MELALUI RUANG

Monday, April 1, 2019

Review Novel Gramedia A Sweet Mistake

April 01, 2019 0
Review Novel Gramedia A Sweet Mistake
29 Maret 2019 pukul 19:37 baru saja selesai membaca A Sweet Mistake
Penulis: Vevina Aisyahra
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 248
Tahun terbit: 2017

Bagi Liona, Rey adalah mahasiswa abadi yang selalu sentimen kepadanya, cowok yang tidak punya masa depan. Rey hanya beruntung karena memiliki keluarga kaya. Sementara bagi Rey, Liona adalah tetangga pembawa sial. Gadis tanpa ekspresi yang sok cool dan menyebalkan.

Suatu hari Rey mendapat ide cemerlang untuk mengerjai Liona. Rencana itu dianggapnya akan menjadi tebusan paling manis atas rasa tidak sukanya selama ini. Dan Liona berhasil masuk ke dalam perangkap yang dibuat Rey. Namun, benang takdir punya rencana lain. Tidak hanya Liona, tapi Rey juga terperangkap. Tidak bisa menolak. Akankah hal tersebut membawa keduanya pada akhir yang bahagia? Atau malah menjadi kehancuran bagi keduanya?

Begitulah kira-kira sinopsis yang ada di sampul belakang buku.

Novel terbitan Gramedia a Sweet Mistake adalah pemenang ketiga Gramedia Writing Project batch 3
Novel a Sweet Mistake ©

A Sweet Mistake adalah novel young adult jebolan Gramedia Writing Project batch 3. Novel ini menjadi juara tiga pada kompetisi menulis tersebut. Tidak heran jika novel ini menang, karena menurut saya penulisannya rapi dan karakternya memiliki perkembangan. Gaya bahasa yang digunakan dalam novel ini sederhana tapi enak dibaca. Bagi saya tidak masalah mau gaya bahasa sederhana, unik, indah; tapi yang penting bisa membawa pembaca masuk ke cerita.

Saya suka alur cerita di A Sweet Mistake, tidak bertele-tele. Semua sesuai porsinya. Ceritanya juga berkembang dengan baik. Ada beberapa bagian cerita yang bikin saya ngakak, ada juga yang menyentuh hati. Pokoknya menghiburlah baca A Sweet Mistake.

Karakter utama, Liona dan Rey digambarkan dengan baik. Mereka memiliki warna yang berbeda. Kalau ditanya karakter favorit saya di novel A Sweet Mistake siapa, mungkin Rey. Dia memiliki perkembangan yang baik, bukan berarti Liona tidak ya. Ya bisa dibayangkan Rey itu kan selalu dimanjakan, apa pun yang dia butuhkan selalu ada, itu membuat dia tumbuh menjadi sosok yang effortless. Tapi dia bisa berubah karena keadaan itu cukup drastis menurut saya.

Jadi itu tadi pendapat saya tentang novel A Sweet Mistake. Kalau kalian ingin santai dan tidak ingin bacaan yang berat maka novel ini adalah pilihan yang tepat.

Silakan share rekomendasi novel bagus menurut kalian di kolom komentar.

Saturday, March 30, 2019

Melawan Writer's Block

March 30, 2019 0
Melawan Writer's Block

Cara Mengatasi Writer's Block

Siapa sih yang tidak pernah mengalami writer's block, mostly orang-orang yang melakukan kegiatan menulis pasti pernah mengalami ini. Termasuk saya. Saya akan membagikan bagaimana cara saya mengatasi writer's block yang datangnya tidak sekali dua kali. Beberapa cara mungkin bisa berhasil atau tidak bagi kalian, semuanya kembali ke individu masing-masing.


Mencari Suasana Baru
Kadang jika tempat kerja kita di situ-situ saja terus akan muncul rasa jenuh yang mungkin bisa berakibat pada kinerja saat menulis. Saya sempat mencoba untuk menulis di tempat lain, misalnya kedai kopi atau yang sederhana ubah saja lokasi menulis yang ada di rumah. Tadinya menulis di meja kerja bisa pindah ke ruang tengah, ruang tamu, atau teras. Iya sesimpel itu. Intinya mencari suasana baru yang nyaman.


