MELALUI RUANG

Tuesday, July 30, 2019

Mengenal Subgenre dalam Novel Part 2

July 30, 2019 0
Mengenal Subgenre dalam Novel Part 2
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sub- (bentuk terikat) memiliki arti bawah, dekat, agak. Sementara itu, genre (Sas) memiliki arti sebagai jenis, tipe, atau kelompok sastra atas dasar bentuknya, ragam sastra. Untuk lebih mudah dipahami saya mengartikan subgenre sebagai turunan dari suatu genre.

Subgenre dalam novel jika didata jumlahnya tentu sangat banyak. Salah satu contohnya sains fiksi saja memiliki subgenre seperti cyberpunk, steampunk, clockpunk, biopunk; belum genre lain juga memiliki subgenre. Kalian bisa membuka Goodreads dan dijamin akan menemukan berderet-deret genre dan subgenre novel. Oleh sebab itu untuk menyambung artikel sebelumnya tentang subgenre, maka saya membuat bagian keduanya. Baca juga mengenal subgenre dalam novel bagian pertama di sini. Nah mari simak penjelasan saya berikut ini.

Bildungsroman atau Coming of Age

Novel dengan subgenre bildungsroman atau coming of age menceritakan tentang perkembangan kehidupan tokoh dari ia remaja hingga beranjak dewasa. Cerita ini utamanya fokus pada pembentukan karakter dan pendidikan si tokoh utama saat ia remaja hingga menjadi sosok yang lebih matang. Contoh novel dengan sub genre bildungsroman antara lain, Looking for Alaska oleh John Green, Great Expectations oleh Charles Dickens, The Goldfinch oleh Donna Tarrt.

Chick Lit

Chick literature atau disebut chick lit ternyata bukan termasuk subgenre romance, tapi tidak apa-apa tetap saya bahas di sini. Saya juga baru tahu setelah membaca artikel di Bookriot, sedangkan di Goodreads chick lit termasuk sebagai genre fiksi (berdiri sendiri, bukan turunan). Novel chick lit biasanya memiliki karater utama wanita. Novel chick lit menceritakan tentang kehidupan wanita modern dengan unsur komedi dan kisah yang ringan. Terkadang genre ini dibumbui kisah percintaan, tapi hal tersebut bukan yang utama karena hubungan persahabatan dan keluarga lebih penting. Tidak jarang chick lit juga bercerita tentang patah hati, tapi kebanyakan memiliki akhir cerita yang bahagia. Contoh novel chick lit adalah Screen Queens oleh Lori Goldstein, The Friend Zone oleh Abby Jimenez, Evvie Drake Starts Over oleh Linda Holmes.

Sick Lit

Sick literature atau disebut sick lit merupakan subgenre yang berfokus pada kisah tokoh yang mengalami penyakit mental, kecenderungan menyakiti diri sendiri dan bunuh diri, atau tentang kematian, serta hubungan emosi yang dalam. Menurut Goodreads novel yang termasuk dalam sick lit adalah The Fault in Our Stars oleh John Green, Everything Everything oleh Nicola Yoon, Me Before You oleh Jojo Moyes.

Dark Fantasy

Dark fantasy adalah subgenre dari fantasi yang pada umumnya menceritakan tentang cerita fantasi yang memiliki elemen horor (Pada artikel Macam-macam Genre Novel saya sempat menyebutkan bahwa suatu novel bisa memiliki genre campuran.). Dark fantasy bisa juga disebut sebagai supernatural horror. Namun dark fantasy tidak hanya berhubungan dengan cerita fantasi-horor. Cerita dengan tokoh utama yang tidak memiliki sifat kepahlawanan atau moral yang ambigu bisa dikategorikan sebagai dark fantasy. Contoh novel dark fantasy antara lain, Coraline oleh Neil Gaiman, The Gunslinger oleh Stephen King, dan The Blade Itself oleh Joe Abercrombie.

Cyberpunk

Novel cyberpunk umumnya berkisah tentang dunia dengan teknologi serba canggih, tapi kehidupan sosial manusia di dunia tersebut justru mengalami kemerosotan. Konflik di dalam novel cyberpunk berhubungan erat dengan perusahaan raksasa, kecerdasan buatan, hacker, serta kehidupan radikal masyarakat. Contoh novel dengan sub genre cyberpunk antara lain, Altered Carbon oleh Richard K. Morgan, Ready Player One oleh Ernest Cline, Blade Runner oleh Philip K. Dick.

