MELALUI RUANG

Tuesday, January 28, 2020

Review Novel Metropop: False Beat

January 28, 2020 0
Review Novel Metropop: False Beat
Penulis: Vie Asano
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2018
Jumlah halaman: 296

Blurb
"Lo tinggal pilih aja mau yang mana. Pertama, lo diam dengan kesadaran lo sendiri. Kedua, gue yang bikin lo diam. Kalau perlu, gue bakalan cium lo di sini, sampai lo kehabisan napas dan pingsan."

Gara-gara terlilit utang dengan om-nya, Aya harus rela menjadi manajer Keanu & the Squad. Sebenarnya pekerjaan itu tak seburuk yang dia bayangkan andai saja bukan Keanu yang harus dihadapinya. Vokalis sekaligus pentolan band itu mungkin punya banyak fans. Dan harus dicatat, Keanu tuh memiliki wajah ganteng, bibir yang kissable, penampilan trendi, dan suara yang bagus banget. Namun, Keanu punya segudang kelakuan ajaib yang membuat Aya tak bisa berkutik, juga membuat jadwal roadshow band itu berantakan.

Aya pun mencari cara agar dapat mengendalikan Keanu karena itu satu-satunya cara agar roadshow berjalan lancar. Baru saja merasa menemukan jawaban, Aya malah terjerumus dalam masalah baru: mengetahui rahasia besar yang disimpan Keanu rapat-rapat dan membuatnya terperangkap dalam drama tak berujung.
***
Ebook novel False Beat di aplikasi iPusnas. False Beat ditulis oleh Vie Asano.
Ebook False Beat di aplikasi iPusnas ©

False Beat adalah ebook pertama yang selesai saya baca. Bangga. Hahaha... Soalnya saya kurang betah kalau baca ebook dari ponsel (Maklum belum punya tablet). Bahkan kali ini saya terbilang cepat membaca novel ini saking serunya. For your information, saya membaca novel False Beat di aplikasi iPusnas. Di iPusnas banyak sekali ebook gratis dan yang pasti legal. Jangan sampai ya kalian membaca ebook ilegal yang sering dijual melalui web atau media sosial lainnya. Ebook ilegal itu biasanya dijual murah, misalnya 10.000 dapat tiga; terus bisa di-share begitu saja biasanya dalam bentuk pdf. Kalau mau membaca ebook legal bisa beli di Gramedia Digital atau yang mau baca gratis ya di iPusnas.


Lanjut membahas novel False Beat, saya suka dengan bab awal novel ini, karena langsung menampilkan permasalahan. Dengan begitu pembaca dibuat penasaran dengan apa yang akan terjadi dengan tokoh selanjutnya. Alur cerita dan pembagian bab juga menarik. Jadi cerita ini dibagi menjadi intro, verse, prechorus, chorus, bridge, dan outro; seperti bagian yang ada di dalam lagu. Alur cerita yang naik turun memberikan sensasi campur aduk, ada seru, ada sedih, ada bahagia. Dan, terkejut, karena plot twist-nya itu lho. Walaupun sudah mencium hal-hal yang disembunyikan, saya justru berpikiran kebalikannya lho. Terkecoh.

Penulis tentu telah melakukan riset yang mendalam, terbukti tokoh-tokoh dalam False Beat ini memiliki karakter yang kuat dan tidak dangkal. Misalnya, tokoh Keanu sebagai penyanyi digambarkan dengan baik melalui adegan-adegan ketika menciptakan lagu, menyanyi, tampil di panggung. Itu semua sampai ke pembaca, jadi pembaca percaya kalau Keanu adalah penyanyi, bukan tokoh yang seolah-olah digambarkan sebagai penyanyi. Tentu tidak mudah dalam menggambarkan tokoh yang mahir menyanyi dan bermain musik dalam bentuk tulisan. Di dalam kata pengantar penulis juga menyampaikan, jika pembaca ingin lebih mendapat gambaran tentang Keanu & the Squad bisa melihat penampilan band One OK Rock.

Tokoh favorit saya dalam novel ini tentu saja Kevin. Kenapa tidak Aya atau Keanu? Kalian akan mendapat jawabannya ketika membaca novel False Beat. Namun, kalau membicarakan tokoh mana yang paling menonjol, ya menurut saya Keanu. Auranya itu lho bisa sampai ke pembaca. Tapi Kevin juga memiliki karakter yang menarik. Dan saya sebagai pembaca sangat bersimpati dengan karakter Kevin.

Saya bersyukur ending cerita ini adalah close ending. Sebab, setelah semua masalah yang dialami para tokoh, rasanya terlalu kejam jika dibuat akhir yang mengambang. Overall, saya sangat menikmati membaca novel False Beat. Sedikit jadi paham tentang manajemen band, karena ada beberapa catatan kaki untuk istilah-istilah yang asing di telinga awam.