Membaca
Sudah dipaksa-paksa mau nulis tapi tetap tidak bisa, berhenti dulu. Saya sendiri bisa melakukan banyak aktivitas lain, salah satunya membaca buku. Mengingat membaca buku juga bisa menambah kosa kata, kita juga bisa membedah buku yang kita baca. Dari situ siapa tahu kita menemukan trik untuk menulis. Tidak hanya membaca buku, kalian juga bisa membaca artikel-artikel di internet. Bisa jadi kalian menemukan ide, lalu bisa lanjut menulis lagi.


Menonton Film
Ini refreshing banget, tapi jangan keterusan tulisannya dianggurin kelamaan kan kasihan dia penginnya diapelin (Ya ampun joke-ku receh). Seperti membaca, menonton juga bisa membantu kita menemukan inspirasi yang mungkin diperlukan untuk tulisan kita. Nonton film-film komedi juga bisa menghilangkan stress yang ditimbulkan karena tak kunjung menemukan ide untuk menulis atau stuck.


Melakukan Hobi Lain
Selain membaca dan menonton film kalian bisa melakukan hobi lainnya, contohnya olahraga, menggambar, memasak, mendaki gunung, dll. Kalau saya pribadi paling menggambar, walaupun tidak jago tapi lumayan membuat recharge pikiran buat nulis. Kadang olahraga dan masak juga. Paling suka olahraga badminton atau naik sepeda keliling kompleks.


Mengingat Kembali Komitmen Awal
Apa tujuan kalian menulis? Ingat itu baik-baik. Cuma mau ikut-ikutan orang lain atau karena memang suka nulis dan ada impian yang menunggu untuk diwujudkan. Kalau kalian tidak memiliki alasan kuat, coba merenung dulu deh. Saya memiliki impian untuk menjadi penulis fiksi, jadi kalau ada kompetisi saya berusaha untuk selalu berpartisipasi. Ok minimal saya punya rencana dan naskah. Nah tinggal prosesnya saja gimana. Tentu writer's block kadang mampir. Saya mengingatkan kembali pada diri saya, “Pokoknya saya harus ikut kompetisi ini!”. Walaupun hasilnya tidak seperti yang saya harapkan, at least saya menyelesaikan naskah saya. Saya bisa melatih diri saya untuk rutin menulis. Saya bisa belajar dari kesalahan, lalu memperbaiki tulisan saya.


Diskusi Bersama Teman
Memotivasi diri sendiri mungkin sulit atau tidak selalu berhasil, nah saatnya kalian membutuhkan bantuan orang lain. Kalian bisa hangout bareng teman ngobrol banyak hal dari a sampai z. Melalui interaksi dengan teman ketegangan dalam diri kalian bisa hilang. Teman kalian mungkin bisa memberikan inspirasi ataupun semangat.


Kira-kira itu hal-hal yang biasanya saya lakukan untuk mengatasi writer's block. Saya bisa mengatasi writer's block, kalian pasti juga bisa. Jangan menyerah atau berpikir tidak bakat menulis, tetaplah menulis. Orang bisa menjadi pro itu karena latihan.


Jangan lupa tinggalkan komentar, komentar kalian sangat berarti buat saya. Terima kasih telah berkunjung.

Sunday, March 24, 2019

Akhir dari The Umbrella Academy season 1

March 24, 2019 0
Akhir dari The Umbrella Academy season 1
The Umbrella Academy ini memang menjadi salah satu TV series Netflix yang digandrungi banyak orang, selain Stranger Things tentunya. Sebelumnya saya sudah posting rangkuman The Umbrella Academy episode 1 sampai 4, kali ini saya tidak akan merangkum satu per satu episode sisanya, tapi langsung keseluruhan.

Spoiler alert!

Waktu Menjadi Kunci

Waktu memang menjadi sesuatu yang relatif di season 1 ini. Menurut saya Five mengambil peran cukup banyak (And I love it!), tentu karena ia bisa menjelajah waktu. Di episode 4 diketahui Klaus mengambil koper Hazel dan Cha Cha. Klaus membuka koper tersebut dan tanpa sengaja ia menjelajah waktu. Padahal Klaus belum pergi lama, tapi ia mengaku pada Five kalau ia sudah menjelajah waktu selama setahun. Ok ok waktu itu relatif.

Hazel dan Cha Cha mungkin adalah musuh Five, tapi musuh sebenarnya adalah The Handler. The Handler ini semacam pimpinan di suatu organisasi, saya kurang yakin juga kalau bakal ada pimpinan yang lebih tinggi lagi. Ia dan organisasinya itu mencegah terjadinya perubahan menyimpang pada jaring-jaring waktu. Intinya sih The Handler selalu bilang apa yang terjadi harus terjadi, termasuk kiamat. Tidak boleh ada yang mencegahnya. Five bisa sangat membantu organisasi sekaligus menjadi ancaman untuk The Handler. (Kalau lihat The Handler jadi ingat ibunya Hannah Baker 13RW, yang jadi Kate Walsh juga.)

