MELALUI RUANG

Thursday, May 9, 2019

Tantangan Menulis dari Storial

May 09, 2019 0
Tantangan Menulis dari Storial
Sebulan lalu Storial baru saja mengadakan kompetisi menulis bertema #HappyGirl dengan date line sebulan. Tentu saja saya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk ikut kompetisi tersebut. Dan… Saya berhasil menuntaskan tulisan saya. Yeah! Menyelesaikan tulisan yang saya buat dari nol hingga tamat dalam kurun waktu sebulan itu rekor baru saya. Malahan mungkin tidak sebulan penuh, karena ada hari di mana saya tidak menulis sama sekali.

Rupanya berhasil menyelesaikan tantangan dari Storial sangat membahagiakan (Kenapa saya sebut tantangan, ya karena di luar kebiasaan saya menulis.), terlepas nanti akan menang atau tidak saya tetap bangga dengan apa yang telah saya kerjakan.

Bicara mengenai tantangan, usai kompetisi menulis #HappyGirl Storial memberikan tantangan lainnya dong (Thank you Storial). Kompetisi kali ini bertema #NulisSukaSuka yang berarti penulis bebas mau nulis novel genre dan tema apa saja. Saya menyambut dengan tangan terbuka tantangan kedua, apa lagi nulis suka-suka jadi bisa memanfaatkan draft di laptop. Tinggal edit-edit alur dan periksa ada bolong logika atau tidak.

Kompetisi #NulisSukaSuka ini memiliki batasan kata minimal 25.000 kata, berbeda dengan #HappyGirl yang minimal 30.000. Berarti harusnya kompetisi ini lebih bisa ditaklukan dong ya. Mari lihat akhir bulan Mei nanti. Kalau kalian berminat mengikuti kompetisi menulis Storial bisa klik di sini.

Saya pribadi senang-senang saja ada tantangan nulis dalam waktu mepet gini, jadi lebih greget. Di balik waktu mepet itu sebenarnya kita juga dilatih untuk menulis secara rutin, berpikir cepat untuk menemukan ide, dan mengatur waktu. Kalau sudah ada stok naskah sih beda cerita, tapi jangan bikin santai-santai. Naskah yang sudah selesai juga perlu diedit agar lebih baik.

Cerita sedikit tentang pengalaman saya nulis #HappyGirl bulan April lalu. Itu benar-benar ngebut banget. Jadi saya baru bikin premis, landmark, outline pada tanggal 3 April 2019. Seharian itu benar-benar mikir mau nulis tentang apa, karena mindset saya itu selalu Young Adult yang ceritanya memang lebih berat daripada Teenlit. Akhirnya make it simple lah, saya mau nulis tentang seseorang yang memperjuangkan impiannya. Tema ini memang sudah banyak, tapi tidak pernah membosankan untuk ditulis.

Walaupun sudah bikin outline, menulis tidak selalu berjalan dengan lancar. Tanggal 21 April 2019 saya masih sampai bab 9. Lalu saya sadar kalau alur cerita #PaintYourHeart terlalu cepat, jadi di tengah-tengah nulis saya tambah sub plot baru dan narasi penjelas ditambahi. Awalnya memang narasi penjelas yang saya bikin kurang banget. Saya memang lebih mengandalkan dialog.

Dari tanggal 21 ke 30 April itu cuma 9 hari dan bab yang belum dibikin ada 17 bab, karena rencana awal mau nulis 26 bab tapi akhirnya jadi 25 bab saja. Tadinya antara yakin atau tidak 9 hari bisa selesai. Kalau dihitung-hitung setidaknya sehari harus bikin 1-2 bab belum juga self editing, apa lagi sekarang saya nulisnya tidak sengebut dulu. Alhasil target tersebut gagal dan yang tadinya sehari harus nulis 1-2 bab berubah jadi 2-3 bab perhari. Karena saya tidak mau menyerah jadi tetap saya bela-belain nulis hingga dini hari (Banyak hal jadi terabaikan seperti cucian dan waktu mandi bahkan urusan perut.). Makanya setelah berhasil selesai saya merasa senang dan lega, akhirnya tantangan pertama berhasil dituntaskan.

