MELALUI RUANG

Saturday, September 28, 2019

Book Talk Festival Kota Lama Semarang

September 28, 2019 0
Book Talk Festival Kota Lama Semarang
Festival Kota Lama Semarang diadakan dari tanggal 12 - 22 September 2019. Festival ini bertujuan untuk mengenalkan sejarah Kota Lama Semarang, seni dan budaya, serta kegiatan-kegiatan sosial lainnya. Ada beberapa program yang lokasinya tersebar di seluruh area Kota Lama. Program-program tersebut adalah jelajah Kota Lama, line dance on the street, book talk, pemutaran dan diskusi film Kucumbu Tubuh Indahku, indische parade, pasar sentiling, street art performance, workshop dan talkshow, aksi sosial, sketch carnival, kids fun, pameran Jepara, Holland spreken, jalan sehat alzi, lomba lari berjarik, dan eksplor rasa. Banyak banget, kan?

Sebagai warga Semarang saya tentu bangga dan senang ada acara semacam ini. Harapan saya Festival Kota Lama Semarang bisa diadakan secara rutin setahun sekali. Banyak sekali pembelajaran yang bisa diperoleh dalam program-program di festival tersebut. Salah satu program yang saya ikuti adalah book talk.

Program book talk diikuti oleh penulis-penulis buku non fiksi maupun fiksi, yaitu Wiwien Wintarto, Handry T.M., Sulis Bambang, Dian Nafi, Muhajir Arrosyid, Nara Lahmusi, Risma Ridha, Niken Hergaristi, Bambang Iss Wirya, Malikul Alam, dan Wesiati Setyaningsih. Book talk berlokasi di Amphitheater Oudetrap. Sesi setiap penulis berlangsung di hari yang berbeda-beda.
Book Talk Festival Kota Lama
Dokumentasi pribadi ©

Saya menghadiri sesi tanggal 18 September 2019. Buku yang dibicarakan adalah a Sky Full of Stars karya Nara Lahmusi, Happy Birth-die karya Risma Ridha Anissa, dan Komorebi karya Niken Hergaristi. Ketiganya adalah novel yang berkisah tentang dunia remaja.

A Sky Full of Stars berkisah tentang Raya Angkasa yang seorang anak cleaning service, tapi memiliki cita-cita setinggi langit, yaitu kuliah di Kedokteran UI. Dia berusaha sekuat tenaga untuk menggapai mimpinya itu dengan menjadi guru privat bagi anak-anak tajir di sekolahnya. Namun mendadak hidupnya rumit ketika dia berurusan dengan kakak-adik dari keluarga Mahashakti. Bukan hanya urusan pelajaran, tapi Raya juga terlibat urusan perasaan dan pertaruhan.

Berbeda dari novel a Sky Full of Stars, novel Happy Birth-die dibumbui dengan genre horor. Happy Birth-die berkisah tentang Pijar yang dianggap misterius oleh teman-temannya karena penampilannya. Dia dikenal memiliki ekspresi wajah datar, tidak pernah tersenyum, dan seram. Oleh sebab itu dia mendapat julukan zombie. Siapa yang sangka bahwa Pijar memiliki kemampuan bisa melihat tahun kematian seseorang saat berulang tahun. Apesnya Heksa harus berurusan dengan Pijar dalam acara sekolah. Lambat laun Heksa dekat dengan Pijar dan dia juga mengetahui kemampuan cewek itu. Fakta tersebut membuat hari-hari mereka dipenuhi ketegangan.

Novel Komorebi berkisah tentang Arimbi yang mengidap lupus. Lupus adalah penyakit autoimun yang disebabkan oleh sistem imun yang menyerang sel, jaringan, dan organ tubuh sendiri. Sebuah film memberikan gagasan baru bagi Arimbi tentang hidupnya. Daripada dia terus meratapi takdir lebih baik dia mempersiapkan diri dan berbahagia sebelum mati.

Apa sih komorebi? Komorebi diambil dari bahasa Jepang yang artinya momen ketika cahaya matahari menembus pepohonan. Dalam novel Komorebi si tokoh utama menyukai momen tersebut. Di balik novel Komorebi ada cerita sedih. Rupanya penulis terinspirasi dari temannya yang mengidap lupus.

