MELALUI RUANG

Sunday, December 15, 2019

Keris Café Kota Lama Semarang

December 15, 2019 0
Keris Café Kota Lama Semarang
Sudah lama saya ingin ke Keris Café, tapi tak kunjung mampir. Baru kemarin saat ada acara Patjar Merah saya sekalian mampir. Keris Café berlokasi di Kota Lama Semarang, tepatnya di Jl. Letjen Suprapto, Tj. Mas, Kec. Semarang Utara, Kota Semarang, Jawa Tengah 50137. Café ini berada di seberang 3D Art Trick Museum dan dekat juga dengan titik berhenti BRT Semarang. Strategis, kan?

Keris Café Kota Lama Semarang
Interior Keris Café ©

Ruangan Keris Café bergabung dengan toko batik dan oleh-oleh. Café ini juga menjual berbagai jenis kopi lokal. Cocok untuk wisatawan yang mau ngopi sekalian belanja buah tangan. Saya sangat menyukai interiornya. Ada kesan oldies, tapi juga homey. Meskipun berada di tepi jalan utama, suara bising tidak terdengar dari dalam. Rasanya nyaman duduk lama-lama di café ini. Di Keris Café memang tidak banyak kursi. Dua meja berada di dekat jendela, sedangkan yang lainnya bersebelahan dengan rak oleh-oleh. Ketika saya datang belum ada pengunjung, beberapa lama setelah itu barulah ada pengunjung. Server di Keris Café juga sangat ramah.

Macchiato and Chocolate Croissant
Macchiato dan Chocolate Croissant ©

Harga kopi di Keris Café terbilang murah. Namun, varian menu kopi dan snack terbatas. Menu kopi antara lain, espresso, macchiato, latte, cappuccino, mocha, chocolate, teh dan ada minuman tradisional juga. Sementara itu menu snack seingat saya butter croissant, chocolate croissant, dan beberapa jajanan pasar (sebenarnya ada lagi tapi lupa, ejaannya susah). Saya memesan macchiato, croissant coklat, dan risoles mayo. Rasa kopinya tidak terlalu strong, tapi tetap nikmat. Disediakan dua jenis gula, gula tebu dan gula merah. Saya tambahkan gula merah rasa kopi semakin nikmat. Ada pelengkap biskuit ketika saya memesan macchiato. Saya suka tekstur biskuit yang tidak terlalu kering dan rasanya juga enak. Untuk croissant coklatnya tidak terlalu suka, karena sedikit liat.

Secara keseluruhan yang paling saya sukai adalah suasananya. Lain kali saya akan berkunjung ke Keris Café lagi, sekalian beli kopi utuhnya. Jangan lupa kalau kalian ke Kota Lama Semarang mampir ke Keris Café.

Tuesday, December 10, 2019

Dua Hari Terakhir di Patjar Merah Semarang 2019

December 10, 2019 0
Dua Hari Terakhir di Patjar Merah Semarang 2019
Dua hari menjelang Patjar Merah berakhir, pengunjung festival literasi tersebut tidak surut, malah kian ramai. Bazar buku di lantai satu gedung Soesmans Kantoor selalu dipenuhi pengunjung dari berbagai usia, begitu juga dengan sesi obrolan, lokakarya, dan pertunjukan.

Pada Sabtu 07 Desember 2019 saya mengikuti sesi Berbicara Rasa: Berpuisi dan Bercerita untuk Memahami Diri. Sesi tersebut diisi oleh dua penulis wanita, yaitu Amanda Margareth dan Renita Nozaria. Sementara itu, hari Minggu saya mengikuti sesi Dapur Penerbit: Berburu Penulis dan Naskah Terbaik. Sesungguhnya saya ingin mengikuti sesi Literasi Bercerita: Memanjangkan Ingatan Melalui Dongeng, serta sesi Menulis Ekspresif dan Kesehatan Mental. Namun sangat disayangkan, karena lain hal saya tidak bisa mengikuti sesi tersebut. Padahal sudah excited sekali, tapi baru bisa hadir di sore hari.