Kepingan puzzle nggak bakal pernah membentuk gambar kalau kita nggak berusaha menyusunnya.

Sunday, January 26, 2020

Review Novel Hyouka (Novel Pertama dari Kotenbu Series)

January 26, 2020 2
Review Novel Hyouka (Novel Pertama dari Kotenbu Series)
Penulis: Yonezawa Honobu
Penerbit: Haru Media
Tahun terbit: 2017
Jumlah halaman: 244

Blurb
Kalau kita menyelidikinya, mungkin akan terjadi hal-hal yang tidak baik.

Oreki Hotaro adalah pemuda hemat energi. Mottonya adalah, "Kalau tidak butuh dikerjakan, lebih baik tidak dikerjakan. Kalau harus dikerjakan, sebisanya saja."

Hanya saja, semua itu berubah saat dia terpaksa bergabung dengan Klub Sastra Klasik. Chitanda Eru, gadis dengan rasa penasaran yang tinggi, mengubah hari-hari Hotaro, dan dia harus memecahkan misteri demi misteri yang terjadi di sekitar mereka.

Gara-gara Chitanda, mereka dihadapkan pada kasus 33 tahun yang lalu. Hanya saja, petunjuk mereka hanyalah sebuah antologi berjudul Hyouka.
***
Novel Hyouka oleh Yonezawa Honobu
Novel Hyouka ©


Sebelum membaca novel Hyouka, saya cari dulu arti Hyouka di Google Translate. Maklum penasaran. Jadi, menurut Google Translate dan tentu saja penulisan kanjinya sesuai dengan yang ada di kaver, Hyouka berarti 'makanan penutup es'. Kurang padu ya terjemahannya, tapi kurang lebih itu sejenis makanan penutup yang terbuat dari es. Kalau buka di Wikipedia langsung ada judul bahasa Indonesianya, Hyouka yang berarti 'es krim'.

Baiklah lanjut saja bahas tentang novel Hyouka. Hyouka adalah buku pertama dari Kotenbu series atau Classic Literature Club series. Novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama, yang tidak lain adalah Oreki Hotaro, si tokoh utama. Sudut pandang orang pertama ini memiliki keterbatasan, di mana cerita yang dituturkan hanya berdasarkan apa yang dialami, dilihat, dirasa si tokoh secara langsung. Tokoh tidak bisa cerita apa pun kalau tidak ada di lokasi/setting.

Baru beberapa lembar membaca Hyouka, saya langsung mendapat kesan bahwa Hotaro ini sebelas dua belas sama Nara Shikamaru (tokoh di manga Naruto, salah satu tokoh favorit saya juga selain Gaara). Hotaro ini tidak suka dibuat repot, bahasa gaulnya mageran, tapi cerdas (Tuh kan mirip Shikamaru). Dia juga tidak suka menjadi murid yang menonjol ataupun kebalikannya. Dia adalah tipe murid biasa-biasa saja, kalau kata temannya, Hotaro ini orang yang abu-abu. Apakah dia akan menjadi orang yang abu-abu terus? Baca novelnya.

Teka-teki di novel Hyouka awalnya terdengar sederhana, namun semakin ke belakang memang teka-tekinya tidak sesederhana kelihatannya. Dan jujur saja selama membaca Hyouka saya tidak banyak menebak-nebak, kecuali soal kaver Antologi Hyouka. Apa ya, mungkin clue itu ada di setiap bagian cerita, tapi terlalu tersembunyi dengan adanya opini-opini berbeda. Jadi susah saja menarik kesimpulan. Namun, bisa menebak misteri yang tersembunyi itu bukan keharusan, dan ternyata memang lebih seru membaca tanpa menebak-nebak apa pun. Lebih takjub dengan alur ceritanya.

Membaca novel ini tiba-tiba mengingatkan saya kepada komik Kindaichi, entah kenapa seatmosfer gitu. Ya mungkin karena sama-sama bergenre misteri. Misalnya, saat dihadapkan oleh sebuah misteri Hotaro ini adalah tipe pengamat, sementara teman-temannya sibuk beropini. Dari diamnya itu diam-diam dia menganalisis, sampai akhirnya dia dapat menarik kesimpulan. Gara-gara itu semua temannya takjub dengan kemampuan Hotaro. Tapi ya dasarnya orangnya cuek, dia bilangnya itu semua karena dia mendapatkan ilham.

Bahasa yang digunakan di novel Hyouka mudah dipahami, walaupun ada beberapa catatan kaki, karena ada istilah-istilah Jepang dan penggunaan huruf kanji pada teks aslinya. Tentu kalau diaplikasikan ke alfabet akan ada penyesuaian, karena di novel ini ada permainan kata. Tapi tenang saja catatan-catatan kaki itu tidak mengganggu.

