March 2021 - MELALUI RUANG

Wednesday, March 17, 2021

Review Novel Fish in the Water (Lee Chan Hyuk)

March 17, 2021 2
Review Novel Fish in the Water (Lee Chan Hyuk)
Judul: Fish in the Water
Penulis: Lee Chan Hyuk
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2021
Jumlah halaman: 176

Blurb

Fish in the Water bertutur tentang kisah intens yang menjungkirbalikkan imajinasi, dengan komposisi kuat untuk menunjukkan pertentangan antara ambisi dan ketakutan, kebebasan dan kendali, kebahagiaan dari cinta dan luka dari kehilangan, serta arti kehidupan, terkadang dengan tenang dan terkadang dengan fantastis. Penulis berharap pembaca bisa dengan bebas menemukan arti dari novel ini tanpa interpretasi yang tergesa-gesa. Silakan menyelami novel ini, tarik napas dalam-dalam, lalu ajukan pertanyaan dan berikan jawaban tentang hidup.

Novel ini dipenuhi emosi yang terpatri halus dalam setiap kalimatnya, kesan jelas yang menenangkan hati dan menjernihkan pikiran, serta topik-topik filosofis yang membuat pembaca berpikir dengan saksama. Jika kalian adalah pembaca yang pernah menikmati dunia penulis melalui lirik-lirik lagunya yang singkat dan masih menginginkan lebih, semoga kalian menikmati dunia luas yang dibentangkannya dalam novel ini.
Novel Fish in the Water ©

Baca Fish in the Water sambil mendengarkan album Sailing-nya AKMU benar-benar bikin terhanyut. Saya merasa tenggelam ke dalam buku ini. Kisah Seon dalam menemukan jawaban atas berbagai pertanyaan dalam pikirannya sangat menarik untuk diikuti. Walaupun buku ini tidak tebal dan bisa diselesaikan dalam sekali duduk, tapi pengalaman setelah membaca buku ini masih melekat dan sebagai pembaca saya puas menelusuri setiap halamannya.

Ketika membaca Fish in the Water saya merasa tersihir, sama halnya saat Seon tersihir dengan sosok Haeya. Sesuai dengan blurb-nya, kalimat-kalimat dalam buku ini dirangkai dengan indah, tanpa mempersulit pembaca untuk memahaminya. Menurut saya banyak perumpamaan yang bisa diintepretasikan oleh pembaca sesuai versi mereka. Dan saya sangat merasa takjub dengan perumpamaan-perumpamaan itu. Kadang merasa relate dengan kisah yang dituturkan, walapun saya bukan musisi. Karena perasaan yang melingkupi tokoh itu bisa jadi pernah dialami banyak orang. Misalnya, perasaan tentang perpisahan, lalu pertentangan antara mimpi dan realita, serta keinginan untuk bebas.

Di dalam buku Fish in the Water ini juga pembaca akan diajak melihat perubahan cara pandang tokoh tentang kehidupan. Bagaimana hal-hal di sekitarnya berpengaruh terhadap dirinya. Serta bagaimana dia jatuh, bertahan, dan bangkit; katakanlah proses healing si tokoh.

Di setiap bagian terselip juga lirik-lirik yang ada di album Sailing. Bahkan judul bagian novelnya adalah judul-judul lagu di album Sailing. Saya suka dengan lirik-liriknya dan ada beberapa quote yang menurut saya menarik.

Nilai kebahagiaan berbeda bagi setiap orang. Bagi sebagian orang kebahagiaan adalah cinta, tetapi bagi orang lain kebahagiaan adalah kekayaan. Kita tidak mungkin mewujudkan kebahagiaan begitu banyak orang. (Fish in the Water, hl. 103)

Saya sempat berandai-andai, jika Fish in the Water dijadikan film pasti menarik. Terus Seon akan cocok diperankan oleh Im Siwan dan Haeya diperankan IU (untuk Yangi belum kepikiran). Pasti bakal nonton sih kalau benar dijadikan film.

Overall, novel Fish in the Water yang ditulis oleh salah satu personil AKMU ini sangat worth it untuk dibaca. Personally saya menemukan banyak insight baru.

Saturday, March 6, 2021

Review Drama Korea Strangers from Hell

March 06, 2021 2
Review Drama Korea Strangers from Hell
Sebenarnya saya sudah sering lihat Strangers from Hell nongol di antara drama Korea lainnya di Viu, tapi saya belum kepikiran buat nonton. Akhirnya, habis baca thread rekomendasi drama Korea dengan jumlah episode kurang dari 12, saya memutuskan nonton Strangers from Hell.

Strangers from Hell atau disebut juga The Hell is Other People, release tahun 2019. Drama psychological thriller ini diadaptasi dari webtoon. Para aktor yang memainkan peran utama adalah Im Siwan (sebagai Yoon Jong Woo) dan Lee Dong Wook (sebagai Seo Moon Jo).