Five tentu akan mencegah kiamat. Ia berusaha mencari seseorang yang akan bertanggungjawab atas terjadinya kiamat. Apa pun yang terjadi orang itu harus dibunuh. Di sini lah kekacauan waktu terjadi. Five yang kembali bekerja di organisasi tertangkap basah mencari informasi tentang kiamat. Ia berhasil lolos dan meledakkan organisasi sebelum pergi.
Selepas organisasi The Handler meledak, waktu di dunia klasik Five dan saudara-saudaranya pun jadi diatur ulang. Sedikit bosan sih karena ada beberapa adegan diulang. Apa lagi adegan Vanya sama Leonard yang di rumahnya Mr. Hargreaves.

Kalau sudah main-main waktu gini antara harus memerhatikan dengan seksama agar tidak bingung atau bosan karena beberapa adegan sama. Apalagi kalau sudah ada sangkut pautnya sama paradoks waktu harus dipahami benar-benar. Untung sih ini belum ada tanda-tanda munculnya paradoks.

Perkembangan Karakter

Saya suka dengan perubahan Klaus saat kembali setelah penjelajahan waktunya, ya sebenarnya kasihan juga sama Klaus. Tapi ia jadi lebih sadar kalau saya kira. Ia bisa memaksa dirinya sendiri untuk tidak mengonsumsi obat-obatan atau alkohol, walaupun tidak selalu berhasil. Tapi jangan khawatir Klaus tetap menjadi Klaus yang ngeselin.

Ada karakter-karakter yang berkembang dengan baik, ada juga karakter yang jadi nyebelin. Yah namanya cerita, tidak semuanya harus bagus-bagus. Saya memang tidak terlalu suka karakter Luther, tapi saya lebih tidak suka lagi dengan karakter Vanya. Dari episode ke episode kedua karakter tersebut jadi nyebelin. Ini nyebelinnya beda sama Klaus. Kalau Klaus itu nyebelin tapi kocak, suka benar juga kalau ngomong.

Well, akhirnya di episode pertengahan hingga akhir kemampuan Vanya dan Ben ditunjukkan. Jujur saja saya cukup terkejut saat Vanya menyerang Allison. Saya pikir Allison akan mati, untung tidak. Saya akan sangat kecewa kalau karakter Allison dimatikan begitu saja.

Ben akhirnya memiliki panggung. Yes! Saya selalu suka cara Ben mendorong Klaus untuk jadi lebih baik. Interaksi mereka di akhir episode pun mengejutkan.

Bagaimana dengan Diego? Diego memang anaknya Mom, paling sayang ia sama robot satu itu. Mungkin karena kurang kasih sayang dari Mr. Hargreaves, lalu Mom yang selalu ada untuknya. Saya jadi menyesal mencurigai Diego, hahaha…

Akhir dari The Umbrella Academy

Seperti yang sudah dikatakan The Handler, apa yang terjadi harus terjadi. Walaupun Five dan saudaranya menemukan faktor penyebab kiamat sudah tiada, kiamat tetap akan terjadi. Faktor itu berpindah. Pada akhirnya kiamat terjadi. Berbekal kemampuan Five, ia berusaha menyelamatkan saudara-saudaranya dengan mengajak mereka menjelajah waktu.

Iya, itulah akhir The Umbrella Academy season 1. Masih banyak teka-teki dan TV series ini memang akan dilanjutkan ke season 2. Kalau menurut komik vol. 2 yang berjudul Dallas, tentu season 2 akan fokus pada isu di masa lalu. Namun berdasarkan beberapa review yang saya baca, orang-orang justru berspekulasi season 2 akan lebih fokus ke cerita yang ada di komik vol. 3 yaitu Hotel Oblivion. Karena season 1 sendiri merupakan gabungan komik vol. 1 dan setengah komik vol. 2.

Saya belum baca semua komiknya (Jadi pengin dong ya, sad.), tapi ada yang menyebutkan komik vol. 2 terlalu sensitif karena mengangkat cerita kematian John F. Kenedy. Ok, terlepas nanti season 2 akan lebih mengupas komik vol. 3 tidak akan menjadi masalah bagi saya (Ya kan karena saya belum baca komiknya, jadi santai.).

