October 2019 - MELALUI RUANG

Sunday, October 20, 2019

Seberapa Jahanamkah Film Perempuan Tanah Jahanam?

October 20, 2019 0
Seberapa Jahanamkah Film Perempuan Tanah Jahanam?
Siapa yang tidak kenal dengan sutradara Joko Anwar yang film-filmnya luar biasa. Setelah Gundala, film terbaru garapan Joko Anwar yang rilis tahun ini adalah Perempuan Tanah Jahanam. Film Perempuan Tanah Jahanam merupakan hasil kerja sama Indonesia dengan pihak Hollywood dan Korea. Film bergenre thriller tersebut rilis serentak di Indonesia tanggal 17 Oktober 2019. Untuk rilis di luar Indonesia belum tahu kapan, tapi Perempuan Tanah Jahanam akan tayang dengan judul Impetigore.

Perempuan Tanah Jahanam berkisah tentang Maya (Tara Basro) yang memiliki kehidupan perekonomian yang sulit. Setelah keluar dari pekerjaannya dia membuat usaha bersama temannya, Dini (Marissa Anita), tapi usahanya sepi. Kemudian Maya mendapatkan informasi tentang warisan yang ditinggalkan orang tuanya di kampung. Dia pun dan Dini berinisiatif untuk pergi ke kampung. Di sanalah perjalanan mereka dimulai.

Pembukaan film Perempuan Tanah Jahanam sangat menarik dengan dialog-dialog tokohnya yang ceplas-ceplos dan suasana yang tegang. Pembukaan tersebut membawa penonton kepada rasa penasaran, karena langsung menyajikan teka-teki. Dialog-dialognya pun realistis dengan keadaan hidup masyarakat Indonesia.

Memasuki latar kampung halaman Maya suasana mencekam semakin terasa. Penonton ikut dibawa merasakan hal-hal janggal pada kampung tersebut. Bukan hanya dari visual saja yang bermain, tapi juga aural dan musikal. Semua itu berpadu menjadi kesatuan yang apik. Saya suka banget sama scoring-nya. Top! Sinematografinya juga.

Film Perempuan Tanah Jahanam ini lebih menjual cerita daripada jumpscare yang biasanya ditemui di film horor. Tanpa jumpscare pun suasana di dalam film yang dikondisikan sedemikian mencekamnya sudah menimbulkan efek seram. Beberapa kali saya pikir akan ada jumpscare eh ternyata tidak, ketipu deh. Hahaha… Malahan beberapa penonton ada yang kaget saat ada yang mengetuk pintu, padahal bukan jumpscare.

Nah masuk ke penokohan, setiap tokoh yang ada di Perempuan Tanah Jahanam memiliki fungsi, tidak ada tokoh yang sia-sia keberadaannya. Porsi setiap tokoh juga disesuaikan jalan cerita. Dan tentu saja akting para aktornya dalam menghidupkan tokoh itu juara banget!

Christine Hakim itu lho diam saja serem, tipikal nenek-nenek yang menyimpan banyak rahasia dan tidak ingin diusik. Akting Asmara Abigail sebagai Ratih, salah satu warga kampung, juga mencuri perhatian. Mulai dari logat bicara, gerak-gerik, ekspresi wajah semuanya pas. Akting Tara Basro badass as always. Ario Bayu sebagai Ki Saptadi, dalang yang kejam dan dingin, aktingnya dapat banget. Akting Marissa Anita juga keren! Saya tahu Marissa ini sebagai news anchor, lalu lihat akting dia pertama kali di TV Series HBO berjudul Half World (belum tahu sebelum itu dia main di film apa), tapi waktu itu sudah ngebatin akting Marissa ini ok.

Selain akting aktor utama, aktor-aktor pendukung juga patut diacungi jempol. Menurut penuturan Joko Anwar melalui wawancara yang saya tonton di channel YouTube Cine Crib, beliau melibatkan warga setempat dalam proses pembuatan film. Untuk pertama kalinya syuting akting mereka itu keren.