Novel Hyouka ini masih ada kelanjutannya. Judul novel keduanya adalah Credit Roll of the Fool, novel ketiganya berjudul The Kudryavka Sequence, dan novel keempatnya berjudul The Dool That Took a Detour. Lisensi di Penerbit Haru memang baru sampai novel keempat, sebenarnya di Jepang novel karya Yonezawa ini ada 6 buku. Mari kita tunggu novel kelima dan keenamnya diterjemahkan.

Friday, January 24, 2020

Review Novel Happy Birth-die (BWM 3)

January 24, 2020 3
Review Novel Happy Birth-die (BWM 3)
Penulis: Risma Ridha Anissa
Penerbit: Bentang Belia
Tahun terbit: 2019
Jumlah halaman: 344

Blurb
Pijar sering kali dipanggil zombi oleh teman-temannya. Cewek itu dikenal misterius karena penampilannya yang seram, wajah datar, dan nggak pernah senyum. Banyak yang nggak mau berurusan dengannya, ngeri!


Sayangnya, Heksa mau nggak mau harus berdekatan dengan Pijar karena harus tampil bareng di acara sekolah. Heksa sebenarnya malas, takut popularitasnya turun. Lagian, zombi mau ngapain sih di panggung nanti? Bisa-bisa semua penonton kabur ketakutan.


Karena acara itu, Pijar dan Heksa jadi dekat. Pijar tahu kelemahan Heksa yang memalukan. Heksa juga tahu kemampuan mistis Pijar. Ternyata cewek itu bisa melihat tahun kematian seseorang saat berulang tahun. Fakta ini membuat hari-hari keduanya dipenuhi ketegangan. 

***

Novel Happy Birth-die oleh Risma Ridha Anissa, Belia Writing Marathon 3
Novel Happy Birth-die ©


Novel Happy Birth-die ini menjadi novel terakhir yang saya baca tahun 2019, sekaligus menjadi novel pertama di tahun 2020. Kalau tidak salah ingat saya mulai membaca novel ini sehari sebelum Natal dan merampungkannya tepat tanggal 01 Januari 2020. Lumayan cepat bagi saya yang kecepatan membacanya lelet ini.


Novel Happy Birth-die merupakan jebolan Belia Writing Marathon 3 yang diadakan oleh Bentang Belia. Novel ini di-publish di akun Wattpad Bentang Belia bersama cerita lainnya, dan berhasil menjadi pemenang. Happy Birth-die sudah dibaca lebih dari 1,4 juta kali lho. Kalau sekarang pastinya sudah melampaui 1,4 juta. Kalian bisa check akun Wattpad Bentang Belia atau beli bukunya saja di toko buku, karena ada beberapa part spesial yang tentunya tidak ada di Wattpad.

Risma Ridha Anissa penulis novel Happy Birth-die
Penulis Happy Birth-die ©

Happy Birth-die memiliki genre campuran romance, horor, dan fantasi dengan alur cerita maju mundur. Novel ini juga memiliki teka-teki yang seru untuk diikuti. Tokoh utama perempuan, Pijar, yang memiliki kemampuan melihat tahun kematian manusia tentu membuatnya didera berbagai masalah. Lalu, tokoh utama laki-laki, Heksa, yang banyak tingkah itu harus dihadapkan dengan Pijar yang dingin. Perpaduan yang bertolak belakang, tapi di situlah salah satu serunya. Masalah-masalah yang timbul itulah yang akan menjalankan cerita.

Point of view yang digunakan dalam novel Happy Birth-die adalah orang ketiga serba tahu. Ini POV paling dinamis sih menurut saya, karena bisa banyak ekplorasi tokoh-tokohnya. Bahasa yang digunakan juga mudah dipahami dan tidak ada kata yang asing. Enak juga dibaca sambil santai dan refresh banget sih, karena saya selalu dibuat tertawa dengan tingkah Heksa yang kalau ngomong tidak pakai filter. Hahaha...

Tokoh yang paling berkesan buat saya Heksa. Heksa ini punya kepribadian yang unik, pecicilan, lebay, kepo, kalau ngomong suka asal, tapi di balik semua itu dia care sama sahabat-sahabatnya dan orangnya positif. Dia juga tidak serta merta menjadi seseorang yang terpuruk, meskipun masa lalunya kelam. Sebaliknya, Pijar itu dingin, tanpa ekspresi, acuh tak acuh; tapi berani berkorban demi keselamatan orang lain yang kadang malah bikin dia sendiri celaka.

Nah udah makin penasaran dong sama novel Happy Birth-die? Buruan baca deh!


Kepada suara-suara yang memekik kencang
kepada Tuhan-nya,
mengancam macam-macam,
bahkan meminta takdirnya dipercepat.
Sekarang, aku menantangmu,
silakan pilih lilinmu dan bawa kemari,
kita nyalakan bersama-sama.
Jangan ragu untuk ditiup,
akan kubisikkan kapan dan bagaimana kau akan mati,
mungkin dengan cara itu,
akal sehatmu akan kembali terbuka.