Ada beberapa spekulasi yang muncul di benak saya tentang season 2 ini. Di season 1 The Handler mati, ditembak sama Hazel. Tapi jika di akhir cerita Five pergi menjelajah waktu, kemungkinan kembali ke masa lalu maka The Handler masih hidup. Bisa jadi The Handler akan tetap menjadi musuh Five.

Kemungkinan setting lokasinya season 2 di Dallas. Ketika itu Five yang sudah tua memang sedang tugas di Dallas. Saya takut saja kalau kembali ke masa lalu nanti Five jadi tua. Please jangan! Saya sengaja tidak cari spoiler komiknya. Makanya soal usia Five masih menjadi tanda tanya bagi saya.

Saya lebih suka sosok Five yang diperankan oleh Aidan Gallagher, sengaknya dapat, tampang pintarnya dapat, poker facenya itu luar biasa. Tidak siap jika Five kembali menjadi tua.

Karakter Vanya pun juga masih bisa berkembang di season 2 nanti, menjadi buruk atau menjadi lebih baik. Harapan saya sih ia jadi lebih baik.

Saya kira permainan waktu akan tetap mendominasi di season 2 nanti. Yang jelas saya sangat menantikan season 2. Gimana kalian juga berniat nonton season 2 atau malah belum nonton season 1? (Ups kena spoiler dong kalau belum nonton season 1)

Jangan sungkan untuk meninggalkan pendapat di kolom komentar.

Friday, March 22, 2019

Mengenal Sub Genre dalam Novel

March 22, 2019 3
Mengenal Sub Genre dalam Novel
Sebelumnya saya sudah pernah memberikan contoh dan penjelasan tentang genre cerita fiksi, bisa dibaca di sini. Genre tersebut selanjutnya bisa dikelompokkan lagi menjadi sub genre. Sub genre dalam cerita fiksi bermacam-macam, tapi saya akan menjelaskan empat di antaranya yang familiar bagi saya. Sebagian penjelasan saya dapat dari kelas diskusi dalam komunitas menulis. Silakan simak penjelasan berikut.

Teenlit

Cerita Teenlit sangat dekat dengan dunia remaja, dari namanya saja Teenlit yaitu teen literature. Tokoh utama dalam cerita Teenlit sudah pasti seorang remaja. Ceritanya berkisar di dunia sekolah, persahabatan, dan keluarga. Konflik yang disajikan pun tidak kompleks. Bahasa yang digunakan ringan. Contoh novel Teenlit adalah Twinwar oleh M. Dwipatra, Things About Him oleh Nara Lahmusi, Caramellove Recipe oleh Lia Nurida.

Young Adult

Cerita Young Adult atau biasa disingkat YA tokoh utamanya sudah bukan anak remaja lagi, kalau pun remaja biasanya hampir lulus SMA. Konflik yang disuguhkan pun lebih kompleks daripada Teenlit. Contoh novel YA adalah Halo Tifa oleh Ayu Welirang, Enigma Pasha oleh Akaigita, Breaking Point oleh Pretty Angelia.

Metropop

Cerita Metropop mengisahkan kehidupan wanita urban, macam dunia perkantoran, kehidupan pergaulan yang modern. Ending cerita pada Metropop tidak harus bahagia. Latar belakang tokoh dijelaskan dengan kuat. Misalnya tokoh wanita bekerja di bank, maka pekerjaan wanita tersebut dan situasi tempat kerja dijelaskan  dengan detail. Contoh novel Metropop adalah Resign oleh Almira Bastari, Critical Eleven dan Antologi Rasa oleh Ika Natassa.

Amore

Tokoh utama cerita Amore harus wanita dan ending cerita harus bahagia. Amore bercerita tentang kisah cinta yang sempurna dan lebih fokus terhadap perasaan. Alurnya juga terbilang sederhana, misalnya wanita bertemu dengan pria lalu jatuh cinta; pacaran; tarik ulur; bertengkar; baikan/bertemu kembali; happy ending. Contoh novel Amore adalah Cinta Akhir Pekan oleh Dadan Erlangga, Eleanor oleh Arumi E., Jodoh Terakhir oleh Netty Virgiantini.