Film Perempuan Tanah Jahanam worth it untuk ditonton. Kalau ada yang tanya serem tidak? Sadis tidak? Saya cuma mau ngasih tahu, percayalah ada yang lebih serem dan sadis. Jahanam tidak? Jahanam. Perempuan Tanah Jahanam ini lebih main ke psikologis, gimana tidak, ada yang lebih serem dari dikejar-kejar warga kampung tidak? Hahaha… Tinggalkan komentar kalian di bawah ya.

Saturday, October 19, 2019

Kelas Menulis Skenario Ernest Prakasa Batch 3 di Semarang

October 19, 2019 0
Kelas Menulis Skenario Ernest Prakasa Batch 3 di Semarang
Ketika saya mendapat informasi Ernest Prakasa akan mengadakan kelas menulis skenario di Semarang saya langsung excited. Biasanya kelas-kelas seperti ini kan lebih banyak ada di Jakarta atau kota lainnya. Entah di Semarang kok jarang tahu, apa saya yang kudet atau gimana. Jadi untuk mengikuti kelas Ernest ini bisa gratis kalau mengikuti jalur beasiswa, tapi saat saya tahu infomasi tersebut waktu submit jalur beasiswa sudah kelewat. Saya pun mengikuti jalur reguler. Kapan lagi kan ada kelas seperti ini, saya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.

Kelas menulis skenario di Semarang diadakan pada 13 Oktober 2019 di ballroom Hotel Grasia, dari pukul 09:00 - 13:00. Saya hadir setengah jam sebelum kelas dimulai. Saat itu masih sepi banget, hanya ada saya lalu peserta lain pun satu persatu datang. Kami masuk ke dalam ruangan dan mengisi daftar kehadiran. Di ujung ruang juga disediakan snack dan minuman.

Posisi kursi diatur membentuk huruf U, saya langsung duduk paling depan dong. Saat itu belum kenal siapa-siapa, terus kenalan sama beberapa peserta yang duduk sampingan. Ngobrol-ngobrol sebentar sebelum kelas dimulai.

Kelas dimulai tepat pukul 09:00, saat itu ada satu atau dua peserta yang belum hadir, mungkin karena dari luar Semarang. Kemudian kelas dimulai, pertama-tama Ko Ernest menanyakan kepada peserta tentang pengalaman menulis kami. Ada yang pernah menulis blog, story board, dan menulis cerita di Wattpad.

Lanjut, topik pertama yang dibicarakan mengenai premis, lalu karakter, tujuan, dan 8 sequences. Cara Ko Ernest menyampaikan materi sangat mudah dipahami. Di sela-sela topik tersebut juga dilakukan diskusi dan tanya jawab. Peserta juga latihan membuat premis. Saya sempat membacakan premis yang saya buat dan Ko Ernest mengomentari.

Kelas Menulis Skenario Ernest Prakasa Semarang
Suasana Kelas (dokumentasi pribadi, ©)

Kelas yang berlangsung selama empat jam itu sama sekali tidak membosankan. Malah tidak terasa lama, tahu-tahu sudah selesai (padahal masih ingin lanjut). Istirahat hanya sebentar saat adzan.

Di penghujung kelas Ko Ernest sedikit menjelaskan tahap pembuatan skenario. Peserta juga bisa mengirimkan premis dan sinopsis ke alamat emailnya. Sinopsis tersebut akan dikomentari, andai ceritanya menarik tidak menutup kemungkinan bisa diteruskan ke produser. Kemudian, peserta mendapat sertifikat sebagai tanda telah mengikuti kelas menulis skenario tahap pemula. Sebelum pulang kami berfoto-foto.

Seusai mengikuti kelas menulis tersebut mata saya lebih terbuka tentang struktur cerita untuk film. Nanti kalau nonton film Perempuan Tanah Jahanam mau coba bedah pakai ilmu yang sudah didapat di kelasnya Ko Ernest. Haha… Walapun tidak semua cerita memakai struktur yang sama. Misalnya untuk film pendek strukturnya akan lebih sederhana.

