MELALUI RUANG

Friday, February 19, 2021

Review Drama Korea Mr. Queen

February 19, 2021 0
Review Drama Korea Mr. Queen
Drama Korea Mr. Queen adalah salah satu drama yang saya tonton ketika masih on going, selain drama True Beauty (Tapi, True Beauty sampai sekarang belum selesai saya tonton, antusias saya menurun di pertengahan episode). Berbeda dengan Mr. Queen, saya selalu antusias menanti episode selanjutnya. Drama Korea Mr. Queen diadaptasi dari drama mandarin dengan judul Go Princess Go. Drama bergenre romance comedy ini berjumlah 20 episode dengan durasi rata-rata 1 jam. Saat ini Mr. Queen sudah tamat, tapi kabarnya akan ada spin off, entah kapan akan tayang.

Premis Mr. Queen

Mr. Queen menceritakan seorang Chef di Rumah Biru bernama Jang Bong Hwan (diperankan oleh Choi Jin Hyuk), yang difitnah oleh rekannya sehingga harus berurusan dengan polisi. Ketika Bong Hwan mencoba kabur dari polisi, ia justru terjatuh dari apartemennya dan tercebur ke dalam kolam renang di bawah apartemen. Di waktu dan ruang berbeda, seorang calon ratu bernama Kim So Yong melompat ke dalam danau kerajaan. Saat itulah jiwa mereka bertemu. Jiwa Bong Hwan pun masuk ke tubuh So Yong. Sementara itu tubuh Bong Hwan di dunia masa kini mengalami koma. Mendapati dirinya bangun dengan sosok yang berbeda, Bong Hwan mencoba untuk kembali, tapi usahanya gagal. Ia terpaksa harus hidup sebagai Ratu dan terseret ke dunia politik kerajaan yang penuh dengan intrik.

Menurut saya premis Mr. Queen ini menarik, terlepas dari adegan tercebur ke kolam (ataupun danau, sungai) agar tokoh bisa pindah ruang dan waktu, yang sudah beberapa kali ada di drama sageuk. Namun, Mr. Queen ini dikemas berbeda. Karakter Bong Hwan yang kocak dalam wujud ratu ini memberi warna tersendiri, membuat ceritanya berbeda dari drama sageuk umumnya. Meskipun drama sageuk tidak lepas dari dunia politik, tapi Mr. Queen ini tidak selalu bikin tegang kok. Ada momen-momen yang bikin ngakak, karena saking lucunya. 

Selama saya nonton Mr. Queen jalan ceritanya tidak bikin bosan, walaupun disisipi adegan tokoh pendukung lain yang sebenarnya tidak ngaruh ke plot. Tapi, saya pikir porsinya juga tidak berlebihan, jadi tidak masalah. Transisi antara adegan juga mulus, tidak terkesan patah.

Tokoh-tokoh Mr. Queen

Para aktor di Mr. Queen ini patut diacungi jempol. Saya sangat terkesan dengan peran Shin Hye Sun sebagai Ratu/Kim So Yong. Shin Hye Sun sangat menjiwai karakter Ratu yang dirasuki jiwa Bong Hwan yang genit dan slengekan. Sementara kalau ingat peran Shin Hye Sun di Stranger itu ya ampun bagaikan langit dan bumi. Ini menunjukkan kalau kemampuan akting Shin Hye Sun memang keren.

Akting Kim Jung Hyun sebagai Raja Cheoljong juga keren. Diceritakan bahwa Raja Cheoljong memiliki 'dua wajah'. Wajah pertama adalah yang dia tunjukkan ke orang umum, wajah lainnya adalah yang hanya ditunjukkan ke orang-orang yang dia percayai. Dua wajah itu sangat kontras berbeda dan Kim Jung Hyun menunjukkan perubahan itu melalui ekspresi, tatapan, gerak-gerik dengan sangat baik.

Selain dua tokoh utama yang mencuri perhatian, beberapa tokoh pendukung juga tidak kalah menarik perhatian, misalnya tokoh Dayang Choi dan Hong Yeon. Mereka adalah dayang yang setia ada di sisi Ratu. Dayang Choi adalah dayang paling cerewet yang selalu menasihati Ratu agar bersikap lebih sopan dan jangan melakukan keanehan-kanehan. Ekspresi Dayang Choi hampir selalu datar, tapi sebenarnya dia menyimpan kekesalan yang akan dia luapkan dengan berteriak-teriak di tempat sepi (Asli adegan ini bikin ngakak).

Sementara itu, Hong Yeon adalah dayang muda yang sejak kecil sudah tinggal bersama Ratu, sehingga tahu bagaimana Ratu sejak dulu. Hong Yeon adalah dayang pertama yang dilihat Bong Hwan saat dia terbangun dalam wujud Ratu. Hong Yeon sempat terlibat cinta segitiga antara Kim Hwan dan Byeolgam Hong (Tapi bromance-nya Kim Hwan sama Byeolgam Hong itu kuat banget). Saya berharap banget spin-off Mr. Queen akan menceritakan kisah Hong Yeon.

Tokoh pendukung lain, yang ada di sisi Raja adalah Pangeran Yeongpyeong, Byeolgam Hong, dan Selir Jo Hwa Jin. Mereka adalah orang-orang kepercayaan Raja yang mengetahui wajah asli raja dan tujuannya. Mereka membantu dan mendukung Raja untuk mewujudkan impian Raja.

Selanjutnya ngomongin tokoh antagonis yang perannya untuk menghalangi tujuan tokoh utama terwujud. Mereka adalah beberapa orang dari klan Andong Kim dan klan Poongyang Jo yang korupsi dan haus akan kekuasaan. Klan Andong Kim digerakan oleh Kim Jwa Geun yang juga adik dari Ibu Suri Agung. Dia sekaligus berperan dalam mempertahankan posisi Ibu Suri Agung di dunia politik. Kim Jwa Geun memiliki putra angkat bernama Kim Byeong In. Sejak kecil Byeong In dan So Yong tumbuh bersama. Sejak itu juga dia menyukai So Yong, tapi dia memendam perasaannya itu. Awalnya saya tidak terkesan sih sama tokoh Byeong In, tapi memasuki episode 19 entah kenapa saya sedih lihat nasib Byeong In (ya gitu nasibnya second lead di drama sageuk).

