MELALUI RUANG

Saturday, February 6, 2021

Cara Menulis Premis Cerita Fiksi

February 06, 2021 0
Cara Menulis Premis Cerita Fiksi
Sebelum mengikuti kelas skenario, saya tidak pernah menulis premis untuk setiap naskah cerita yang salah tulis. Semua cuma berangkat dari ide kasar. Bahkan tidak pernah memetakan dan bikin outline cerita. Tapi, buat saya yang suka ngada-ngada kalau bikin cerita, premis dan outline itu jadi penting, karena bisa digunakan sebagai patokan sekaligus pagar. Selain itu, belakangan ini banyak lomba menulis novel yang mengharuskan mencantumkan premis.

Menurut KBBI premis adalah apa yang dianggap benar sebagai landasan kesimpulan; dasar pemikiran; alasan, asumsi, dan bisa disebut sebagai kalimat atau proposisi yang dijadikan dasar penarikan kesimpulan di dalam logika. Kalau sederhananya menurut saya, premis itu bentuk singkat yang memuat garis besar dari cerita yang kita tulis (lebih singkat dari sinopsis).

Menulis premis ini susah menurut saya, karena kita harus bisa menulis satu kalimat yang menggambarkan keseluruhan cerita. Tapi kalimat itu harus menarik dan mampu membuat editor tertarik dengan cerita yang kita tulis.

Sebenarnya ada banyak versi cara menulis premis. Tapi saya akan membagikan cara menulis yang biasa saya lakukan dan cara ini saya dapatkan dari kelas-kelas menulis yang pernah saya ikuti. Pada dasarnya, premis berisi tokoh yang memiliki tujuan, tapi terhalang oleh sesuatu, lalu tokoh melakukan tindakan agar menemukan penyelesaian masalah.

Contoh:
  1. Nia (tokoh) sangat ingin memenangkan kompetisi menyanyi (tujuan), tapi rivalnya berbuat curang dan memfitnah Nia (halangan), lalu Nia berusaha mengungkapkan kebenaran (tindakan) agar dia bisa kembali berkompetisi dan menang (penyelesaian).
  2. Sekelompok hewan ternak (tokoh) sangat menginginkan kesetaraan dan kebebasan (tujuan), tapi pemilik peternakan amat berkuasa dan jahat (halangan), lalu mereka berusaha mengusir pemilik peternakan (tindakan), agar mereka bisa mendapat kehidupan yang setara dan bebas (penyelesaian).

Perlu diingat, tujuan tokoh mesti jelas dan jangan terlalu general. Dulu saya pernah menulis tujuan yang terlalu abstrak, misalnya: "ingin hidup bahagia", "ingin kehidupannya lebih baik", "ingin memperbaiki nasib". Lalu, halangan tokoh bisa bermacam-macam, tidak cuma dalam bentuk tokoh antagonis, tapi bisa suatu keadaan yang menghalangi. Dan, resolusi atau penyelesaian itu tidak sama dengan tokoh berhasil mencapai tujuan. Misalnya, resolusi tokoh di contoh premis 1 adalah bisa kembali berkompetisi dan menang. Nah, bisa saja nanti di cerita dituliskan ternyata Nia bisa berkompetisi kembali, tapi dia tetap tidak menang.

Kurang lebih begitu cara menulis premis. Yang terpenting setelah mengetahui teorinya adalah rajin berlatih menulis premis. Bisa juga coba membuat premis dari novel yang sudah terbit.

Monday, February 1, 2021

Review Drama Korea Class of Lies

February 01, 2021 0
Review Drama Korea Class of Lies
Drama Korea Class of Lies release pada tahun 2019 dan terdiri dari 16 episode dengan durasi setiap episode sekitar 1 jam. Drama bergenre kriminal ini berkisah tentang seorang murid bernama Kim Han Su yang dituduh membunuh teman sekolahnya, Jung Su Ah. Lalu seorang pengacara terkenal bernama Gi Mu Hyeok menangani kasus Kim Han Su, karena disuruh atasannya. Awalnya Mu Hyeok hanya disuruh atasannya untuk membela Han Su agar hukumannya diringankan. Tapi, Han Su bersikeras bahwa dia tidak membunuh Su Ah. Lalu, Mu Hyeok menemukan ada rahasia gelap tersembunyi. Dia pun berbalik percaya bahwa Han Su tidak bersalah dan tidak mematuhi perintah atasannya. Hal itu pun menjadi awal keributan lainnya. Mu Hyeok difitnah, lalu dipecat dan lisensi pengacaranya dicabut. Gara-gara hal itu Mu Hyeok ingin balas dendam kepada atasannya. Dia pun memutuskan untuk menyamar menjadi guru di sekolah Su Ah dan mulai menyelidiki kasus kematiannya.

Tokoh-tokoh di Class of Lies

Tokoh di drama Korea Class of Lies ini banyak banget dan itu juga yang bikin ceritanya semakin kompleks. Tokoh utamanya tentu saja si pengacara Gi Mu Hyeok yang diperankan oleh Yoon Kyun San. Mu Hyeok adalah seorang pengacara yang mengutamakan kemenangan atau setidaknya dia harus mendapatkan keuntungan besar dari kasus yang dia tangani. Namun, kasus Han Su membuatnya banyak berubah. Setelah dipecat dari firma hukum Songak, Mu Hyeok bersikeras untuk mengungkap kebenaran di balik kematian Su Ah dengan menyamar menjadi guru di SMA Cheonmyung.

Guru Ha adalah wali kelas Han Su yang percaya bahwa Han Su tidak membunuh Su Ah. Dia memiliki kepedulian dan tekad yang kuat untuk melindungi murid-muridnya. Bahkan dia berani menentang Bu Jun, Kepala Administrator yang semena-mena. Pada akhirnya setelah mengetahui identitas Mu Hyeok, dia memutuskan untuk membantu Mu Hyeok.

