MELALUI RUANG

Tuesday, March 19, 2019

Ada Zombie di PUBG Mobile

March 19, 2019 0
Ada Zombie di PUBG Mobile
Pecinta PUBG Mobile pasti sudah tahu ada beberapa pembaruan di game yang lisensinya dipegang oleh Tencent tersebut. Selain pembaruan di map Vikendi dan Sanhok ada tambahan mode event, yaitu Survive Till Dawn. Berkolaborasi dengan Resident Evil 2, pemain dapat merasakan sensasi bertarung dengan zombie. Bahkan musik di lobby pun berganti jadi musiknya Resident Evil 2.


Awalnya saya tidak berniat coba Survive Till Dawn, karena ketahuilah habis nonton TV series Kingdom saya merasa zombie itu serem banget (Alasan yang receh.). Tapi tetap rasa penasaran yang lebih menang. Akhirnya saya coba main mode event PUBG Mobile tersebut. Sejauh ini saya baru main sebanyak enam kali di mode tersebut. Hasilnya? Auto kalah. Hahaha… Sempat masuk top 10 sih, tapi itu gara-gara tim saya mainnya bagus. (Maafkan saya rekan-rekan tim.)


Awalnya saya pikir saya cuma akan melawan zombie di Survive Till Dawn, ternyata tetap harus berhadapan sama musuh (manusia) juga. Bayangkan betapa susahnya harus melawan zombie, bersamaan dengan itu harus hati-hati dan peka kalau ada musuh yang mengintai. Saya sih matinya sama zombie terus.


Di mode event terdapat dua situasi, siang dan malam. Ketika siang zombie yang berkeliaran sedikit, tapi ketika malam sudah tiba siap-siaplah menghadapi zombie yang bermunculan dari tanah. Pastikan kalian memiliki peluru dan senjata yang mumpuni. Kalau saya pribadi lebih suka saat malam cari tempat strategis untuk menghadapi zombie, misalnya cari bangunan yang tinggi atau pergi ke atap bangunan. Tapi kebanyakan tim yang saya temui lebih suka main di tempat terbuka.


Sebelum main Survive Till Dawn saya sempat baca beberapa tips, ya biar lebih paham saja.
1. Tempat tinggi itu cocok untuk melawan zombie karena zombie tidak bisa memanjat. Maksud saya tempat tinggi itu bukan serta merta bangunan tingkat dua atau lebih, tapi yang saya maksud atap rumah, peti kemas, kotak-kotak yang ditumpuk tinggi. Meskipun ada zombie yang bisa menyerang jarak jauh, setidaknya kita bisa mengeliminasi jumlah zombie yang kita lawan. Apalagi kalau kita belum memiliki cukup perlengkapan, tapi sudah keburu malam.
2. Selain itu siang dan malam akan berganti dengan cepat selama dua kali, di hari ketiga siang akan lebih lama. Jadi setidaknya harus bertahan selama dua hari untuk serangan zombie. Hari ketiga bisa digunakan untuk fokus melawan musuh.
3. Kekompakan tim juga penting untuk saling melindungi dari serangan zombie. Apalagi jika bertemu dengan bos zombie. Tidak bisa mengalahkannya sendirian.


Setidaknya itu tiga tips yang saya baca, tapi saya masih belum menerapkannya dengan baik. Seingat saya hari ketiga pun saya belum pernah merasakan. Parah…

Senjata Baru di Survive Till Dawn

Di mode ini ada senjata baru yaitu combat knife, flamethrower, dan senapan M134. Combat knife bisa digunakan untuk membunuh zombie jika peluru kalian habis. Flamethrower adalah senjata pelontar api yang bahan bakarnya berupa gas bottle. Sedangkan M134 adalah senapan yang bisa mengeluarkan peluru dalam jumlah banyak sekaligus. Saya belum pernah dapat ketiga senjata tersebut (Ya iyalah mati terus.). Jadi, habis membunuh zombie pemain akan dapat rewards secara acak. Semakin kuat zombie yang dibunuh rewards yang didapat tentu lebih menarik. Kalau bunuh zombie biasa paling dapatnya peluru atau aksesoris senapan lainnya.