Berbicara Rasa: Berpuisi dan Bercerita untuk Memahami Diri

Amanda dan Renita tidak pernah membayangkan akan menjadi penulis, bahkan lingkungan sekitar mereka bisa dibilang tidak terlalu mendukung. Keduanya kuliah di Universitas Diponegoro Semarang yang jurusannya tentu jauh dari dunia menulis. Renita awalnya menulis fanfiction di note Facebook. Awalnya dia tidak pernah menyangka akan ada yang membaca, ternyata dia mendapat apresiasi yang baik. Lalu dia berpindah ke Wattpad. Kebalikannya Amanda tidak berangkat dari menulis di writing platform. Dia menyimpan tulisan apa pun dalam bentuk draft.
Berbicara Rasa diisi oleh Amanda Margareth dan Renita Nozaria
Berbicara Rasa (dokumentasi pribadi, ©)

Menulis, Amanda jadikan sebagai coping mechanism dari berbagai perasaan yang dia alami, misalnya patah hati. Bahkan dia rutin membuat jurnal harian tentang peristiwa apa saja yang terjadi hari itu atau bahkan tentang orang lain.

Renita menulis cerita yang ingin dia baca. Cerita-cerita yang jarang dia temui di pasaran. Tulisan yang dia buat tidak berfokus pada cerita romance, romance baginya adalah bumbu. Dia lebih memandang cinta sebagai suatu yang universal, misalnya cinta kepada keluarga, cinta seorang guru kepada muridnya.

Kedua penulis tersebut sepakat bahwa menulis sesuai keinginan penulis dan pasaran harus seimbang, walaupun Amanda terkadang memiliki idealisme tersendiri terkait tulisannya. Menulis jangan semata-mata untuk mendapat perhatian orang. Tulisan yang bagus pasti akan ditemukan oleh pembaca. Jadi jika tulisan kalian mendapat sedikit pembaca bukan berarti jelek, hanya belum ditemukan. Ketika menulis mereka juga tidak pernah memaksakan diri. Andai harus berhenti sejenak, maka mereka berhenti. Bagi mereka menulis harus dari hati.

Ada beberapa pertanyaan peserta yang menarik perhatian saya. Apakah Amanda dan Renita pernah mengalami perasaan kerdil atau rendah diri dengan tulisan-tulisan penulis hebat lainnya? Jawaban mereka luar biasa. Keduanya tentu pernah mengalami perasaan tersebut, tapi tidak ingin terus membanding-bandingkan diri dengan penulis lain. Mereka percaya semua penulis berangkat dari titik nol. Di balik karya luar biasa penulis lain tidak ada yang tahu bagaimana perjuangan mereka.

Apakah karya terbaik berasal dari penderitaan terhebat? Amanda dan Renita sepakat bahwa bisa jadi demikian atau bahkan tidak. Bisa jadi, karena menurut Amanda menulis bisa dijadikan sarana menumpahkan perasaan. Namun, bukan melulu karena luka, tapi juga soal kecintaan.

Bagaimana respon mereka andai ada orang yang mengutip karya mereka tanpa disertai sumber atau yang terparah melakukan plagiasi? Renita sudah memiliki fanbase di Wattpad, biasanya mereka yang akan memberitahunya dan menegur si pelaku. Sementara Amanda akan menegur orang yang bersangkutan, lalu me-report akun tsb, dan terakhir jika tidak bisa melakukan apa-apa ya dibiarkan saja. Keduanya juga mengatakan bahwa orang yang melakukan plagiasi tidak akan pernah ke mana-mana, karena yang asli tetap yang terbaik. Saya setuju dengan pernyataan tersebut. Menurut saya orang yang melakukan plagiasi kreatifitasnya akan mati, tidak berkembang.

Dapur Penerbit: Berburu Penulis dan Naskah Terbaik

Sesi Dapur Penerbit diisi oleh penerbit Haru, Buku Mojok, Marjin Kiri, Banana, dan Narasi. Kelima penerbit tersebut memiliki segmen yang berbeda. Penerbit Haru khusus menerbitkan buku terjemahan dari penulis Asia. Buku Mojok menerbitkan buku yang lebih bervariasi baik non fiksi maupun fiksi, seperti sastra; kumpulan puisi; kumpulan cerita kemiliteran; sejarah; dll. Marjin Kiri lebih banyak menerbitkan buku non fiksi, tapi sudah mulai merambah fiksi. Banana awalnya lebih banyak menerbitkan buku terjemahan, tapi sekarang juga fokus ke fiksi lokal dan non fiksi sosial budaya. Narasi menerbitkan buku non fiksi yang sudah melalui kajian tentunya dan tergolong penerbit yang beda dari yang lain. Narasi menerbitkan buku yang jarang ditemui di penerbit lainnya.
Dapur Penerbit diisi oleh penerbit Haru, Banana, Buku Mojok, Marjin Kiri, dan Narasi
Dapur Penerbit (dokumentasi pribadi, ©)

Penerbit Banana, Marjin Kiri, dan Narasi tidak pernah mengumumkan secara langsung sedang berburu naskah, tapi jika ada yang berminat tinggal mengirimkan saja. Sementara Haru dan Buku Mojok terkadang mengumumkan pencarian naskah di media sosial atau website mereka. Haru dan Buku Mojok sama-sama lebih banyak berburu naskah daripada menunggu, walaupun keduanya tetap dilakukan. Biasanya banyak naskah yang masuk, tapi sedikit yang sesuai kriteria mereka.