Cha Hyun Jung adalah jaksa yang menuntut Han Su untuk dihukum 20 tahun penjara, sekaligus teman sekampus Mu Hyeok dulu. Namun setelah menemukan kejanggalan pada kasus pembunuhan itu, dia berniat menemukan kebenaran. Dia juga pada akhirnya bekerja sama dengan Mu Hyeok untuk membongkar kejahatan lain di balik kematian Su Ah.

Yu Beom Jin adalah murid di SMA Cheonmyung yang pernah berteman dengan Su Ah. Dia adalah bagian dari Veritas Club yang berisi murid-murid berpengaruh di sekolah. Karakter Beom Jin ini datar, tidak mudah dibaca, tampak tenang, cerdas dan manipulatif; sampai-sampai dia bisa mempengaruhi teman-temannya. Jujur saja Beom Jin adalah tokoh yang menurut saya paling menyebalkan, selain Lee Tae Seok. Beom Jin pikir, dia bisa memperbaiki semuanya, tapi sebenarnya dia sedang mengacaukan segalanya.

Lee Gi Hoon juga bagian dari Veritas Club adalah anak dari atasan Mu Hyeok. Dia menyukai Su Ah, tapi cintanya bertepuk sebelah tangan. Dia memiliki hobi mengambil gambar menggunakan kamera film dan bertanggung jawab terhadap klub fotografi. Gi Hoon memiliki tabiat sok berkuasa, lumayan temperamental, bersikap memberontak. Namun, tokoh Gi Hoon adalah salah satu yang saya sukai perkembangan karakternya.

Han Tae Ra (member Veritas Club) adalah murid yang memiliki prestasi dan kegiatan sosial di luar sekolah. Dia menaruh perasaan kepada Beom Jin. Saat dia melihat Beom Jin tampak dekat dengan Su Ah, dia merasa cemburu dan mulai merundung Su Ah. Padahal awalnya dia berteman baik dengan Su Ah. Tae Ra memiliki karakter yang angkuh dan manja.

Na Ye Ri (member Veritas Club) adalah calon idol yang memiliki tabiat buruk. Dia mengelola suatu aplikasi yang hanya bisa diakses oleh murid-murid di SMA Cheonmyung. Di dalam aplikasi itu berbagai skandal dan gosip ditayangkan, termasuk skandal foto Su Ah.

Kim Han Su adalah teman masa kecil Su Ah. Dulu mereka tinggal di panti asuhan, sebelum akhirnya Su Ah diadopsi. Han Su terkenal pembuat masalah. Dia suka berkelahi dengan murid dari sekolah lain dan membolos. Pada akhirnya dia ingin berubah demi Su Ah.

Jung Su Ah awalnya berteman baik dengan Beom Jin, Gi Hoon, Tae Ra, dan Ye Ri. Namun, setelah fotonya yang sedang bersama seorang laki-laki dewasa tersebar; pertemanan mereka renggang. Selain itu latar belakangnya juga terbongkar. Dia bukanlah anak orang kaya yang orang tuanya pergi ke luar negeri. Han Su yang masih peduli kepada Su Ah ingin menolongnya. Sayangnya saat Su Ah berniat memulai hidup baru, dia justru dibunuh.

Plot Cerita Class of Lies

Menurut saya, setiap episode di drama Class of Lies begitu intens dan padat. Sejam seakan lama banget. Jujur saja habis merampungkan drama ini saya merasa capek. Kasus pembunuhan Su Ah itu mejadi awal mula terbongkarnya kasus-kasus busuk lainnya, yang salah satunya dilakukan oleh Manajer Umum SMA Cheonmyung, Lee Tae Seok.

Plot cerita Class of Lies ini kompleks banget, seolah tidak ada jeda untuk bernapas saat mengikuti perjalanan para tokohnya. Saking bikin capek, saya tidak repot-repot memikirkan atau menebak-nebak siapa yang membunuh Su Ah. Pokoknya ikuti saja jalan ceritanya. Kalau plot ibarat rel pada wahana roller coaster yang akan membawa penumpang, saya sebagai penumpang merasa dibawa naik terus. Di sisi lain merasa was-was, kapan penumpang dibawa turun dan dijatuhkan.

Di dalam drama Class of Lies, plot twist cerita tidak terlalu kentara menurut saya. Malahan kesannya tidak ada plot twist-nya, walaupun tidak masalah juga sih tidak ada plot twist. Soalnya petunjuk yang disebar itu lumayan jelas. Bahkan salah satu petunjuk penting yang menunjukkan siapa pembunuh Su Ah sudah ada sejak awal-awal episode. Tapi jika tidak terlalu memperhatikan, petunjuk itu bisa langsung diabaikan. Apalagi terkubur sama adegan-adegan selanjutnya yang kompleks.

Pada akhirnya penyelesaian kasus kematian Su Ah terbongkar. Namun, saya agak menyayangkan nasib si pembunuh di akhir cerita. Sedikit spoiler, si pembunuh itu bakal mati dan tidak diketahui siapa yang membunuhnya. Ada beberapa orang yang bisa jadi memiliki motif untuk membunuh pembunuh Su Ah. Overall, kalau demen sama cerita kriminal yang padat pastikan kalian nonton Class of Lies. Capeknya sama kayak waktu nonton Stranger (Forest of Secrets).

(Oya, saya suka sama ost Class of Lies yang judulnya I'm Alive dinyanyikan oleh Taylor. Tapi, lagu dan liriknya sedih banget.)

Friday, January 22, 2021

Review Drama Mandarin The Bad Kids

January 22, 2021 0
Review Drama Mandarin The Bad Kids
Serial The Bad Kids release tahun 2020, diadaptasi dari novel dengan judul sama yang ditulis oleh Zi Jin Chen. Sejujurnya saya belum membaca novelnya. Gara-gara nonton serial The Bad Kids saya jadi pengin baca novelnya. Dengar-dengar ada penerbit Indonesia yang sedang menerjemahkan novel The Bad Kids. Apa intensitas ketegangannya bakal sama seperti serialnya? Atau, malah lebih tegang baca novelnya? Well, lanjut ke penjelasan serial The Bad Kids. Serial bergenre suspense thriller ini memiliki jumlah episode sebanyak 12, dengan durasi rata-rata 1 jam. Kalian bisa menonton serial The Bad Kids di iQIYI secara gratis (dengan iklan tentu saja, kalau tanpa iklan bisa langganan sebulan Rp. 30.000).

