog antar tokoh. Walaupun si Gaspar ini suka mengganti-ganti nama temannya, tapi saya tidak tersesat (syukurlah). Toh tokoh-tokohnya mudah dibedakan, karena memiliki karakter khasnya masing-masing. 

Saya suka bagaimana unsur-unsur dari cerita fiksi lainnya dimasukkan ke dalam cerita. Salah satunya cerita persembahan kepada Dewa Indra (Ya, saya mengetahui cerita itu karena nonton Krisna versi animasi.), atau para detektif dan pola ceritanya. Btw, cerita yang dibubuhkan atau diembel-embeli dengan tulisan “Sebuah Cerita Detektif”’, tidak lantas menjadikan cerita itu adalah cerita detektif. Tampaknya ini salah satu hal yang mau ditegaskan dalam 24 Jam Bersama Gaspar. Tidak semua hal bisa diartikan secara harafiah.

Ada pertentangan antara baik dan buruk yang diselipkan secara halus di dalam cerita. Baik dan buruk itu begitu fleksibel sehingga orang-orang bisa menggunakannya sesuai kebutuhan, tentunya dengan persepsi masing-masing. Dan bisa jadi dibalik-balik.

Overall, novel 24 Jam Bersama Gaspar ini memberikan 'after taste' yang susah dilupakan, terutama di akhir cerita yang mencengangkan (plot twist-nya bikin speechless); sedih sekaligus miris.

Ia hanya orang gila, sepertinya, yang mengulang-ngulang kegiatan sama dengan cara yang sama tetapi mengharapkan hasil berbeda.
...betapa liatnya kesepian, membungkus hari-harimu dengan kelembaman yang berpotensi membuatmu membusuk di ranjang.

Comment