Buku Mojok memiliki target dalam sebulan menerbitkan dua buku non fiksi dan satu buku fiksi. Sementara Haru dalam setahun setidaknya menerbitkan dua belas buku terjemahan. Sebenarnya Haru memiliki imprint yang fokusnya berbeda. Imprint Inari menerbitkan buku dari penulis lokal (setahun targetnya enam buku), Koru menerbitkan buku secara digital, dan Spring menerbitkan buku terjemahan dari Amerika dan Eropa.

Bagaimana mengetahui naskah yang kita kirim sesuai dengan kelima penerbit tersebut? Menurut saya sebaiknya baca dulu buku-buku terbitan mereka agar lebih paham dengan kriterianya. Kalau soal teknis bisa lah mencari ketentuan di website mereka. Namun, soal isi kan tidak. Patokan bagus dan menarik itu juga relatif, jadi kenali dulu penerbit sasaran kalian.

Akhir kata saya sangat senang bisa mengikuti sesi-sesi di Patjar Merah, walaupun tidak semuanya. Banyak ilmu yang bisa saya curi. Semoga Patjar Merah bisa terus menghidupkan semangat literasi di seluruh Indonesia. Terima kasih telah menghadirkan acara yang luar biasa.

Wednesday, December 4, 2019

Patjar Merah Semarang 01 Desember 2019

December 04, 2019 0
Patjar Merah Semarang 01 Desember 2019
Patjar Merah adalah festival literasi dan pasar buku keliling nusantara. Sejak Patjar Merah mengadakan kunjungan mereka ke Jogja, saya sangat ingin menghadiri acara tersebut. Akhirnya Semarang menjadi kota ketiga yang dikunjungi Patjar Merah setelah Malang dan Jogja. Patjar Merah Semarang berlangsung dari tanggal 29 November hingga 08 Desember 2019. Di festival ini diadakan banyak acara menarik mengenai dunia buku dan dunia kreatif lainnya. Ada juga bazar buku dengan diskon hingga 80%. Kurang keren apa coba Patjar Merah ini.
Festival Literasi Patjar Merah
Patjar Merah Semarang (dokumentasi pribadi, ©)

Ada beberapa fakta menarik tentang Patjar Merah di Semarang. Pertama, tanggal 1 Desember 2019 adalah ulang tahun pertama Patjar Merah. Kedua, lokasi diadakan Patjar Merah adalah dua gedung tua di kawasan Kota Lama. Gedung tersebut adalah Soesmans Kantoor dan Monod Diephuis & Co, yang tentunya memiliki nilai sejarah. Selain dua gedung tersebut, lorong instagramable di depan gedung juga digunakan untuk acara (Lorong tempat akar-akar pohon yang menjadi salah satu spot foto iconic di Kota Lama atau disebut The Groot). Saya yakin para pengunjung langsung jatuh cinta dengan lokasi acara Patjar Merah Semarang ini.

Sebelum Patjar Merah berlangsung pengunjung disarankan untuk mengunduh aplikasi Patjar Merah di Google Play Store. Aplikasi tersebut berguna untuk melihat jadwal dan mendaftarkan diri di acara lokakarya, sharing, dan pertunjukan. Hampir seluruh acara gratis. Beberapa acara berbayar adalah pelatihan menulis dan pertunjukan boneka oleh Papermoon Puppet.

Saya baru hadir di Patjar Merah pada Minggu, 01 Desember 2019. Ada dua sesi yang saya ikuti, yaitu Dapur Penulis: Berdua dan Bersendiri, serta Penjenamaan Pribadi (Personal Branding) dan Media Sosial. Pembicara Dapur Penulis adalah penulis Boy Candra, serta Teddy & Maesy. Mereka mengisahkan bagaimana lika-liku menulis sendiri dan berdua. Perjenamaan Pribadi diisi oleh influencer @aMrazing alias Alexander Thian.