Overall, drama Mr. Queen memuaskan. Ending-nya juga cukup adil (mungkin tidak untuk Byeong In) dan tidak dipaksakan. Tokoh-tokohnya memiliki karakter yang kuat. Karakter tokoh Bong Hwan memberikan angin segar, sehingga Mr. Queen tidak tampak seperti drama sageuk umumnya. (Seluruh episodenya bisa kalian tonton di Viu ya.)

Monday, February 15, 2021

Review Drama Korea At Eighteen (Moment of Eighteen)

February 15, 2021 0
Review Drama Korea At Eighteen (Moment of Eighteen)
Drama korea At Eighteen atau Moment of Eighteen release tahun 2019. At Eighteen memiliki jumlah 16 episode dengan durasi rata-rata 1 jam. Drama ini diperankan oleh Ong Seong Wu (sebagai Choi Jun Woo), Kim Hyang Gi (sebagai Yoo Soo Bin), Shin Seung Ho (Ma Hwi Young) dan Kang Ki Young (sebagai Guru Oh).

At Eighteen berkisah tentang seorang murid bernama Choi Jun Woo yang dipaksa pindah, karena kasus kekerasan dan pencurian di sekolah. Lalu, Jun Woo bersekolah di SMA Cheonbong. Namun, kehidupan sekolahnya tidak berjalan lancar. Jun Woo memiliki masalah dengan ketua kelas, Ma Hwi Young. Tadinya ia sempat ingin kabur seperti yang selama ini ia lakukan, tapi berkat teman sekelasnya bernama Yoo Soo Bin, ia mengurungkan niat untuk kabur. Terlebih ada Guru Oh sangat percaya kepadanya dan terus membantunya saat dalam kesulitan. Bahkan Guru Oh mendorongnya agar lebih aktif di sekolah, salah satunya dengan menjadi wakil ketua kelas.

Sejujurnya tertarik nonton At Eighteen karena suka sama aktingnya Kim Hyang Gi, sejak saya nonton Along with the Gods. Dan tentu saja, akting Kim Hyang Gi di At Eighteen sama sekali tidak mengecewakan. Saya sangat suka dengan chemistry para tokohnya, termasuk chemistry tokoh protagonis dengan antagonis.

At Eighteen ini manis banget, tapi secara bersamaan juga sedih. Sesuai dengan judulnya, drama At Eighteen menggambarkan momen di masa remaja yang mulai memiliki konflik serius dengan teman, bahkan orang tua; mulai jatuh cinta; dan pencarian jati diri. Semua aspek itu melebur dalam jalan cerita yang smooth, tidak melebih-lebihkan. Khas remaja banget.

Selama menonton At Eighteen, saya bisa senyum-senyum sendiri saking gemesnya sama Jun Woo dan Soo Bin. Tapi, di waktu lain merasa sedih, karena hubungan mereka yang penuh rintangan. Dalam perjalanan cerita, saya melihat bahwa hubungan mereka ini tidak hanya soal cinta-cintaan anak remaja. Hubungan mereka lebih dari itu. Mereka saling menguatkan, mendukung, dan membuat nyaman satu sama lain. Bahkan, mereka tidak segan untuk meminta maaf saat melakukan kesalahan. Cinta mereka ini masih pure (eh malahan orang dewasa di sekitar mereka mengontaminasi dengan asumsi negatif). Selain itu saya suka banget dengan tatapan mata mereka. Tatapan mata mereka itu saling berbicara.

Selain chemistry Jun Woo dan Soo Bin yang kuat, tokoh lain seperti Song Hee, ibu Soo Bin, (diperankan Kim Sun Young) juga memiliki karakter kuat. Saya terkesan dengan akting Kim Sun Young. Ia berhasil membawakan peran seorang wanita karir sekaligus seorang ibu yang tangguh, keras kepala, dan mandiri. Tapi, di sisi lain Song Hee memiliki banyak kekhawatiran jika sudah menyangkut putrinya. Begitu pula dengan ibu Jun Woo, Yeon Woo, yang juga digambarkan sebagai seorang ibu tangguh yang membesarkan putranya sendiri dengan segala keterbatasan. Yeon Woo begitu mengkhawatirkan kehidupan sekolah Jun Woo, terlebih setelah Jun Woo dipaksa pindah sekolah.

Tokoh menarik lainnya, tentu saja Guru Oh. Guru Oh adalah sosok guru yang peduli terhadap muridnya. Bahkan saat Hwi Young melakukan kesalahan, Guru Oh tidak berpaling darinya ataupun melakukan penghakiman. Ia tetap mendampingi hingga akhir.

Sementara itu, tokoh Hwi Young digambarkan memiliki karakter yang sombong, suka mengatur, dan mempengaruhi orang lain agar melakukan segala hal sesuai keinginannya (bisa dibilang manipulatif lah). Hwi Young ini selalu dijadikan panutan oleh murid-murid lain, karena ia memiliki nilai tertinggi dan aktif di sekolah. Namun, ada satu murid yang bisa melampaui Hwi Young dalam pelajaran matematika, yaitu Sang Hoon. Hwi Young dan Sang Hoon menjadi rival tidak hanya di sekolah, tapi juga di tempat kursus. Perasaan iri terus menguasai Hwi Young, sehingga ia melakukan kesalahan fatal yang berbuntut panjang. Namun, apa yang dialami Hwi Young tidak terlepas dari peran orang tuanya yang selalu menuntut agar Hwi Young mendapat nilai sempurna. Bahkan, mereka tidak segan-segan bermain kotor.

Sebenarnya Hwi Young ini sadar tidak ya, kalau menjadikan Jun Woo sebagai musuhnya itu serem. Secara Jun Woo ini tidak akan membalas atau menyerang secara terang-terangan, (kecuali saat teman semasa kecilnya meninggal). Ia lebih memilih bermain kalem dan membiarkan musuhnya merasa bersalah. Jun Woo juga tidak gegabah dalam bertindak. Daripada balas dendam, ia lebih memilih untuk membuktikan dirinya tidak bersalah atas tuduhan yang ia terima di sekolah. Apalagi ucapan dan tindakannya itu selalu on point dan bikin musuhnya cuma terdiam.