Strangers from Hell memang cuma memiliki 10 episode, tapi setiap episode tidak henti memberikan ketegangan kepada penonton. Selain itu juga untuk menjaga konsistensi ketegangannya (dan kalau kelamaan episodenya yang nonton bisa ikutan tertekan, probably kan). Jujur saja waktu nonton dua episode awal, saya merasa tidak kuat. Rasanya stressful lihat kondisi kos Eden, mengingatkan saya sama film The Stanford  Prison Experiment. Kos Eden udah kayak penjara saja. Ruangan tertutup, sempit, minim cahaya dan sirkulasi udara. Siapa pun tidak bakal betah tinggal di sana, tapi Jong Woo seorang penulis terpaksa tinggal di sana karena masalah ekonomi. Ia belum memiliki penghasilan tetap, karena baru datang ke Seoul dan magang di sebuah perusahaan milik seniornya.

Jong Woo menempati kamar nomor 303 di kos Eden. Belum ada sehari Jong Woo tinggal di kos Eden saja, ia sudah tidak betah, tapi tidak memiliki pilihan selain bertahan. Bagaimana bisa betah, selain lingkungan  kos Eden yang kumuh dan lokasinya tidak strategis, tetangga-tetangga Jong Woo sangat mengintimidasi. Dimulai dari tetangga di kamar nomor 313 (Nam Bok) yang suka menatapnya dan membuat Jong Woo risih dengan kebiasaan tetangganya itu. Lalu, si kembar  Deuk Jong dan Deuk Soo yang suka cekikikan seakan menganggap Jong Woo lelucon. Kemudian, ada tetangga di kamar nomor 302 (Gi Hyeok) yang selalu bersikap dingin dan misterius. Dan, cuma tetangga di kamar nomor 310 yang ngobrol dengan Jong Woo. Ia sempat mengingatkan Jong Woo agar pindah. Ia pun juga berniat pindah dalam waktu dekat. Selain penghuni, ada tokoh ibu kos yang tidak kalah anehnya dan menyebalkan. Ia seolah bersikap baik dan netral, tapi sebenarnya ada yang ia sembunyikan.

Hari demi hari kejadian buruk dan aneh terus terjadi di sekitar Jong Woo. Semakin lama tinggal di kos Eden, Jong Woo merasa tertekan. Ia merasa tetangga-tetangganya aneh dan mungkin saja adalah psikopat. Terlebih ada dua orang penghuni kos yang tiba-tiba menghilang. Setiap kali jam kantor Jong Woo berakhir, ia akan menghabiskan waktu di luar dan pulang larut. Itu ia lakukan karena ia tidak ingin pulang. Ia ingin langsung tidur saja ketika sampai di kos Eden. Namun, setiap malam Jong Woo selalu mimpi buruk dan ia merasa tidak tenang.

Suatu hari muncul penghuni baru bernama Seo Moon Jo (penghuni kamar nomor 304) yang merupakan dokter gigi dan terlihat baik di depan banyak orang, tapi menyimpan banyak rahasia. Keberadaan Moon Jo justru membuat Jong Woo semakin takut dan tertekan. Daripada penghuni lainnya, Moon Jo lah yang paling menakutkan bagi Jong Woo. Selama ini Jong Woo mengira neraka adalah tempat (kos Eden), tapi ia semakin sadar bahwa orang-orang di sekitarnya bisa saja adalah neraka itu sendiri. Bukan hanya orang-orang di kos Eden, bahkan orang-orang di kantornya juga.

Nah, selama nonton Strangers from Hell ini penonton akan ditunjukkan bagaimana psikologis Jong Woo berubah dari hari ke hari, bagaimana hal-hal di sekelilingnya mengubah dirinya. Setelah mengalami banyak tekanan Jong Woo merasa bingung dengan dirinya sendiri. Ada pertentangan di dalam dirinya tentang pemikiran, perilaku dan sikap. Jong Woo yang tadinya bersikap tenang dan bisa menahan luapan emosinya, mulai menunjukkan sikap agresif. Menurut saya ngeri banget gimana Moon Jo memanipulasi Jong Woo. Gimana cara Moon Jo membangkitkan monster di dalam diri Jong Woo. Bisa dibilang tokoh Jong Woo mengalami perkembangan karakter, tapi jadi lebih buruk.

Saran saya kalau mau nonton Strangers from Hell jangan dalam kondisi lagi capek badan dan pikiran, karena menurut saya itu ngaruh banget sama pengalaman yang akan dirasakan waktu nonton Strangers from Hell. Selain itu ada banyak adegan sadis juga, terlebih memasuki episode-episode terakhir.

Last but not least, saya takjub banget sama akting para aktornya. Dong Wook bisa membawakan tokoh Moon Jo yang manipulatif, dingin, dan tidak punya empati. Tatapan dan senyuman Dong Wook itu berbicara banget. Ngeri. Sementara itu, Im Siwan juga bisa menunjukkan gimana perubahan psikologis tokoh Jong Woo, waktu ia tertekan dan takut. Tokoh lainnya adalah si kembar Deuk Jong/Deuk Soo yang diperankan oleh Park Jong Hwan. Salut saya sama Park Jong Hwan yang bisa menjadi dua tokoh dengan karakter berbeda. Deuk Jong itu digambarkan sebagai orang berkebutuhan khusus dan Deuk Soo tentu saja kebalikannya.