Biopunk

Biopunk menceritakan tentang revolusi bioteknologi sebagai konsekuensi dari kemajuan teknologi rekombinasi DNA. Pada umumnya subgenre ini mengisahkan tentang seseorang atau kelompok melawan pemerintah atau perusahaan raksasa yang memegang kendali terhadap kehidupan sosial atau mengambil keuntungan besar-besaran. Kebanyakan tokoh dalam novel biopunk adalah hasil eksperimen. Contoh karya fiksi biopunk adalah The Island of Doctor Moreau oleh H. G. Wells.

Steampunk

Subgenre steampunk sangat berkaitan erat dengan penggabungan teknologi dan desain yang terinspirasi oleh mesin tenaga uap pada industri abad ke 19. Walaupun subgenre steampunk terkadang berkaitan dengan cyberpunk, tapi steampunk memiliki setting pada abad ke 19 era Victorian atau bisa dikenal sebagai retrofuturistik. Contoh novel dengan subgenre steampunk adalah Mortal Engine oleh Philip Reeve dan The Time Machine oleh H. G. Wells.

Jadi ada tidak subgenre di atas yang baru saja kalian dengar? Iya, jika dieksplor lagi genre dan subgenre memang tidak ada habisnya. Bisa jadi kita akan menemukan genre dan subgenre yang asing di telinga kita. Semoga artikel saya ini bisa menjadi pencerahan kalian yang mau mengetahui tentang subgenre karya fiksi. Jika ada kekeliruan tentang penjelasan saya, kalian bisa meninggalkan komentar di bawah, karena saya juga sedang belajar mengenal genre dan subgenre lebih luas. Terima kasih sudah mampir dan menyimak.

Wednesday, July 24, 2019

Ulasan Stranger Things season 3 TV Series Netflix

July 24, 2019 2
Ulasan Stranger Things season 3 TV Series Netflix

Salah Satu Season Stranger Things yang Paling Mendebarkan

Stranger Things memang tidak pernah mengecewakan saya. TV Series Netflix ini jelas ditulis dengan baik. Jujur saja saya bingung mau menulis ulasan apa, soalnya terlalu speechless (tapi kata Princess Jasmine, all I know is I won't go speechless, speechless… *singing). Stranger Things season 3 salah satu TV Series yang memang saya tunggu-tunggu, bahkan sejak season 2-nya tamat. Saat itu belum ada gambaran akan seperti apa season 3, cuma masih berspekulasi tentang demodog di dalam kulkas dan mind flyer yang keluar dari tubuh Will. Dan memang luar biasa alur season 3 tidak tertebak.
Sedikit gambaran season 3 ini kisah percintaan para tokohnya mulai berkembang, ada pembukaan mall baru bernama Starcourt yang langsung menjadi pusat perhatian warga Hawkins, dan ada segerombolan tikus bersikap aneh, semuanya itu terjadi pada musim panas tahun 1985. Dan… sebuah musim panas bisa mengubah segalanya.
Banyak hal yang berubah tentu saja, termasuk penampilan para tokohnya. Penampilan baru Eleven membuat dia lebih cantik dan fresh. Gaya rambut Steve mungkin sudah tidak memiliki daya tarik untuk para perempuan Hawkins, tapi tetap menarik bagi saya (Selain itu hubungan bromance-nya dengan Dustin TOP BGT. Haha…). Billy tetap memiliki image seksi dengan penampilannya itu, ditambah kini dia menjadi lifeguard di kolam renang. Rambut pendek Nancy membuatnya terlihat lebih mature. Gaya rambut Joyce dengan poni memberikan kesan segar.
Stranger Things season 3
(Gambar oleh Wenni Pratiwi)

