May 2019 - MELALUI RUANG

Thursday, May 9, 2019

Tantangan Menulis dari Storial

May 09, 2019 0
Tantangan Menulis dari Storial
Sebulan lalu Storial baru saja mengadakan kompetisi menulis bertema #HappyGirl dengan date line sebulan. Tentu saja saya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk ikut kompetisi tersebut. Dan… Saya berhasil menuntaskan tulisan saya. Yeah! Menyelesaikan tulisan yang saya buat dari nol hingga tamat dalam kurun waktu sebulan itu rekor baru saya. Malahan mungkin tidak sebulan penuh, karena ada hari di mana saya tidak menulis sama sekali.

Rupanya berhasil menyelesaikan tantangan dari Storial sangat membahagiakan (Kenapa saya sebut tantangan, ya karena di luar kebiasaan saya menulis.), terlepas nanti akan menang atau tidak saya tetap bangga dengan apa yang telah saya kerjakan.

Bicara mengenai tantangan, usai kompetisi menulis #HappyGirl Storial memberikan tantangan lainnya dong (Thank you Storial). Kompetisi kali ini bertema #NulisSukaSuka yang berarti penulis bebas mau nulis novel genre dan tema apa saja. Saya menyambut dengan tangan terbuka tantangan kedua, apa lagi nulis suka-suka jadi bisa memanfaatkan draft di laptop. Tinggal edit-edit alur dan periksa ada bolong logika atau tidak.

Kompetisi #NulisSukaSuka ini memiliki batasan kata minimal 25.000 kata, berbeda dengan #HappyGirl yang minimal 30.000. Berarti harusnya kompetisi ini lebih bisa ditaklukan dong ya. Mari lihat akhir bulan Mei nanti. Kalau kalian berminat mengikuti kompetisi menulis Storial bisa klik di sini.

Saya pribadi senang-senang saja ada tantangan nulis dalam waktu mepet gini, jadi lebih greget. Di balik waktu mepet itu sebenarnya kita juga dilatih untuk menulis secara rutin, berpikir cepat untuk menemukan ide, dan mengatur waktu. Kalau sudah ada stok naskah sih beda cerita, tapi jangan bikin santai-santai. Naskah yang sudah selesai juga perlu diedit agar lebih baik.

Cerita sedikit tentang pengalaman saya nulis #HappyGirl bulan April lalu. Itu benar-benar ngebut banget. Jadi saya baru bikin premis, landmark, outline pada tanggal 3 April 2019. Seharian itu benar-benar mikir mau nulis tentang apa, karena mindset saya itu selalu Young Adult yang ceritanya memang lebih berat daripada Teenlit. Akhirnya make it simple lah, saya mau nulis tentang seseorang yang memperjuangkan impiannya. Tema ini memang sudah banyak, tapi tidak pernah membosankan untuk ditulis.

Walaupun sudah bikin outline, menulis tidak selalu berjalan dengan lancar. Tanggal 21 April 2019 saya masih sampai bab 9. Lalu saya sadar kalau alur cerita #PaintYourHeart terlalu cepat, jadi di tengah-tengah nulis saya tambah sub plot baru dan narasi penjelas ditambahi. Awalnya memang narasi penjelas yang saya bikin kurang banget. Saya memang lebih mengandalkan dialog.

Dari tanggal 21 ke 30 April itu cuma 9 hari dan bab yang belum dibikin ada 17 bab, karena rencana awal mau nulis 26 bab tapi akhirnya jadi 25 bab saja. Tadinya antara yakin atau tidak 9 hari bisa selesai. Kalau dihitung-hitung setidaknya sehari harus bikin 1-2 bab belum juga self editing, apa lagi sekarang saya nulisnya tidak sengebut dulu. Alhasil target tersebut gagal dan yang tadinya sehari harus nulis 1-2 bab berubah jadi 2-3 bab perhari. Karena saya tidak mau menyerah jadi tetap saya bela-belain nulis hingga dini hari (Banyak hal jadi terabaikan seperti cucian dan waktu mandi bahkan urusan perut.). Makanya setelah berhasil selesai saya merasa senang dan lega, akhirnya tantangan pertama berhasil dituntaskan.