Dapur Penulis: Bersendiri dan Berdua

Bagi Boy Candra mungkin dia tidak bisa menulis berdua, karena dia memiliki standar-standar yang bisa jadi berada di atas atau di bawah penulis lain. Tidak mudah untuk menegosiasikannya. Apalagi ada konsekuensi setelah buku kolaborasi terbit. Usaha itu tidak berhenti begitu saja setelah buku jadi. Berdua harus sama-sama memperjuangkan buku yang mereka tulis. Sementara itu, bagi Teddy dan Maesy yang merupakan sepasang suami istri, menulis berdua adalah saling melengkapi. Saya bisa merasakan mereka memiliki harmonisasi itu, ketika memaparkan proses menulis berdua.

Menulis sendiri bukan berarti bebas tanpa kendala harus berdiskusi atau meributkan beberapa bagian. Menulis sendiri berarti memikirkan ide sendiri, menguras otak sendiri untuk mengembangkan ide tersebut menjadi karya. Menulis berdua tidak lepas dari negosiasi. Sebelum masuk ke proses menulis, Teddy dan Maesy harus memastikan cerita mereka akan dibawa ke mana. Jadi ketika menulis sudah tidak ada ribut-ribut lagi a.k.a diskusi tentang alur dan karakter.
Dapur Penulis diisi oleh Boy Candra, Teddy dan Maesy (Post Press)
Dapur Penulis (dokumentasi pribadi, ©)

Ketiga penulis tersebut juga memiliki cara berbeda dalam menyelesaikan tulisan mereka. Boy Candra suka memberikan deadline kepada dirinya sendiri ketika menulis. Misalnya dia harus menyelesaikan cerita dalam waktu tiga bulan, dua bulan adalah riset dan sebulan untuk menulis. Baginya tulisan bisa dikoreksi setelah selesai. Kalau belum selesai apa yang mau dikoreksi. Deadline juga membantunya tetap menyegarkan ingatan akan tulisan yang ingin dia selesaikan. Kalau Teddy dan Maesy kebalikannya. Mereka bukan penulis yang ingin menulis banyak buku, jadi deadline tidak menjadi batasan yang kaku. Namun, bukan berarti mereka tidak memiliki deadline. Deadline membantu mereka memajukan cerita. Terkadang mereka memberi target menulis beberapa ribu kata atau hanya fragmen yang entah mau diletakkan di awal atau akhir. Lalu bagaimana Teddy dan Maesy memelihara ingatan akan tulisan yang mereka buat? Ini unik. Maesy menulis sesuatu yang melekat di ingatannya, sesuatu yang dekat, maka ide itu tetap segar.

Di balik perbedaan bersendiri atau berdua, ketiga penulis tersebut sepakat bahwa writer blocks itu tidak ada (padahal saya pernah nulis artikel tentang itu, ok, itu tahayul ya). Writer blocks hanya alasan yang digunakan karena malas. Boy Candra lebih percaya kepada lelah dan jenuh. Pasti ada masa-masa seperti itu ketika menulis. Jika sudah begitu berhenti sejenak, istirahat atau melakukan kegiatan lain. Teddy dan Maesy sependapat, selama tidak mendiamkan tulisan, maka itu tidak masalah. Harus ingat untuk mengunjungi tulisan kalian.

Sebenarnya masih banyak hal menarik yang dibicarakan dari sesi Dapur Penulis, tapi akan terlalu panjang jika seluruhnya saya tuangkan di sini. Yang jelas menulis bersendiri atau berdua memiliki keunikan masing-masing. Setelah sesi tersebut selesai saya merasa sangat bahagia, entah kenapa. Mereka seperti menyalurkan energi positif kepada orang-orang yang hadir di sana. Saya sangat kagum dengan pemikiran ketiga penulis tersebut. Terima kasih Boy Candra, Teddy dan Measy sudah membagikan kisah menulis kalian.

Penjenamaan Pribadi (Personal Branding) dan Media Sosial

Ketika menghadiri sesi ini saya telat beberapa menit, karena asyik lihat-lihat buku tidak sadar sudah lewat sejam. Namun tidak mengurangi keseruannya, bahkan sekalipun saya tidak dapat tempat duduk. Sesi ini bertempat di lorong depan gedung Soesmans Kantoor. Pesertanya membludak dong.

Di tengah-tengah pembicaraan yang terlewat beberapa menit tersebut, Alexander Thian sedang berinteraksi dengan peserta. Dia menanyakan branding seperti apa yang ingin dibangun, cara apa saja yang sudah dilakukan.