Stranger Things season 3 memiliki jumlah episode sebanyak 8, jauh lebih sedikit daripada season pendahulunya, tapi tidak mengurangi keseruan dan ketegangannya. Semuanya terasa pas, pergerakan dari adegan satu ke adegan lainnya, peran masing-masing karakter yang tidak sia-sia. Selain itu, keberadaan tokoh-tokoh inti baru dalam Stranger Things season 3 menambah warna tersendiri. Saya paling suka tokoh baru bernama Robin, teman kerja Steve di toko es krim Scoops Ahoy. Robin ini cerdas dan kalau ngomong ceplas-ceplos (tapi tidak ada yang menandingi ceplas-ceplosnya Erica, adik Lucas). Bahkan tokoh minor seperti Dr. Alexei juga mencuri perhatian. Peran dia sebagai ilmuwan Rusia jauh dari bayangan saya dan itu justru membuat saya suka peran dia. Tokoh-tokoh lama pun mengalami perkembangan yang wajar dan sesuai porsinya. Saya suka perkembangan hubungan Mike dan Eleven, lucu dan manis khas remaja. Hubungan antara Max dan Eleven juga berkembang menjadi friendship goal.
Sejak episode 1 yang berjudul Suzie, Do You Copy? konflik-konflik sudah dibangun secara perlahan sehingga menghasilkan pondasi yang kuat. Pada akhirnya konflik-konflik itu bermuara pada satu titik. Nah cara pekerja film ini membawa isu-isu untuk mencapai titik utama itu keren banget! I love it so much! Ramuan yang tepat sehingga menghasilkan sesuatu yang berkualitas.
Semakin kalian menonton episode lanjutannya, maka perasaan tegang semakin terasa, walaupun kadang ada komedi-komedi yang mencairkan suasana atau hal-hal manis yang membuat kalian tersenyum. Season 3 ini benar-benar mengaduk-aduk perasaan sih, ada tawa, ketegangan, penyesalan, pengorbanan dan tangis. Lengkap!
Episode paling menegangkan menurut saya dalam Stranger Things season 3 adalah dua episode terakhir, yaitu The Bite dan The Battle of Starcourt. Saya seperti tidak diberi waktu untuk menghela napas. Dan, akhir dari season 3 ini sungguh tidak ketebak (Saya menantikan season 4!). Bagian terakhir ini juga membuat saya harus meneteskan air mata. Ada harga mahal yang harus dibayar untuk suatu perjuangan. Jika kalian ingin mengetahui lebih lanjut bagaimana perjuangan Eleven dan kawan-kawan, segera nonton Stranger Things Season 3. Eh tapi jangan lupa nonton season 1 dan 2 dulu. TV Series ini tidak akan mengecewakan kalian, karena sangat seru untuk diikuti.
Terima kasih sudah menyimak. Ikuti blog ini dan jangan lupa tinggalkan komentar.

The best quote:
“You’re treating her like some kind of machine, when she's not a machine. And I don't want her to die looking for the flyed, when they’ve obviously vanished off the face of the earth. So can we please just come up with a new plan, because I love her and I can't lose her again.” -Mike Wheeler-
(Quote di atas dibaca tanpa jeda dengan penuh penekanan dan emosi. Lol…)

Tuesday, July 23, 2019

Review Buku Kumcer The Humble Comma

July 23, 2019 0
Review Buku Kumcer The Humble Comma
Pukul 15:51 WIB tanggal 17 Juli 2019 baru saja selesai membaca The Humble Comma
Penulis: Aci Baehaqie
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer
Tahun terbit: 2019
Halaman: 283

Blurb
Koma hadir sebagai jeda
Jeda untuk bernapas
Jeda untuk berpikir sejenak
Koma selalu dibutuhkan manusia, walau kerap dilupakan
Berbeda dengan titik
Semua orang akan bertemu bila saatnya tiba
Namun, tidak semua orang beruntung berjumpa dengan koma
Tidak setiap orang diberi jeda dalam hidupnya
Di tengah hiruk pikuk, koma memberikan sebuah arti
Di tengah sibuk, koma mengembalikan arti kita sebagai manusia

Cerita tentang pertemuan dengan sebuah jeda dan 12 cerita lain mengenai pahit dan manisnya hidup…
***
Kumpulan Cerita The Humble Comma
The Humble Comma ©

Suka sekali dengan blurb The Humble Comma, setuju juga dengan kata-kata tersebut. Seringnya manusia terus berlari, lupa untuk berhenti dan mengambil napas. Nah kali ini simak ulasan saya tentang buku The Humble Comma.