Menurut saya ide ketiga novel tersebut menarik. Ketiganya sama-sama mengajarkan bahwa kita harus mencintai diri sendiri dulu atau jangan rendah diri. Tentu masih banyak nilai yang bisa dipetik dari ketiga buku tersebut. Jika kalian penasaran silakan membelinya di toko-toko buku terdekat.

Acara book talk di Festival Kota Lama itu bagus banget, sayangnya memang tidak seramai acara lain, pasar sentiling misalnya (ramainya itu lho haha…). Namun ini awal yang bagus, bahwa banyak pihak yang masih concern dengan buku, budaya membaca, dan kiprah penulis-penulis lokal. Semoga dunia sastra Indonesia bisa lebih maju lagi dan budaya membaca terus meningkat.

Terima kasih sudah berkunjung di Melalui Ruang, jangan lupa bagikan dan tinggalkan komentar.

Wednesday, August 28, 2019

Ulasan TV Series Netflix Wu Assassins Season 1

August 28, 2019 0
Ulasan TV Series Netflix Wu Assassins Season 1
Akhirnya TV series yang saya tunggu-tunggu tayang juga di Netflix. Wu Assassins mulai tayang tanggal 8 Agustus 2019 dengan episode sebanyak 10. TV series ini bercerita tentang seorang koki di China Town San Fransisco bernama Kai Jin (Iko Uwais) yang ternyata adalah seorang Wu Assassin terakhir. Kai berusaha mengungkap misteri kuno dan mengalahkan para Wu (Wu dengan elemen api, air, tanah, logam, dan kayu) yang memiliki kekuatan supernatural. Saya sudah penasaran banget sejak banyak berita muncul tentang keterlibatan Iko Uwais di TV series Netflix. Wu Assassins sekaligus menjadi TV series pertama Iko. 

Sejujurnya saat menonton trailer Wu Assassins saya banyak mengerutkan kening, terlalu khawatir akan seperti apa alur TV series ini. Namun saya tidak mau terburu-buru menyimpulkan, pokoknya harus tetap nonton Wu Assassins meskipun trailernya terasa cheesy (terutama efek visualnya). 

Setelah nonton episode 1, rasanya campur aduk. Kesal dengan detail-detail kecil yang diabaikan. Semuanya baik-baik saja sebelum adegan Kai Jin (Iko Uwais) menabrak seorang perempuan yang diketahui bernama Ying Ying (Celia Au). Di bagian ini perpindahan antara dimensi satu dengan dimensi lainnya kurang mulus, begitu pula dengan perpindahan selanjutnya. Sekalian saja saya bicarakan efek visual dari segi penonton. Maaf saja untuk sekelas Netflix efek visual Wu Assassins tidak cakep. Jatuhnya malah mengganggu.

Selain efek visual dan editing yang tidak dipoles dengan baik, ada dialog yang tidak masuk akal (Sebut saja dialog ponsel antara seorang pria dengan Wu Tanah.), serta make up untuk karakter yang terluka kurang real. Detail-detail seperti ini yang jika diabaikan akan sangat mengganggu. Kalau masalah plot saya tidak terlalu mempermasalahkan, mainstream tidak apa-apa asal dikemas dengan baik, sayangnya ini tidak. Sangat disayangkan sih, seperti menyia-nyiakan bakat para pemainnya. 

Terlepas dari kekurangan tadi saya terkejut bahwa saya tetap menikmati menonton Wu Assassins. Apalagi pada episode semakin ke belakang cerita semakin menarik dan kompleks. Misteri terkuak perlahan-lahan. Saya juga tidak menduga jalan alurnya. Konfliknya juga cukup padat. Adegan-adegan pertarungannya sudah pasti badass, Iko Uwais sih tidak perlu diragukan lagi. Tapi jika dibandingkan dengan adegan fighting di film Iko yang lain saya lebih suka koreografi di film Head Shots misalnya.

Soal akting saya paling suka sama aktingnya Li Jun Li sebagai Jenny Wah. Dia termasuk salah satu karakter yang meninggalkan kesan. Ia memerankan seorang wanita tangguh yang berusaha menjaga kakaknya, Tommy (Lawrence Kao), yang selalu membuat kekacauan. Ia juga memikul tanggung jawab untuk meneruskan bisnis orang tua, meskipun ia tidak ingin. Li Jun Li menggambarkan sosok Jenny Wah yang tepat. Chemistry Li Jun Li dengan Lawrence Kao sebagai kakak adik juga bagus.