Jenis Zombie di Survive Till Dawn

Di dalam Survive Till Down zombie di kategorikan menjadi empat, yaitu zombie, licker, tyrant, dan G (tahap I).
1. Zombie
Zombie sendiri ada beberapa jenis yaitu zombie biasa yang tidak memiliki kemampuan, zombie polisi, zombie dengan serangan jarak jauh yang dapat memuntahkan racun, zombie bertubuh raksasa yang membawa pisau, dan zombie dengan tameng.
2. Licker
Zombie jenis Licker dapat merayap dan memiliki pergerakan yang cepat daripada zombie biasa. Dia hanya muncul saat malam hari.
3. Tyrant
Tyrant adalah bos zombie yang memiliki tubuh besar dan sulit dikalahkan. Dia juga bisa menyerang dengan melempar batu. Jika bisa mengalahkan Tyrant maka pemain akan mendapat reward menarik.
4. G (tahap I)
G (tahap I) juga termasuk bos zombie. Dia membawa semacam tongkat baseball. Serangannya juga mematikan tapi tidak sekuat Tyrant. Seperti halnya Tyrant, jika kalian mengalahkan G (tahap I) akan ada reward menarik.


Mode event Survive Till Dawn ini memang seru, tapi juga bikin panik. Berbeda dengan mode klasik, mode event tidak membutuhkan waktu lama untuk bermain. Kalau belum melakukan pembaruan segera lakukan pembaruan, rasakan sensasi dikejar zombie.


Saya ingatkan bermain game itu hanya untuk hiburan, main berlebihan juga tidak baik. Mainlah secukupnya, jangan sampai kecanduan dan lupa dunia nyata.

Saturday, March 16, 2019

Review Film Dear Ex (Kepada Mantan)

March 16, 2019 3
Review Film Dear Ex (Kepada Mantan)
Kalau tidak salah saya lihat trailer Dear Ex di channel You Tubenya Netflix, langsung tertarik sama plot ceritanya. Ya, Dear Ex merupakan original film dari Netflix. Film berbahasa China ini release tahun 2018, berkisah tentang seorang remaja yang terjebak dalam perseteruan ibunya dengan seorang lelaki yang menjadi pewaris asuransi ayahnya. Rupanya lelaki itu juga merupakan kekasih ayahnya.

Saya speechless sama tokoh Liu Sanlian (diperankan oleh Ying-Xuan Hsieh). Dia benar-benar menggambarkan sosok Ibu yang cerewet, rela melakukan apa pun bahkan hal memalukan demi masa depan anaknya. Song Chengxi (diperankan oleh Joseph Huang) sampai kesal dengan ibunya yang super cerewet dan berisik itu. Sanlian saya gambarkan sebagai tokoh yang depresi karena rumah tangganya yang berantakan, mungkin itu yang membuat dia jadi uring-uringan. Sementara itu Chengxi tumbuh menjadi anak yang introvert dan suka cari masalah. Terbukti dengan teman-temannya yang takut sama dia.

Bagaimana dengan sosok Ayah dan pacarnya? Song Zhengyuan (diperankan oleh Spark Chen) sosok Ayah yang misterius menurut saya, sebelum semuanya terkuak. Sementara itu pacarnya, Jay, seorang sutradara teater yang tidak kalah bermasalah hidupnya. Sanlian dan Chengxi selalu berpikir Jay adalah orang jahat. Jay sudah mengambil sosok suami sekaligus ayah dalam keluarga kecil yang mereka anggap bisa bahagia.

Tak kalah keren dari akting Ying-Xuan, Roy Chiu sebagai Jay aktingnya juga keren. Ketika saya lihat interaksi antara Jay dan Zhengyuan, itu seperti asli. Saya agak merinding sebenarnya dengan tatapannya Jay ke Zhengyuan. Tahulah ya tatapan yang berbicara, hahaha…

Seperti yang kita ketahui kalau suka sesama jenis itu masih tabu banget di Indonesia. Tapi, di Dear Ex saya melihatnya sebagai hubungan partner yang saling dukung. Saya bahkan sempat meneteskan air mata waktu adegan flashback. Duh saya tidak antisipasi sama adegan sedih. Tadinya saya kira film ini lebih banyak komedinya.

Saya menggambarkan tokoh Jay yang kelihatannya jahat dan cuek, tapi sifat aslinya benar-benar berbeda dari apa yang terlihat (Jadi, jangan suka menghakimi orang tanpa tahu lebih dalam.). Bahkan saat Chengxi kurang ajar dengan ibunya karena jengkel, Jay memarahinya. Di film Dear Ex ini Jay justru seolah jadi penengah antara Chengxi dan Sanlian.