The Bad Kids berkisah tentang tiga orang anak (Chaoyang, Yan Liang, Yue Pu/Pupu) berasal dari latar belakang keluarga berbeda yang tidak sengaja menyaksikan pembunuhan di Liufeng Mountain, ketika merekam video kebersamaan mereka di sana. Awalnya, mereka ingin memberikan video itu kepada polisi, tapi karena suatu hal, mereka justru menjual rekaman itu. Dari situlah perjalanan gila trio itu dimulai.

Tokoh-tokoh dalam The Bad Kids

Tokoh utama dalam The Bad Kids:
  • Zhang Dongsheng diperankan oleh Qin Hao
  • Chen Guansheng diperankan oleh Wang Jingchun
  • Zhu Chaoyang diperankan oleh Rong Zishan
  • Yan Liang diperankan oleh Shi Pengyuan
  • Yue Pu/Pupu diperankan oleh Wang Shengdi
Chaoyang dan Yan Liang adalah teman semasa kecil dan mereka seumuran, sedangkan Yue Pu adalah seorang anak perempuan yang tinggal di panti asuhan yang sama dengan Yan Liang. Yan Liang dan Yue Pu kabur dari panti asuhan dengan suatu misi. Mereka menemui Chaoyang untuk meminta bantuan. Sejak itulah mereka bertiga terus bersama-sama.

Trio The Bad Kids ini memiliki karakter yang berbeda-beda. Chaoyang adalah murid teladan yang selalu juara 1 kelas. Namun, ia tidak memiliki teman di sekolah dan lebih suka menyendiri. Chaoyang digambarkan sebagai anak penurut dan taat aturan. Sementara itu, Yan Liang adalah anak seorang narapidana yang berakhir menjadi gila, sehingga Yan Liang harus tinggal di panti asuhan. Yan Liang selalu ingin bertemu dengan ayahnya, tapi mengalami banyak kesulitan. Yan Liang digambarkan sebagai sosok pemberontak dan pemberani. Yue Pu atau dipanggil Pupu adalah teman Yan Liang di panti asuhan. Pupu sangat pandai menyanyi. Ia digambarkan sebagai sosok yang cerdik dan pemberani. 

Dongsheng adalah guru matematika di suatu lembaga pendidikan yang kehidupan rumah tangganya berantakan dan diambang perceraian. Ia tidak ingin kehilangan istrinya, sehingga ia melakukan suatu perbuatan nekat. Awalnya tidak ada yang aneh dengan sikap Dongsheng sebagai guru yang baik dan penyabar. Namun, seiring berjalannya cerita, sikap Dongsheng berubah drastis. Keinginannya untuk memulai segalanya dari awal tidak berjalan sesuai harapan. Hidupnya semakin berantakan.

Guansheng adalah seorang polisi. Ia juga adalah teman ayah Yan Liang, yang akhirnya akan menjadi ayah angkat Yan Liang. Menurut saya, tokoh Guangsheng mewakili sosok orang tua yang selalu mengkhawatirkan anak-anak mereka. Ia tidak ingin Yan Liang berakhir seperti ayahnya, menjadi kriminal dan dipenjara. Oleh sebab itu ia selalu ikut campur semua urusan Yan Liang.

Tokoh-tokoh dalam The Bad Kids mempunyai karakter yang kuat. Mereka mengalami perkembangan berbeda seiring berkembangnya cerita. Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidup mereka menjadi pemicu perubahan-perubahan itu. Selain karakter tokoh yang kuat dan tokoh yang berkembang, akting para aktornya harus diacungi jempol. Mereka melebur dalam karakter tokoh dan membuat tokoh menjadi hidup.

Setting The Bad Kids

Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan setting waktu The Bad Kids, walaupun atmosfer dan latar tempatnya terlihat tidak modern. Saya pikir bisa saja kan tokoh tinggal di kota kecil. Tapi, saat melihat para tokoh menggunakan ponsel nokia lawas, saya langsung tersadar. Saya duga setting waktu The Bad Kids berada di awal tahun hingga pertengahan 2000an. Semakin memperhatikan, kostum para tokoh juga berbeda sih dengan tren masa kini. Hal lain yang menggambarkan tahun 2000 banget itu adalah soda dalam botol kaca. Lumayan sering lihat tokoh minum produk soda dalam botol kaca. Dan merk produk-produk itu juga familiar buat saya. Tidak begitu berbeda jauh sama yang ada di Indonesia. Kayaknya kalau sekarang soda dalam botol kaca itu sudah tidak eksis. Mostly pakai botol plastik atau kaleng.

Plot Cerita The Bad Kids

Opening episode 1 The Bad Kids itu kampret banget. Sebenarnya jiwa kriminal saya sudah berpikir sampai ke adegan yang bakal terjadi selanjutnya. Opening yang langsung menggambarkan/menunjukkan masalah itu memang lebih menarik daripada opening yang datar-datar saja. Itu bikin penonton ingin terus menonton. Yah, efeknya nyaris sama dengan cliffhanger yang biasa ada di akhir episode. Nah, pada beberapa episode di The Bad Kids memiliki pembuka yang memberi hook (sesuatu yang didesain untuk menangkap perhatian orang) dan diakhiri dengan cliffhanger (ending pada suatu episode drama yang membuat penonton tegang dan bertanya-tanya).

Saya suka dengan transisi di setiap adegannya. Tidak patah dan mulus. Flow ceritanya juga tetap terjaga dari awal hingga akhir. Adegan-adegannya masuk akal (kayaknya sih nggak ada plot hole). Saya juga takjub dengan cara penulis skenario mempertemukan tokoh-tokoh dalam satu frame.