Karakter lainnya yang mencuri perhatian adalah Wu Kayu (Tom Flanagan). Meskipun karakter Wu Kayu muncul di pertengahan episode, tapi saya bisa sedikit memahami betapa depresi, terobsesi, dan kacaunya ia.

Di Wu Assassins juga diselipkan isu rasis, tentang warga keturunan Tionghoa. Sejujurnya saya tidak banyak tahu kasus rasis orang Amerika terhadap warga keturunan Tionghoa. Namun saya tahu bahwa hal-hal rasis masih banyak terjadi di dunia, bahkan di Indonesia sendiri, entah itu antar agama, suku, ras. Menurut saya pesan dari adegan terkait isu rasis tersebut sebenarnya bukan hanya untuk ras tertentu, tapi juga peringatan untuk kasus rasis di seluruh dunia. 

Secara keseluruhan Wu Assassins masih bisa dinikmati, terlepas dari kekurangan-kekurangannnya, tapi saya tahu seluruh crew sudah bekerja dengan keras untuk mewujudkan TV series ini. Harapannya kalau memang ada season 2, buatlah season 2 lebih baik lagi.

Tuesday, August 6, 2019

Ulasan Chilling Adventure of Sabrina Season 1 Netflix

August 06, 2019 0
Ulasan Chilling Adventure of Sabrina Season 1 Netflix
Setelah mengurungkan niat untuk nonton The Society, akhirnya saya memutuskan nonton Chilling Adventure of Sabrina saja. Mungkin nanti tetap coba nonton The Society. Chilling Adventure of Sabrina diadaptasi dari komik dengan judul serupa. Komik terbitan Archie Comics tersebut ditulis oleh Roberto Aguirre-Sacasa dan ilustrasi oleh Robert Hack. Chilling Adventure of Sabrina season 1 ini sebenarnya sudah tayang setahun yang lalu, sedangkan season 2 tayang tahun ini. Season 1 TV series ini berjumlah 11 episode dengan durasi rata-rata 50 – 60 menit.

Chilling Adventure of Sabrina berkisah tentang seorang remaja setengah manusia setengah penyihir bernama Sabrina Spellman (diperankan oleh Kiernan Shipka). Ia mengalami dilema antara menjadi penyihir seutuhnya atau tetap tinggal di dunia manusia bersama teman-temannya. Sementara itu sebentar lagi usianya 16 tahun, tidak banyak waktu untuk berpikir. Saat itu ia harus mengikuti ritual agar bisa menjadi penyihir seutuhnya, lalu pergi ke Unseen Academy.

Jika kalian sempat berpikir bahwa penyihir di Chilling Adventure of Sabrina ini akan mirip-mirip dengan Harry Potter apalagi ada sekolahnya juga, maka usir pikiran tersebut. Penyihir di Sabrina ini lebih creepy dan thrilling. Selain itu Chilling Adventure of Sabrina memang termasuk ke genre horor, tapi mungkin juga bisa dikategorikan sebagai horor supernatural.

Set lokasi Chilling Adventure of Sabrina berada di kota kecil bernama Greendale dekat dengan hutan dan tambang. Selain hutan yang terlihat menyimpan banyak rahasia, properti-properti yang digunakan dalam set pun dibuat sedemikian rupa sehingga memberikan kesan suram, misalnya desain rumah keluarga Spellman. Apalagi ada kuburan di halaman rumah keluarga Spellman. Bahkan sampai carang pohon di depan rumah mereka dibuat khas animasi horor.

Menurut saya tidak ada yang terlalu spesial dari TV series ini. Alur cerita yang harusnya misterius, tapi jatuhnya tidak misterius bagi saya. Misalnya kisah di balik kematian orang tua Sabrina yang disebutkan sebagai kecelakaan. Jujur saja tidak terlalu membuat saya penasaran. Soalnya sudah jelas pasti kematian mereka memang tidak wajar. Walaupun gimana dan kenapa mereka meninggal belum terungkap. Kilas balik yang beberapa kali dimunculkan justru tidak berhasil membuat saya semakin penasaran. Lalu beberapa sub plot membuat saya bosan, contohnya di episode 5 yang berjudul Dreams in a Witch House. Serius saya rasanya mau skip saja episode tersebut.