Selain karakter tokoh-tokohnya yang kuat, saya suka narasi pembuka oleh Chengxi. Chengxi bilang kalau orang dewasa berusaha menutup-nutupi sesuatu dengan mengatakan hal yang tidak masuk akal. Intinya Chengxi padahal sudah tahu kenyataan tentang ayahnya tapi ibunya tetap berbohong.

Durasi film Dear Ex sekitar 1,5 jam, dengan alur cerita cepat tidak akan membuat bosan. Semuanya dijelaskan dengan baik dan dari sudut pandang Sanlian, Jay, dan Chengxi. Jadi sebagai penonton kita akan paham bagaimana perasaan Chengxi sebagai anak yang keluarganya kacau, Sanlian sebagai wanita yang ditinggalkan suaminya dengan alasan yang tidak bisa dia terima, dan Jay sebagai seorang yang ‘berbeda’ harus bersembunyi dari keluarganya sendiri dan kehilangan orang yang paling dia cintai.

Gimana kalian penasaran kah? Kalau mau tahu bagaimana perjalanan Sanlian merebut asuransi dari Jay demi putranya tonton saja film Dear Ex di Netflix. Endingnya tidak terduga lho.

Wednesday, March 13, 2019

4 Platform Menulis Online yang Populer

March 13, 2019 3
4 Platform Menulis Online yang Populer
Saat ini banyak platform menulis online yang bisa dijadikan wadah untuk menulis. Empat di antaranya yang populer di Indonesia adalah Wattpad, GWP, Storial, dan Sweek. Menulis di platform memiliki kelebihan tersendiri. Kita bisa melatih kemampuan menulis, langsung tahu gimana respon pembaca, bisa punya banyak kenalan atau partner yang mungkin punya selera bacaan sama, kalau karya kita bagus bisa dilirik editor. Kelebihan yang terakhir pastinya yang diimpikan banyak orang yang bercita-cita jadi penulis (Saya juga.).

Intinya banyak manfaat yang bisa kita peroleh dari menulis. Contohnya saya sempat mengikuti kompetisi menulis di GWP dan saya bisa mengikuti pelatihan menulis yang dimentori oleh penulis-penulis hebat. Kalian bisa membaca lebih lanjut pengalaman saya mengikuti kelas menulis tersebut di sini. Selanjutnya simak ulasan saya tentang keempat platform menulis online yang populer berikut.

Wattpad

Siapa yang tidak tahu Wattpad sih, pasti nama ini sudah tidak asing di telinga kalian. Banyak buku yang terbit awalnya berasal dari Wattpad. Beberapa buku bahkan tertulis di sampulnya ‘sudah dibaca sekian juta kali di Wattpad’. Tapi saya sendiri baru baca satu buku yang memang awalnya di tulis di Wattpad (Resign karya Almira Bastari).

Meskipun saya memiliki akun di Wattpad, tapi akun saya tampaknya sudah lumutan. Cuma kadang-kadang saja log in kalau mau baca cerita punya teman. Entahlah saya kurang suka dengan interface Wattpad, mungkin saya yang kurang canggih.

Bulan lalu saya sempat ketemu sama teman-teman buat sharing. Kebetulan salah satu teman masuk 10 besar kompetisi menulis bergengsi dan harus posting cerita di Wattpad. Pasaran cerita fiksi di Wattpad sepertinya kebanyakan dari kalangan remaja. Dan, para remaja itu lebih suka dengan cerita yang renyah serenyah kerupuk dan bahasa santai. Buat kami yang sudah terlalu tua dan selalu kepikiran kata baku KBBI kurang nyampe deh. Hahaha… Namun, bagi kalian yang suka menulis genre lain tidak masalah, platform ini patut dicoba. Pembacanya juga lebih banyak daripada tiga platform lainnya. Jadi kalau bisa promosi dengan baik dan saling kunjung pasti tulisan tetap ramai dibaca.

GWP (Gramedia Writing Project)

Dibaca dari namanya saja sudah tahu ya platform menulis online ini milik PT. Gramedia Pustaka Utama. Banyak juga lho novel terbitan Gramedia berawal dari posting di platform ini. Bahkan Gramedia juga rutin membuat kompetisi menulis, GWP batch 1 - 3, saya sendiri mengikuti yang batch 3.