Setelah saya perhatikan koleksi buku saya dan mengingat kembali judul buku yang pernah saya pinjam dari perpustakaan, saya simpulkan saya belum pernah baca cerita Amore. Cuma bukan sub genre favorit saja sih. Saya akui saya memang memilih membaca buku yang ingin saya baca atau genre yang memang saya sukai. Mungkin beberapa orang berpikir jika baca genre itu-itu saja maka jenis bacaan tidak akan berkembang. Namun bagi saya waktu membaca itu sempit, sedangkan buku yang ingin dibaca banyak.

Selain keempat sub genre di atas sebenarnya masih banyak genre lain seperti Chicklit, Citylite, Bildungsroman atau coming-of-age, Sicklit, dll. Hanya saja sub genre tersebut memang kurang familiar buat saya. Bildungsroman saya pernah baca sih, contohnya Looking for Alaska. Next time deh saya akan buat penjelasan sub genre part 2.

Bagi kalian yang ingin menanyakan lebih lanjut tentang empat genre yang baru saja saya jelaskan bisa tinggalkan pesan di kolom komentar. Atau jika kalian memiliki penjelasan lebih lengkap jangan sungkan untuk berbagi. Terima kasih telah berkunjung.

Tuesday, March 19, 2019

Ada Zombie di PUBG Mobile

March 19, 2019 0
Ada Zombie di PUBG Mobile
Pecinta PUBG Mobile pasti sudah tahu ada beberapa pembaruan di game yang lisensinya dipegang oleh Tencent tersebut. Selain pembaruan di map Vikendi dan Sanhok ada tambahan mode event, yaitu Survive Till Dawn. Berkolaborasi dengan Resident Evil 2, pemain dapat merasakan sensasi bertarung dengan zombie. Bahkan musik di lobby pun berganti jadi musiknya Resident Evil 2.


Awalnya saya tidak berniat coba Survive Till Dawn, karena ketahuilah habis nonton TV series Kingdom saya merasa zombie itu serem banget (Alasan yang receh.). Tapi tetap rasa penasaran yang lebih menang. Akhirnya saya coba main mode event PUBG Mobile tersebut. Sejauh ini saya baru main sebanyak enam kali di mode tersebut. Hasilnya? Auto kalah. Hahaha… Sempat masuk top 10 sih, tapi itu gara-gara tim saya mainnya bagus. (Maafkan saya rekan-rekan tim.)


Awalnya saya pikir saya cuma akan melawan zombie di Survive Till Dawn, ternyata tetap harus berhadapan sama musuh (manusia) juga. Bayangkan betapa susahnya harus melawan zombie, bersamaan dengan itu harus hati-hati dan peka kalau ada musuh yang mengintai. Saya sih matinya sama zombie terus.


Di mode event terdapat dua situasi, siang dan malam. Ketika siang zombie yang berkeliaran sedikit, tapi ketika malam sudah tiba siap-siaplah menghadapi zombie yang bermunculan dari tanah. Pastikan kalian memiliki peluru dan senjata yang mumpuni. Kalau saya pribadi lebih suka saat malam cari tempat strategis untuk menghadapi zombie, misalnya cari bangunan yang tinggi atau pergi ke atap bangunan. Tapi kebanyakan tim yang saya temui lebih suka main di tempat terbuka.


Sebelum main Survive Till Dawn saya sempat baca beberapa tips, ya biar lebih paham saja.
1. Tempat tinggi itu cocok untuk melawan zombie karena zombie tidak bisa memanjat. Maksud saya tempat tinggi itu bukan serta merta bangunan tingkat dua atau lebih, tapi yang saya maksud atap rumah, peti kemas, kotak-kotak yang ditumpuk tinggi. Meskipun ada zombie yang bisa menyerang jarak jauh, setidaknya kita bisa mengeliminasi jumlah zombie yang kita lawan. Apalagi kalau kita belum memiliki cukup perlengkapan, tapi sudah keburu malam.
2. Selain itu siang dan malam akan berganti dengan cepat selama dua kali, di hari ketiga siang akan lebih lama. Jadi setidaknya harus bertahan selama dua hari untuk serangan zombie. Hari ketiga bisa digunakan untuk fokus melawan musuh.
3. Kekompakan tim juga penting untuk saling melindungi dari serangan zombie. Apalagi jika bertemu dengan bos zombie. Tidak bisa mengalahkannya sendirian.