Beberapa bagian di Chilling Adventure of Sabrina juga menyinggung tentang kaum LGBT, tapi menurut saya itu malah kesannya hanya tempelan. Kalau dibandingkan dengan 13 Reasons Why, saya lebih suka cara 13 Reasons Why menyampaikan isu tersebut. Sama halnya dengan isu LGBT, ada juga isu tentang pelarangan buku-buku tertentu beredar di sekolah karena mengandung hal sensitif. Saya kurang tahu detailnya buku-buku yang dilarang itu isinya seperti apa. Yang jelas isu itu juga hanya sekadar lewat.

Lanjut ke penokohan, menurut saya tokoh utama di sini karakternya tidak terlalu kuat. Justru tokoh Zelda dan Hilda (keduanya adalah Bibi Sabrina) itu yang karakternya lebih hidup. Mereka menyajikan hubungan kakak-adik yang kadang suka berselisih pendapat, tapi juga saling sayang. Lalu guru Sabrina‒yang biasa dipanggil Ms. Wardwell‒karakternya juga hidup.

Sementara itu, karakter Sabrina digambarkan sebagai sosok yang keras kepala, ia selalu merasa bisa menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri, tapi termasuk pemberani. Sayangnya karakter Sabrina tetap hambar bagi saya, kurang hidup. Ditambah lagi ada hal-hal yang kurang bisa dipercaya tentang karakter Sabrina. Sabrina selalu dimudahkan, selalu berhasil, kalaupun gagal sedikit imbasnya tidak pada dirinya langsung.

Sedikit spoiler, di episode 10 berjudul The Witching Hour bagian mengembalikan roh-roh 13 penyihir itu agak aneh. Si Sabrina ini kan tidak tahu apa-apa lho tentang mereka. Ia juga belum banyak belajar tentang mantra dan ilmu sihir, sebut saja masih amatir. Tapi ia bisa lho mengusir penyihir itu. Semudah teriak sambil mengangkat tangan. See? Ia hidupnya dimudahkan, rintangan itu soal gampang bagi Sabrina.

Season 2 release tahun ini dengan jumlah episode 9 dan saya tidak penasaran. Haha... Kayaknya cerita akan berpusat di akademi tak kasat mata. Tentu masih melanjutkan petualangan-petualangan Sabrina dalam mengungkap kisah kematian orang tuanya yang belum terbongkar di season 1.

Nah itu dulu ulasan saya tentang TV series Netflix Chilling Adventure of Sabrina. Silakan kunjungi artikel lain, ada ulasan tentang Stranger Things Season 3 juga lho. Terima kasih sudah menyimak.

Tuesday, July 30, 2019

Mengenal Subgenre dalam Novel Part 2

July 30, 2019 0
Mengenal Subgenre dalam Novel Part 2
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sub- (bentuk terikat) memiliki arti bawah, dekat, agak. Sementara itu, genre (Sas) memiliki arti sebagai jenis, tipe, atau kelompok sastra atas dasar bentuknya, ragam sastra. Untuk lebih mudah dipahami saya mengartikan subgenre sebagai turunan dari suatu genre.

Subgenre dalam novel jika didata jumlahnya tentu sangat banyak. Salah satu contohnya sains fiksi saja memiliki subgenre seperti cyberpunk, steampunk, clockpunk, biopunk; belum genre lain juga memiliki subgenre. Kalian bisa membuka Goodreads dan dijamin akan menemukan berderet-deret genre dan subgenre novel. Oleh sebab itu untuk menyambung artikel sebelumnya tentang subgenre, maka saya membuat bagian keduanya. Baca juga mengenal subgenre dalam novel bagian pertama di sini. Nah mari simak penjelasan saya berikut ini.

Bildungsroman atau Coming of Age

Novel dengan subgenre bildungsroman atau coming of age menceritakan tentang perkembangan kehidupan tokoh dari ia remaja hingga beranjak dewasa. Cerita ini utamanya fokus pada pembentukan karakter dan pendidikan si tokoh utama saat ia remaja hingga menjadi sosok yang lebih matang. Contoh novel dengan sub genre bildungsroman antara lain, Looking for Alaska oleh John Green, Great Expectations oleh Charles Dickens, The Goldfinch oleh Donna Tarrt.