Beberapa adegan bikin saya merasa miris sekaligus bikin perasaan campur aduk. Tegang, sedih, kesal, marah dan terenyuh; semuanya bercampur. Beberapa hal juga memberikan efek yang tidak bisa saya jelaskan dengan kata-kata. Misalnya, kehidupan Dongsheng yang jungkir balik. Di bagian klimaks itu saya sudah speechless sih sama tindakan-tindakan Dongsheng. It's like when you've killed people once, the twice is nothing. Kan gila ya. Dongsheng sempat ingin memulai hidup baru, tapi dengan niat ingin mengubur rahasia gelapnya, maka kehidupan baru tidak akan pernah dimulai. Kebalikannya, Chaoyang dan Yan Liang ingin memulai hidup baru, setelah segala permasalahan yang mereka buat. Mereka berani untuk mengakui segala perbuatan mereka, meskipun itu salah. Hanya dengan begitu mereka lega.

Untuk ending The Bad Kids saya cukup puas. Awalnya sudah merasa was-was bakal seperti apa nasib trio The Bad Kids. Takutnya bakal lebih tragis (sebenarnya dari awal pun sudah tragis sih). Overall, menurut saya The Bad Kids diracik dengan baik, mulai dari penokohan; plot cerita; latar; bahkan properti dan make up.

Wednesday, January 6, 2021

Review Series Thailand Blacklist

January 06, 2021 0
Review Series Thailand Blacklist

Setelah selesai maraton nonton The Gifted series (season 1 & 2), saya nemu series Blacklist di channel Youtube GMMTV. Coba nonton deh. Serupa dengan The Gifted, series Blacklist juga memiliki tema kehidupan sekolah (yang penuh rahasia gelap, nggak mungkin normal-normal aja). Series Blacklist release tahun 2019, berjumlah 12 episode dan diproduksi oleh GMMTV.

Series Blacklist berkisah tentang enam murid yang tergabung dalam kelompok Blacklist. Mereka berusaha membongkar keburukan sekolah dengan bimbingan salah satu guru, bernama Padej. Misi mereka dimulai dengan menyelidiki seorang murid di sekolah mereka bernama Fah—kakak Traffic—yang menghilang secara misterius. Namun, saat menyelidiki kasus menghilangnya Fah, anggota Blacklist justru menemukan rahasia mengerikan di sekolah mereka. Di sekolah mereka ada kelompok bernama The God's Hand yang kemungkinan berkaitan dengan menghilangnya Fah. Namun, semakin Blacklist menguak kelompok The God's Hand, semakin banyak hal-hal buruk terjadi.

Premis series Blacklist menjanjikan sih, tapi tidak dengan eksekusinya. Pada episode awal hingga pertengahan semua berjalan dengan mulus. Plot dan transisinya masih terbilang rapi. Namun, memasuki episode tengah ke belakang, transisinya kurang mulus. Ada beberapa adegan kurang masuk akal dan lini masa yang perlu dipertanyakan. Lalu, cerita yang dimaksudkan sebagai plot twist justru terkesan dipaksakan.

Secara plot dan transisi series Blacklist memang memiliki beberapa kekurangan. Namun, saya menyukai karakterisasi kelompok Blacklist. Kelompok Blacklist terdiri dari enam anggota yang memiliki kemampuan dan karakter berbeda-beda. Karakter yang melekat pada tokoh tersebut akan berguna untuk menjalankan cerita. Jadi bukan sekadar tempelan.

  • Tokoh Traffic (diperankan oleh Nanon) adalah pemimpin kelompok Blacklist. Ia digambarkan sebagai sosok yang dingin, tenang, dan penuh pertimbangan. Ia memiliki kepercayaan terhadap kemampuan timnya dan berperan sebagai back up tim.
  • Tokoh Andrew (diperankan oleh Chimon) digambarkan sebagai sosok yang gegabah, pemberontak, suka memakai kekerasan dan mengintimidasi orang lain. Namun, kemampuannya berimprovisasi dalam situasi genting tidak bisa diragukan.
  • Tokoh Highlight (diperankan oleh Ohm) digambarkan sebagai tokoh pendiam, tenang, tertutup, pandai menganalisis suatu kasus (Hobinya membaca komik Detective Conan, jadi ia belajar banyak dari komik itu).
  • Tokoh Title (diperankan oleh Drake) digambarkan sebagai tokoh yang ceplas-ceplos, humoris, dan suka tebar pesona ke cewek-cewek (tapi cewek yang disukai cuma Cupcake). Ia memiliki kemampuan bela diri.
  • Tokoh Jim Bae (diperankan oleh First) sepaket dengan Title, sama-sama tokoh yang ceplas-ceplos dan kocak. Ia memiliki kemampuan sebagai mata-mata, karena pandai bergaul. Ia juga pandai bermain berbagai jenis board game.
  • Tokoh Bantad (diperankan oleh Frank) digambarkan sebagai sosok yang cerdas dan pandai dalam dunia IT. Ia berperan meretas perangkat, melacak lokasi, dan mencari informasi melalui dunia maya.

Spoiler alert!

Sebenarnya Blacklist ini kan membicarakan isu penggunaan obat terlarang agar kinerja murid dalam belajar lebih meningkat demi mendongkrak nilai. Isu itu sepertinya pernah ada di Indonesia juga, lupa tahun berapa. Masalahnya, pengemasan isu itu ke dalam cerita yang disajikan dalam series Blacklist terlalu melebar, kurang fokus pada isu yang ingin diangkat. Bahkan lingkup permasalahan sampai melibatkan mafia dan tindakan kriminal. Kasus Fah yang menjadi inciting incident (kejadian yang mendorong suatu tokoh untuk mengambil tindakan) bagi tokoh Traffic, seakan diabaikan. Kasus Fah jadi semacam tempelan dan cuma bakal digunakan sebagai plot twist pada dua episode terakhir, yang itu pun terkesan dipaksakan.

Banyak detail adegan yang tidak diperhatikan, misalnya saat Title masuk ke kamar Champ. Baru beberapa detik Title di dalam kamar dan belum ngapa-ngapain, tiba-tiba Champ sudah ada di dalam kamarnya. Padahal tadi ia sudah turun menggunakan lift. At least, berikan jeda agak lama. Lalu, adegan Champ melompat dari jendela dan ditangkap oleh Jim Bae menggunakan tempat tidur dorong juga aneh. Gimana ceritanya salah satu tangan Champ menyelip ke terali besi di sisi tempat tidur. Intinya posisi Champ unbelievable banget deh. Selain itu, transisi yang terlalu mendadak juga terjadi saat kejar-kejaran antara kelompok Blacklist dan Viking (yang nyamar menjadi pemimpin kelompok The God's Hand). Transisinya terasa patah.