Di sisi lain sikap Jun Woo yang tampak cuek dan pendiam, sebenarnya ia memiliki kepedulian yang tinggi. Contohnya saat Hwi Young menghilang dan Ki Tae sangat mencemaskannya, Jun Woo ikut membantu Ki Tae mencari Hwi Young, walaupun ia masih benci sama Hwi Young. Lalu, saat rumor tentang Oh Je tersebar di sekolah, Jun Woo tetap ada di samping Oh Je sebagai sahabat.

Overall, At Eighteen memiliki cerita yang menyentuh dan manis banget (Saya jadi ingin balik ke masa sekolah dulu). Karakter para tokoh dan hubungan antara tokoh sangat kuat. Para aktor bisa meniupkan nyawa ke tokoh yang mereka perankan, sehingga tokoh-tokohnya begitu hidup. Semua permasalahan diselesaikan dengan masuk akal. Dan sedikit spoiler, ending At Eighteen ini menurut saya termasuk open ending. Tapi, ya memang semestinya begitu sih, karena kalau happy ending rasanya terlalu dipaksakan, sedangkan kalau sad ending kok kejam banget.

Last but not least, soundtrack yang paling saya sukai dari At Eighteen berjudul Moments yang dinyanyikan oleh Christopher Nissen. Lagunya lembut dan liriknya menyentuh, cocok dengan jalan cerita At Eighteen.

Saturday, February 6, 2021

Cara Menulis Premis Cerita Fiksi

February 06, 2021 0
Cara Menulis Premis Cerita Fiksi
Sebelum mengikuti kelas skenario, saya tidak pernah menulis premis untuk setiap naskah cerita yang salah tulis. Semua cuma berangkat dari ide kasar. Bahkan tidak pernah memetakan dan bikin outline cerita. Tapi, buat saya yang suka ngada-ngada kalau bikin cerita, premis dan outline itu jadi penting, karena bisa digunakan sebagai patokan sekaligus pagar. Selain itu, belakangan ini banyak lomba menulis novel yang mengharuskan mencantumkan premis.

Menurut KBBI premis adalah apa yang dianggap benar sebagai landasan kesimpulan; dasar pemikiran; alasan, asumsi, dan bisa disebut sebagai kalimat atau proposisi yang dijadikan dasar penarikan kesimpulan di dalam logika. Kalau sederhananya menurut saya, premis itu bentuk singkat yang memuat garis besar dari cerita yang kita tulis (lebih singkat dari sinopsis).

Menulis premis ini susah menurut saya, karena kita harus bisa menulis satu kalimat yang menggambarkan keseluruhan cerita. Tapi kalimat itu harus menarik dan mampu membuat editor tertarik dengan cerita yang kita tulis.

Sebenarnya ada banyak versi cara menulis premis. Tapi saya akan membagikan cara menulis yang biasa saya lakukan dan cara ini saya dapatkan dari kelas-kelas menulis yang pernah saya ikuti. Pada dasarnya, premis berisi tokoh yang memiliki tujuan, tapi terhalang oleh sesuatu, lalu tokoh melakukan tindakan agar menemukan penyelesaian masalah.

Contoh:
  1. Nia (tokoh) sangat ingin memenangkan kompetisi menyanyi (tujuan), tapi rivalnya berbuat curang dan memfitnah Nia (halangan), lalu Nia berusaha mengungkapkan kebenaran (tindakan) agar dia bisa kembali berkompetisi dan menang (penyelesaian).
  2. Sekelompok hewan ternak (tokoh) sangat menginginkan kesetaraan dan kebebasan (tujuan), tapi pemilik peternakan amat berkuasa dan jahat (halangan), lalu mereka berusaha mengusir pemilik peternakan (tindakan), agar mereka bisa mendapat kehidupan yang setara dan bebas (penyelesaian).

Perlu diingat, tujuan tokoh mesti jelas dan jangan terlalu general. Dulu saya pernah menulis tujuan yang terlalu abstrak, misalnya: "ingin hidup bahagia", "ingin kehidupannya lebih baik", "ingin memperbaiki nasib". Lalu, halangan tokoh bisa bermacam-macam, tidak cuma dalam bentuk tokoh antagonis, tapi bisa suatu keadaan yang menghalangi. Dan, resolusi atau penyelesaian itu tidak sama dengan tokoh berhasil mencapai tujuan. Misalnya, resolusi tokoh di contoh premis 1 adalah bisa kembali berkompetisi dan menang. Nah, bisa saja nanti di cerita dituliskan ternyata Nia bisa berkompetisi kembali, tapi dia tetap tidak menang.

Kurang lebih begitu cara menulis premis. Yang terpenting setelah mengetahui teorinya adalah rajin berlatih menulis premis. Bisa juga coba membuat premis dari novel yang sudah terbit.

Monday, February 1, 2021

Review Drama Korea Class of Lies

February 01, 2021 0
Review Drama Korea Class of Lies
Drama Korea Class of Lies release pada tahun 2019 dan terdiri dari 16 episode dengan durasi setiap episode sekitar 1 jam. Drama bergenre kriminal ini berkisah tentang seorang murid bernama Kim Han Su yang dituduh membunuh teman sekolahnya, Jung Su Ah. Lalu seorang pengacara terkenal bernama Gi Mu Hyeok menangani kasus Kim Han Su, karena disuruh atasannya. Awalnya Mu Hyeok hanya disuruh atasannya untuk membela Han Su agar hukumannya diringankan. Tapi, Han Su bersikeras bahwa dia tidak membunuh Su Ah. Lalu, Mu Hyeok menemukan ada rahasia gelap tersembunyi. Dia pun berbalik percaya bahwa Han Su tidak bersalah dan tidak mematuhi perintah atasannya. Hal itu pun menjadi awal keributan lainnya. Mu Hyeok difitnah, lalu dipecat dan lisensi pengacaranya dicabut. Gara-gara hal itu Mu Hyeok ingin balas dendam kepada atasannya. Dia pun memutuskan untuk menyamar menjadi guru di sekolah Su Ah dan mulai menyelidiki kasus kematiannya.