Chick Lit

Chick literature atau disebut chick lit ternyata bukan termasuk subgenre romance, tapi tidak apa-apa tetap saya bahas di sini. Saya juga baru tahu setelah membaca artikel di Bookriot, sedangkan di Goodreads chick lit termasuk sebagai genre fiksi (berdiri sendiri, bukan turunan). Novel chick lit biasanya memiliki karater utama wanita. Novel chick lit menceritakan tentang kehidupan wanita modern dengan unsur komedi dan kisah yang ringan. Terkadang genre ini dibumbui kisah percintaan, tapi hal tersebut bukan yang utama karena hubungan persahabatan dan keluarga lebih penting. Tidak jarang chick lit juga bercerita tentang patah hati, tapi kebanyakan memiliki akhir cerita yang bahagia. Contoh novel chick lit adalah Screen Queens oleh Lori Goldstein, The Friend Zone oleh Abby Jimenez, Evvie Drake Starts Over oleh Linda Holmes.

Sick Lit

Sick literature atau disebut sick lit merupakan subgenre yang berfokus pada kisah tokoh yang mengalami penyakit mental, kecenderungan menyakiti diri sendiri dan bunuh diri, atau tentang kematian, serta hubungan emosi yang dalam. Menurut Goodreads novel yang termasuk dalam sick lit adalah The Fault in Our Stars oleh John Green, Everything Everything oleh Nicola Yoon, Me Before You oleh Jojo Moyes.

Dark Fantasy

Dark fantasy adalah subgenre dari fantasi yang pada umumnya menceritakan tentang cerita fantasi yang memiliki elemen horor (Pada artikel Macam-macam Genre Novel saya sempat menyebutkan bahwa suatu novel bisa memiliki genre campuran.). Dark fantasy bisa juga disebut sebagai supernatural horror. Namun dark fantasy tidak hanya berhubungan dengan cerita fantasi-horor. Cerita dengan tokoh utama yang tidak memiliki sifat kepahlawanan atau moral yang ambigu bisa dikategorikan sebagai dark fantasy. Contoh novel dark fantasy antara lain, Coraline oleh Neil Gaiman, The Gunslinger oleh Stephen King, dan The Blade Itself oleh Joe Abercrombie.

Cyberpunk

Novel cyberpunk umumnya berkisah tentang dunia dengan teknologi serba canggih, tapi kehidupan sosial manusia di dunia tersebut justru mengalami kemerosotan. Konflik di dalam novel cyberpunk berhubungan erat dengan perusahaan raksasa, kecerdasan buatan, hacker, serta kehidupan radikal masyarakat. Contoh novel dengan sub genre cyberpunk antara lain, Altered Carbon oleh Richard K. Morgan, Ready Player One oleh Ernest Cline, Blade Runner oleh Philip K. Dick.

Biopunk

Biopunk menceritakan tentang revolusi bioteknologi sebagai konsekuensi dari kemajuan teknologi rekombinasi DNA. Pada umumnya subgenre ini mengisahkan tentang seseorang atau kelompok melawan pemerintah atau perusahaan raksasa yang memegang kendali terhadap kehidupan sosial atau mengambil keuntungan besar-besaran. Kebanyakan tokoh dalam novel biopunk adalah hasil eksperimen. Contoh karya fiksi biopunk adalah The Island of Doctor Moreau oleh H. G. Wells.

Steampunk

Subgenre steampunk sangat berkaitan erat dengan penggabungan teknologi dan desain yang terinspirasi oleh mesin tenaga uap pada industri abad ke 19. Walaupun subgenre steampunk terkadang berkaitan dengan cyberpunk, tapi steampunk memiliki setting pada abad ke 19 era Victorian atau bisa dikenal sebagai retrofuturistik. Contoh novel dengan subgenre steampunk adalah Mortal Engine oleh Philip Reeve dan The Time Machine oleh H. G. Wells.

Jadi ada tidak subgenre di atas yang baru saja kalian dengar? Iya, jika dieksplor lagi genre dan subgenre memang tidak ada habisnya. Bisa jadi kita akan menemukan genre dan subgenre yang asing di telinga kita. Semoga artikel saya ini bisa menjadi pencerahan kalian yang mau mengetahui tentang subgenre karya fiksi. Jika ada kekeliruan tentang penjelasan saya, kalian bisa meninggalkan komentar di bawah, karena saya juga sedang belajar mengenal genre dan subgenre lebih luas. Terima kasih sudah mampir dan menyimak.