Beberapa tokoh dalam Blacklist juga tidak konsisten. Tokoh polisi di cerita Blacklist pun sangat tidak meyakinkan. Saya pikir, semestinya polisi tidak mudah percaya dengan laporan yang sumbernya tidak jelas. Namun, ketika ada laporan tentang Traffic yang melakukan percobaan pembunuhan terhadap Fah, mereka langsung percaya begitu saja. Mereka menggeledah apartemen Traffic dan Fah, lalu menemukan makanan kotak yang mengandung racun. Menurut delivery man, orang yang memesan makanan adalah Traffic. Padahal delivery man juga bisa dicurigai sebagai pelaku. Tapi, polisi tidak curiga sama sekali dengan delivery man, hanya karena ada surat dari Fah yang menyatakan bahwa Traffic berbuat jahat terhadap Fah. Mereka juga tidak melacak saluran telepon untuk memastikan si pemesan makanan, yang ternyata adalah Guru Jinmanee.

Ada juga nih adegan cringe abis. Salah satunya adegan di ruang kepala sekolah, saat Melon dan Phukkad sedang memeriksa ponsel Guru Jinmanee agar mereka bisa menemukan bukti percakapan Guru Jinmanee dengan delivery man. Lebih anehnya, kenapa percakapan itu disimpan sama Guru Jinmanee. Bukti kejahatan mah mestinya dimusnahkan langsung. Selain itu, adegan setelah Pak Karin ditangkap polisi itu juga aneh. Ngapain sih Pak Karin sama satu polisi masih berdiri di halaman rumah Pak Karin, kayak nungguin seseorang datang gitu. Lalu, beneran Traffic menghampiri mereka dan minta bicara empat mata sama Pak Karin. Dibolehin dong sama polisinya. Speechless.

Langsung kesimpulan saja deh. Overall, saya tidak puas sama series Blacklist. Sayang banget, premis dan isu yang mau disampaikan sebenarnya cukup menarik. Tapi, plotnya tidak disusun dengan rapi, sehingga banyak plot hole. Detail dan transisi adegan juga banyak yang diabaikan. Beberapa tokoh memiliki karakter yang kurang meyakinkan.


Friday, January 1, 2021

Review Series Thailand The Gifted Graduation

January 01, 2021 0
Review Series Thailand The Gifted Graduation

The Gifted Graduation release tahun 2020. Kalian bisa menontonnya melalui aplikasi Iflix ataupun WeTV. Masih sama dengan season 1 (The Gifted), series ini punya jumlah 13 episode. The Gifted Graduation mengisahkan tentang kelanjutan perjuangan Pang, setelah Program Unggulan sempat ditutup. Pada tahun ajaran baru, Pak Supot kembali membuka Program Unggulan. Namun, Kementerian menolak proposal Pak Supot. Lalu, seorang murid angkatan baru bernama Time—yang memiliki impian untuk bisa masuk Program Unggulan—membuat petisi agar Kementerian mengizinkan SMA Ritdha membuka Program Unggulan. Akhirnya, Program Unggulan dibuka kembali. Mendengar berita tersebut, murid Unggulan angkatan XV tidak mau tinggal diam. Mereka merencanakan sesuatu. (Angkatan XV itu angkatannya Pang.)

The Gifted Graduation
(sumber: mydramalist)

Sejujurnya, saya lebih suka The Gifted daripada The Gifted Graduation. Di season 2 ini saya menemukan potensi plot hole. Plot hole ini bikin ganjalan banget di suatu cerita. Selain itu, peraturan-peraturan yang dimasukkan untuk world building di The Gifted Graduation semakin wow (Aduh, nggak ada kata yang bisa mengekspresikannya). Semua memang terserah sama yang nulis skenario. Ia sah-sah saja memasukkan peraturan yang akan mendukung plot. Namun, ada beberapa hal yang terkesan dipaksakan.

Lingkup permasalahan dalam The Gifted Graduation sudah bukan di sekolah saja, tapi sampai Kementerian, bisa dikatakan nasional. Masalahnya semakin kompleks dan berkembang luas. Banyak tokoh-tokoh baru, seperti Time; Grace; dan Third  yang merupakan murid Unggulan baru. Ada orang baru juga dari Kementerian yang masuk ke lingkungan SMA Ritdha, Bu Darin—yang tentunya bakal membawa masalah baru. Lalu, tokoh Namtaan tidak ambil bagian dalam cerita. Tokoh Namtaan diceritakan pindah sekolah. Ia cuma muncul di akhir episode.

Tokoh Pak Supot semakin menjadi-jadi di The Gifted Graduation. Asli kasihan sama Pang. Emosinya diacak-acak berkali-kali, sampai Pang putus asa. Emosi penonton juga diacak-acak dong. Kesel saya tuh, sampai tidak bisa percaya sama apa pun yang ditampilkan di setiap episode. Pasti bakal ada apa-apanya. Di review The Gifted yang saya tulis (bisa dibaca di sini), saya pernah menyinggung kalau plot twist di The Gifted Graduation 'gila'. Nah itu, hati-hati saja ranjaunya banyak. Kalian tidak akan dibiarkan tenang hingga akhir.

Spoiler alert!

Di season 2 ini Pang dibikin tidak berdaya dan karakternya dibuat goyah. Sesaat sempat tidak sependapat dengan keputusan-keputusan yang diambil Pang, tapi di sisi lain bisa paham juga kenapa ia bersikap gegabah (dengan memercayai Pak Supot). Pak Supot ini karakter yang bahaya banget, manipulatif, jahat. Jadi, Pang harus mengatur strategi baru dengan tidak secara terang-terangan melawan Pak Supot dan Kementerian.