Thursday, December 19, 2019

Kamu Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya (Review Novel)

December 19, 2019 0
Kamu Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya (Review Novel)
Pengarang: Sabda Armandio
Penerbit: Moka Media
Tahun terbit: 2015
Jumlah halaman: 348

Novel KAMU Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya adalah salah satu buku yang saya beli di festival literasi Patjar Merah. Saat melihat-lihat katalog di aplikasi Patjar Merah, saya penasaran dengan buku ini. Lalu cari ulasan di Goodreads dan memang menarik perhatian saya. Sejak itu saya sudah menjadikan buku ini sebagai incaran. Hari ketiga saya pun datang ke Patjar Merah. Setelah memutari tumpukan buku lebih dari dua kali baru menemukan buku ini. Untung belum kehabisan.
Novel Kamu Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya ditulis oleh Sabda Armandio
Kamu Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya © 

Novel KAMU menggunakan sudut pandang orang pertama, yang sampai akhir cerita pun saya belum tahu nama ‘Aku’ ini siapa. ‘Aku’ menceritakan masa remajanya bersama seorang teman bernama ‘Kamu’. Mereka berada di peralihan antara remaja dan dewasa awal. Tokoh-tokoh di cerita digambarkan memiliki pemikiran yang kritis, unik, dan bisa dikatakan pemberontak.

Saya menyukai perjalanan singkat ‘Aku’ dan ‘Kamu’ selama membolos, mencari entahlah. Jati diri mungkin, layaknya cerita coming of age. Namun, ada sentuhan surrealist di dalam kisah mereka (Kesukaan saya banget!). Tapi tidak seluruhnya saya pahami makna tersiratnya (Dan itu tidak masalah). Novel KAMU juga menampilkan cerita dan dialog tokoh yang mengkritik isu-isu tertentu. Saya sering kali mengangguk-angguk setuju dengan opini-opini tokoh.

Tokoh ‘Aku’ dan ‘Kamu’ menurut saya saling bertolak belakang. ‘Aku’ seseorang yang cukup taat sama sistem, ‘Kamu’ sebaliknya. Contohnya ‘Aku’ baru kenal membolos saat diajak ‘Kamu’. Namun, di balik itu, ‘Aku’ selalu berperang dengan pikirannya. Ia juga memiliki sifat introvert yang membuatnya lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kepala. Tapi sekalinya berbicara langsung tepat sasaran. Ia tidak memiliki sahabat, bahkan ‘Kamu’ tergolong teman biasa. Sementara ‘Kamu’ saya tangkap sebagai sosok yang nyentrik (Walaupun ‘Aku’ tidak kalah nyentrik) dan santai. Baginya membolos salah satu bagian dari kehidupan sekolah. Ia selalu memiliki pemikirannya sendiri tentang patokan-patokan yang dibuat oleh masyarakat. Namun, di balik sikap kritisnya ada kekhawatiran yang ia rasakan. Overall, saya menyukai dua karakter utama di novel KAMU. Mereka sama-sama memiliki karakter yang kuat, sehingga meninggalkan kesan.

Mengingat sedikit materi dalam kelas menulis skenario, menurut saya Novel KAMU bisa dikatakan sebagai cerita character driven, karena cerita fokus pada pergolakan batin karakter. Karakter menjadi elemen utama yang menggerakkan jalan cerita. Berbeda dengan cerita plot driven yang fokus pada alur cerita dan perubahan eksternal.

Playlist:
Hindia - Secukupnya
Hindia ft. Rara Sekar - Membasuh
Pamungkas - Jejak
Kunto Aji - Pilu Membiru

Selamanya akan berperang melawan pikiran sendiri. Tak akan memulai apa pun, tak akan menyelesaikan apa pun. Tak mendapat apa-apa. Tidak memiliki apa-apa.

Sunday, December 15, 2019

Keris Café Kota Lama Semarang

December 15, 2019 0
Keris Café Kota Lama Semarang
Sudah lama saya ingin ke Keris Café, tapi tak kunjung mampir. Baru kemarin saat ada acara Patjar Merah saya sekalian mampir. Keris Café berlokasi di Kota Lama Semarang, tepatnya di Jl. Letjen Suprapto, Tj. Mas, Kec. Semarang Utara, Kota Semarang, Jawa Tengah 50137. Café ini berada di seberang 3D Art Trick Museum dan dekat juga dengan titik berhenti BRT Semarang. Strategis, kan?