Passion menjadi salah satu hal yang bisa dipertimbangkan untuk memulai branding. Passion adalah hal yang dilakukan berulang-ulang dengan senang hati dan tidak akan membuat jenuh. Andai kita bosan dan tidak konsisten, maka itu bukan passion kita. Namun mesti diingat melakukan passion juga harus realistis. Bagaimana pun juga perut perlu dikasih makan, harus ada penyokong. Andai passion yang kita lakukan juga memberikan penghasilan, maka itu bonus.
Personal Branding diisi oleh Alexander Thian
Penjenamaan Pribadi (dokumentasi pribadi, ©)

Perlu diketahui juga tujuan penjenamaan pribadi di dunia maya, apakah untuk menghibur, memberikan pengetahuan, atau motivasi. Lalu memilih media sosial yang sesuai. Twitter, Facebook, dan Instagram memiliki fungsi berbeda dalam menyajikan informasi. Tipe warganya pun juga berbeda. Kita paham kalau Instagram mengandalkan visual dan yang terbaru fitur IG TV. Sementara Twitter asyik untuk bikin thread.

Alexander Thian menyampaikan bahwa membangun nama di dunia maya bukan hanya soal apa, tapi juga bagaimana. Story telling itu menjadi penting, topik mungkin bisa berbeda tapi mesti ada ciri khas. Alexander Thian bisa membicarakan topik-topik tertentu, tapi dasar dia adalah story telling. Sosoknya tidak akan kabur atau tidak konsisten, karena dia berpegang pada dasar itu.

Alexander Thian memberikan contoh-contoh figure yang melakukan penjenamaan pribadi dengan baik, salah satunya Wahyu Ichwandardi atau Papin (@pinotski). Kebetulan saya mengikuti Papin di Twitter dan sangat kagum dengan cara dia menunjukkan proses berkarya dan menceritakan bagaimana kehidupan merantaunya di US.

Setiap sesi selesai biasanya akan diberikan waktu untuk berfoto dan meminta tanda tangan. Namun saya memilih menepi di café terdekat berhubung perut saya meronta, sekaligus merenungkan sesi penjenamaan pribadi. Saya sadar belum pernah melakukan branding, belum bisa memanfaatkan media sosial secara efektif. Terima kasih Alexander Thian untuk sharing yang bermanfaat. Saya sangat puas mengikuti sesi-sesi di Patjar Merah. Tunggu cerita tentang sesi lain yang saya ikuti. Dan, selamat ulang tahun Patjar!

Monday, December 2, 2019

Ulasan the Addams Family (2019)

December 02, 2019 2
Ulasan the Addams Family (2019)
Ulasan ini memang terlalu terlambat, muncul saat filmnya sudah turun dari bioskop berminggu-minggu lalu. Tapi tidak apa-apa, siapa tahu kalian penasaran film macam apa the Addams Family ini.

Semestinya the Addams Family animasi ini tayang di bioskop Indonesia lebih awal di bulan Oktober, tapi tidak tahu kenapa mundur jauh. Memang sempat tayang midnight awal Oktober sih di Semarang, tapi cuma sebentar. Entah karena kalah saing dengan film-film lain atau bagaimana. Kenyataannya waktu saya ke salah satu bioskop dekat rumah saya jadwal the Addams Family dibatalkan semua. Jadi saya harus pindah bioskop. Dan, memang sepi juga tapi tidak sampai dibatalkan. Padahal saat itu weekend. Entah bagaimana di kota-kota lain.

Saya sempat heran kenapa sedikit peminatnya. Padahal menurut saya film dark comedy ini melegenda. Awalnya the Addams Family ini adalah TV series yang tayang pada tahun 1964 - 1966. Kemudian muncul versi filmnya tahun 1991 dan 1993. Di versi film pemeran Wednesday Addams adalah Christina Ricci yang juga dikenal bermain di film Casper. Sementara pengisi suara di versi animasi (2019) adalah Chloë Grace Moretz.

Selain Chloë, pengisi suara the Addams Family diwarnai dengan aktor-aktor terkenal, misalnya Finn Wolfhard. Finn naik daun berkat perannya di Stranger Things dan It. Finn mengisi suara Pugsley Addams. Tapi karena ini imajinasi saya terhadap Pugsley sedikit ngawur. Setiap melihat Pugsley langsung ingat wajahnya Finn. Lalu, ada juga Charlize Theron yang pernah menyabet penghargaan Golden Globe Award dan Academy Award. Charlize pernah berperan di film Mad Max: Fury Road dan Snow White and the Huntsman.

Wednesday Addams amigurumi
Wednesday Addams Amigurumi ©

Film the Addams Family berkisah tentang suatu keluarga yang pindah dari tanah asalnya, karena diusir. Ketika tinggal di tempat baru ada saja seseorang yang mengusik kehidupan mereka, lagi. Bersamaan dengan acara besar yang berlangsung di rumah keluarga Addams, seorang pembawa acara televisi berniat membongkar rahasia keluarga tersebut dan mengusirnya.