Walaupun sempat putus asa karena gagal terus, tapi Pang tetap bisa bangkit. Ia nyaris lupa, bahwa selalu ada teman-temannya yang bersedia membantunya. Ia tidak harus berjuang dan berkorban sendiri. Meskipun sempat tidak akur dengan teman-temannya, pada akhirnya mereka kembali bersatu.

Di season 2 ini bromance antara Pang dan Wave semakin bikin melting. Saya terkesan dengan kesetiakawanan Wave. Wave menelepon Pang sampai 25 kali saat Pang tiba-tiba menarik diri, walaupun tetap tidak diangkat sama Pang. Ia rela minum NYX 88 (virus yang menginfeksi sel Unggulan) demi menemukan Pang. Di ending cerita ia juga mau masuk ke universitas swasta biar bisa bantu Pang, secara Pang tidak mungkin masuk ke universitas negeri (Pang saja tidak mikirin gimana ujiannya). Tapi, pengorbanan Pang buat teman-temannya juga 'gila'. Ia pasang badan untuk mereka.

Nah, mau sedikit bahas tokoh Grace yang juga jadi kunci cerita. Ada paradoks yang sering bikin bingung dan ini ada kaitannya dengan kekuatan super Grace. Grace bisa berkomunikasi dengan dirinya yang berasal dari masa depan dan dirinya dari masa depan bisa mengambil alih kesadaran Grace. Namun, di akhir episode ada adegan Grace memilih untuk menghilangkan potensinya. Menurut saya itu bakal jadi masalah dan mempengaruhi peristiwa-peristiwa sebelumnya.

Perkembangan potensi Grace tidak lepas dari bantuan Grace dari masa depan. Dirinya dari masa depan itulah yang memanggil Grace. Grace dari masa depan jugalah yang membuat berbagai rencana demi memuluskan rencana Pang dkk. Ia juga sudah mencari berbagai kemungkinan agar hasil akhirnya Pak Supot yang kalah. Ia melatih dirinya untuk bisa menguasai kesadaran Grace di masa lalu. Kalau Grace saja menghapus potensinya, maka Grace dari masa depan tidak akan bisa membantu Pang dkk. Itu serupa dengan temporal paradox atau time travel paradox.

Hal lain yang menimbulkan pertanyaan bagi saya adalah kemampuan Korn dalam mempercepat penyembuhan. Menurut saya itu tidak ada hubungannya sama kemampuannya untuk terjaga selama 24 jam. Itu salah satu peraturan tambahan yang saya singgung di paragraf kedua dan terkesan dipaksakan. Kalau tidak ada peraturan itu, Korn pasti mati setelah melompat dari gedung tinggi. Awalnya pun saya mengira Korn mati. Well, mungkin penulis ingin memberikan keadilan bagi tokoh Korn. Membuat Korn mati pasti terasa kejam (karena sudah banyak kekejaman lainnya). Namun, selalu ada alternatif lain biar alasannya lebih bisa diterima, kan.

Setelah melewati episode-episode dengan cerita yang padat. Ending The Gifted Graduation tidak serta merta melegakan, justru menimbulkan dilema. Pang memiliki beberapa pilihan yang sama-sama berisiko. Pertama, pilihan dari Grace: Tidak boleh ada Unggulan (dengan kata lain setiap kekuatan super harus dihapus). Namun, pilihan dari Grace itu akan berefek juga untuk Grace dari masa depan. Pilihan kedua, menyebarkan audio yang membangkitkan kekuatan super ke seluruh murid. Pilihan tersebut juga gila sih. Kalau kekuatan super dimiliki orang yang tidak bertanggungjawab bisa menimbulkan kekacauan, kan. Tapi, Pang ingin memberikan murid-murid lain pilihan dan kesempatan. Ia tidak mau egois dengan menutup kesempatan bagi mereka (Sejak awal Pang memang humanis). Andai murid tersebut ternyata tidak menyukai potensinya, ia boleh menghapusnya. Contohnya Korn, ia merasa tersiksa memiliki kemampuan terjaga selama 24 jam. Ia ingin bisa tidur nyenyak dan bermimpi.

Setelah tahu ending The Gifted Graduation, saya tidak terlalu berharap akan ada season 3. Lebih tepatnya tidak terbayang akan seperti apa kalau ada season 3. Kalau pun ada season 3, mungkin perjuangan/tujuan tokoh akan berbeda. Dan yang terpenting, saya tidak berharap masih ada Pak Supot.

Thursday, December 31, 2020

Review Series Thailand The Gifted

December 31, 2020 0
Review Series Thailand The Gifted

Saya belum bisa move on dari series The Gifted, saking sukanya. Memang sih baru-baru ini nonton, rasanya sudah ketinggalan lama. Ke mana aja baru nonton series The Gifted. Tapi, tidak masalah, karena pada akhirnya saya tidak melewatkan series Thailand yang kece ini. Nah, series The Gifted bisa kalian tonton di Iflix, WeTV, ataupun channel Youtube resmi GMMTV.

The Gifted release tahun 2018, berjumlah 13 episode dengan durasi rata-rata 47 menit. Series The Gifted berlatar di SMA Ritdha yang memiliki "Program Unggulan" (Gifted Program). Hanya murid terpilih melalui tes penempatan yang bisa masuk ke Program Unggulan. Namun, secara mengejutkan, Pang (diperankan oleh Nanon Korapat Kirdpan)—murid yang berada di kelas dengan ranking terendah—mampu masuk ke Program Unggulan. Setelah masuk ke program tersebut Pang merasa bingung dengan tujuan adanya program tersebut. Hingga suatu ketika, ia dan teman-temannya mengetahui, bahwa Program Unggulan bertujuan untuk membangkitkan potensi murid dengan cara khusus. Satu per satu murid pun menemukan kekuatan super mereka. Namun, bersamaan dengan itu masalah muncul. Rahasia tergelap SMA Ritdha pun terkuak.