Keris Café Kota Lama Semarang
Interior Keris Café ©

Ruangan Keris Café bergabung dengan toko batik dan oleh-oleh. Café ini juga menjual berbagai jenis kopi lokal. Cocok untuk wisatawan yang mau ngopi sekalian belanja buah tangan. Saya sangat menyukai interiornya. Ada kesan oldies, tapi juga homey. Meskipun berada di tepi jalan utama, suara bising tidak terdengar dari dalam. Rasanya nyaman duduk lama-lama di café ini. Di Keris Café memang tidak banyak kursi. Dua meja berada di dekat jendela, sedangkan yang lainnya bersebelahan dengan rak oleh-oleh. Ketika saya datang belum ada pengunjung, beberapa lama setelah itu barulah ada pengunjung. Server di Keris Café juga sangat ramah.

Macchiato and Chocolate Croissant
Macchiato dan Chocolate Croissant ©

Harga kopi di Keris Café terbilang murah. Namun, varian menu kopi dan snack terbatas. Menu kopi antara lain, espresso, macchiato, latte, cappuccino, mocha, chocolate, teh dan ada minuman tradisional juga. Sementara itu menu snack seingat saya butter croissant, chocolate croissant, dan beberapa jajanan pasar (sebenarnya ada lagi tapi lupa, ejaannya susah). Saya memesan macchiato, croissant coklat, dan risoles mayo. Rasa kopinya tidak terlalu strong, tapi tetap nikmat. Disediakan dua jenis gula, gula tebu dan gula merah. Saya tambahkan gula merah rasa kopi semakin nikmat. Ada pelengkap biskuit ketika saya memesan macchiato. Saya suka tekstur biskuit yang tidak terlalu kering dan rasanya juga enak. Untuk croissant coklatnya tidak terlalu suka, karena sedikit liat.

Secara keseluruhan yang paling saya sukai adalah suasananya. Lain kali saya akan berkunjung ke Keris Café lagi, sekalian beli kopi utuhnya. Jangan lupa kalau kalian ke Kota Lama Semarang mampir ke Keris Café.

Tuesday, December 10, 2019

Dua Hari Terakhir di Patjar Merah Semarang 2019

December 10, 2019 0
Dua Hari Terakhir di Patjar Merah Semarang 2019
Dua hari menjelang Patjar Merah berakhir, pengunjung festival literasi tersebut tidak surut, malah kian ramai. Bazar buku di lantai satu gedung Soesmans Kantoor selalu dipenuhi pengunjung dari berbagai usia, begitu juga dengan sesi obrolan, lokakarya, dan pertunjukan.

Pada Sabtu 07 Desember 2019 saya mengikuti sesi Berbicara Rasa: Berpuisi dan Bercerita untuk Memahami Diri. Sesi tersebut diisi oleh dua penulis wanita, yaitu Amanda Margareth dan Renita Nozaria. Sementara itu, hari Minggu saya mengikuti sesi Dapur Penerbit: Berburu Penulis dan Naskah Terbaik. Sesungguhnya saya ingin mengikuti sesi Literasi Bercerita: Memanjangkan Ingatan Melalui Dongeng, serta sesi Menulis Ekspresif dan Kesehatan Mental. Namun sangat disayangkan, karena lain hal saya tidak bisa mengikuti sesi tersebut. Padahal sudah excited sekali, tapi baru bisa hadir di sore hari.

Berbicara Rasa: Berpuisi dan Bercerita untuk Memahami Diri

Amanda dan Renita tidak pernah membayangkan akan menjadi penulis, bahkan lingkungan sekitar mereka bisa dibilang tidak terlalu mendukung. Keduanya kuliah di Universitas Diponegoro Semarang yang jurusannya tentu jauh dari dunia menulis. Renita awalnya menulis fanfiction di note Facebook. Awalnya dia tidak pernah menyangka akan ada yang membaca, ternyata dia mendapat apresiasi yang baik. Lalu dia berpindah ke Wattpad. Kebalikannya Amanda tidak berangkat dari menulis di writing platform. Dia menyimpan tulisan apa pun dalam bentuk draft.
Berbicara Rasa diisi oleh Amanda Margareth dan Renita Nozaria
Berbicara Rasa (dokumentasi pribadi, ©)

Menulis, Amanda jadikan sebagai coping mechanism dari berbagai perasaan yang dia alami, misalnya patah hati. Bahkan dia rutin membuat jurnal harian tentang peristiwa apa saja yang terjadi hari itu atau bahkan tentang orang lain.

Renita menulis cerita yang ingin dia baca. Cerita-cerita yang jarang dia temui di pasaran. Tulisan yang dia buat tidak berfokus pada cerita romance, romance baginya adalah bumbu. Dia lebih memandang cinta sebagai suatu yang universal, misalnya cinta kepada keluarga, cinta seorang guru kepada muridnya.

Kedua penulis tersebut sepakat bahwa menulis sesuai keinginan penulis dan pasaran harus seimbang, walaupun Amanda terkadang memiliki idealisme tersendiri terkait tulisannya. Menulis jangan semata-mata untuk mendapat perhatian orang. Tulisan yang bagus pasti akan ditemukan oleh pembaca. Jadi jika tulisan kalian mendapat sedikit pembaca bukan berarti jelek, hanya belum ditemukan. Ketika menulis mereka juga tidak pernah memaksakan diri. Andai harus berhenti sejenak, maka mereka berhenti. Bagi mereka menulis harus dari hati.