Setidaknya itu tiga tips yang saya baca, tapi saya masih belum menerapkannya dengan baik. Seingat saya hari ketiga pun saya belum pernah merasakan. Parah…

Senjata Baru di Survive Till Dawn

Di mode ini ada senjata baru yaitu combat knife, flamethrower, dan senapan M134. Combat knife bisa digunakan untuk membunuh zombie jika peluru kalian habis. Flamethrower adalah senjata pelontar api yang bahan bakarnya berupa gas bottle. Sedangkan M134 adalah senapan yang bisa mengeluarkan peluru dalam jumlah banyak sekaligus. Saya belum pernah dapat ketiga senjata tersebut (Ya iyalah mati terus.). Jadi, habis membunuh zombie pemain akan dapat rewards secara acak. Semakin kuat zombie yang dibunuh rewards yang didapat tentu lebih menarik. Kalau bunuh zombie biasa paling dapatnya peluru atau aksesoris senapan lainnya.

Jenis Zombie di Survive Till Dawn

Di dalam Survive Till Down zombie di kategorikan menjadi empat, yaitu zombie, licker, tyrant, dan G (tahap I).
1. Zombie
Zombie sendiri ada beberapa jenis yaitu zombie biasa yang tidak memiliki kemampuan, zombie polisi, zombie dengan serangan jarak jauh yang dapat memuntahkan racun, zombie bertubuh raksasa yang membawa pisau, dan zombie dengan tameng.
2. Licker
Zombie jenis Licker dapat merayap dan memiliki pergerakan yang cepat daripada zombie biasa. Dia hanya muncul saat malam hari.
3. Tyrant
Tyrant adalah bos zombie yang memiliki tubuh besar dan sulit dikalahkan. Dia juga bisa menyerang dengan melempar batu. Jika bisa mengalahkan Tyrant maka pemain akan mendapat reward menarik.
4. G (tahap I)
G (tahap I) juga termasuk bos zombie. Dia membawa semacam tongkat baseball. Serangannya juga mematikan tapi tidak sekuat Tyrant. Seperti halnya Tyrant, jika kalian mengalahkan G (tahap I) akan ada reward menarik.


Mode event Survive Till Dawn ini memang seru, tapi juga bikin panik. Berbeda dengan mode klasik, mode event tidak membutuhkan waktu lama untuk bermain. Kalau belum melakukan pembaruan segera lakukan pembaruan, rasakan sensasi dikejar zombie.


Saya ingatkan bermain game itu hanya untuk hiburan, main berlebihan juga tidak baik. Mainlah secukupnya, jangan sampai kecanduan dan lupa dunia nyata.

Saturday, March 16, 2019

Review Film Dear Ex (Kepada Mantan)

March 16, 2019 3
Review Film Dear Ex (Kepada Mantan)
Kalau tidak salah saya lihat trailer Dear Ex di channel You Tubenya Netflix, langsung tertarik sama plot ceritanya. Ya, Dear Ex merupakan original film dari Netflix. Film berbahasa China ini release tahun 2018, berkisah tentang seorang remaja yang terjebak dalam perseteruan ibunya dengan seorang lelaki yang menjadi pewaris asuransi ayahnya. Rupanya lelaki itu juga merupakan kekasih ayahnya.

Saya speechless sama tokoh Liu Sanlian (diperankan oleh Ying-Xuan Hsieh). Dia benar-benar menggambarkan sosok Ibu yang cerewet, rela melakukan apa pun bahkan hal memalukan demi masa depan anaknya. Song Chengxi (diperankan oleh Joseph Huang) sampai kesal dengan ibunya yang super cerewet dan berisik itu. Sanlian saya gambarkan sebagai tokoh yang depresi karena rumah tangganya yang berantakan, mungkin itu yang membuat dia jadi uring-uringan. Sementara itu Chengxi tumbuh menjadi anak yang introvert dan suka cari masalah. Terbukti dengan teman-temannya yang takut sama dia.

Bagaimana dengan sosok Ayah dan pacarnya? Song Zhengyuan (diperankan oleh Spark Chen) sosok Ayah yang misterius menurut saya, sebelum semuanya terkuak. Sementara itu pacarnya, Jay, seorang sutradara teater yang tidak kalah bermasalah hidupnya. Sanlian dan Chengxi selalu berpikir Jay adalah orang jahat. Jay sudah mengambil sosok suami sekaligus ayah dalam keluarga kecil yang mereka anggap bisa bahagia.