Btw, bakal kayak gimana ya kalau Strangers from Hell ada season 2-nya. Ending-nya potensi buat dibikin season 2 sih.

Monday, March 1, 2021

Review Novel Persona (Penerbit Gramedia)

March 01, 2021 0
Review Novel Persona (Penerbit Gramedia)
Judul: Persona
Penulis: Fakhrisina Amalia
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 248
Tahun terbit: 2016

Blurb
Namanya Altair, seperti salah satu bintang terang di rasi Aquila yang membentuk segitiga musim panas. Azura mengenalnya di sekolah sebagai murid baru blasteran Jepang yang kesulitan menyebut huruf K pada namanya sendirinya.

Azura merasa hidupnya yang berantakan perlahan membaik dengan kehadiran Altair. Keberadaan Altair lambat laun membuat perasaan Azura terhadap Kak Nara yang sudah lama dipendam pun luntur.

Namun, saat dia mulai jatuh cinta pada Altair, cowok itu justru menghilang tanpa kabar. Bukan hanya kehilangan Altair, Azura juga harus menghadapi kenyataan bahwa orangtuanya memiliki banyak rahasia, yang mulai terungkap satu demi satu. Dan pada saat itu, Kak Nara-lah tempat Azura berlindung.

Ketika Azura merasa kehidupannya mulai berjalan normal, Altair kembali lagi. Dan kali ini Azura dihadapkan pada kenyataan untuk memilih antara Altair atau Kak Nara.
Novel Persona oleh Fakhrisina Amalia (Gramedia Pustaka Utama)
Novel Persona ©

Persona menurut KKBI adalah orang atau pribadi (kata benda). Tapi bisa diartikan juga sebagai orang atau benda yang berperanan dalam pembicaraan. Arti lainnya adalah topeng, wajah, ciri khas seseorang, identik dengan pribadinya.

Mari membahas sedikit tentang tokoh-tokoh dalam novel Persona, sebelum membahas jalan ceritanya.  Tokoh protagonis di novel Persona adalah Azura, cewek penyendiri dan suka menutup diri. Azura memiliki latar belakang keluarga yang kurang harmonis. Itu yang banyak mempengaruhi masa-masa remajanya. Lalu, tokoh Altair yang tiba-tiba datang seakan memberi angin segar bagi Azura. Altair itu digambarkan sebagai seorang blasteran Jepang. Ia satu-satunya orang yang mau berteman dengan Azura. Seakan Altair sangat memahami Azura, bahkan tanpa Azura bersusah-susah bercerita, cowok itu akan selalu ada dan menenangkannya. Namun, ada sesuatu yang salah dengan Altair. Apa itu? Baca Personal deh.

Oya, sedikit informasi, novel Persona ini bisa dijadikan contoh novel yang antagonisnya adalah keadaan, bukan berupa tokoh. Jadi, antagonis itu tidak selalu berwujud manusia. Sesuatu keadaan yang menghalangi tokoh protagonis itu juga bisa disebut sebagai antagonis.

Pada awal bab novel Persona, pembaca langsung disuguhi suatu permasalahan yang dihadapi oleh tokoh protagonis (Azura). Pembaca diajak bertanya-tanya sebenarnya apa yang dialami oleh tokoh. Itu yang membuat saya terus membaca bab-bab berikutnya.

Cara penulis menunjukkan perubahan psikologis Azura itu smooth banget, tidak secara tiba-tiba berubah gitu saja. Ada faktor-faktor yang menyebabkan perubahan itu. Selain itu, walaupun alur cerita Persona maju mundur, tapi adegan ceritanya tidak patah dan bikin bingung. Dan memang ada bulan serta tahun di setiap bab sebagai patokan agar pembaca tidak tersesat.

Gaya bahasa Persona bisa dibilang campur-campur. Waktu tokoh Azura ngobrol dengan Altair, ia akan cenderung menggunakan gaya bahasa seperti novel terjemahan. Namun, kalau tokoh berbicara dengan tokoh Yara misalnya, gaya bahasanya akan cenderung santai. Personally, saya tidak mempermasalahkan gaya bahasa, selama tulisannya bisa dinikmati.

Sejak awal membaca judul novel ini, saya merasa tidak boleh serta merta memercayai apa yang tertulis di bab-bab awal. Dan memang bakal ada plot twist. Plot twist-nya itu bukannya bikin kaget sih, tapi bikin sedih; walaupun awalnya sudah sempat menduga. Namun, itu memang yang harus dilewati oleh tokoh untuk kembali menemukan dirinya dan melanjutkan hidup. Overall, kalau kalian membaca novel sekaligus ingin belajar gimana perubahan karakter tokoh secara psikologis, novel Persona ini recommended. Btw, ada  lagi satu novel Fakhrisina yang berjudul Represi, yang dari 'bau-bau' judulnya juga bakal berhubungan sama psikologis tokoh.

Di satu waktu kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan atau apa yang kita inginkan. Tapi kemudian di waktu berikutnya tiba-tiba kita sudah menemukan jawabannya.

Comment