Kalau kalian mau baca tulisanku di Storial bisa lihat di sini ya. Jangan lupa tinggalkan komentar. Thank you.

Tuesday, May 7, 2019

Review dan Breakdown Film 27 Steps of May

May 07, 2019 0
Review dan Breakdown Film 27 Steps of May
Kalian harus nonton 27 Steps of May sebelum turun layar, jangan cuma nonton The Avengers: End Game dong. Pesan yang dibawakan oleh film ini deep banget dan penyajiannya berbeda sekali dari film-film pada umumnya. Film yang minim dialog, tapi setiap gerak-gerik memiliki arti. Ada juga hal-hal simbolis yang dimasukkan dalam film ini menjadikannya lebih sempurna. I can't stop saying that I really love this movie.


Film berdurasi 1 jam 52 menit ini berkisah tentang seorang perempuan bernama May (diperankan oleh Raihaanun) yang mengalami trauma berat pasca pemerkosaan yang terjadi ketika dia berusia 14 tahun. Sementara itu Ayah May (Lukman Sardi) mengalami kesedihan mendalam, karena tidak bisa melindungi putrinya. Dia terus menyalahkan diri sendiri dan melampiaskan emosinya melalui tinju.


Film 27 Steps of May sudah keliling di berbagai festival film di dunia dan menyabet tiga penghargaan, yaitu film terbaik Golden Hanoman Award, film panjang Asia terbaik NETPAC Asian Film Festival, dan Film Festival Tempo 2018 untuk dua kategori yaitu penulis skenario pilihan Tempo (Rayya Makarim) dan aktris pilihan Tempo (Raihaanun). Tidak heran karena film ini memang bagus sekali. Akting Raihaanun dan Lukman Sardi juga juara. Para aktor meniupkan jiwa ke dalam para tokoh, lalu mengirimkan perasaan mereka kepada penonton.


Meskipun film 27 Steps of May minim dialog tapi tidak menjadikannya membosankan. Mimik dan gerak-geriknya itu memang menjadi peran utama dalam penyampaian pesan film ini. Saya seperti ikut merasakan kesedihan yang mendalam pada tokoh May dan Bapak. Beberapa bagian membuat saya berkaca-kaca, miris, tidak tega; tapi pada akhirnya lega dan saya bisa tersenyum.


Breakdown Film 27 Steps of May

Saya akan melakukan breakdown alur cerita 27 Steps of May secara singkat, menurut versi saya tentunya. Tenang ini tidak akan spoiler kok.


Menurut saya film ini menggunakan format five stages of grief yang digagas oleh Elisabeth Kübler-Ross. Saya mengenal istilah ini waktu membaca salah satu syarat lomba novel, tapi lupa penerbit apa yang mengadakan. Lalu saya cari tahu apa sih five stages of grief. Five stages of grief bisa dikatakan sebagai fase-fase seseorang bangkit dari kesedihan mendalam yang mereka alami. Fase-fase tersebut adalah denial (penyangkalan), anger (kemarahan), bargaining (tawar-menawar), depression (depresi), acceptance (penerimaan). Sebenarnya ada juga the sixth stage of grief yang digagas oleh David Kessler. Fase keenam menurut David adalah finding meaning atau menemukan arti.