Karakter dalam The Gifted

Hampir seluruh karakter utama di The Gifted memiliki karakter yang kuat. Masing-masing tokoh utama mendapat porsi khusus dalam satu episode. Dalam episode tersebut, karakter mereka benar-benar digali. Misalnya, kisah tokoh Ohm (diperankan Sing Harit Cheewagaroon) diperdalam di episode 2. Di episode tersebut akan diceritakan bagaimana Ohm menemukan potensinya dan masalah yang mengikutinya. Lalu, di episode 3 menceritakan tentang Namtaan (Lily) dan potensinya. Begitu pula dengan tokoh lain, seperti Claire (Jane), Punn (Gun), Korn (Fiat), Mon (Puimek), dan Wave (Chimon)—kisah mereka akan muncul di episode seterusnya.

Di kelas Unggulan, hanya tokoh si kembar yang tidak memiliki episode khusus. Peran mereka memang sebagai figuran dan saya sampai lupa fungsi mereka di plot cerita apa. Sementara itu, tokoh Pang adalah center. Bahkan, sejak awal ia juga bertindak sebagai narator.

Tokoh favorit saya di The Gifted adalah Pang dan Wave, walaupun tokoh lain tidak kalah menarik sih. Sejak awal tokoh Pang memang sudah mencuri perhatian. Ia digambarkan sebagai tokoh yang kesulitan dalam belajar dan tidak jarang melanggar peraturan sekolah. Namun, ada kelebihan yang orang-orang tidak pernah sadari tentang Pang. Sesungguhnya Pang memiliki kepedulian terhadap teman-temannya, punya jiwa kepemimpinan, dan sebenarnya ia cerdas; meskipun berada di kelas dengan ranking terbawah. Saya pikir, Pang memiliki cara sendiri untuk belajar dan itu bertolak belakang dengan sistem sekolah. Itu mungkin yang membuatnya berakhir di kelas dengan ranking paling rendah (kelas 4/8). Bahkan, Pang kepikiran untuk mengubah sistem sekolah yang menurutnya tidak adil bagi para murid (Di SMA Ritdha, ada pengelompokkan kelas berdasarkan ranking. Murid-murid dengan ranking tinggi memiliki banyak privilege.). Sebagai Unggulan, Pang ingin membantu orang lain. Ia ingin berjuang buat mereka yang tidak bisa berjuang.

Sementara itu, tokoh Wave adalah kebalikan dari Pang. Wave sangat kompetitif, individualis, mati rasa, dan cerdas minta ampun (terutama di bidang matematika dan IT). Meskipun dianggap menyebalkan oleh teman-temannya, pada perkembangan cerita, tokoh Wave ini akan mengalami perubahan-perubahan. Ia sebenarnya kesepian, ingin memiliki teman; tapi kepercayaannya terhadap seseorang sudah hancur sejak kejadian yang menimpanya di masa lalu.

Ok, setelah membahas sekilas tokoh murid di The Gifted. Mari lanjut ke tokoh guru dan kepala sekolah. Tiga pihak sekolah yang paling menonjol adalah Pak Supot, kepala sekolah yang asli ngeselin; Pak Pom, guru yang bertanggungjawab terhadap murid Unggulan (Ia juga punya kekuatan khusus); dan Bu Ladda, guru BK yang disiplin banget dan tidak pernah tersenyum.

Isu yang Diangkat dalam The Gifted

Selain tokoh-tokoh The Gifted yang menarik dan unik, jalan cerita The Gifted juga menarik dan seru untuk diikuti. Bahkan, banyak pesan positif terkait suatu isu yang diangkat. Isu-isu tersebut juga sangat relate, misalnya isu perundungan; diskriminasi; tuntutan orang tua dan pihak sekolah; ketidakpercayaan diri; hubungan antar remaja ataupun remaja dengan orang dewasa.

Isu-isu itu dikemas dengan cara berbeda, berbumbu fantasi dan tokoh-tokoh dalam cerita berperan sebagai penyampai pesan. Mereka memiliki kisah masing-masing yang harus diceritakan. Misalnya, tokoh Punn digambarkan sebagai sosok yang perfectionist, kompetitif, sangat cerdas (Iyalah, intinya yang ada di Program Unggulan cerdas semua). Namun, menjadi cerdas bukan berarti tanpa beban, Punn justru tertekan, karena ia memikul ekspektasi tinggi dan merasa harus bertanggungjawab terhadap orang lain. Sampai ia sendiri tidak mengenal dirinya dan tidak tahu apa yang sebenarnya ia ingin lakukan. Lalu, ada Nac (sahabat Pang) dan Koi (love interest Korn) yang mengalami ketidakadilan. Mereka harus menanggung hukuman berlipat ganda dari sekolah saat melakukan pelanggaran, karena mereka murid biasa; sedangkan murid-murid dari kelas Unggulan selalu diistimewakan.

Hal-hal itu pasti pernah terjadi di kehidupan nyata. Mungkin beberapa orang pernah tidak mengenali dirinya sendiri dan tidak benar-benar tahu apa yang dinginkan. Atau, ada yang pernah mengalami perundungan di sekolah, karena memiliki kekurangan tertentu (Padahal kekurangan membuat seseorang lebih manusiawi). Atau, ada yang pernah menerima ketidakadilan dan diskriminasi, karena sistem yang condong memihak kelompok tertentu. Atau, mungkin ada remaja yang berpikir bahwa orang dewasa tidak pernah memahami dirinya dan selalu mengontrol tanpa menanyakan keinginannya.

Spoiler alert!

Sejujurnya, saya sangat terkesan dengan akting Gun Atthaphan Phunsawat sebagai Punn yang memiliki banyak kepribadian. Kalau tidak salah Punn memiliki lima kepribadian berbeda. Itu ada kaitannya dengan kekuatan super yang ia miliki (Ketika menggunakan kekuatan super ada kerugian yang harus dibayar. Hal itu juga berlaku untuk murid lain, walaupun tidak semua memiliki kerugian besar.). Menurut saya, Gun bisa membawakan lima tokoh yang berbeda sama sekali. Bukan cuma karena riasan yang dibikin beda ya, tapi mimik wajah dan perilaku juga berbeda. Kekuatan super Punn itu memang salah satu yang kuat, tapi konsekuensinya besar. Suatu saat bisa jadi bom waktu bagi ia sendiri dan teman-temannya.