Wednesday, July 24, 2019

Ulasan Stranger Things season 3 TV Series Netflix

July 24, 2019 2
Ulasan Stranger Things season 3 TV Series Netflix

Salah Satu Season Stranger Things yang Paling Mendebarkan

Stranger Things memang tidak pernah mengecewakan saya. TV Series Netflix ini jelas ditulis dengan baik. Jujur saja saya bingung mau menulis ulasan apa, soalnya terlalu speechless (tapi kata Princess Jasmine, all I know is I won't go speechless, speechless… *singing). Stranger Things season 3 salah satu TV Series yang memang saya tunggu-tunggu, bahkan sejak season 2-nya tamat. Saat itu belum ada gambaran akan seperti apa season 3, cuma masih berspekulasi tentang demodog di dalam kulkas dan mind flyer yang keluar dari tubuh Will. Dan memang luar biasa alur season 3 tidak tertebak.
Sedikit gambaran season 3 ini kisah percintaan para tokohnya mulai berkembang, ada pembukaan mall baru bernama Starcourt yang langsung menjadi pusat perhatian warga Hawkins, dan ada segerombolan tikus bersikap aneh, semuanya itu terjadi pada musim panas tahun 1985. Dan… sebuah musim panas bisa mengubah segalanya.
Banyak hal yang berubah tentu saja, termasuk penampilan para tokohnya. Penampilan baru Eleven membuat dia lebih cantik dan fresh. Gaya rambut Steve mungkin sudah tidak memiliki daya tarik untuk para perempuan Hawkins, tapi tetap menarik bagi saya (Selain itu hubungan bromance-nya dengan Dustin TOP BGT. Haha…). Billy tetap memiliki image seksi dengan penampilannya itu, ditambah kini dia menjadi lifeguard di kolam renang. Rambut pendek Nancy membuatnya terlihat lebih mature. Gaya rambut Joyce dengan poni memberikan kesan segar.
Stranger Things season 3
(Gambar oleh Wenni Pratiwi)

Stranger Things season 3 memiliki jumlah episode sebanyak 8, jauh lebih sedikit daripada season pendahulunya, tapi tidak mengurangi keseruan dan ketegangannya. Semuanya terasa pas, pergerakan dari adegan satu ke adegan lainnya, peran masing-masing karakter yang tidak sia-sia. Selain itu, keberadaan tokoh-tokoh inti baru dalam Stranger Things season 3 menambah warna tersendiri. Saya paling suka tokoh baru bernama Robin, teman kerja Steve di toko es krim Scoops Ahoy. Robin ini cerdas dan kalau ngomong ceplas-ceplos (tapi tidak ada yang menandingi ceplas-ceplosnya Erica, adik Lucas). Bahkan tokoh minor seperti Dr. Alexei juga mencuri perhatian. Peran dia sebagai ilmuwan Rusia jauh dari bayangan saya dan itu justru membuat saya suka peran dia. Tokoh-tokoh lama pun mengalami perkembangan yang wajar dan sesuai porsinya. Saya suka perkembangan hubungan Mike dan Eleven, lucu dan manis khas remaja. Hubungan antara Max dan Eleven juga berkembang menjadi friendship goal.
Sejak episode 1 yang berjudul Suzie, Do You Copy? konflik-konflik sudah dibangun secara perlahan sehingga menghasilkan pondasi yang kuat. Pada akhirnya konflik-konflik itu bermuara pada satu titik. Nah cara pekerja film ini membawa isu-isu untuk mencapai titik utama itu keren banget! I love it so much! Ramuan yang tepat sehingga menghasilkan sesuatu yang berkualitas.
Semakin kalian menonton episode lanjutannya, maka perasaan tegang semakin terasa, walaupun kadang ada komedi-komedi yang mencairkan suasana atau hal-hal manis yang membuat kalian tersenyum. Season 3 ini benar-benar mengaduk-aduk perasaan sih, ada tawa, ketegangan, penyesalan, pengorbanan dan tangis. Lengkap!
Episode paling menegangkan menurut saya dalam Stranger Things season 3 adalah dua episode terakhir, yaitu The Bite dan The Battle of Starcourt. Saya seperti tidak diberi waktu untuk menghela napas. Dan, akhir dari season 3 ini sungguh tidak ketebak (Saya menantikan season 4!). Bagian terakhir ini juga membuat saya harus meneteskan air mata. Ada harga mahal yang harus dibayar untuk suatu perjuangan. Jika kalian ingin mengetahui lebih lanjut bagaimana perjuangan Eleven dan kawan-kawan, segera nonton Stranger Things Season 3. Eh tapi jangan lupa nonton season 1 dan 2 dulu. TV Series ini tidak akan mengecewakan kalian, karena sangat seru untuk diikuti.
Terima kasih sudah menyimak. Ikuti blog ini dan jangan lupa tinggalkan komentar.