Buku The Humble Comma adalah kumpulan cerita pendek yang hadir dengan kisah-kisah sederhana yang kadang kita abaikan dan kisah-kisah kompleks yang menggetarkan. Ditulis dengan kalimat yang mudah dipahami dan kadang disisipi kritik-kritik ataupun keresahan-keresahan. Tidak jarang hal-hal tersirat juga menghiasi setiap kisah.

Terkadang saya suka dengan hal-hal yang tidak gamblang dalam buku ini, karena memberikan ruang bagi pembaca untuk berimajinasi, berpendapat, bahkan berspekulasi. Tapi ada juga cerita yang saya harapkan bisa memiliki close ending.

Dari 13 kisah-kisah yang tertuang dalam The Humble Comma, Pendosa yang Menangis adalah favorit saya. Adanya potongan-potongan kaset itu memang ide yang bagus, sangat mendukung alur cerita. Beberapa kisah masih bisa dikembangkan dan saya rasa akan menarik jika dibuat versi novelnya. 

Selama membaca saya mencoba membuat playlist, yang mana kebiasaan tersebut tidak pernah saya lakukan. Biasanya saya mendengarkan lagu secara random. Ternyata seru juga membuat playlist khusus untuk membaca novel tertentu. Berikut ini lagu-lagu yang saya dengarkan:

Daramuda - Growing Up
Banda Neira - Hujan di Mimpi
Banda Neira - Matahari Pagi
Banda Neira - Biru
Banda Neira - Langit dan Laut
Yiruma - River Flows in You

Sekian ulasan buku oleh Melalui Ruang. Tunggu ulasan-ulasan lainnya dan jangan lupa tinggalkan komentar. Terima kasih.

Tuesday, July 2, 2019

Review Novel Gramedia Katarsis New Cover

July 02, 2019 0
Review Novel Gramedia Katarsis New Cover
Pukul 15:34 WIB tanggal 2 Juli 2019 baru saja selesai membaca Katarsis
Penulis: Anastasia Aemilia
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2013
Halaman: 272
Genre/sub genre: Psychology thriller


Blurb
ka.tar.sis: n (Psi) cara pengobatan orang yang berpenyakit saraf dengan membiarkannya menuangkan segala isi hatinya dengan bebas; (Sas) kelegaan emosional setelah mengalami ketegangan dan pertikaian batin akibat suatu lakuan dramatis.


Seluruh keluarganya tewas dalam pembunuhan sadis, sementara Tara ditemukan dalam kondisi mengenaskan di kotak perkakas kayu. Dengan bantuan Alfons, psikiaternya, polisi berusaha menemukan sang pembunuh lewat Tara yang mengalami trauma berat. Teka-teki pembunuhan ini makin membingungkan setelah muncul Ello, pria teman masa kecil Tara. Kematian demi kematian meninggalkan makin banyak tanda tanya. Apakah Tara sesungguhnya hanya korban atau dia menyembunyikan jejak masa lalu yang kelam?
***
Saya sudah cukup lama tahu tentang novel Katarsis ini, tapi belum ada keinginan untuk beli, lalu saya melupakannya. Nah kebetulan banget novel ini cetak ulang dengan sampul baru dan ada versi bahasa inggrisnya. Saya juga lagi berburu potongan harga di toko buku, makanya saya angkut buku ini. Selain itu saya memang penasaran dengan cerita yang ditulis oleh salah satu editor fiksi di Gramedia ini. Siapa tahu bisa buat belajar alurnya juga.


Alur novel Katarsis ini menurut saya cukup cepat, ditulis tanpa bertele-tele. Namun pembaca akan dibawa naik turun pada titik-titik tertentu. Semakin membalik halaman semakin terasa kelam dan kengeriannya. Namanya juga thriller hal-hal sadis juga ada di sini, meskipun deskripsinya tidak detail tapi tetap bikin saya mengerutkan kening ngeri.