Kalau kalian mau baca tulisanku di Storial bisa lihat di sini ya. Jangan lupa tinggalkan komentar. Thank you.

Tuesday, May 7, 2019

Review dan Breakdown Film 27 Steps of May

May 07, 2019 0
Review dan Breakdown Film 27 Steps of May
Kalian harus nonton 27 Steps of May sebelum turun layar, jangan cuma nonton The Avengers: End Game dong. Pesan yang dibawakan oleh film ini deep banget dan penyajiannya berbeda sekali dari film-film pada umumnya. Film yang minim dialog, tapi setiap gerak-gerik memiliki arti. Ada juga hal-hal simbolis yang dimasukkan dalam film ini menjadikannya lebih sempurna. I can't stop saying that I really love this movie.


Film berdurasi 1 jam 52 menit ini berkisah tentang seorang perempuan bernama May (diperankan oleh Raihaanun) yang mengalami trauma berat pasca pemerkosaan yang terjadi ketika dia berusia 14 tahun. Sementara itu Ayah May (Lukman Sardi) mengalami kesedihan mendalam, karena tidak bisa melindungi putrinya. Dia terus menyalahkan diri sendiri dan melampiaskan emosinya melalui tinju.


Film 27 Steps of May sudah keliling di berbagai festival film di dunia dan menyabet tiga penghargaan, yaitu film terbaik Golden Hanoman Award, film panjang Asia terbaik NETPAC Asian Film Festival, dan Film Festival Tempo 2018 untuk dua kategori yaitu penulis skenario pilihan Tempo (Rayya Makarim) dan aktris pilihan Tempo (Raihaanun). Tidak heran karena film ini memang bagus sekali. Akting Raihaanun dan Lukman Sardi juga juara. Para aktor meniupkan jiwa ke dalam para tokoh, lalu mengirimkan perasaan mereka kepada penonton.


Meskipun film 27 Steps of May minim dialog tapi tidak menjadikannya membosankan. Mimik dan gerak-geriknya itu memang menjadi peran utama dalam penyampaian pesan film ini. Saya seperti ikut merasakan kesedihan yang mendalam pada tokoh May dan Bapak. Beberapa bagian membuat saya berkaca-kaca, miris, tidak tega; tapi pada akhirnya lega dan saya bisa tersenyum.


Breakdown Film 27 Steps of May

Saya akan melakukan breakdown alur cerita 27 Steps of May secara singkat, menurut versi saya tentunya. Tenang ini tidak akan spoiler kok.


Menurut saya film ini menggunakan format five stages of grief yang digagas oleh Elisabeth Kübler-Ross. Saya mengenal istilah ini waktu membaca salah satu syarat lomba novel, tapi lupa penerbit apa yang mengadakan. Lalu saya cari tahu apa sih five stages of grief. Five stages of grief bisa dikatakan sebagai fase-fase seseorang bangkit dari kesedihan mendalam yang mereka alami. Fase-fase tersebut adalah denial (penyangkalan), anger (kemarahan), bargaining (tawar-menawar), depression (depresi), acceptance (penerimaan). Sebenarnya ada juga the sixth stage of grief yang digagas oleh David Kessler. Fase keenam menurut David adalah finding meaning atau menemukan arti.


Denial: pada fase ini korban dan keluarga berusaha bertahan akan rasa sakit, kehilangan, kesedihan yang mereka alami; tapi dunia sudah tidak berarti lagi bagi mereka. Mereka terus bertanya-tanya bagaimana mereka akan bertahan dan untuk apa mereka bertahan.
Anger: kemarahan termasuk dalam proses penyembuhan. Jika pada denial, korban benar-benar menarik diri dari koneksi mereka dengan orang-orang sekitar, maka kemarahan adalah jembatan bagi korban kepada orang-orang sekitar.
Bargaining: pada fase tawar-menawar ini korban ingin kembali ke awal mula, ingin memperbaiki semuanya, tapi it happens; semuanya sudah terjadi tidak ada yang bisa diubah. Pada fase ini juga korban bisa menyalahkan diri sendiri. Dia menganggap bahwa harusnya dia bisa melakukan yang lebih baik.
Depression: setelah memikirkan masa lalu dan mengandai-andai, maka korban akan fokus pada masa kini, ketika mereka mulai merasakan kesedihan yang sangat dalam hingga seolah-olah kesedihan itu akan tinggal bersamanya selama-lamanya.
Acceptance: Pada akhirnya korban dapat menerima kenyataan atas kejadian yang dia alami, walaupun bukan berarti dia baik-baik saja. Namun pada fase penerimaan ini dia akan berusaha untuk menjalani kehidupan barunya dan menjalin koneksi dengan orang lain.