Tak kalah keren dari akting Ying-Xuan, Roy Chiu sebagai Jay aktingnya juga keren. Ketika saya lihat interaksi antara Jay dan Zhengyuan, itu seperti asli. Saya agak merinding sebenarnya dengan tatapannya Jay ke Zhengyuan. Tahulah ya tatapan yang berbicara, hahaha…

Seperti yang kita ketahui kalau suka sesama jenis itu masih tabu banget di Indonesia. Tapi, di Dear Ex saya melihatnya sebagai hubungan partner yang saling dukung. Saya bahkan sempat meneteskan air mata waktu adegan flashback. Duh saya tidak antisipasi sama adegan sedih. Tadinya saya kira film ini lebih banyak komedinya.

Saya menggambarkan tokoh Jay yang kelihatannya jahat dan cuek, tapi sifat aslinya benar-benar berbeda dari apa yang terlihat (Jadi, jangan suka menghakimi orang tanpa tahu lebih dalam.). Bahkan saat Chengxi kurang ajar dengan ibunya karena jengkel, Jay memarahinya. Di film Dear Ex ini Jay justru seolah jadi penengah antara Chengxi dan Sanlian.

Selain karakter tokoh-tokohnya yang kuat, saya suka narasi pembuka oleh Chengxi. Chengxi bilang kalau orang dewasa berusaha menutup-nutupi sesuatu dengan mengatakan hal yang tidak masuk akal. Intinya Chengxi padahal sudah tahu kenyataan tentang ayahnya tapi ibunya tetap berbohong.

Durasi film Dear Ex sekitar 1,5 jam, dengan alur cerita cepat tidak akan membuat bosan. Semuanya dijelaskan dengan baik dan dari sudut pandang Sanlian, Jay, dan Chengxi. Jadi sebagai penonton kita akan paham bagaimana perasaan Chengxi sebagai anak yang keluarganya kacau, Sanlian sebagai wanita yang ditinggalkan suaminya dengan alasan yang tidak bisa dia terima, dan Jay sebagai seorang yang ‘berbeda’ harus bersembunyi dari keluarganya sendiri dan kehilangan orang yang paling dia cintai.

Gimana kalian penasaran kah? Kalau mau tahu bagaimana perjalanan Sanlian merebut asuransi dari Jay demi putranya tonton saja film Dear Ex di Netflix. Endingnya tidak terduga lho.

Wednesday, March 13, 2019

4 Platform Menulis Online yang Populer

March 13, 2019 3
4 Platform Menulis Online yang Populer
Saat ini banyak platform menulis online yang bisa dijadikan wadah untuk menulis. Empat di antaranya yang populer di Indonesia adalah Wattpad, GWP, Storial, dan Sweek. Menulis di platform memiliki kelebihan tersendiri. Kita bisa melatih kemampuan menulis, langsung tahu gimana respon pembaca, bisa punya banyak kenalan atau partner yang mungkin punya selera bacaan sama, kalau karya kita bagus bisa dilirik editor. Kelebihan yang terakhir pastinya yang diimpikan banyak orang yang bercita-cita jadi penulis (Saya juga.).

Intinya banyak manfaat yang bisa kita peroleh dari menulis. Contohnya saya sempat mengikuti kompetisi menulis di GWP dan saya bisa mengikuti pelatihan menulis yang dimentori oleh penulis-penulis hebat. Kalian bisa membaca lebih lanjut pengalaman saya mengikuti kelas menulis tersebut di sini. Selanjutnya simak ulasan saya tentang keempat platform menulis online yang populer berikut.

Wattpad

Siapa yang tidak tahu Wattpad sih, pasti nama ini sudah tidak asing di telinga kalian. Banyak buku yang terbit awalnya berasal dari Wattpad. Beberapa buku bahkan tertulis di sampulnya ‘sudah dibaca sekian juta kali di Wattpad’. Tapi saya sendiri baru baca satu buku yang memang awalnya di tulis di Wattpad (Resign karya Almira Bastari).

Meskipun saya memiliki akun di Wattpad, tapi akun saya tampaknya sudah lumutan. Cuma kadang-kadang saja log in kalau mau baca cerita punya teman. Entahlah saya kurang suka dengan interface Wattpad, mungkin saya yang kurang canggih.