Itulah pengalaman saya mengikuti kelas menulis skenario Ernest Prakasa, ilmunya benar-benar worth it dan sebenarnya tidak selalu untuk skenario saja, tapi menurut saya bisa diaplikasikan juga untuk menulis novel. Jangan lupa tinggalkan komentar di bawah tentang pengalaman menulis kalian. Terima kasih.

Tuesday, October 1, 2019

Fiksi yang Saya Tulis September - Oktober

October 01, 2019 0
Fiksi yang Saya Tulis September - Oktober

Di akhir bulan September saya menulis dua cerpen dan satu novel. Tujuannya untuk ikutan kompetisi dan latihan nulis tentu saja. Cerpen pertama yang saya selesaikan berjudul Reverse dengan genre fantasi. Reverse saya tulis untuk lomba yang diselenggarakan oleh penerbit indie Inspo Creative. Syarat halaman cerpen lumayan banyak sejumlah 16 halaman tidak boleh lebih atau kurang.


Cerpen kedua yang saya selesai tulis berjudul Pejuang Penantian di Kota Mati. Cerpen tersebut saya tulis untuk mengikuti kompetisi yang diadakan oleh Hipwee. Gara-gara ikut kompetisi tersebut, saya jadi tahu ternyata siapa pun bisa berkontribusi nulis di Hipwee. Selama ini kenalnya dengan blog dan writing platform kayak GWP, Storial, Wattpad. Di Hipwee artikel yang ditulis tidak langsung terbit, ada tahapan penyuntingan oleh editor. Apakah artikel sudah layak atau belum, karena ada ketentuan-ketentuan yang harus diikuti saat mengunggah artikel.



Cerpen Pejuang Penantian di Kota Mati ini menyesuaikan tema dari Hipwee, yaitu ‘Menunggu’. Awalnya bingung mau dibuat seperti apa, menunggu itu kan banyak ya, menunggu kepulangan seseorang; pekerjaan; calon suami/istri; dan hal-hal yang diharapkan lainnya. Genrenya kebetulan juga bebas, jadi banyak eksplorasi. Syukurlah saya selesai menulisnya sebelum date line berakhir di tanggal 9 Oktober. Silakan kunjungi link berikut kalau mau membaca Pejuang Penantian di Kota Mati.



Nah novel yang saya tulis di akhir September dan sekarang masih lanjut, berjudul Pembunuh Bayaran. Novel Pembunuh Bayaran saya tulis untuk mengikuti kompetisi Storial dengan tema Dark Secret. Sudah kebayang dong ceritanya bakal kelam. Genre yang masuk ke kompetisi Dark Secret ini adalah horor, thriller, dan misteri. Yang kelam gini genre favorit saya banget, mana mungkin saya lewatkan. Saya pilih genre thriller (padahal sih belum pernah nulis thriller), walaupun mungkin Pembunuh Bayaran ini bisa masuk ketiga genre tersebut. Kalau penasaran dengan cerita ini bisa klik di sini.


Kompetisi Storial Dark Secret berakhir di akhir Oktober 2019, jadi buruan yang tertarik ikutan. Kalian bisa periksa syarat-syaratnya di blog Storial.



Ngomong-ngomong, selain genre favorit di Dark Secret ini tantangannya luar biasa menurut saya. Apa lagi kalau bukan jumlah kata yang minimal 35.000 kata. Kalau sudah punya naskah lumayan ya, tidak ngos-ngosan banget. Kalau yang belum? Mari maraton bareng-bareng!



Saya termasuk yang tidak bisa sekali nulis langsung bagus atau kalau buru-buru sudah pasti ancur. Tapi nulis tetap dibawa enjoy, karena sejatinya nulis untuk kesenangan dan ketenangan. Semoga saya bisa menyelesaikan novel Pembunuh Bayaran tepat waktu (berdoa).



Sebenarnya ada satu novel lagi yang saya selesaikan tanggal 3 September, tapi itu prosesnya lama banget. Diceritain lain waktu saja kalau menang lomba (Amin amin amin).



Sudah nulis apa sajakah kalian di bulan September - Oktober ini? Komentar di bawah ya. Terima kasih sudah berkunjung.

Comment