Plot cerita memang sederhana, tapi pesannya dalam. Jadi, keluarga Addams ini dianggap monster dan aneh. Alasan tersebut dijadikan oleh si tokoh antagonis untuk mengusik mereka. Keluarga Addams dianggap tidak pantas hidup berdampingan dengan warga normal (anggapan mereka). Kisah tersebut relate banget kan dengan hal-hal yang pernah terjadi di sekitar kita. Kita kadang atau malah sering menemui diskriminasi di negeri ini, hanya karena hal sepele.

Saya suka opening the Addams Family yang langsung menunjukkan masalah yang dihadapi para tokoh. Opening seperti itu lebih menarik daripada opening yang datar. Namun alur selanjutnya malah terasa sedikit membosankan. Ada beberapa bagian yang menurut saya tidak terlalu berimbas ke alur. Sementara itu bagian Wednesday sekolah dan pembawa acara datang ke rumah keluarga Addams itu menarik. Menurut saya adegan tersebut menjadi penting, karena dapat menggerakkan alur.

Sampai sekarang sejujurnya saya penasaran dengan lubang besar di rumah keluarga Addams. Rumah itu memang hidup. Saya berharap ada misteri yang lebih gelap tentang rumah itu. Mungkin misteri itu disimpan untuk the Addams Family 2. Mungkin.

Sunday, October 20, 2019

Seberapa Jahanamkah Film Perempuan Tanah Jahanam?

October 20, 2019 0
Seberapa Jahanamkah Film Perempuan Tanah Jahanam?
Siapa yang tidak kenal dengan sutradara Joko Anwar yang film-filmnya luar biasa. Setelah Gundala, film terbaru garapan Joko Anwar yang rilis tahun ini adalah Perempuan Tanah Jahanam. Film Perempuan Tanah Jahanam merupakan hasil kerja sama Indonesia dengan pihak Hollywood dan Korea. Film bergenre thriller tersebut rilis serentak di Indonesia tanggal 17 Oktober 2019. Untuk rilis di luar Indonesia belum tahu kapan, tapi Perempuan Tanah Jahanam akan tayang dengan judul Impetigore.

Perempuan Tanah Jahanam berkisah tentang Maya (Tara Basro) yang memiliki kehidupan perekonomian yang sulit. Setelah keluar dari pekerjaannya dia membuat usaha bersama temannya, Dini (Marissa Anita), tapi usahanya sepi. Kemudian Maya mendapatkan informasi tentang warisan yang ditinggalkan orang tuanya di kampung. Dia pun dan Dini berinisiatif untuk pergi ke kampung. Di sanalah perjalanan mereka dimulai.

Pembukaan film Perempuan Tanah Jahanam sangat menarik dengan dialog-dialog tokohnya yang ceplas-ceplos dan suasana yang tegang. Pembukaan tersebut membawa penonton kepada rasa penasaran, karena langsung menyajikan teka-teki. Dialog-dialognya pun realistis dengan keadaan hidup masyarakat Indonesia.

Memasuki latar kampung halaman Maya suasana mencekam semakin terasa. Penonton ikut dibawa merasakan hal-hal janggal pada kampung tersebut. Bukan hanya dari visual saja yang bermain, tapi juga aural dan musikal. Semua itu berpadu menjadi kesatuan yang apik. Saya suka banget sama scoring-nya. Top! Sinematografinya juga.

Film Perempuan Tanah Jahanam ini lebih menjual cerita daripada jumpscare yang biasanya ditemui di film horor. Tanpa jumpscare pun suasana di dalam film yang dikondisikan sedemikian mencekamnya sudah menimbulkan efek seram. Beberapa kali saya pikir akan ada jumpscare eh ternyata tidak, ketipu deh. Hahaha… Malahan beberapa penonton ada yang kaget saat ada yang mengetuk pintu, padahal bukan jumpscare.

Nah masuk ke penokohan, setiap tokoh yang ada di Perempuan Tanah Jahanam memiliki fungsi, tidak ada tokoh yang sia-sia keberadaannya. Porsi setiap tokoh juga disesuaikan jalan cerita. Dan tentu saja akting para aktornya dalam menghidupkan tokoh itu juara banget!