Bulan lalu saya sempat ketemu sama teman-teman buat sharing. Kebetulan salah satu teman masuk 10 besar kompetisi menulis bergengsi dan harus posting cerita di Wattpad. Pasaran cerita fiksi di Wattpad sepertinya kebanyakan dari kalangan remaja. Dan, para remaja itu lebih suka dengan cerita yang renyah serenyah kerupuk dan bahasa santai. Buat kami yang sudah terlalu tua dan selalu kepikiran kata baku KBBI kurang nyampe deh. Hahaha… Namun, bagi kalian yang suka menulis genre lain tidak masalah, platform ini patut dicoba. Pembacanya juga lebih banyak daripada tiga platform lainnya. Jadi kalau bisa promosi dengan baik dan saling kunjung pasti tulisan tetap ramai dibaca.

GWP (Gramedia Writing Project)

Dibaca dari namanya saja sudah tahu ya platform menulis online ini milik PT. Gramedia Pustaka Utama. Banyak juga lho novel terbitan Gramedia berawal dari posting di platform ini. Bahkan Gramedia juga rutin membuat kompetisi menulis, GWP batch 1 - 3, saya sendiri mengikuti yang batch 3.

Jika sasaran penerbit yang kalian ingin tembus adalah Gramedia, saya sarankan rajin posting cerita di GWP dan jangan lupa mention ke twitter GWP. Siapa tahu ada editor yang lagi jalan-jalan di situs tsb lihat cerita kamu menarik.

Dibandingkan sama Wattpad saya lebih aktif bikin cerita di GWP. Di GWP saya sudah nulis tiga cerita, lumayanlah. Berbeda dengan tiga platform lainnya, di GWP tidak ada sistem follower, like, notification. Jadi tampilan cerita yang diterbitkan hanya rating, viewer, dan comment; yang menurut saya itu justru lebih simple. Saya juga suka interfacenya. Hanya saja karena tidak ada sistem follow dan subscribe, maka kita tidak tahu kapan cerita yang kita suka update kecuali kita rajin memeriksa judul cerita tersebut.

Storial

Storial memiliki sistem yang berbeda. Cerita yang diterbitkan di Storial bisa dibuat berbayar mulai dari bab 6. Jika bab berbayar kalian ada yang baca, maka kalian akan mendapat royalti yang berupa koin. Minimal penarikan royalti adalah 800 koin. Ini hampir mirip sama Cabaca sih, kalau Cabaca istilahnya kerang bukan koin.

Sebaliknya jika kalian ingin membaca bab yang berbayar kalian harus membayar menggunakan koin. Kalian bisa mengisi koin kalian melalui transaksi ATM atau kartu kredit. Harga koin paling murah adalah Rp. 20.000; untuk mendapatkan 100 koin dan yang termahal Rp. 125.000; untuk mendapatkan 800 koin.

Sweek

Awal saya tahu Sweek karena ada kompetisi yang diadakan di Grasindo tahun 2018. Sweek ini terbilang baru karena baru launching tahun 2016. Seperti Wattpad, Sweek juga berbasis internasional.

Sama dengan Wattpad dan Storial, Sweek memiliki sistem follower, like, rating, dan comment. Kalian juga bisa mengikuti cerita yang kalian sukai, tapi istilah yang dipakai di sini bukan subscribe tapi follow cerita. Di Sweek juga tidak ada cerita berbayar sejauh yang saya tahu.

Fitur lain yang dimiliki Sweek adalah self publishing. Cerita yang kalian terbitkan di Sweek bisa dibukukan dan dijual secara online melalui channel kalian, website atau media sosial. Saya belum pernah coba sih self publishing di sini, jadi kurang tahu detailnya.

Sweek juga mengadakan kompetisi rutin, bisa kolaborasi dengan penerbit bisa juga dari Sweek sendiri. Kalau kompetisi dari Sweek biasanya hadiahnya dalam dolar. Kompetisi menulis saat ini yang masih berjalan adalah #MikroBumi, yaitu menulis flash fiction tentang Bumi. Hadiahnya lumayan 50 dolar.

Nah itu keempat platform menulis online yang populer di Indonesia. Saya punya akun di masing-masing platform tersebut dan sejauh ini saya lebih suka posting di GWP dan Storial, meskipun tidak serame Wattpad. Di Sweek akhir-akhir ini baru posting dua flash fiction, tadinya ada satu novel tapi karena mau coba dimasukin ke penerbit jadi saya unpublished.

Jika kalian memiliki pertanyaan lebih lanjut tentang keempat platform tersebut bisa tinggalkan di kolom komentar. Kalau saya tahu pasti saya jawab. Terima kasih.

Silakan mampir ke akun saya:
Sweek: WenniPratiwi
Storial: WenniPratiwi
Wattpad: WenniPratiwi

Comment