Tokoh-tokoh di Class of Lies

Tokoh di drama Korea Class of Lies ini banyak banget dan itu juga yang bikin ceritanya semakin kompleks. Tokoh utamanya tentu saja si pengacara Gi Mu Hyeok yang diperankan oleh Yoon Kyun San. Mu Hyeok adalah seorang pengacara yang mengutamakan kemenangan atau setidaknya dia harus mendapatkan keuntungan besar dari kasus yang dia tangani. Namun, kasus Han Su membuatnya banyak berubah. Setelah dipecat dari firma hukum Songak, Mu Hyeok bersikeras untuk mengungkap kebenaran di balik kematian Su Ah dengan menyamar menjadi guru di SMA Cheonmyung.

Guru Ha adalah wali kelas Han Su yang percaya bahwa Han Su tidak membunuh Su Ah. Dia memiliki kepedulian dan tekad yang kuat untuk melindungi murid-muridnya. Bahkan dia berani menentang Bu Jun, Kepala Administrator yang semena-mena. Pada akhirnya setelah mengetahui identitas Mu Hyeok, dia memutuskan untuk membantu Mu Hyeok.

Cha Hyun Jung adalah jaksa yang menuntut Han Su untuk dihukum 20 tahun penjara, sekaligus teman sekampus Mu Hyeok dulu. Namun setelah menemukan kejanggalan pada kasus pembunuhan itu, dia berniat menemukan kebenaran. Dia juga pada akhirnya bekerja sama dengan Mu Hyeok untuk membongkar kejahatan lain di balik kematian Su Ah.

Yu Beom Jin adalah murid di SMA Cheonmyung yang pernah berteman dengan Su Ah. Dia adalah bagian dari Veritas Club yang berisi murid-murid berpengaruh di sekolah. Karakter Beom Jin ini datar, tidak mudah dibaca, tampak tenang, cerdas dan manipulatif; sampai-sampai dia bisa mempengaruhi teman-temannya. Jujur saja Beom Jin adalah tokoh yang menurut saya paling menyebalkan, selain Lee Tae Seok. Beom Jin pikir, dia bisa memperbaiki semuanya, tapi sebenarnya dia sedang mengacaukan segalanya.

Lee Gi Hoon juga bagian dari Veritas Club adalah anak dari atasan Mu Hyeok. Dia menyukai Su Ah, tapi cintanya bertepuk sebelah tangan. Dia memiliki hobi mengambil gambar menggunakan kamera film dan bertanggung jawab terhadap klub fotografi. Gi Hoon memiliki tabiat sok berkuasa, lumayan temperamental, bersikap memberontak. Namun, tokoh Gi Hoon adalah salah satu yang saya sukai perkembangan karakternya.

Han Tae Ra (member Veritas Club) adalah murid yang memiliki prestasi dan kegiatan sosial di luar sekolah. Dia menaruh perasaan kepada Beom Jin. Saat dia melihat Beom Jin tampak dekat dengan Su Ah, dia merasa cemburu dan mulai merundung Su Ah. Padahal awalnya dia berteman baik dengan Su Ah. Tae Ra memiliki karakter yang angkuh dan manja.

Na Ye Ri (member Veritas Club) adalah calon idol yang memiliki tabiat buruk. Dia mengelola suatu aplikasi yang hanya bisa diakses oleh murid-murid di SMA Cheonmyung. Di dalam aplikasi itu berbagai skandal dan gosip ditayangkan, termasuk skandal foto Su Ah.

Kim Han Su adalah teman masa kecil Su Ah. Dulu mereka tinggal di panti asuhan, sebelum akhirnya Su Ah diadopsi. Han Su terkenal pembuat masalah. Dia suka berkelahi dengan murid dari sekolah lain dan membolos. Pada akhirnya dia ingin berubah demi Su Ah.

Jung Su Ah awalnya berteman baik dengan Beom Jin, Gi Hoon, Tae Ra, dan Ye Ri. Namun, setelah fotonya yang sedang bersama seorang laki-laki dewasa tersebar; pertemanan mereka renggang. Selain itu latar belakangnya juga terbongkar. Dia bukanlah anak orang kaya yang orang tuanya pergi ke luar negeri. Han Su yang masih peduli kepada Su Ah ingin menolongnya. Sayangnya saat Su Ah berniat memulai hidup baru, dia justru dibunuh.

Plot Cerita Class of Lies

Menurut saya, setiap episode di drama Class of Lies begitu intens dan padat. Sejam seakan lama banget. Jujur saja habis merampungkan drama ini saya merasa capek. Kasus pembunuhan Su Ah itu mejadi awal mula terbongkarnya kasus-kasus busuk lainnya, yang salah satunya dilakukan oleh Manajer Umum SMA Cheonmyung, Lee Tae Seok.

Plot cerita Class of Lies ini kompleks banget, seolah tidak ada jeda untuk bernapas saat mengikuti perjalanan para tokohnya. Saking bikin capek, saya tidak repot-repot memikirkan atau menebak-nebak siapa yang membunuh Su Ah. Pokoknya ikuti saja jalan ceritanya. Kalau plot ibarat rel pada wahana roller coaster yang akan membawa penumpang, saya sebagai penumpang merasa dibawa naik terus. Di sisi lain merasa was-was, kapan penumpang dibawa turun dan dijatuhkan.

Di dalam drama Class of Lies, plot twist cerita tidak terlalu kentara menurut saya. Malahan kesannya tidak ada plot twist-nya, walaupun tidak masalah juga sih tidak ada plot twist. Soalnya petunjuk yang disebar itu lumayan jelas. Bahkan salah satu petunjuk penting yang menunjukkan siapa pembunuh Su Ah sudah ada sejak awal-awal episode. Tapi jika tidak terlalu memperhatikan, petunjuk itu bisa langsung diabaikan. Apalagi terkubur sama adegan-adegan selanjutnya yang kompleks.

