Buku Kosmos: Aneka Ragam Dunia diterbitkan pertama kali tahun 2019 oleh National Geographic Partners, LLC. Kemudian versi Indonesia diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2020. Buku ini adalah karya Carl Sagan dan Ann Druyan, peneliti yang pernah tergabung dalam proyek pesan antarbintang Voyager NASA pada tahun 1977.
Blurb
"Inilah kisah-kisah para penanya tanpa takut yang belum pernah disampaikan, yang pencariannya—bahkan kadang dengan biaya setinggi-tingginya—memberi kita gambaran alam semesta yang baru kita mulai kenali. Dalam buku yang memukau ini Druyan membayangkan masa depan penuh inspirasi yang kita masih bisa dapatkan di dunia ini—jika kita sadar pada waktunya untuk menggunakan sains dan teknologi canggih dengan kebijaksanaan. Siap-siap berlayar ke bintang-bintang!"
Review
Sejujurnya, saya jarang membaca buku non-fiksi, selain buku pelajaran. Namun saya langsung tertarik dengan buku ini setelah membaca blurbnya. Meskipun buku non-fiksi bertema sains, ternyata buku Kosmos nyaman sekali dibaca. Jangan bayangkan buku sains yang berat dan bikin pusing. Kalimat yang digunakan mudah dipahami. Penuturannya sangat luwes sehingga betah sekali membaca buku Kosmos.
Buku Kosmos terdiri dari 13 bab. Ia membahas makro (alam semesta) hingga mikro (bagian terkecil dalam makhluk hidup). Bab awal dimulai dengan garis besar kelahiran kosmos. Usia kosmos diperkirakan 13,82 miliar tahun. Dalam penjelasan penulis, waktu pembentukan itu dikonversi menjadi 1 tahun kalender agar mudah dipahami dan dibayangkan
Pada bab selanjutnya pembahasan mulai mengerucut, dijelaskan lebih detail aspek-aspek yang berperan dalam membentuk kehidupan dan peradaban. Ann Druyan membahas konektom kosmik, pengorbanan Cassini, kisah dua atom, hingga Vavilov seorang ahli botani dari Rusia.
Buku Kosmos sarat akan ilmu dan saya merasakan buku ini ditulis dengan empati, bukan sekadar fakta sains. Banyak sekali insight dan pesan yang saya peroleh setelah membaca buku ini. Terima kasih banget karena penulis sudah membagikan ilmunya.
Demokrasi di dunia tampak rapuh, tapi ada tempat-tempat di Bumi di mana itu tak berlaku. Tiap orang punya suara. Korupsi tak dikenal. Masyarakat bertindak ketika sudah mencapai kesepakatan melalui debat. Di manapun lebah berkumpul, di situlah salah satu tempatnya. (pg. 204)