Kehidupan May setelah peristiwa pemerkosaan itu benar-benar kacau sampai dia menarik diri dari masyarakat. Menerima kenyataan kalau dia telah diperkosa itu sangat sulit, apalagi untuk melanjutkan hidup. Rasanya dunia runtuh dan segalanya tidak berarti. Bukan hanya korban, tapi keluarga pun tidak luput dari rasa sakit, kekecewaan, dan penyesalan. Jadi bisa dibilang ada dua korban.


Awalnya saya bertanya-tanya akan angka 27 yang digunakan pada judul, karena film ini terinspirasi dari kerusuhan rasial terhadap etnis Tionghoa pada Mei 1998 saya pikir itu merujuk pada tanggal 27 Mei tapi ternyata bukan. Mungkin 27 memang tahapan penyembuhan May dari peristiwa mengerikan yang dia alami. Yah tapi 27 langkah itu apa saja saya tidak sempat catat ya. Bagi saya five stages of grief sudah cukup mewakili healing process-nya May lah.


Ok itulah ulasan saya tentang film 27 Steps of May, sudah cukup memberikan pandangan ke kalian untuk nonton film ini kan? Jangan lupa tinggalkan pesan di kolom komentar.


Quotes: “Bukan salah Bapak.”

Sunday, May 5, 2019

Cari Tahu Film Release 2019 yang Menarik

May 05, 2019 0
Cari Tahu Film Release 2019 yang Menarik

Sudah nyaris pertengahan tahun dan banyak trailer film baru, tapi tidak semuanya membuat saya impress. Kali ini saya review sedikit film apa yang sangat saya tunggu di tahun 2019.

The Addams Family Animasi

Saya sudah nonton film lawas The Addams Family (1991) yang main Christina Ricci itu. Dan… suka sekali sama film itu. Terus jadi ngefans juga sama Wednesday Addams. Ketika lihat teaser The Addams Family versi animasi di Instagramnya Finn Wolfhard saya histeris (Ok itu berlebihan). Langsung cari tahu dong tentang salah satu film favorit saya ini. Kabarnya film ini akan mulai diputar di US 11 Oktober 2019 (Masih lama banget ya), untuk Indonesia belum tahu kapan.
Karakter-karakter dalam film animasi 3D ini akan diisi oleh sejumlah artis kenamaan, seperti Charlize Theron yang mengisi suara Morticia Addams, Oscar Isaac mengisi suara Gomez Addams, Finn Wolfhard mengisi suara Pugsley Addams dan Chloë Grace Moretz mengisi suara Wednesday Addams.
The Addams Family bercerita tentang keluarga Addams yang kehidupannya berusaha diungkap oleh seorang pembawa acara reality TV yang licik. Sementara itu keluarga Addams juga sedang mempersiapkan suatu perayaan dengan keluarga besarnya. Nah apakah kehidupan aneh keluarga Addams akan terkuak? Masih nunggu sampai bulan Oktober.