Pada akhirnya penyelesaian kasus kematian Su Ah terbongkar. Namun, saya agak menyayangkan nasib si pembunuh di akhir cerita. Sedikit spoiler, si pembunuh itu bakal mati dan tidak diketahui siapa yang membunuhnya. Ada beberapa orang yang bisa jadi memiliki motif untuk membunuh pembunuh Su Ah. Overall, kalau demen sama cerita kriminal yang padat pastikan kalian nonton Class of Lies. Capeknya sama kayak waktu nonton Stranger (Forest of Secrets).

(Oya, saya suka sama ost Class of Lies yang judulnya I'm Alive dinyanyikan oleh Taylor. Tapi, lagu dan liriknya sedih banget.)

Friday, January 22, 2021

Review Drama Mandarin The Bad Kids

January 22, 2021 0
Review Drama Mandarin The Bad Kids
Serial The Bad Kids release tahun 2020, diadaptasi dari novel dengan judul sama yang ditulis oleh Zi Jin Chen. Sejujurnya saya belum membaca novelnya. Gara-gara nonton serial The Bad Kids saya jadi pengin baca novelnya. Dengar-dengar ada penerbit Indonesia yang sedang menerjemahkan novel The Bad Kids. Apa intensitas ketegangannya bakal sama seperti serialnya? Atau, malah lebih tegang baca novelnya? Well, lanjut ke penjelasan serial The Bad Kids. Serial bergenre suspense thriller ini memiliki jumlah episode sebanyak 12, dengan durasi rata-rata 1 jam. Kalian bisa menonton serial The Bad Kids di iQIYI secara gratis (dengan iklan tentu saja, kalau tanpa iklan bisa langganan sebulan Rp. 30.000).

The Bad Kids berkisah tentang tiga orang anak (Chaoyang, Yan Liang, Yue Pu/Pupu) berasal dari latar belakang keluarga berbeda yang tidak sengaja menyaksikan pembunuhan di Liufeng Mountain, ketika merekam video kebersamaan mereka di sana. Awalnya, mereka ingin memberikan video itu kepada polisi, tapi karena suatu hal, mereka justru menjual rekaman itu. Dari situlah perjalanan gila trio itu dimulai.

Tokoh-tokoh dalam The Bad Kids

Tokoh utama dalam The Bad Kids:
  • Zhang Dongsheng diperankan oleh Qin Hao
  • Chen Guansheng diperankan oleh Wang Jingchun
  • Zhu Chaoyang diperankan oleh Rong Zishan
  • Yan Liang diperankan oleh Shi Pengyuan
  • Yue Pu/Pupu diperankan oleh Wang Shengdi
Chaoyang dan Yan Liang adalah teman semasa kecil dan mereka seumuran, sedangkan Yue Pu adalah seorang anak perempuan yang tinggal di panti asuhan yang sama dengan Yan Liang. Yan Liang dan Yue Pu kabur dari panti asuhan dengan suatu misi. Mereka menemui Chaoyang untuk meminta bantuan. Sejak itulah mereka bertiga terus bersama-sama.

Trio The Bad Kids ini memiliki karakter yang berbeda-beda. Chaoyang adalah murid teladan yang selalu juara 1 kelas. Namun, ia tidak memiliki teman di sekolah dan lebih suka menyendiri. Chaoyang digambarkan sebagai anak penurut dan taat aturan. Sementara itu, Yan Liang adalah anak seorang narapidana yang berakhir menjadi gila, sehingga Yan Liang harus tinggal di panti asuhan. Yan Liang selalu ingin bertemu dengan ayahnya, tapi mengalami banyak kesulitan. Yan Liang digambarkan sebagai sosok pemberontak dan pemberani. Yue Pu atau dipanggil Pupu adalah teman Yan Liang di panti asuhan. Pupu sangat pandai menyanyi. Ia digambarkan sebagai sosok yang cerdik dan pemberani. 

Dongsheng adalah guru matematika di suatu lembaga pendidikan yang kehidupan rumah tangganya berantakan dan diambang perceraian. Ia tidak ingin kehilangan istrinya, sehingga ia melakukan suatu perbuatan nekat. Awalnya tidak ada yang aneh dengan sikap Dongsheng sebagai guru yang baik dan penyabar. Namun, seiring berjalannya cerita, sikap Dongsheng berubah drastis. Keinginannya untuk memulai segalanya dari awal tidak berjalan sesuai harapan. Hidupnya semakin berantakan.

Guansheng adalah seorang polisi. Ia juga adalah teman ayah Yan Liang, yang akhirnya akan menjadi ayah angkat Yan Liang. Menurut saya, tokoh Guangsheng mewakili sosok orang tua yang selalu mengkhawatirkan anak-anak mereka. Ia tidak ingin Yan Liang berakhir seperti ayahnya, menjadi kriminal dan dipenjara. Oleh sebab itu ia selalu ikut campur semua urusan Yan Liang.

Tokoh-tokoh dalam The Bad Kids mempunyai karakter yang kuat. Mereka mengalami perkembangan berbeda seiring berkembangnya cerita. Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidup mereka menjadi pemicu perubahan-perubahan itu. Selain karakter tokoh yang kuat dan tokoh yang berkembang, akting para aktornya harus diacungi jempol. Mereka melebur dalam karakter tokoh dan membuat tokoh menjadi hidup.

Setting The Bad Kids

Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan setting waktu The Bad Kids, walaupun atmosfer dan latar tempatnya terlihat tidak modern. Saya pikir bisa saja kan tokoh tinggal di kota kecil. Tapi, saat melihat para tokoh menggunakan ponsel nokia lawas, saya langsung tersadar. Saya duga setting waktu The Bad Kids berada di awal tahun hingga pertengahan 2000an. Semakin memperhatikan, kostum para tokoh juga berbeda sih dengan tren masa kini. Hal lain yang menggambarkan tahun 2000 banget itu adalah soda dalam botol kaca. Lumayan sering lihat tokoh minum produk soda dalam botol kaca. Dan merk produk-produk itu juga familiar buat saya. Tidak begitu berbeda jauh sama yang ada di Indonesia. Kayaknya kalau sekarang soda dalam botol kaca itu sudah tidak eksis. Mostly pakai botol plastik atau kaleng.