Christine Hakim itu lho diam saja serem, tipikal nenek-nenek yang menyimpan banyak rahasia dan tidak ingin diusik. Akting Asmara Abigail sebagai Ratih, salah satu warga kampung, juga mencuri perhatian. Mulai dari logat bicara, gerak-gerik, ekspresi wajah semuanya pas. Akting Tara Basro badass as always. Ario Bayu sebagai Ki Saptadi, dalang yang kejam dan dingin, aktingnya dapat banget. Akting Marissa Anita juga keren! Saya tahu Marissa ini sebagai news anchor, lalu lihat akting dia pertama kali di TV Series HBO berjudul Half World (belum tahu sebelum itu dia main di film apa), tapi waktu itu sudah ngebatin akting Marissa ini ok.

Selain akting aktor utama, aktor-aktor pendukung juga patut diacungi jempol. Menurut penuturan Joko Anwar melalui wawancara yang saya tonton di channel YouTube Cine Crib, beliau melibatkan warga setempat dalam proses pembuatan film. Untuk pertama kalinya syuting akting mereka itu keren.

Film Perempuan Tanah Jahanam worth it untuk ditonton. Kalau ada yang tanya serem tidak? Sadis tidak? Saya cuma mau ngasih tahu, percayalah ada yang lebih serem dan sadis. Jahanam tidak? Jahanam. Perempuan Tanah Jahanam ini lebih main ke psikologis, gimana tidak, ada yang lebih serem dari dikejar-kejar warga kampung tidak? Hahaha… Tinggalkan komentar kalian di bawah ya.

Saturday, October 19, 2019

Kelas Menulis Skenario Ernest Prakasa Batch 3 di Semarang

October 19, 2019 0
Kelas Menulis Skenario Ernest Prakasa Batch 3 di Semarang
Ketika saya mendapat informasi Ernest Prakasa akan mengadakan kelas menulis skenario di Semarang saya langsung excited. Biasanya kelas-kelas seperti ini kan lebih banyak ada di Jakarta atau kota lainnya. Entah di Semarang kok jarang tahu, apa saya yang kudet atau gimana. Jadi untuk mengikuti kelas Ernest ini bisa gratis kalau mengikuti jalur beasiswa, tapi saat saya tahu infomasi tersebut waktu submit jalur beasiswa sudah kelewat. Saya pun mengikuti jalur reguler. Kapan lagi kan ada kelas seperti ini, saya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.

Kelas menulis skenario di Semarang diadakan pada 13 Oktober 2019 di ballroom Hotel Grasia, dari pukul 09:00 - 13:00. Saya hadir setengah jam sebelum kelas dimulai. Saat itu masih sepi banget, hanya ada saya lalu peserta lain pun satu persatu datang. Kami masuk ke dalam ruangan dan mengisi daftar kehadiran. Di ujung ruang juga disediakan snack dan minuman.

Posisi kursi diatur membentuk huruf U, saya langsung duduk paling depan dong. Saat itu belum kenal siapa-siapa, terus kenalan sama beberapa peserta yang duduk sampingan. Ngobrol-ngobrol sebentar sebelum kelas dimulai.

Kelas dimulai tepat pukul 09:00, saat itu ada satu atau dua peserta yang belum hadir, mungkin karena dari luar Semarang. Kemudian kelas dimulai, pertama-tama Ko Ernest menanyakan kepada peserta tentang pengalaman menulis kami. Ada yang pernah menulis blog, story board, dan menulis cerita di Wattpad.

Lanjut, topik pertama yang dibicarakan mengenai premis, lalu karakter, tujuan, dan 8 sequences. Cara Ko Ernest menyampaikan materi sangat mudah dipahami. Di sela-sela topik tersebut juga dilakukan diskusi dan tanya jawab. Peserta juga latihan membuat premis. Saya sempat membacakan premis yang saya buat dan Ko Ernest mengomentari.

Kelas Menulis Skenario Ernest Prakasa Semarang
Suasana Kelas (dokumentasi pribadi, ©)

Kelas yang berlangsung selama empat jam itu sama sekali tidak membosankan. Malah tidak terasa lama, tahu-tahu sudah selesai (padahal masih ingin lanjut). Istirahat hanya sebentar saat adzan.

Di penghujung kelas Ko Ernest sedikit menjelaskan tahap pembuatan skenario. Peserta juga bisa mengirimkan premis dan sinopsis ke alamat emailnya. Sinopsis tersebut akan dikomentari, andai ceritanya menarik tidak menutup kemungkinan bisa diteruskan ke produser. Kemudian, peserta mendapat sertifikat sebagai tanda telah mengikuti kelas menulis skenario tahap pemula. Sebelum pulang kami berfoto-foto.