Denial: pada fase ini korban dan keluarga berusaha bertahan akan rasa sakit, kehilangan, kesedihan yang mereka alami; tapi dunia sudah tidak berarti lagi bagi mereka. Mereka terus bertanya-tanya bagaimana mereka akan bertahan dan untuk apa mereka bertahan.
Anger: kemarahan termasuk dalam proses penyembuhan. Jika pada denial, korban benar-benar menarik diri dari koneksi mereka dengan orang-orang sekitar, maka kemarahan adalah jembatan bagi korban kepada orang-orang sekitar.
Bargaining: pada fase tawar-menawar ini korban ingin kembali ke awal mula, ingin memperbaiki semuanya, tapi it happens; semuanya sudah terjadi tidak ada yang bisa diubah. Pada fase ini juga korban bisa menyalahkan diri sendiri. Dia menganggap bahwa harusnya dia bisa melakukan yang lebih baik.
Depression: setelah memikirkan masa lalu dan mengandai-andai, maka korban akan fokus pada masa kini, ketika mereka mulai merasakan kesedihan yang sangat dalam hingga seolah-olah kesedihan itu akan tinggal bersamanya selama-lamanya.
Acceptance: Pada akhirnya korban dapat menerima kenyataan atas kejadian yang dia alami, walaupun bukan berarti dia baik-baik saja. Namun pada fase penerimaan ini dia akan berusaha untuk menjalani kehidupan barunya dan menjalin koneksi dengan orang lain.


Kehidupan May setelah peristiwa pemerkosaan itu benar-benar kacau sampai dia menarik diri dari masyarakat. Menerima kenyataan kalau dia telah diperkosa itu sangat sulit, apalagi untuk melanjutkan hidup. Rasanya dunia runtuh dan segalanya tidak berarti. Bukan hanya korban, tapi keluarga pun tidak luput dari rasa sakit, kekecewaan, dan penyesalan. Jadi bisa dibilang ada dua korban.


Awalnya saya bertanya-tanya akan angka 27 yang digunakan pada judul, karena film ini terinspirasi dari kerusuhan rasial terhadap etnis Tionghoa pada Mei 1998 saya pikir itu merujuk pada tanggal 27 Mei tapi ternyata bukan. Mungkin 27 memang tahapan penyembuhan May dari peristiwa mengerikan yang dia alami. Yah tapi 27 langkah itu apa saja saya tidak sempat catat ya. Bagi saya five stages of grief sudah cukup mewakili healing process-nya May lah.


Ok itulah ulasan saya tentang film 27 Steps of May, sudah cukup memberikan pandangan ke kalian untuk nonton film ini kan? Jangan lupa tinggalkan pesan di kolom komentar.


Quotes: “Bukan salah Bapak.”

Sunday, May 5, 2019

Cari Tahu Film Release 2019 yang Menarik

May 05, 2019 0
Cari Tahu Film Release 2019 yang Menarik

Sudah nyaris pertengahan tahun dan banyak trailer film baru, tapi tidak semuanya membuat saya impress. Kali ini saya review sedikit film apa yang sangat saya tunggu di tahun 2019.

The Addams Family Animasi

Saya sudah nonton film lawas The Addams Family (1991) yang main Christina Ricci itu. Dan… suka sekali sama film itu. Terus jadi ngefans juga sama Wednesday Addams. Ketika lihat teaser The Addams Family versi animasi di Instagramnya Finn Wolfhard saya histeris (Ok itu berlebihan). Langsung cari tahu dong tentang salah satu film favorit saya ini. Kabarnya film ini akan mulai diputar di US 11 Oktober 2019 (Masih lama banget ya), untuk Indonesia belum tahu kapan.
Karakter-karakter dalam film animasi 3D ini akan diisi oleh sejumlah artis kenamaan, seperti Charlize Theron yang mengisi suara Morticia Addams, Oscar Isaac mengisi suara Gomez Addams, Finn Wolfhard mengisi suara Pugsley Addams dan Chloë Grace Moretz mengisi suara Wednesday Addams.
The Addams Family bercerita tentang keluarga Addams yang kehidupannya berusaha diungkap oleh seorang pembawa acara reality TV yang licik. Sementara itu keluarga Addams juga sedang mempersiapkan suatu perayaan dengan keluarga besarnya. Nah apakah kehidupan aneh keluarga Addams akan terkuak? Masih nunggu sampai bulan Oktober.