Di novel Katarsis ini tidak ada tokoh yang jadi favorit saya. Kekuatan karakter setiap tokoh menurut saya sedang-sedang saja, bahkan Tara yang menjadi pusat cerita. Bagusnya di sini cukup dijelaskan lingkungan sekitar Tara yang membentuk karakter dia. Tara juga sosok yang terbilang tidak mudah menyerah, meskipun mengalami rentetan kejadian memilukan. Alfons menjadi tokoh paling netral di sini dan perannya memang besar untuk tokoh utama. Sementara Ello sejak awal sudah menjadi sosok yang misterius. Tadinya saya berharap Ello ini adalah angin segar bagi Tara, tampaknya saya berharap berlebihan. Kenapa demikian, baca saja novelnya. Haha…


Ada beberapa salah sebut dan salah ketik yang saya temukan. Salah ketik mungkin tidak terlalu mengganggu, tapi yang salah sebut itu bisa membuat pembaca salah mengartikan. Selain itu yang lumayan membingungkan adalah adanya dua POV tapi tidak ada nama di awal bab yang menunjukkan masuk POV siapa, Tara atau Ello. Critical Eleven juga ada dua POV tapi setiap ganti suara ada nama tokoh yang tertera, meskipun perbedaan tokoh bisa dilihat dari suaranya sih. Sayangnya kalau kalimat di awal tergolong netral tetap akan menimbulkan perspektif yang beda. Contoh, saya lagi baca salah satu bab dan itu saya kira Tara ternyata setelah baca kalimat selanjutnya itu babnya Ello.


Akhir cerita novel Katarsis tidak ketebak sama sekali. Selama membaca pun tidak ada tanda-tanda novel ini bakal berakhir seperti apa, jadi saya hanya mengikuti cerita ini tanpa berspekulasi. Dan jangan pernah berharap akhir yang menggembirakan.


Sebelum saya akhiri ulasan ini, saya ingin membahas sedikit tentang Katarsis dalam artian yang sudah disebutkan di blurb. Dalam arti di dunia psikologis katarsis memang ditujukan untuk tokoh utama yang mengalami trauma berat. Sementara arti lainnya tentang kelegaan emosional, entah kenapa kurang pas. Saya malah meyakini tokoh utama tidak pernah benar-benar lega hingga novel ini tamat.


Nah sekian ulasan saya, semoga bisa membantu kalian yang ingin mencari bacaan bergenre thriller psychology. Jangan lupa share dan comment.


Quote: “... bahwa hidup ini akan selalu menyenangkan jika kita tahu permainan apa yang dapat kita ambil.”

Tuesday, June 25, 2019

Maxx Coffee: Coffee Shop Lokal yang Eksis

June 25, 2019 0
Maxx Coffee: Coffee Shop Lokal yang Eksis
Kalian sudah tahu kan kalau Maxx Coffee itu coffee shop lokal? Jangan bilang belum. Maxx Coffee ini milik Lippo Grup guys. Bisnis kopi di Indonesia memang menjanjikan, maka Lippo Grup merambah ke bisnis ini. Maxx Coffee didirikan pada tahun 2015 dan sekarang sudah memiliki banyak gerai di seluruh Indonesia.


Maxx Coffee di Semarang yang saya kunjungi kali ini di Duta Pertiwi Mall alias DP Mall. Setting area kurang lebih sama dengan coffee shop pada umumnya. Maxx Coffee di DP Mall ini baru saja mengalami renovasi mengikuti mall yang juga lagi tahap renovasi. Banyak hal yang berubah. Tadinya areanya lebih luas sebelum renovasi, tapi tidak mengurangi kenyamanan kok. Ada meja dengan colokan listrik juga, tapi terbatas. Untuk yang mau merokok disediakan area non AC, tepatnya di teras Maxx Coffee.


Varian kopi yang disajikan di Maxx Coffee beragam dari kopi asli Indonesia hingga mancanegara. Kopi asal Indonesia ada Aceh Gayo, Kintamani, hingga Flores. Mantap kan. Saya suka nih sama coffee shop yang menggunakan kopi-kopi lokal. Kopi Indonesia itu kan sudah terkenal kenikmatannya, harus semakin diberdayakan.