Gundala

Merinding waktu nonton trailernya Gundala. Keren banget! Ditambah lagu The End of The World yang dinyanyikan oleh The Carpenters menguatkan suasana kelamnya.
Film Gundala ini diadaptasi dari komik dengan judul Gundala Putra Petir. Buat pecinta komik Indonesia pasti Gundala sudah tidak asing lagi, tapi bagi saya cukup asing karena memang kurang kenal dengan komik Indonesia (Gini nih kebanyakan baca manga.). Komik Gundala yang dibuat oleh Harya Suraminata tersebut terbit pertama kali tahun 1969 (Saya belum lahir hahaa).
Film Gundala yang disutradarai oleh Joko Anwar--sekaligus sebagai penulis skenario--ini akan release 22 Agustus 2019. Film ini berkisah tentang Sancaka diperankan oleh Abimana Aryasatya yang memiliki kekuatan petir karena tersambar petir.
Menurut trailer Gundala, tampaknya cerita dimulai dengan kekacauan, demo, dan perusakan karena ketidakadilan pemerintah. Ada juga flashback beberapa karakter ketika mereka masih kecil. Yang satu flashback Sancaka ketika kecil dan yang lain flashback seorang anak kecil yang wajahnya rusak separo. Kemungkinan si anak kecil dengan wajah rusak tersebut akan menjadi musuh Gundala di kemudian hari, yang dikenal dengan nama Pengkor. Ada hal lain yang saya tangkap dari trailer, bahwa pahlawan dan penjahat bisa terbentuk karena rasa sakit di masa lalu.
Saya percaya cerita dan karakter Gundala ini kuat, jadi visual effect tidak jadi masalah. Meskipun hanya dengan lihat trailernya bagi seorang awam seperti saya efek filmnya itu sudah bagus banget. Nuansa kelam juga terasa sekali. Semoga film ini akan jadi salah satu film yang sukses tahun ini. Can't wait to watch.

MIB: International

Saya sudah mengikuti film MIB dari film pertama sampai ketiga dan selalu suka. Film terakhir release tahun 2012, jaraknya memang jauh dengan MIB: International. Tidak menduga juga akan ada spin offnya. Film MIB: International ini berdurasi 1 jam 58 menit akan release pada 14 Juni 2019 mendatang.
Cuma kali ini di film MIB: International tidak ada Will Smith, malah Thor eh maksudnya Chris Hemsworth. Chris Hemsworth sebagai agen H dan rekannya Tessa Thompson sebagai agen M merupakan agen rahasia dari London yang memecahkan kasus penyerangan oleh alien di berbagai belahan dunia.
Dilihat dari trailer film MIB: International cukup menjanjikan, aksi dan komedinya I can feel it. Lalu adegannya tentu lebih kaya, karena mereka pergi ke berbagai negara. Harapannya banyak hal menarik dari film ini.

Baiklah itu dulu gambaran film yang saya nantikan. We'll see kalau ada trailer lain yang muncul dan terlihat menjanjikan. Sebenarnya film Death on the Nile juga termasuk yang sangat saya nantikan, tapi dengar-dengar waktu tayangnya mundur jadi tahun 2020. Saya sudah baca novel Death on the Nile yang ditulis oleh Agatha Christie, jadi tambah excited ketika akan diadaptasi menjadi film. Apa lagi dengar-dengar yang jadi Linnet Ridgeway adalah Gal Gadot. Memang di novelnya digambarkan bahwa Linnet itu wanita yang cantik dan menawan. (Eh malah jadi bahas banyak Death on the Nile.)
Jangan sungkan untuk share di kolom komentar film yang sangat kalian nantikan di tahun 2019. Siapa tahu bisa jadi rekomendasi untuk saya.

Thursday, April 4, 2019

Challenge Myself! Ikut Lomba Nulis HappyGirl

April 04, 2019 2
Challenge Myself! Ikut Lomba Nulis HappyGirl
Ini ada apa sih pada ngomongin Happy Girl? Itulah yang terlintas di benak saya waktu berselancar di Twitter atau baca grup Whatsapp. Langsung klik URL yang dibagi sama teman deh. Oh ternyata Storial lagi mengadakan lomba menulis Teenlit yang temanya Happy Girl. (Yang mau tahu info lebih lanjut tentang lomba menulis Storial bisa klik di sini )

Sejujurnya setelah baca aturannya saya mikir keras seharian, cuma untuk menemukan ide yang pas. Disebutkan juga selain tema Happy Girl, novel tersebut juga harus mengandung moral value yang mencerdaskan generasi muda. Jadi tidak melulu cinta cintaan. Novel Teenlit memang ringan, tapi bagi saya ini tantangan besar.