Plot Cerita The Bad Kids

Opening episode 1 The Bad Kids itu kampret banget. Sebenarnya jiwa kriminal saya sudah berpikir sampai ke adegan yang bakal terjadi selanjutnya. Opening yang langsung menggambarkan/menunjukkan masalah itu memang lebih menarik daripada opening yang datar-datar saja. Itu bikin penonton ingin terus menonton. Yah, efeknya nyaris sama dengan cliffhanger yang biasa ada di akhir episode. Nah, pada beberapa episode di The Bad Kids memiliki pembuka yang memberi hook (sesuatu yang didesain untuk menangkap perhatian orang) dan diakhiri dengan cliffhanger (ending pada suatu episode drama yang membuat penonton tegang dan bertanya-tanya).

Saya suka dengan transisi di setiap adegannya. Tidak patah dan mulus. Flow ceritanya juga tetap terjaga dari awal hingga akhir. Adegan-adegannya masuk akal (kayaknya sih nggak ada plot hole). Saya juga takjub dengan cara penulis skenario mempertemukan tokoh-tokoh dalam satu frame.

Beberapa adegan bikin saya merasa miris sekaligus bikin perasaan campur aduk. Tegang, sedih, kesal, marah dan terenyuh; semuanya bercampur. Beberapa hal juga memberikan efek yang tidak bisa saya jelaskan dengan kata-kata. Misalnya, kehidupan Dongsheng yang jungkir balik. Di bagian klimaks itu saya sudah speechless sih sama tindakan-tindakan Dongsheng. It's like when you've killed people once, the twice is nothing. Kan gila ya. Dongsheng sempat ingin memulai hidup baru, tapi dengan niat ingin mengubur rahasia gelapnya, maka kehidupan baru tidak akan pernah dimulai. Kebalikannya, Chaoyang dan Yan Liang ingin memulai hidup baru, setelah segala permasalahan yang mereka buat. Mereka berani untuk mengakui segala perbuatan mereka, meskipun itu salah. Hanya dengan begitu mereka lega.

Untuk ending The Bad Kids saya cukup puas. Awalnya sudah merasa was-was bakal seperti apa nasib trio The Bad Kids. Takutnya bakal lebih tragis (sebenarnya dari awal pun sudah tragis sih). Overall, menurut saya The Bad Kids diracik dengan baik, mulai dari penokohan; plot cerita; latar; bahkan properti dan make up.

Wednesday, January 6, 2021

Review Series Thailand Blacklist

January 06, 2021 0
Review Series Thailand Blacklist

Setelah selesai maraton nonton The Gifted series (season 1 & 2), saya nemu series Blacklist di channel Youtube GMMTV. Coba nonton deh. Serupa dengan The Gifted, series Blacklist juga memiliki tema kehidupan sekolah (yang penuh rahasia gelap, nggak mungkin normal-normal aja). Series Blacklist release tahun 2019, berjumlah 12 episode dan diproduksi oleh GMMTV.

Series Blacklist berkisah tentang enam murid yang tergabung dalam kelompok Blacklist. Mereka berusaha membongkar keburukan sekolah dengan bimbingan salah satu guru, bernama Padej. Misi mereka dimulai dengan menyelidiki seorang murid di sekolah mereka bernama Fah—kakak Traffic—yang menghilang secara misterius. Namun, saat menyelidiki kasus menghilangnya Fah, anggota Blacklist justru menemukan rahasia mengerikan di sekolah mereka. Di sekolah mereka ada kelompok bernama The God's Hand yang kemungkinan berkaitan dengan menghilangnya Fah. Namun, semakin Blacklist menguak kelompok The God's Hand, semakin banyak hal-hal buruk terjadi.

Premis series Blacklist menjanjikan sih, tapi tidak dengan eksekusinya. Pada episode awal hingga pertengahan semua berjalan dengan mulus. Plot dan transisinya masih terbilang rapi. Namun, memasuki episode tengah ke belakang, transisinya kurang mulus. Ada beberapa adegan kurang masuk akal dan lini masa yang perlu dipertanyakan. Lalu, cerita yang dimaksudkan sebagai plot twist justru terkesan dipaksakan.

Secara plot dan transisi series Blacklist memang memiliki beberapa kekurangan. Namun, saya menyukai karakterisasi kelompok Blacklist. Kelompok Blacklist terdiri dari enam anggota yang memiliki kemampuan dan karakter berbeda-beda. Karakter yang melekat pada tokoh tersebut akan berguna untuk menjalankan cerita. Jadi bukan sekadar tempelan.

  • Tokoh Traffic (diperankan oleh Nanon) adalah pemimpin kelompok Blacklist. Ia digambarkan sebagai sosok yang dingin, tenang, dan penuh pertimbangan. Ia memiliki kepercayaan terhadap kemampuan timnya dan berperan sebagai back up tim.
  • Tokoh Andrew (diperankan oleh Chimon) digambarkan sebagai sosok yang gegabah, pemberontak, suka memakai kekerasan dan mengintimidasi orang lain. Namun, kemampuannya berimprovisasi dalam situasi genting tidak bisa diragukan.
  • Tokoh Highlight (diperankan oleh Ohm) digambarkan sebagai tokoh pendiam, tenang, tertutup, pandai menganalisis suatu kasus (Hobinya membaca komik Detective Conan, jadi ia belajar banyak dari komik itu).
  • Tokoh Title (diperankan oleh Drake) digambarkan sebagai tokoh yang ceplas-ceplos, humoris, dan suka tebar pesona ke cewek-cewek (tapi cewek yang disukai cuma Cupcake). Ia memiliki kemampuan bela diri.
  • Tokoh Jim Bae (diperankan oleh First) sepaket dengan Title, sama-sama tokoh yang ceplas-ceplos dan kocak. Ia memiliki kemampuan sebagai mata-mata, karena pandai bergaul. Ia juga pandai bermain berbagai jenis board game.
  • Tokoh Bantad (diperankan oleh Frank) digambarkan sebagai sosok yang cerdas dan pandai dalam dunia IT. Ia berperan meretas perangkat, melacak lokasi, dan mencari informasi melalui dunia maya.