The best quote:
“You’re treating her like some kind of machine, when she's not a machine. And I don't want her to die looking for the flyed, when they’ve obviously vanished off the face of the earth. So can we please just come up with a new plan, because I love her and I can't lose her again.” -Mike Wheeler-
(Quote di atas dibaca tanpa jeda dengan penuh penekanan dan emosi. Lol…)

Tuesday, July 23, 2019

Review Buku Kumcer The Humble Comma

July 23, 2019 0
Review Buku Kumcer The Humble Comma
Pukul 15:51 WIB tanggal 17 Juli 2019 baru saja selesai membaca The Humble Comma
Penulis: Aci Baehaqie
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer
Tahun terbit: 2019
Halaman: 283

Blurb
Koma hadir sebagai jeda
Jeda untuk bernapas
Jeda untuk berpikir sejenak
Koma selalu dibutuhkan manusia, walau kerap dilupakan
Berbeda dengan titik
Semua orang akan bertemu bila saatnya tiba
Namun, tidak semua orang beruntung berjumpa dengan koma
Tidak setiap orang diberi jeda dalam hidupnya
Di tengah hiruk pikuk, koma memberikan sebuah arti
Di tengah sibuk, koma mengembalikan arti kita sebagai manusia

Cerita tentang pertemuan dengan sebuah jeda dan 12 cerita lain mengenai pahit dan manisnya hidup…
***
Kumpulan Cerita The Humble Comma
The Humble Comma ©

Suka sekali dengan blurb The Humble Comma, setuju juga dengan kata-kata tersebut. Seringnya manusia terus berlari, lupa untuk berhenti dan mengambil napas. Nah kali ini simak ulasan saya tentang buku The Humble Comma.

Buku The Humble Comma adalah kumpulan cerita pendek yang hadir dengan kisah-kisah sederhana yang kadang kita abaikan dan kisah-kisah kompleks yang menggetarkan. Ditulis dengan kalimat yang mudah dipahami dan kadang disisipi kritik-kritik ataupun keresahan-keresahan. Tidak jarang hal-hal tersirat juga menghiasi setiap kisah.

Terkadang saya suka dengan hal-hal yang tidak gamblang dalam buku ini, karena memberikan ruang bagi pembaca untuk berimajinasi, berpendapat, bahkan berspekulasi. Tapi ada juga cerita yang saya harapkan bisa memiliki close ending.

Dari 13 kisah-kisah yang tertuang dalam The Humble Comma, Pendosa yang Menangis adalah favorit saya. Adanya potongan-potongan kaset itu memang ide yang bagus, sangat mendukung alur cerita. Beberapa kisah masih bisa dikembangkan dan saya rasa akan menarik jika dibuat versi novelnya. 

Selama membaca saya mencoba membuat playlist, yang mana kebiasaan tersebut tidak pernah saya lakukan. Biasanya saya mendengarkan lagu secara random. Ternyata seru juga membuat playlist khusus untuk membaca novel tertentu. Berikut ini lagu-lagu yang saya dengarkan:

Daramuda - Growing Up
Banda Neira - Hujan di Mimpi
Banda Neira - Matahari Pagi
Banda Neira - Biru
Banda Neira - Langit dan Laut
Yiruma - River Flows in You

Sekian ulasan buku oleh Melalui Ruang. Tunggu ulasan-ulasan lainnya dan jangan lupa tinggalkan komentar. Terima kasih.

Tuesday, July 2, 2019

Review Novel Gramedia Katarsis New Cover

July 02, 2019 0
Review Novel Gramedia Katarsis New Cover
Pukul 15:34 WIB tanggal 2 Juli 2019 baru saja selesai membaca Katarsis
Penulis: Anastasia Aemilia
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2013
Halaman: 272
Genre/sub genre: Psychology thriller


Blurb
ka.tar.sis: n (Psi) cara pengobatan orang yang berpenyakit saraf dengan membiarkannya menuangkan segala isi hatinya dengan bebas; (Sas) kelegaan emosional setelah mengalami ketegangan dan pertikaian batin akibat suatu lakuan dramatis.