Ada beberapa pertanyaan peserta yang menarik perhatian saya. Apakah Amanda dan Renita pernah mengalami perasaan kerdil atau rendah diri dengan tulisan-tulisan penulis hebat lainnya? Jawaban mereka luar biasa. Keduanya tentu pernah mengalami perasaan tersebut, tapi tidak ingin terus membanding-bandingkan diri dengan penulis lain. Mereka percaya semua penulis berangkat dari titik nol. Di balik karya luar biasa penulis lain tidak ada yang tahu bagaimana perjuangan mereka.

Apakah karya terbaik berasal dari penderitaan terhebat? Amanda dan Renita sepakat bahwa bisa jadi demikian atau bahkan tidak. Bisa jadi, karena menurut Amanda menulis bisa dijadikan sarana menumpahkan perasaan. Namun, bukan melulu karena luka, tapi juga soal kecintaan.

Bagaimana respon mereka andai ada orang yang mengutip karya mereka tanpa disertai sumber atau yang terparah melakukan plagiasi? Renita sudah memiliki fanbase di Wattpad, biasanya mereka yang akan memberitahunya dan menegur si pelaku. Sementara Amanda akan menegur orang yang bersangkutan, lalu me-report akun tsb, dan terakhir jika tidak bisa melakukan apa-apa ya dibiarkan saja. Keduanya juga mengatakan bahwa orang yang melakukan plagiasi tidak akan pernah ke mana-mana, karena yang asli tetap yang terbaik. Saya setuju dengan pernyataan tersebut. Menurut saya orang yang melakukan plagiasi kreatifitasnya akan mati, tidak berkembang.

Dapur Penerbit: Berburu Penulis dan Naskah Terbaik

Sesi Dapur Penerbit diisi oleh penerbit Haru, Buku Mojok, Marjin Kiri, Banana, dan Narasi. Kelima penerbit tersebut memiliki segmen yang berbeda. Penerbit Haru khusus menerbitkan buku terjemahan dari penulis Asia. Buku Mojok menerbitkan buku yang lebih bervariasi baik non fiksi maupun fiksi, seperti sastra; kumpulan puisi; kumpulan cerita kemiliteran; sejarah; dll. Marjin Kiri lebih banyak menerbitkan buku non fiksi, tapi sudah mulai merambah fiksi. Banana awalnya lebih banyak menerbitkan buku terjemahan, tapi sekarang juga fokus ke fiksi lokal dan non fiksi sosial budaya. Narasi menerbitkan buku non fiksi yang sudah melalui kajian tentunya dan tergolong penerbit yang beda dari yang lain. Narasi menerbitkan buku yang jarang ditemui di penerbit lainnya.
Dapur Penerbit diisi oleh penerbit Haru, Banana, Buku Mojok, Marjin Kiri, dan Narasi
Dapur Penerbit (dokumentasi pribadi, ©)

Penerbit Banana, Marjin Kiri, dan Narasi tidak pernah mengumumkan secara langsung sedang berburu naskah, tapi jika ada yang berminat tinggal mengirimkan saja. Sementara Haru dan Buku Mojok terkadang mengumumkan pencarian naskah di media sosial atau website mereka. Haru dan Buku Mojok sama-sama lebih banyak berburu naskah daripada menunggu, walaupun keduanya tetap dilakukan. Biasanya banyak naskah yang masuk, tapi sedikit yang sesuai kriteria mereka.

Buku Mojok memiliki target dalam sebulan menerbitkan dua buku non fiksi dan satu buku fiksi. Sementara Haru dalam setahun setidaknya menerbitkan dua belas buku terjemahan. Sebenarnya Haru memiliki imprint yang fokusnya berbeda. Imprint Inari menerbitkan buku dari penulis lokal (setahun targetnya enam buku), Koru menerbitkan buku secara digital, dan Spring menerbitkan buku terjemahan dari Amerika dan Eropa.

Bagaimana mengetahui naskah yang kita kirim sesuai dengan kelima penerbit tersebut? Menurut saya sebaiknya baca dulu buku-buku terbitan mereka agar lebih paham dengan kriterianya. Kalau soal teknis bisa lah mencari ketentuan di website mereka. Namun, soal isi kan tidak. Patokan bagus dan menarik itu juga relatif, jadi kenali dulu penerbit sasaran kalian.

Akhir kata saya sangat senang bisa mengikuti sesi-sesi di Patjar Merah, walaupun tidak semuanya. Banyak ilmu yang bisa saya curi. Semoga Patjar Merah bisa terus menghidupkan semangat literasi di seluruh Indonesia. Terima kasih telah menghadirkan acara yang luar biasa.