Spoiler alert!

Sebenarnya Blacklist ini kan membicarakan isu penggunaan obat terlarang agar kinerja murid dalam belajar lebih meningkat demi mendongkrak nilai. Isu itu sepertinya pernah ada di Indonesia juga, lupa tahun berapa. Masalahnya, pengemasan isu itu ke dalam cerita yang disajikan dalam series Blacklist terlalu melebar, kurang fokus pada isu yang ingin diangkat. Bahkan lingkup permasalahan sampai melibatkan mafia dan tindakan kriminal. Kasus Fah yang menjadi inciting incident (kejadian yang mendorong suatu tokoh untuk mengambil tindakan) bagi tokoh Traffic, seakan diabaikan. Kasus Fah jadi semacam tempelan dan cuma bakal digunakan sebagai plot twist pada dua episode terakhir, yang itu pun terkesan dipaksakan.

Banyak detail adegan yang tidak diperhatikan, misalnya saat Title masuk ke kamar Champ. Baru beberapa detik Title di dalam kamar dan belum ngapa-ngapain, tiba-tiba Champ sudah ada di dalam kamarnya. Padahal tadi ia sudah turun menggunakan lift. At least, berikan jeda agak lama. Lalu, adegan Champ melompat dari jendela dan ditangkap oleh Jim Bae menggunakan tempat tidur dorong juga aneh. Gimana ceritanya salah satu tangan Champ menyelip ke terali besi di sisi tempat tidur. Intinya posisi Champ unbelievable banget deh. Selain itu, transisi yang terlalu mendadak juga terjadi saat kejar-kejaran antara kelompok Blacklist dan Viking (yang nyamar menjadi pemimpin kelompok The God's Hand). Transisinya terasa patah.

Beberapa tokoh dalam Blacklist juga tidak konsisten. Tokoh polisi di cerita Blacklist pun sangat tidak meyakinkan. Saya pikir, semestinya polisi tidak mudah percaya dengan laporan yang sumbernya tidak jelas. Namun, ketika ada laporan tentang Traffic yang melakukan percobaan pembunuhan terhadap Fah, mereka langsung percaya begitu saja. Mereka menggeledah apartemen Traffic dan Fah, lalu menemukan makanan kotak yang mengandung racun. Menurut delivery man, orang yang memesan makanan adalah Traffic. Padahal delivery man juga bisa dicurigai sebagai pelaku. Tapi, polisi tidak curiga sama sekali dengan delivery man, hanya karena ada surat dari Fah yang menyatakan bahwa Traffic berbuat jahat terhadap Fah. Mereka juga tidak melacak saluran telepon untuk memastikan si pemesan makanan, yang ternyata adalah Guru Jinmanee.

Ada juga nih adegan cringe abis. Salah satunya adegan di ruang kepala sekolah, saat Melon dan Phukkad sedang memeriksa ponsel Guru Jinmanee agar mereka bisa menemukan bukti percakapan Guru Jinmanee dengan delivery man. Lebih anehnya, kenapa percakapan itu disimpan sama Guru Jinmanee. Bukti kejahatan mah mestinya dimusnahkan langsung. Selain itu, adegan setelah Pak Karin ditangkap polisi itu juga aneh. Ngapain sih Pak Karin sama satu polisi masih berdiri di halaman rumah Pak Karin, kayak nungguin seseorang datang gitu. Lalu, beneran Traffic menghampiri mereka dan minta bicara empat mata sama Pak Karin. Dibolehin dong sama polisinya. Speechless.

Langsung kesimpulan saja deh. Overall, saya tidak puas sama series Blacklist. Sayang banget, premis dan isu yang mau disampaikan sebenarnya cukup menarik. Tapi, plotnya tidak disusun dengan rapi, sehingga banyak plot hole. Detail dan transisi adegan juga banyak yang diabaikan. Beberapa tokoh memiliki karakter yang kurang meyakinkan.


Friday, January 1, 2021

Review Series Thailand The Gifted Graduation

January 01, 2021 0
Review Series Thailand The Gifted Graduation

The Gifted Graduation release tahun 2020. Kalian bisa menontonnya melalui aplikasi Iflix ataupun WeTV. Masih sama dengan season 1 (The Gifted), series ini punya jumlah 13 episode. The Gifted Graduation mengisahkan tentang kelanjutan perjuangan Pang, setelah Program Unggulan sempat ditutup. Pada tahun ajaran baru, Pak Supot kembali membuka Program Unggulan. Namun, Kementerian menolak proposal Pak Supot. Lalu, seorang murid angkatan baru bernama Time—yang memiliki impian untuk bisa masuk Program Unggulan—membuat petisi agar Kementerian mengizinkan SMA Ritdha membuka Program Unggulan. Akhirnya, Program Unggulan dibuka kembali. Mendengar berita tersebut, murid Unggulan angkatan XV tidak mau tinggal diam. Mereka merencanakan sesuatu. (Angkatan XV itu angkatannya Pang.)

The Gifted Graduation
(sumber: mydramalist)

Sejujurnya, saya lebih suka The Gifted daripada The Gifted Graduation. Di season 2 ini saya menemukan potensi plot hole. Plot hole ini bikin ganjalan banget di suatu cerita. Selain itu, peraturan-peraturan yang dimasukkan untuk world building di The Gifted Graduation semakin wow (Aduh, nggak ada kata yang bisa mengekspresikannya). Semua memang terserah sama yang nulis skenario. Ia sah-sah saja memasukkan peraturan yang akan mendukung plot. Namun, ada beberapa hal yang terkesan dipaksakan.