Pertama, novel ini harus diselesaikan selama sebulan. Seingat saya, saya belum pernah nulis novel sampai tamat hanya dalam waktu sebulan. Ditambah lagi saya acak-acak draft di laptop dan tidak ada tema yang nyangkut. Otomatis saya harus nulis dari awal, bikin premis, menentukan opening-closing, landmark, subplot, terus dirangkai jadi outline. Masih memeriksa ada keanehan tidak, kadang kan saya gesrek alurnya suka berantakan, hahaha…

Kedua, tema Happy Girl yang berarti tokoh itu harus ceria, memiliki aura positif, apa lagi ini Teenlit berarti harus remaja banget. Sementara itu, saya kan kalau bikin cerita ada saja gitu sentuhan creepy-nya (Ya kan saya suka misteri dan horor) atau bikin konflik yang lumayan berat (Terus kesasar sendiri). Serba bertolak belakang pokoknya. Selain itu karena saya sudah tidak remaja lagi takutnya jadi kurang luwes dalam menyampaikan cerita.

Namun justru tantangan-tantangan tersebut yang membuat saya ingin terus maju, menantang diri saya keluar dari zona nyaman. Banyak kok yang bisa nulis novel sebulan selesai, kenapa saya tidak? Banyak juga yang bisa nulis novel Teenlit yang tidak hanya ringan tapi juga mengandung pesan moral, kenapa saya tidak?

Jadi saya putuskan untuk ikut kompetisi menulis yang diadakan Storial dan Nulis Buku. Sayang banget kan lomba menulis sekece ini dilewatkan, apa lagi jika menang bisa mendapat kesempatan novel diterbitkan. Ini sih yang saya incar, karya saya bisa diterbitkan.

Mari ramaikan kompetisi menulis ini kalian yang memiliki impian menjadi penulis. Jangan cuma simpan karya di komputer untuk diri kalian sendiri. Sudah banyak platform menulis online sebagai wadah, silakan diupload di sana. Dan, jangan lupa mampir ke cerita saya: Paint Your Heart

Kasih komentar kalian, kalau suka dikasih bintang, syukur-syukur disubscribe. Thank you.

Monday, April 1, 2019

Review Novel Gramedia A Sweet Mistake

April 01, 2019 0
Review Novel Gramedia A Sweet Mistake
29 Maret 2019 pukul 19:37 baru saja selesai membaca A Sweet Mistake
Penulis: Vevina Aisyahra
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 248
Tahun terbit: 2017

Bagi Liona, Rey adalah mahasiswa abadi yang selalu sentimen kepadanya, cowok yang tidak punya masa depan. Rey hanya beruntung karena memiliki keluarga kaya. Sementara bagi Rey, Liona adalah tetangga pembawa sial. Gadis tanpa ekspresi yang sok cool dan menyebalkan.

Suatu hari Rey mendapat ide cemerlang untuk mengerjai Liona. Rencana itu dianggapnya akan menjadi tebusan paling manis atas rasa tidak sukanya selama ini. Dan Liona berhasil masuk ke dalam perangkap yang dibuat Rey. Namun, benang takdir punya rencana lain. Tidak hanya Liona, tapi Rey juga terperangkap. Tidak bisa menolak. Akankah hal tersebut membawa keduanya pada akhir yang bahagia? Atau malah menjadi kehancuran bagi keduanya?

Begitulah kira-kira sinopsis yang ada di sampul belakang buku.

Novel terbitan Gramedia a Sweet Mistake adalah pemenang ketiga Gramedia Writing Project batch 3
Novel a Sweet Mistake ©

A Sweet Mistake adalah novel young adult jebolan Gramedia Writing Project batch 3. Novel ini menjadi juara tiga pada kompetisi menulis tersebut. Tidak heran jika novel ini menang, karena menurut saya penulisannya rapi dan karakternya memiliki perkembangan. Gaya bahasa yang digunakan dalam novel ini sederhana tapi enak dibaca. Bagi saya tidak masalah mau gaya bahasa sederhana, unik, indah; tapi yang penting bisa membawa pembaca masuk ke cerita.

Saya suka alur cerita di A Sweet Mistake, tidak bertele-tele. Semua sesuai porsinya. Ceritanya juga berkembang dengan baik. Ada beberapa bagian cerita yang bikin saya ngakak, ada juga yang menyentuh hati. Pokoknya menghiburlah baca A Sweet Mistake.