Seusai mengikuti kelas menulis tersebut mata saya lebih terbuka tentang struktur cerita untuk film. Nanti kalau nonton film Perempuan Tanah Jahanam mau coba bedah pakai ilmu yang sudah didapat di kelasnya Ko Ernest. Haha… Walapun tidak semua cerita memakai struktur yang sama. Misalnya untuk film pendek strukturnya akan lebih sederhana.

Itulah pengalaman saya mengikuti kelas menulis skenario Ernest Prakasa, ilmunya benar-benar worth it dan sebenarnya tidak selalu untuk skenario saja, tapi menurut saya bisa diaplikasikan juga untuk menulis novel. Jangan lupa tinggalkan komentar di bawah tentang pengalaman menulis kalian. Terima kasih.

Tuesday, October 1, 2019

Fiksi yang Saya Tulis September - Oktober

October 01, 2019 0
Fiksi yang Saya Tulis September - Oktober

Di akhir bulan September saya menulis dua cerpen dan satu novel. Tujuannya untuk ikutan kompetisi dan latihan nulis tentu saja. Cerpen pertama yang saya selesaikan berjudul Reverse dengan genre fantasi. Reverse saya tulis untuk lomba yang diselenggarakan oleh penerbit indie Inspo Creative. Syarat halaman cerpen lumayan banyak sejumlah 16 halaman tidak boleh lebih atau kurang.


Cerpen kedua yang saya selesai tulis berjudul Pejuang Penantian di Kota Mati. Cerpen tersebut saya tulis untuk mengikuti kompetisi yang diadakan oleh Hipwee. Gara-gara ikut kompetisi tersebut, saya jadi tahu ternyata siapa pun bisa berkontribusi nulis di Hipwee. Selama ini kenalnya dengan blog dan writing platform kayak GWP, Storial, Wattpad. Di Hipwee artikel yang ditulis tidak langsung terbit, ada tahapan penyuntingan oleh editor. Apakah artikel sudah layak atau belum, karena ada ketentuan-ketentuan yang harus diikuti saat mengunggah artikel.



Cerpen Pejuang Penantian di Kota Mati ini menyesuaikan tema dari Hipwee, yaitu ‘Menunggu’. Awalnya bingung mau dibuat seperti apa, menunggu itu kan banyak ya, menunggu kepulangan seseorang; pekerjaan; calon suami/istri; dan hal-hal yang diharapkan lainnya. Genrenya kebetulan juga bebas, jadi banyak eksplorasi. Syukurlah saya selesai menulisnya sebelum date line berakhir di tanggal 9 Oktober. Silakan kunjungi link berikut kalau mau membaca Pejuang Penantian di Kota Mati.



Nah novel yang saya tulis di akhir September dan sekarang masih lanjut, berjudul Pembunuh Bayaran. Novel Pembunuh Bayaran saya tulis untuk mengikuti kompetisi Storial dengan tema Dark Secret. Sudah kebayang dong ceritanya bakal kelam. Genre yang masuk ke kompetisi Dark Secret ini adalah horor, thriller, dan misteri. Yang kelam gini genre favorit saya banget, mana mungkin saya lewatkan. Saya pilih genre thriller (padahal sih belum pernah nulis thriller), walaupun mungkin Pembunuh Bayaran ini bisa masuk ketiga genre tersebut. Kalau penasaran dengan cerita ini bisa klik di sini.


Kompetisi Storial Dark Secret berakhir di akhir Oktober 2019, jadi buruan yang tertarik ikutan. Kalian bisa periksa syarat-syaratnya di blog Storial.



Ngomong-ngomong, selain genre favorit di Dark Secret ini tantangannya luar biasa menurut saya. Apa lagi kalau bukan jumlah kata yang minimal 35.000 kata. Kalau sudah punya naskah lumayan ya, tidak ngos-ngosan banget. Kalau yang belum? Mari maraton bareng-bareng!



Saya termasuk yang tidak bisa sekali nulis langsung bagus atau kalau buru-buru sudah pasti ancur. Tapi nulis tetap dibawa enjoy, karena sejatinya nulis untuk kesenangan dan ketenangan. Semoga saya bisa menyelesaikan novel Pembunuh Bayaran tepat waktu (berdoa).



Sebenarnya ada satu novel lagi yang saya selesaikan tanggal 3 September, tapi itu prosesnya lama banget. Diceritain lain waktu saja kalau menang lomba (Amin amin amin).



Sudah nulis apa sajakah kalian di bulan September - Oktober ini? Komentar di bawah ya. Terima kasih sudah berkunjung.

Comment