Soal harga lumayan mahal kalau untuk kantong saya yang pas-pasan. Dibandingkan sama Starbuck atau Coffee Bean 11:12 lah, lebih murah Maxx Coffee dikit. Buat contoh waktu itu saya beli Espresso Frappe reguler harganya Rp. 42.000; tambah topping ada biaya tambahan Rp. 5000;. Terus kalau Americano itu sekitar Rp. 35.000; lah. Silakan disimpulkan sendiri mahal mana atau malah sama.
Coffee Espresso Frappe
Dokumentasi pribadi


Espresso Frappe itu enak banget sih, kopinya terasa banget. Waktu itu pernah juga beli Caramel Macchiato, rasanya biasa saja. Tapi sayangnya Espresso Frappe yang saya beli itu terlalu manis, soalnya saya tambah topping caramel (Menyesal tambah topping.). Padahal sih whipping cream itu sudah manis kan. Hahaa… Terus yang tidak suka whipping cream bisa tidak disertakan (Tapi jadinya bukan frappe dong ya.).


Buat menu makanannya kue-kue gitu, tapi saya tidak pernah pesan. Hahaha… Tujuan saya ngopi doang. Kurang tertarik juga makan yang manis-manis. Eh tapi yang gurih ada juga sih.


Nah gimana kalian pecinta kopi lebih suka nongkrong di coffee shop mana? Starbuck, Coffee Bean, atau Maxx Coffee? Saya lebih prefer di Maxx Coffee deh, secara punya lokal. :)


Jangan lupa tinggalkan komentar, langganan, dan sebarkan. Terima kasih telah berkunjung.

Tuesday, June 18, 2019

Cafe Joko Kopi di Kota Ungaran

June 18, 2019 2
Cafe Joko Kopi di Kota Ungaran
Alamat: Jalan Gedongsongo No.9, Kelurahan Candirejo, Kec. Ungaran Barat, Kab. Semarang, Jawa Tengah 50512
Jam buka: 12:00 - 00.00 (Menurut google maps, tapi untuk lebih detail follow instagramnya. Mereka selalu update jam buka.)


Saya sudah lama ingin nongkrong di cafe Joko Kopi ini, akhirnya kesampain. Padahal sih dekat sama rumah saya. Letak Joko Kopi ini bisa dibilang kurang strategis, karena bukan di pusat keramaian kota Ungaran. Tapi jangan salah pengunjungnya banyak. Sebagai patokan, Joko Kopi ini letaknya sekitaran Kampus Ngudi Waluyo, tapi masih masuk beberapa meter lagi dan dari jalan utama Joko Kopi ada di sebelah kanan.


Area parkir Joko Kopi sangat luas, jadi yang bawa mobil tidak perlu khawatir. Hanya saja parkirnya bayar. Sementara itu area dalam juga luas yang terdiri dari dua lantai. Bagi yang merokok pun disediakan smoking area. Lalu ada juga tempat duduk outdoor. Kalau mau menyaksikan pemandangan gunung ungaran dan sawah lebih jelas pilihlah tempat duduk di lantai dua atau pun lantai satu bagian luar.
Joko Kopi
Dok. pribadi
Menu kopi di Joko Kopi sangat bervariasi, ada speciality coffee (single origin) hingga non kopi. Untuk single origin bisa memilih metode seduh, yaitu tubruk, plunger/french press, atau pour over. Harga terbilang standar, malahan murah untuk cita rasa kopi yang berkualitas.


Saya kalap dong pesan kopi di Joko Kopi, sampai minum dua cangkir. Tadinya saya cuma pesan Paket Pendekar, tapi tergoda dengan single origin, maka saya memutuskan pesan Flores Robusta yang pakai metode pour over. Paket Pendekar apa sih? Paket Pendekar itu terdiri dari satu sloki espresso, satu cangkir cappuccino, dan air putih. Sudah minum segitu banyak masih nyendok affogato punya Kakak saya juga. Rakus bener.
Kopi Joko Kopi
Dok. pribadi
Cappuccino dan espresso yang sepaket itu cita rasa kopinya sama, tapi kurang tahu blend-nya apa saja. Saya merasakan cita rasa fruity dan pahit yang kuat, untuk acidity mungkin medium (Kurang yakin juga, haha…). Untung lah ya yang satunya saya pesan Flores Robusta untuk mengimbangi kopi Paket Pendekar dengan acidity itu. Flores Robusta adalah kopi tanpa acidity. Cita rasanya sudah lupa saya, tapi kalau dari menu tercantum sweet/tobacco/chocolate/nutty. Kalau rasa pahitnya sih tidak begitu tajam dan cenderung light menurut saya. Beneran lebih pekat Paket Pendekar. Lol.