Karakter utama, Liona dan Rey digambarkan dengan baik. Mereka memiliki warna yang berbeda. Kalau ditanya karakter favorit saya di novel A Sweet Mistake siapa, mungkin Rey. Dia memiliki perkembangan yang baik, bukan berarti Liona tidak ya. Ya bisa dibayangkan Rey itu kan selalu dimanjakan, apa pun yang dia butuhkan selalu ada, itu membuat dia tumbuh menjadi sosok yang effortless. Tapi dia bisa berubah karena keadaan itu cukup drastis menurut saya.

Jadi itu tadi pendapat saya tentang novel A Sweet Mistake. Kalau kalian ingin santai dan tidak ingin bacaan yang berat maka novel ini adalah pilihan yang tepat.

Silakan share rekomendasi novel bagus menurut kalian di kolom komentar.

Saturday, March 30, 2019

Melawan Writer's Block

March 30, 2019 0
Melawan Writer's Block

Cara Mengatasi Writer's Block

Siapa sih yang tidak pernah mengalami writer's block, mostly orang-orang yang melakukan kegiatan menulis pasti pernah mengalami ini. Termasuk saya. Saya akan membagikan bagaimana cara saya mengatasi writer's block yang datangnya tidak sekali dua kali. Beberapa cara mungkin bisa berhasil atau tidak bagi kalian, semuanya kembali ke individu masing-masing.


Mencari Suasana Baru
Kadang jika tempat kerja kita di situ-situ saja terus akan muncul rasa jenuh yang mungkin bisa berakibat pada kinerja saat menulis. Saya sempat mencoba untuk menulis di tempat lain, misalnya kedai kopi atau yang sederhana ubah saja lokasi menulis yang ada di rumah. Tadinya menulis di meja kerja bisa pindah ke ruang tengah, ruang tamu, atau teras. Iya sesimpel itu. Intinya mencari suasana baru yang nyaman.


Membaca
Sudah dipaksa-paksa mau nulis tapi tetap tidak bisa, berhenti dulu. Saya sendiri bisa melakukan banyak aktivitas lain, salah satunya membaca buku. Mengingat membaca buku juga bisa menambah kosa kata, kita juga bisa membedah buku yang kita baca. Dari situ siapa tahu kita menemukan trik untuk menulis. Tidak hanya membaca buku, kalian juga bisa membaca artikel-artikel di internet. Bisa jadi kalian menemukan ide, lalu bisa lanjut menulis lagi.


Menonton Film
Ini refreshing banget, tapi jangan keterusan tulisannya dianggurin kelamaan kan kasihan dia penginnya diapelin (Ya ampun joke-ku receh). Seperti membaca, menonton juga bisa membantu kita menemukan inspirasi yang mungkin diperlukan untuk tulisan kita. Nonton film-film komedi juga bisa menghilangkan stress yang ditimbulkan karena tak kunjung menemukan ide untuk menulis atau stuck.


Melakukan Hobi Lain
Selain membaca dan menonton film kalian bisa melakukan hobi lainnya, contohnya olahraga, menggambar, memasak, mendaki gunung, dll. Kalau saya pribadi paling menggambar, walaupun tidak jago tapi lumayan membuat recharge pikiran buat nulis. Kadang olahraga dan masak juga. Paling suka olahraga badminton atau naik sepeda keliling kompleks.


Mengingat Kembali Komitmen Awal
Apa tujuan kalian menulis? Ingat itu baik-baik. Cuma mau ikut-ikutan orang lain atau karena memang suka nulis dan ada impian yang menunggu untuk diwujudkan. Kalau kalian tidak memiliki alasan kuat, coba merenung dulu deh. Saya memiliki impian untuk menjadi penulis fiksi, jadi kalau ada kompetisi saya berusaha untuk selalu berpartisipasi. Ok minimal saya punya rencana dan naskah. Nah tinggal prosesnya saja gimana. Tentu writer's block kadang mampir. Saya mengingatkan kembali pada diri saya, “Pokoknya saya harus ikut kompetisi ini!”. Walaupun hasilnya tidak seperti yang saya harapkan, at least saya menyelesaikan naskah saya. Saya bisa melatih diri saya untuk rutin menulis. Saya bisa belajar dari kesalahan, lalu memperbaiki tulisan saya.