Lingkup permasalahan dalam The Gifted Graduation sudah bukan di sekolah saja, tapi sampai Kementerian, bisa dikatakan nasional. Masalahnya semakin kompleks dan berkembang luas. Banyak tokoh-tokoh baru, seperti Time; Grace; dan Third  yang merupakan murid Unggulan baru. Ada orang baru juga dari Kementerian yang masuk ke lingkungan SMA Ritdha, Bu Darin—yang tentunya bakal membawa masalah baru. Lalu, tokoh Namtaan tidak ambil bagian dalam cerita. Tokoh Namtaan diceritakan pindah sekolah. Ia cuma muncul di akhir episode.

Tokoh Pak Supot semakin menjadi-jadi di The Gifted Graduation. Asli kasihan sama Pang. Emosinya diacak-acak berkali-kali, sampai Pang putus asa. Emosi penonton juga diacak-acak dong. Kesel saya tuh, sampai tidak bisa percaya sama apa pun yang ditampilkan di setiap episode. Pasti bakal ada apa-apanya. Di review The Gifted yang saya tulis (bisa dibaca di sini), saya pernah menyinggung kalau plot twist di The Gifted Graduation 'gila'. Nah itu, hati-hati saja ranjaunya banyak. Kalian tidak akan dibiarkan tenang hingga akhir.

Spoiler alert!

Di season 2 ini Pang dibikin tidak berdaya dan karakternya dibuat goyah. Sesaat sempat tidak sependapat dengan keputusan-keputusan yang diambil Pang, tapi di sisi lain bisa paham juga kenapa ia bersikap gegabah (dengan memercayai Pak Supot). Pak Supot ini karakter yang bahaya banget, manipulatif, jahat. Jadi, Pang harus mengatur strategi baru dengan tidak secara terang-terangan melawan Pak Supot dan Kementerian.

Walaupun sempat putus asa karena gagal terus, tapi Pang tetap bisa bangkit. Ia nyaris lupa, bahwa selalu ada teman-temannya yang bersedia membantunya. Ia tidak harus berjuang dan berkorban sendiri. Meskipun sempat tidak akur dengan teman-temannya, pada akhirnya mereka kembali bersatu.

Di season 2 ini bromance antara Pang dan Wave semakin bikin melting. Saya terkesan dengan kesetiakawanan Wave. Wave menelepon Pang sampai 25 kali saat Pang tiba-tiba menarik diri, walaupun tetap tidak diangkat sama Pang. Ia rela minum NYX 88 (virus yang menginfeksi sel Unggulan) demi menemukan Pang. Di ending cerita ia juga mau masuk ke universitas swasta biar bisa bantu Pang, secara Pang tidak mungkin masuk ke universitas negeri (Pang saja tidak mikirin gimana ujiannya). Tapi, pengorbanan Pang buat teman-temannya juga 'gila'. Ia pasang badan untuk mereka.

Nah, mau sedikit bahas tokoh Grace yang juga jadi kunci cerita. Ada paradoks yang sering bikin bingung dan ini ada kaitannya dengan kekuatan super Grace. Grace bisa berkomunikasi dengan dirinya yang berasal dari masa depan dan dirinya dari masa depan bisa mengambil alih kesadaran Grace. Namun, di akhir episode ada adegan Grace memilih untuk menghilangkan potensinya. Menurut saya itu bakal jadi masalah dan mempengaruhi peristiwa-peristiwa sebelumnya.

Perkembangan potensi Grace tidak lepas dari bantuan Grace dari masa depan. Dirinya dari masa depan itulah yang memanggil Grace. Grace dari masa depan jugalah yang membuat berbagai rencana demi memuluskan rencana Pang dkk. Ia juga sudah mencari berbagai kemungkinan agar hasil akhirnya Pak Supot yang kalah. Ia melatih dirinya untuk bisa menguasai kesadaran Grace di masa lalu. Kalau Grace saja menghapus potensinya, maka Grace dari masa depan tidak akan bisa membantu Pang dkk. Itu serupa dengan temporal paradox atau time travel paradox.

Hal lain yang menimbulkan pertanyaan bagi saya adalah kemampuan Korn dalam mempercepat penyembuhan. Menurut saya itu tidak ada hubungannya sama kemampuannya untuk terjaga selama 24 jam. Itu salah satu peraturan tambahan yang saya singgung di paragraf kedua dan terkesan dipaksakan. Kalau tidak ada peraturan itu, Korn pasti mati setelah melompat dari gedung tinggi. Awalnya pun saya mengira Korn mati. Well, mungkin penulis ingin memberikan keadilan bagi tokoh Korn. Membuat Korn mati pasti terasa kejam (karena sudah banyak kekejaman lainnya). Namun, selalu ada alternatif lain biar alasannya lebih bisa diterima, kan.

Setelah melewati episode-episode dengan cerita yang padat. Ending The Gifted Graduation tidak serta merta melegakan, justru menimbulkan dilema. Pang memiliki beberapa pilihan yang sama-sama berisiko. Pertama, pilihan dari Grace: Tidak boleh ada Unggulan (dengan kata lain setiap kekuatan super harus dihapus). Namun, pilihan dari Grace itu akan berefek juga untuk Grace dari masa depan. Pilihan kedua, menyebarkan audio yang membangkitkan kekuatan super ke seluruh murid. Pilihan tersebut juga gila sih. Kalau kekuatan super dimiliki orang yang tidak bertanggungjawab bisa menimbulkan kekacauan, kan. Tapi, Pang ingin memberikan murid-murid lain pilihan dan kesempatan. Ia tidak mau egois dengan menutup kesempatan bagi mereka (Sejak awal Pang memang humanis). Andai murid tersebut ternyata tidak menyukai potensinya, ia boleh menghapusnya. Contohnya Korn, ia merasa tersiksa memiliki kemampuan terjaga selama 24 jam. Ia ingin bisa tidur nyenyak dan bermimpi.

Setelah tahu ending The Gifted Graduation, saya tidak terlalu berharap akan ada season 3. Lebih tepatnya tidak terbayang akan seperti apa kalau ada season 3. Kalau pun ada season 3, mungkin perjuangan/tujuan tokoh akan berbeda. Dan yang terpenting, saya tidak berharap masih ada Pak Supot.

Comment