Selain kopi, di Joko Kopi juga menyediakan minuman non kopi yang variasinya banyak. Milk based drink dengan rasa thai tea, taro, red velvet, green tea, vanilla, caramel, mint, bahkan ginger. Minuman yang light juga ada. Makanan berat dan snack-nya pun bermacam-macam, mulai dari nasi goreng, mie, rice bowl, onion ring, roti bakar, hingga mendoan. Dessert juga ada lho. Kurang lengkap apa coba.


Cafe Joko Kopi pokoknya recommended banget. Saya pasti akan kembali berkunjung. Oh iya colokan, tampaknya benda itu tidak saya lihat ada di meja-meja pengunjung. Berarti murni untuk nongkrong lah, kecuali Anda bukan pejuang colokan seperti saya.


Kalau lewat kota Ungaran mampir sebentar ke Joko Kopi ya. Thanks sudah menyimak ulasan saya. Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar.

Saturday, June 15, 2019

Review Novel 13 Reasons Why (Kisah Tragis Hannah Baker)

June 15, 2019 1
Review Novel 13 Reasons Why (Kisah Tragis Hannah Baker)
Tanggal 14 Juni 2019, pukul 12:24 baru saja selesai membaca 13 Reasons Why
Penulis: Jay Asher
Penerbit: Spring
Tahun terbit: 2018
Halaman: 324
Genre/sub genre: kata Jay Asher ini genre Suspense, sub genrenya saya rasa Young Adult atau Coming of Age (Kalau mau tahu genre Suspense apa klik di sini)


Blurb
Kau tidak bisa menghentikan masa depan. Kau tidak bisa mundur ke masa lalu. Satu-satunya cara untuk mengetahui rahasia itu adalah menekan… Play.


Clay Jensen pulang dari sekolah dan menemukan sebuah paket berisi setumpuk kaset. Namun ternyata pengirim kaset-kaset itu adalah Hannah Baker, teman sekolahnya yang bunuh diri dua minggu lalu. Dalam kaset-kaset itu, Hannah menjelaskan alasan-alasan kenapa dia bunuh diri dan siapa saja yang terlibat di dalamnya. Clay menjadi salah satunya.


Hannah Baker sudah tiada. Seharusnya rahasia-rahasia gadis itu terkubur bersamanya. Namun, setelah mendengarkan isi kaset, Clay menjadi paham kenapa dia menjadi salah satu alasan Hannah.


Sepanjang malam, Clay mendengarkan kaset Hannah. Dia mengikuti petunjuk yang Hannah berikan untuk menyusuri kota kecilnya. Namun, yang dia temukan kemudian mengubah hidupnya selamanya…
***
Thirteen Reasons Why
Dok. pribadi
Saya tertarik baca buku 13 Reasons Why setelah menonton TV Series-nya di Netflix. Lucu sih, harusnya karena semua sudah terungkap tidak ada rasa penasaran lagi ya. Tapi saya tetap ingin baca bukunya. Novel 13 Reasons Why ini saya beli tahun 2018, ikut PO yang ada hadiah tote bag sama peta. Namun baru saya baca sekarang, karena tumpukan buku lain yang belum saya baca juga. Hahaha… Saya yang penting punya bukunya dulu, bacanya entah kapan.


Well, sebab saya sudah menonton TV Series-nya saya bahas sedikit perbedaan keduanya (tenang saya tidak akan spoiler). Thirteen Reasons Why versi TV Series ada beberapa perubahan dan penambahan yang tentunya bertujuan untuk penyesuaian. Dan itu tidak mengubah jalan cerita utama kok, justru menurut saya sebagian penambahan itu melengkapi novel 13 Reasons Why.