Diskusi Bersama Teman
Memotivasi diri sendiri mungkin sulit atau tidak selalu berhasil, nah saatnya kalian membutuhkan bantuan orang lain. Kalian bisa hangout bareng teman ngobrol banyak hal dari a sampai z. Melalui interaksi dengan teman ketegangan dalam diri kalian bisa hilang. Teman kalian mungkin bisa memberikan inspirasi ataupun semangat.


Kira-kira itu hal-hal yang biasanya saya lakukan untuk mengatasi writer's block. Saya bisa mengatasi writer's block, kalian pasti juga bisa. Jangan menyerah atau berpikir tidak bakat menulis, tetaplah menulis. Orang bisa menjadi pro itu karena latihan.


Jangan lupa tinggalkan komentar, komentar kalian sangat berarti buat saya. Terima kasih telah berkunjung.

Sunday, March 24, 2019

Akhir dari The Umbrella Academy season 1

March 24, 2019 0
Akhir dari The Umbrella Academy season 1
The Umbrella Academy ini memang menjadi salah satu TV series Netflix yang digandrungi banyak orang, selain Stranger Things tentunya. Sebelumnya saya sudah posting rangkuman The Umbrella Academy episode 1 sampai 4, kali ini saya tidak akan merangkum satu per satu episode sisanya, tapi langsung keseluruhan.

Spoiler alert!

Waktu Menjadi Kunci

Waktu memang menjadi sesuatu yang relatif di season 1 ini. Menurut saya Five mengambil peran cukup banyak (And I love it!), tentu karena ia bisa menjelajah waktu. Di episode 4 diketahui Klaus mengambil koper Hazel dan Cha Cha. Klaus membuka koper tersebut dan tanpa sengaja ia menjelajah waktu. Padahal Klaus belum pergi lama, tapi ia mengaku pada Five kalau ia sudah menjelajah waktu selama setahun. Ok ok waktu itu relatif.

Hazel dan Cha Cha mungkin adalah musuh Five, tapi musuh sebenarnya adalah The Handler. The Handler ini semacam pimpinan di suatu organisasi, saya kurang yakin juga kalau bakal ada pimpinan yang lebih tinggi lagi. Ia dan organisasinya itu mencegah terjadinya perubahan menyimpang pada jaring-jaring waktu. Intinya sih The Handler selalu bilang apa yang terjadi harus terjadi, termasuk kiamat. Tidak boleh ada yang mencegahnya. Five bisa sangat membantu organisasi sekaligus menjadi ancaman untuk The Handler. (Kalau lihat The Handler jadi ingat ibunya Hannah Baker 13RW, yang jadi Kate Walsh juga.)

Five tentu akan mencegah kiamat. Ia berusaha mencari seseorang yang akan bertanggungjawab atas terjadinya kiamat. Apa pun yang terjadi orang itu harus dibunuh. Di sini lah kekacauan waktu terjadi. Five yang kembali bekerja di organisasi tertangkap basah mencari informasi tentang kiamat. Ia berhasil lolos dan meledakkan organisasi sebelum pergi.
Selepas organisasi The Handler meledak, waktu di dunia klasik Five dan saudara-saudaranya pun jadi diatur ulang. Sedikit bosan sih karena ada beberapa adegan diulang. Apa lagi adegan Vanya sama Leonard yang di rumahnya Mr. Hargreaves.

Kalau sudah main-main waktu gini antara harus memerhatikan dengan seksama agar tidak bingung atau bosan karena beberapa adegan sama. Apalagi kalau sudah ada sangkut pautnya sama paradoks waktu harus dipahami benar-benar. Untung sih ini belum ada tanda-tanda munculnya paradoks.

Perkembangan Karakter

Saya suka dengan perubahan Klaus saat kembali setelah penjelajahan waktunya, ya sebenarnya kasihan juga sama Klaus. Tapi ia jadi lebih sadar kalau saya kira. Ia bisa memaksa dirinya sendiri untuk tidak mengonsumsi obat-obatan atau alkohol, walaupun tidak selalu berhasil. Tapi jangan khawatir Klaus tetap menjadi Klaus yang ngeselin.