Wednesday, December 4, 2019

Patjar Merah Semarang 01 Desember 2019

December 04, 2019 0
Patjar Merah Semarang 01 Desember 2019
Patjar Merah adalah festival literasi dan pasar buku keliling nusantara. Sejak Patjar Merah mengadakan kunjungan mereka ke Jogja, saya sangat ingin menghadiri acara tersebut. Akhirnya Semarang menjadi kota ketiga yang dikunjungi Patjar Merah setelah Malang dan Jogja. Patjar Merah Semarang berlangsung dari tanggal 29 November hingga 08 Desember 2019. Di festival ini diadakan banyak acara menarik mengenai dunia buku dan dunia kreatif lainnya. Ada juga bazar buku dengan diskon hingga 80%. Kurang keren apa coba Patjar Merah ini.
Festival Literasi Patjar Merah
Patjar Merah Semarang (dokumentasi pribadi, ©)

Ada beberapa fakta menarik tentang Patjar Merah di Semarang. Pertama, tanggal 1 Desember 2019 adalah ulang tahun pertama Patjar Merah. Kedua, lokasi diadakan Patjar Merah adalah dua gedung tua di kawasan Kota Lama. Gedung tersebut adalah Soesmans Kantoor dan Monod Diephuis & Co, yang tentunya memiliki nilai sejarah. Selain dua gedung tersebut, lorong instagramable di depan gedung juga digunakan untuk acara (Lorong tempat akar-akar pohon yang menjadi salah satu spot foto iconic di Kota Lama atau disebut The Groot). Saya yakin para pengunjung langsung jatuh cinta dengan lokasi acara Patjar Merah Semarang ini.

Sebelum Patjar Merah berlangsung pengunjung disarankan untuk mengunduh aplikasi Patjar Merah di Google Play Store. Aplikasi tersebut berguna untuk melihat jadwal dan mendaftarkan diri di acara lokakarya, sharing, dan pertunjukan. Hampir seluruh acara gratis. Beberapa acara berbayar adalah pelatihan menulis dan pertunjukan boneka oleh Papermoon Puppet.

Saya baru hadir di Patjar Merah pada Minggu, 01 Desember 2019. Ada dua sesi yang saya ikuti, yaitu Dapur Penulis: Berdua dan Bersendiri, serta Penjenamaan Pribadi (Personal Branding) dan Media Sosial. Pembicara Dapur Penulis adalah penulis Boy Candra, serta Teddy & Maesy. Mereka mengisahkan bagaimana lika-liku menulis sendiri dan berdua. Perjenamaan Pribadi diisi oleh influencer @aMrazing alias Alexander Thian.

Dapur Penulis: Bersendiri dan Berdua

Bagi Boy Candra mungkin dia tidak bisa menulis berdua, karena dia memiliki standar-standar yang bisa jadi berada di atas atau di bawah penulis lain. Tidak mudah untuk menegosiasikannya. Apalagi ada konsekuensi setelah buku kolaborasi terbit. Usaha itu tidak berhenti begitu saja setelah buku jadi. Berdua harus sama-sama memperjuangkan buku yang mereka tulis. Sementara itu, bagi Teddy dan Maesy yang merupakan sepasang suami istri, menulis berdua adalah saling melengkapi. Saya bisa merasakan mereka memiliki harmonisasi itu, ketika memaparkan proses menulis berdua.

Menulis sendiri bukan berarti bebas tanpa kendala harus berdiskusi atau meributkan beberapa bagian. Menulis sendiri berarti memikirkan ide sendiri, menguras otak sendiri untuk mengembangkan ide tersebut menjadi karya. Menulis berdua tidak lepas dari negosiasi. Sebelum masuk ke proses menulis, Teddy dan Maesy harus memastikan cerita mereka akan dibawa ke mana. Jadi ketika menulis sudah tidak ada ribut-ribut lagi a.k.a diskusi tentang alur dan karakter.
Dapur Penulis diisi oleh Boy Candra, Teddy dan Maesy (Post Press)
Dapur Penulis (dokumentasi pribadi, ©)

Ketiga penulis tersebut juga memiliki cara berbeda dalam menyelesaikan tulisan mereka. Boy Candra suka memberikan deadline kepada dirinya sendiri ketika menulis. Misalnya dia harus menyelesaikan cerita dalam waktu tiga bulan, dua bulan adalah riset dan sebulan untuk menulis. Baginya tulisan bisa dikoreksi setelah selesai. Kalau belum selesai apa yang mau dikoreksi. Deadline juga membantunya tetap menyegarkan ingatan akan tulisan yang ingin dia selesaikan. Kalau Teddy dan Maesy kebalikannya. Mereka bukan penulis yang ingin menulis banyak buku, jadi deadline tidak menjadi batasan yang kaku. Namun, bukan berarti mereka tidak memiliki deadline. Deadline membantu mereka memajukan cerita. Terkadang mereka memberi target menulis beberapa ribu kata atau hanya fragmen yang entah mau diletakkan di awal atau akhir. Lalu bagaimana Teddy dan Maesy memelihara ingatan akan tulisan yang mereka buat? Ini unik. Maesy menulis sesuatu yang melekat di ingatannya, sesuatu yang dekat, maka ide itu tetap segar.