Pada novel 13 Reasons Why kedalaman setiap karakter--yang berperan menjadi alasan Hannah Baker bunuh diri--kurang mendalam. Di novel hanya Hannah dan Clay yang perasaannya ditunjukkan lebih mendalam. Sementara di TV Series, tokoh-tokoh lainnya bisa digambarkan lebih mendalam. Tentu ini karena keterbatasan halaman. Kalau semua tokoh itu dijelaskan secara mendalam sudah pasti bukunya bakal lebih tebal daripada kamus.


Di novel 13 Reasons Why juga ada bonus berupa dialog-dialog yang dihapus, kata pembuka, dan ending cerita sebelum disunting. Dan ternyata ending sebelum disunting itu berbeda banget lho dengan ending yang sekarang. Bahkan judulnya pun tadinya bukan 13 Reasons Why.


Saya sarankan baca dulu novel 13 Reasons Why baru nonton TV Series-nya. TV Series 13 Reasons Why itu adalah pelengkap novelnya. Tunggu dulu! TV Series-nya ada dua musim sejauh ini dan season 1 menurut saya tetap paling bagus. Namun di season 2 ada bagian yang tentunya bisa menjadi pelengkap atas nasib kasus Hannah Baker yang mana tidak ada di novelnya. Sayangnya tidak semua episode di season 2 seasik season 1.


Mari lanjut membahas tokoh-tokoh dalam novel. Hannah Baker menggambarkan sosok remaja yang mencari jati dirinya, yang belum memahami dirinya sendiri secara utuh, katakanlah masih labil. Dan itu bukan salah dia menjadi labil. Siapa sih yang tidak pernah melewati masa-masa labil? Semua pasti pernah. Namun, sayangnya dia tidak berhasil melewati masa-masa itu. Dia memilih untuk menyerah, karena tidak mendapatkan pertolongan yang dia harapkan.


Clay Jensen, anak baik, setidaknya itu yang semua orang pikirkan (termasuk saya dan memang demikian). Meskipun Clay masuk ke dalam daftar Hannah, menurut saya itu tidak membuat dia jahat. Dia hanya terlibat dalam situasi rumit dan tidak tahu bagaimana bertindak. Namun, entah kenapa saya tidak begitu bisa merasakan emosi Clay di dalam novel. Clay yang di TV Series itu terlihat lebih emosional. Akting Dylan Minnette memang bagus. Dia berhasil menggambarkan Clay yang kacau.


Tokoh Tony di novel hanya memiliki porsi sedikit. Sepanjang membaca saya membayangkan wajah Christian Navarro, tapi tokoh Tony di novel jadi tidak terasa cocok dengannya. Tony memang lebih keren yang di TV Series. Sedikit bocoran, sebenarnya di novel orientasi Tony itu tidak disebutkan sama sekali, bahkan secara eksplisit pun tidak. Saya suka ¾ Tony di TV Series dan ¼ Tony di novel. Hahaha…


Kalaupun tokoh lain tidak, tokoh Jessica Davis harusnya bisa dijelaskan sedikit lebih banyak, tapi di novel tidak. Intinya di novel itu ya mostly adalah Clay yang sedang mendengarkan kaset. Bahkan dia tidak banyak berinteraksi dengan murid lain yang ada dalam daftar, kalau pun ada hanya sambil lalu.


Jika ditanya apa saya menyesal membaca bukunya, kan mendingan nonton TV Series-nya saja. Jawaban saya adalah tidak. Nah kalian terserah mau baca bukunya saja atau nonton TV Series-nya saja atau keduanya, itu tidak akan mengurangi pesan yang coba disampaikan melalui cerita Hannah Baker.


Mengutip kalimat dalam novel 13 Reasons Why, “Segala sesuatu memengaruhi segalanya”. Tindakan dan ucapan kita bisa jadi berdampak pada orang lain, jadi kendalikanlah. Kita juga diajak peka terhadap sekitar. Kita tidak bisa menunggu orang meminta pertolongan, kadang mereka tidak sadar bahwa mereka membutuhkan pertolongan itu. Kita lah yang harus mengulurkan tangan.


Bagi saya novel 13 Reasons Why sangat inspiratif, banyak pelajaran yang bisa dipetik. Jangan segan untuk membaca novel ini.


Saya tunggu komentar-komentar kalian di bawah ini. Terima kasih telah berkunjung.

Comment