Ada karakter-karakter yang berkembang dengan baik, ada juga karakter yang jadi nyebelin. Yah namanya cerita, tidak semuanya harus bagus-bagus. Saya memang tidak terlalu suka karakter Luther, tapi saya lebih tidak suka lagi dengan karakter Vanya. Dari episode ke episode kedua karakter tersebut jadi nyebelin. Ini nyebelinnya beda sama Klaus. Kalau Klaus itu nyebelin tapi kocak, suka benar juga kalau ngomong.

Well, akhirnya di episode pertengahan hingga akhir kemampuan Vanya dan Ben ditunjukkan. Jujur saja saya cukup terkejut saat Vanya menyerang Allison. Saya pikir Allison akan mati, untung tidak. Saya akan sangat kecewa kalau karakter Allison dimatikan begitu saja.

Ben akhirnya memiliki panggung. Yes! Saya selalu suka cara Ben mendorong Klaus untuk jadi lebih baik. Interaksi mereka di akhir episode pun mengejutkan.

Bagaimana dengan Diego? Diego memang anaknya Mom, paling sayang ia sama robot satu itu. Mungkin karena kurang kasih sayang dari Mr. Hargreaves, lalu Mom yang selalu ada untuknya. Saya jadi menyesal mencurigai Diego, hahaha…

Akhir dari The Umbrella Academy

Seperti yang sudah dikatakan The Handler, apa yang terjadi harus terjadi. Walaupun Five dan saudaranya menemukan faktor penyebab kiamat sudah tiada, kiamat tetap akan terjadi. Faktor itu berpindah. Pada akhirnya kiamat terjadi. Berbekal kemampuan Five, ia berusaha menyelamatkan saudara-saudaranya dengan mengajak mereka menjelajah waktu.

Iya, itulah akhir The Umbrella Academy season 1. Masih banyak teka-teki dan TV series ini memang akan dilanjutkan ke season 2. Kalau menurut komik vol. 2 yang berjudul Dallas, tentu season 2 akan fokus pada isu di masa lalu. Namun berdasarkan beberapa review yang saya baca, orang-orang justru berspekulasi season 2 akan lebih fokus ke cerita yang ada di komik vol. 3 yaitu Hotel Oblivion. Karena season 1 sendiri merupakan gabungan komik vol. 1 dan setengah komik vol. 2.

Saya belum baca semua komiknya (Jadi pengin dong ya, sad.), tapi ada yang menyebutkan komik vol. 2 terlalu sensitif karena mengangkat cerita kematian John F. Kenedy. Ok, terlepas nanti season 2 akan lebih mengupas komik vol. 3 tidak akan menjadi masalah bagi saya (Ya kan karena saya belum baca komiknya, jadi santai.).

Ada beberapa spekulasi yang muncul di benak saya tentang season 2 ini. Di season 1 The Handler mati, ditembak sama Hazel. Tapi jika di akhir cerita Five pergi menjelajah waktu, kemungkinan kembali ke masa lalu maka The Handler masih hidup. Bisa jadi The Handler akan tetap menjadi musuh Five.

Kemungkinan setting lokasinya season 2 di Dallas. Ketika itu Five yang sudah tua memang sedang tugas di Dallas. Saya takut saja kalau kembali ke masa lalu nanti Five jadi tua. Please jangan! Saya sengaja tidak cari spoiler komiknya. Makanya soal usia Five masih menjadi tanda tanya bagi saya.

Saya lebih suka sosok Five yang diperankan oleh Aidan Gallagher, sengaknya dapat, tampang pintarnya dapat, poker facenya itu luar biasa. Tidak siap jika Five kembali menjadi tua.

Karakter Vanya pun juga masih bisa berkembang di season 2 nanti, menjadi buruk atau menjadi lebih baik. Harapan saya sih ia jadi lebih baik.

Saya kira permainan waktu akan tetap mendominasi di season 2 nanti. Yang jelas saya sangat menantikan season 2. Gimana kalian juga berniat nonton season 2 atau malah belum nonton season 1? (Ups kena spoiler dong kalau belum nonton season 1)

Jangan sungkan untuk meninggalkan pendapat di kolom komentar.

Comment