Di balik perbedaan bersendiri atau berdua, ketiga penulis tersebut sepakat bahwa writer blocks itu tidak ada (padahal saya pernah nulis artikel tentang itu, ok, itu tahayul ya). Writer blocks hanya alasan yang digunakan karena malas. Boy Candra lebih percaya kepada lelah dan jenuh. Pasti ada masa-masa seperti itu ketika menulis. Jika sudah begitu berhenti sejenak, istirahat atau melakukan kegiatan lain. Teddy dan Maesy sependapat, selama tidak mendiamkan tulisan, maka itu tidak masalah. Harus ingat untuk mengunjungi tulisan kalian.

Sebenarnya masih banyak hal menarik yang dibicarakan dari sesi Dapur Penulis, tapi akan terlalu panjang jika seluruhnya saya tuangkan di sini. Yang jelas menulis bersendiri atau berdua memiliki keunikan masing-masing. Setelah sesi tersebut selesai saya merasa sangat bahagia, entah kenapa. Mereka seperti menyalurkan energi positif kepada orang-orang yang hadir di sana. Saya sangat kagum dengan pemikiran ketiga penulis tersebut. Terima kasih Boy Candra, Teddy dan Measy sudah membagikan kisah menulis kalian.

Penjenamaan Pribadi (Personal Branding) dan Media Sosial

Ketika menghadiri sesi ini saya telat beberapa menit, karena asyik lihat-lihat buku tidak sadar sudah lewat sejam. Namun tidak mengurangi keseruannya, bahkan sekalipun saya tidak dapat tempat duduk. Sesi ini bertempat di lorong depan gedung Soesmans Kantoor. Pesertanya membludak dong.

Di tengah-tengah pembicaraan yang terlewat beberapa menit tersebut, Alexander Thian sedang berinteraksi dengan peserta. Dia menanyakan branding seperti apa yang ingin dibangun, cara apa saja yang sudah dilakukan.

Passion menjadi salah satu hal yang bisa dipertimbangkan untuk memulai branding. Passion adalah hal yang dilakukan berulang-ulang dengan senang hati dan tidak akan membuat jenuh. Andai kita bosan dan tidak konsisten, maka itu bukan passion kita. Namun mesti diingat melakukan passion juga harus realistis. Bagaimana pun juga perut perlu dikasih makan, harus ada penyokong. Andai passion yang kita lakukan juga memberikan penghasilan, maka itu bonus.
Personal Branding diisi oleh Alexander Thian
Penjenamaan Pribadi (dokumentasi pribadi, ©)

Perlu diketahui juga tujuan penjenamaan pribadi di dunia maya, apakah untuk menghibur, memberikan pengetahuan, atau motivasi. Lalu memilih media sosial yang sesuai. Twitter, Facebook, dan Instagram memiliki fungsi berbeda dalam menyajikan informasi. Tipe warganya pun juga berbeda. Kita paham kalau Instagram mengandalkan visual dan yang terbaru fitur IG TV. Sementara Twitter asyik untuk bikin thread.

Alexander Thian menyampaikan bahwa membangun nama di dunia maya bukan hanya soal apa, tapi juga bagaimana. Story telling itu menjadi penting, topik mungkin bisa berbeda tapi mesti ada ciri khas. Alexander Thian bisa membicarakan topik-topik tertentu, tapi dasar dia adalah story telling. Sosoknya tidak akan kabur atau tidak konsisten, karena dia berpegang pada dasar itu.

Alexander Thian memberikan contoh-contoh figure yang melakukan penjenamaan pribadi dengan baik, salah satunya Wahyu Ichwandardi atau Papin (@pinotski). Kebetulan saya mengikuti Papin di Twitter dan sangat kagum dengan cara dia menunjukkan proses berkarya dan menceritakan bagaimana kehidupan merantaunya di US.

Setiap sesi selesai biasanya akan diberikan waktu untuk berfoto dan meminta tanda tangan. Namun saya memilih menepi di café terdekat berhubung perut saya meronta, sekaligus merenungkan sesi penjenamaan pribadi. Saya sadar belum pernah melakukan branding, belum bisa memanfaatkan media sosial secara efektif. Terima kasih Alexander Thian untuk sharing yang bermanfaat. Saya sangat puas mengikuti sesi-sesi di Patjar Merah. Tunggu cerita tentang sesi lain yang saya ikuti. Dan, selamat ulang tahun Patjar!

Comment