Berbicara soal kekuatan super, Pak Pom mengira orang pertama yang membangkitkan kekuatan supernya adalah Wave. Namun, saya yakin orang yang pertama kekuatan supernya bangkit adalah Pang, ia cuma tidak sadar. Bahkan, Pang sudah menggunakan kekuatan supernya saat di ruang guru BK di episode 1. Selain Punn, kekuatan super Pang juga termasuk hebat, bahkan Wave—yang merasa kekuatan supernya hebat—sampai keder dong.

Overall, puas banget nonton series The Gifted. Sampai tidak kepikiran andai ada plot hole atau karakter yang tidak berguna. Tidak mengantisipasi plot twist-nya juga, tapi tentu saja plot twist ada, walaupun tidak 'segila' The Gifted Graduation. Ya, The Gifted ada season 2-nya, The Gifted Graduation yang plot twist-nya bertebaran dan bikin kesel itu. Namun, saya tetap suka sama series ini. Sampai cari series lain yang setipe dan nemu Blacklist, tapi baru nonton 2 episode. Belum bisa menilai akan seperti apa series Blacklist. Btw, karakter utama di Blacklist juga diperankan oleh Nanon dan Chimon. Mereka ini bromance goals banget.

Review Drama Mandarin Sisyphus

December 31, 2020 0
Review Drama Mandarin Sisyphus
Sebelum membahas drama mandarin Sisyphus, saya ingin menjelaskan, apa sih arti Sisyphus? Sisyphus berasal dari mitologi Yunani. Ia mendapat hukuman dari Zeus karena mencurangi Kematian. Selamanya ia harus mengangkat batu besar menuju puncak. Namun, setiap kali ia sampai di puncak, batu itu akan menggelinding dan ia harus mengulangi dari awal. Begitu seterusnya untuk selama-lamanya. Selain itu, Sisyphus juga bisa diartikan sebagai tugas atau pekerjaan yang mustahil dilakukan. (Informasi ini saya peroleh dari situs Britannica.)

Ironis ya kalau tahu kisah Sisyphus ini gimana. Nah, drama mandarin Sisyphus juga memiliki 'warna' serupa. Selama menonton drama ini aura kelam begitu terasa, meskipun ada adegan yang bahagia juga sih. Tapi, itu cuma semu.

Drama mandarin Sisyphus berjumlah 12 episode dengan durasi rata-rata 30 menit. Drama tersebut dibintangi oleh Wang Qian Yuan (sebagai Zhang Hai Feng), Luhan (sebagai Zhao Bin Bin), Bridgette Qiao (sebagai Sun Xiao Meng), Qi Xi (sebagai Zhao Min), Wu Yue (sebagai Qiao Xin), Zhang Hao Ran (sebagai Liu Yu Qi). Drama bergenre sci-fi suspense ini bisa ditonton di iQIYI.

Drama mandarin Sisyphus berkisah tentang seorang pria bernama Hai Feng yang berhenti menjadi polisi setelah kehilangan putrinya (Duo Duo) dalam kecelakaan saat darmawisata. Sejak itu hidupnya berantakan. Namun, sebuah kasus pembunuhan berantai menuntun Hai Feng pada penyebab kematian Duo Dou. Lalu, Hai Feng berusaha mengungkap identitas pembunuh berantai itu. Ketika ia berhasil menemukan pembunuh berantai, ia justru terbunuh. Namun, di suatu malam ia terbangun dan berada di waktu lain, sehari sebelum ia mati. Kemudian, ia berusaha mengubah keadaan.

Waktu nonton episode 1, saya tidak bisa meraba-raba apa pun, totally lost. Beberapa menit awal agak membosankanApalagi bagian Hai Feng pulang dari kedai mie dan mau mampir ke toko jam. Awalnya saya pikir adegan itu tidak akan berguna, tapi di akhir episode ada penjelasan tentang toko jam itu. 

Meskipun menit awal episode 1 agak membosankan, tapi memasuki pertengahan episode mulai tidak membosankan. Si pembunuh berantai langsung dimunculkan, tapi tidak serta merta membuat rasa penasaran jadi hilang dan kekuatan cerita melemah (Pada cerita bergenre suspense, tokoh antagonis biasanya memang langsung diperlihatkan. Kekuatan cerita genre suspense terletak pada tekanan yang diberikan oleh tokoh antagonis kepada protagonis. Tokoh protagonis ditempatkan pada situasi berbahaya yang mengharuskannya melakukan perintah tokoh antagonis.). Hai Feng harus melakukan hal-hal yang diperintahkan oleh si pembunuh bayaran. Ia dihadapkan oleh pilihan-pilihan sulit antara hidup dan mati.

Dan, bagian krusial dari drama Sisyphus sebenarnya adalah lini masa. Kalian akan diajak mundur ke masa lampau. Semakin mundur, misteri justru terbongkar perlahan. Bagusnya, drama ini tidak bikin tersesat, walaupun lini masanya 'diacak-acak'. Transisinya tidak patah.

Peran tokoh-tokoh di dalam cerita tidak mubazir. Tapi, secara pribadi tidak ada tokoh yang menjadi favorit saya. Tidak ada tokoh yang perannya terlalu menonjol dari tokoh lainnya, bahkan protagonisnya pun. Namun, saya penasaran dengan tokoh Yu Qi, sayangnya tidak ada penjelasan yang memuaskan hingga ending. Kecuali fakta bahwa Yu Qi adalah seorang peneliti yang membantu Hai Feng untuk kembali ke waktu lampau.

Ada satu kesamaan pada tokoh protagonis dan antagonis, bahwa mereka sama-sama menjalani hidup yang ironis. Tidak ada yang lebih menderita daripada yang lain. Hidup mereka hancur dengan cara yang berbeda, tapi sama-sama meninggal luka bagi tokoh.

Overall, nyesek nonton drama ini. Kalau dirangkum dalam satu kalimat: protagonis adalah korban antagonis, sedangkan antagonis adalah korban sistem.

(Warning! Drama ini mengandung plot twist.)

Comment