Seluruh keluarganya tewas dalam pembunuhan sadis, sementara Tara ditemukan dalam kondisi mengenaskan di kotak perkakas kayu. Dengan bantuan Alfons, psikiaternya, polisi berusaha menemukan sang pembunuh lewat Tara yang mengalami trauma berat. Teka-teki pembunuhan ini makin membingungkan setelah muncul Ello, pria teman masa kecil Tara. Kematian demi kematian meninggalkan makin banyak tanda tanya. Apakah Tara sesungguhnya hanya korban atau dia menyembunyikan jejak masa lalu yang kelam?
***
Saya sudah cukup lama tahu tentang novel Katarsis ini, tapi belum ada keinginan untuk beli, lalu saya melupakannya. Nah kebetulan banget novel ini cetak ulang dengan sampul baru dan ada versi bahasa inggrisnya. Saya juga lagi berburu potongan harga di toko buku, makanya saya angkut buku ini. Selain itu saya memang penasaran dengan cerita yang ditulis oleh salah satu editor fiksi di Gramedia ini. Siapa tahu bisa buat belajar alurnya juga.


Alur novel Katarsis ini menurut saya cukup cepat, ditulis tanpa bertele-tele. Namun pembaca akan dibawa naik turun pada titik-titik tertentu. Semakin membalik halaman semakin terasa kelam dan kengeriannya. Namanya juga thriller hal-hal sadis juga ada di sini, meskipun deskripsinya tidak detail tapi tetap bikin saya mengerutkan kening ngeri.


Di novel Katarsis ini tidak ada tokoh yang jadi favorit saya. Kekuatan karakter setiap tokoh menurut saya sedang-sedang saja, bahkan Tara yang menjadi pusat cerita. Bagusnya di sini cukup dijelaskan lingkungan sekitar Tara yang membentuk karakter dia. Tara juga sosok yang terbilang tidak mudah menyerah, meskipun mengalami rentetan kejadian memilukan. Alfons menjadi tokoh paling netral di sini dan perannya memang besar untuk tokoh utama. Sementara Ello sejak awal sudah menjadi sosok yang misterius. Tadinya saya berharap Ello ini adalah angin segar bagi Tara, tampaknya saya berharap berlebihan. Kenapa demikian, baca saja novelnya. Haha…


Ada beberapa salah sebut dan salah ketik yang saya temukan. Salah ketik mungkin tidak terlalu mengganggu, tapi yang salah sebut itu bisa membuat pembaca salah mengartikan. Selain itu yang lumayan membingungkan adalah adanya dua POV tapi tidak ada nama di awal bab yang menunjukkan masuk POV siapa, Tara atau Ello. Critical Eleven juga ada dua POV tapi setiap ganti suara ada nama tokoh yang tertera, meskipun perbedaan tokoh bisa dilihat dari suaranya sih. Sayangnya kalau kalimat di awal tergolong netral tetap akan menimbulkan perspektif yang beda. Contoh, saya lagi baca salah satu bab dan itu saya kira Tara ternyata setelah baca kalimat selanjutnya itu babnya Ello.


Akhir cerita novel Katarsis tidak ketebak sama sekali. Selama membaca pun tidak ada tanda-tanda novel ini bakal berakhir seperti apa, jadi saya hanya mengikuti cerita ini tanpa berspekulasi. Dan jangan pernah berharap akhir yang menggembirakan.


Sebelum saya akhiri ulasan ini, saya ingin membahas sedikit tentang Katarsis dalam artian yang sudah disebutkan di blurb. Dalam arti di dunia psikologis katarsis memang ditujukan untuk tokoh utama yang mengalami trauma berat. Sementara arti lainnya tentang kelegaan emosional, entah kenapa kurang pas. Saya malah meyakini tokoh utama tidak pernah benar-benar lega hingga novel ini tamat.


Nah sekian ulasan saya, semoga bisa membantu kalian yang ingin mencari bacaan bergenre thriller psychology. Jangan lupa share dan comment.


Quote: “... bahwa hidup ini akan selalu menyenangkan jika kita tahu permainan apa yang dapat kita ambil.”

Comment