Gundala

Merinding waktu nonton trailernya Gundala. Keren banget! Ditambah lagu The End of The World yang dinyanyikan oleh The Carpenters menguatkan suasana kelamnya.
Film Gundala ini diadaptasi dari komik dengan judul Gundala Putra Petir. Buat pecinta komik Indonesia pasti Gundala sudah tidak asing lagi, tapi bagi saya cukup asing karena memang kurang kenal dengan komik Indonesia (Gini nih kebanyakan baca manga.). Komik Gundala yang dibuat oleh Harya Suraminata tersebut terbit pertama kali tahun 1969 (Saya belum lahir hahaa).
Film Gundala yang disutradarai oleh Joko Anwar--sekaligus sebagai penulis skenario--ini akan release 22 Agustus 2019. Film ini berkisah tentang Sancaka diperankan oleh Abimana Aryasatya yang memiliki kekuatan petir karena tersambar petir.
Menurut trailer Gundala, tampaknya cerita dimulai dengan kekacauan, demo, dan perusakan karena ketidakadilan pemerintah. Ada juga flashback beberapa karakter ketika mereka masih kecil. Yang satu flashback Sancaka ketika kecil dan yang lain flashback seorang anak kecil yang wajahnya rusak separo. Kemungkinan si anak kecil dengan wajah rusak tersebut akan menjadi musuh Gundala di kemudian hari, yang dikenal dengan nama Pengkor. Ada hal lain yang saya tangkap dari trailer, bahwa pahlawan dan penjahat bisa terbentuk karena rasa sakit di masa lalu.
Saya percaya cerita dan karakter Gundala ini kuat, jadi visual effect tidak jadi masalah. Meskipun hanya dengan lihat trailernya bagi seorang awam seperti saya efek filmnya itu sudah bagus banget. Nuansa kelam juga terasa sekali. Semoga film ini akan jadi salah satu film yang sukses tahun ini. Can't wait to watch.

MIB: International

Saya sudah mengikuti film MIB dari film pertama sampai ketiga dan selalu suka. Film terakhir release tahun 2012, jaraknya memang jauh dengan MIB: International. Tidak menduga juga akan ada spin offnya. Film MIB: International ini berdurasi 1 jam 58 menit akan release pada 14 Juni 2019 mendatang.
Cuma kali ini di film MIB: International tidak ada Will Smith, malah Thor eh maksudnya Chris Hemsworth. Chris Hemsworth sebagai agen H dan rekannya Tessa Thompson sebagai agen M merupakan agen rahasia dari London yang memecahkan kasus penyerangan oleh alien di berbagai belahan dunia.
Dilihat dari trailer film MIB: International cukup menjanjikan, aksi dan komedinya I can feel it. Lalu adegannya tentu lebih kaya, karena mereka pergi ke berbagai negara. Harapannya banyak hal menarik dari film ini.

Baiklah itu dulu gambaran film yang saya nantikan. We'll see kalau ada trailer lain yang muncul dan terlihat menjanjikan. Sebenarnya film Death on the Nile juga termasuk yang sangat saya nantikan, tapi dengar-dengar waktu tayangnya mundur jadi tahun 2020. Saya sudah baca novel Death on the Nile yang ditulis oleh Agatha Christie, jadi tambah excited ketika akan diadaptasi menjadi film. Apa lagi dengar-dengar yang jadi Linnet Ridgeway adalah Gal Gadot. Memang di novelnya digambarkan bahwa Linnet itu wanita yang cantik dan menawan. (Eh malah jadi bahas banyak Death on the Nile.)
Jangan sungkan untuk share di kolom komentar film yang sangat kalian nantikan di tahun 2019. Siapa tahu bisa jadi rekomendasi untuk saya.

Comment