Jika sasaran penerbit yang kalian ingin tembus adalah Gramedia, saya sarankan rajin posting cerita di GWP dan jangan lupa mention ke twitter GWP. Siapa tahu ada editor yang lagi jalan-jalan di situs tsb lihat cerita kamu menarik.

Dibandingkan sama Wattpad saya lebih aktif bikin cerita di GWP. Di GWP saya sudah nulis tiga cerita, lumayanlah. Berbeda dengan tiga platform lainnya, di GWP tidak ada sistem follower, like, notification. Jadi tampilan cerita yang diterbitkan hanya rating, viewer, dan comment; yang menurut saya itu justru lebih simple. Saya juga suka interfacenya. Hanya saja karena tidak ada sistem follow dan subscribe, maka kita tidak tahu kapan cerita yang kita suka update kecuali kita rajin memeriksa judul cerita tersebut.

Storial

Storial memiliki sistem yang berbeda. Cerita yang diterbitkan di Storial bisa dibuat berbayar mulai dari bab 6. Jika bab berbayar kalian ada yang baca, maka kalian akan mendapat royalti yang berupa koin. Minimal penarikan royalti adalah 800 koin. Ini hampir mirip sama Cabaca sih, kalau Cabaca istilahnya kerang bukan koin.

Sebaliknya jika kalian ingin membaca bab yang berbayar kalian harus membayar menggunakan koin. Kalian bisa mengisi koin kalian melalui transaksi ATM atau kartu kredit. Harga koin paling murah adalah Rp. 20.000; untuk mendapatkan 100 koin dan yang termahal Rp. 125.000; untuk mendapatkan 800 koin.

Sweek

Awal saya tahu Sweek karena ada kompetisi yang diadakan di Grasindo tahun 2018. Sweek ini terbilang baru karena baru launching tahun 2016. Seperti Wattpad, Sweek juga berbasis internasional.

Sama dengan Wattpad dan Storial, Sweek memiliki sistem follower, like, rating, dan comment. Kalian juga bisa mengikuti cerita yang kalian sukai, tapi istilah yang dipakai di sini bukan subscribe tapi follow cerita. Di Sweek juga tidak ada cerita berbayar sejauh yang saya tahu.

Fitur lain yang dimiliki Sweek adalah self publishing. Cerita yang kalian terbitkan di Sweek bisa dibukukan dan dijual secara online melalui channel kalian, website atau media sosial. Saya belum pernah coba sih self publishing di sini, jadi kurang tahu detailnya.

Sweek juga mengadakan kompetisi rutin, bisa kolaborasi dengan penerbit bisa juga dari Sweek sendiri. Kalau kompetisi dari Sweek biasanya hadiahnya dalam dolar. Kompetisi menulis saat ini yang masih berjalan adalah #MikroBumi, yaitu menulis flash fiction tentang Bumi. Hadiahnya lumayan 50 dolar.

Nah itu keempat platform menulis online yang populer di Indonesia. Saya punya akun di masing-masing platform tersebut dan sejauh ini saya lebih suka posting di GWP dan Storial, meskipun tidak serame Wattpad. Di Sweek akhir-akhir ini baru posting dua flash fiction, tadinya ada satu novel tapi karena mau coba dimasukin ke penerbit jadi saya unpublished.

Jika kalian memiliki pertanyaan lebih lanjut tentang keempat platform tersebut bisa tinggalkan di kolom komentar. Kalau saya tahu pasti saya jawab. Terima kasih.

Silakan mampir ke akun saya:
Sweek: WenniPratiwi
Storial: WenniPratiwi
Wattpad: WenniPratiwi

Sunday, March 10, 2019

Review Film Swing Kids 2018 Dibintangi DO EXO

March 10, 2019 2
Review Film Swing Kids 2018 Dibintangi DO EXO
Seperti biasa kalau mau nonton film bagi saya wajib nonton trailernya dulu, harus cari tahu tentang apa film yang akan ditonton. Setelah nonton trailer Swing Kids saya benar-benar tertarik dengan film ini. Ditambah pemain utamanya adalah Do Kyung Soo atau dikenal juga sebagai D.O. member boy band Exo. Menurut saya Kyungsoo memiliki kemampuan akting yang bagus. Selain hal itu alasan saya tertarik nonton Swing Kids, karena terlihat sangat menjanjikan dengar latar kamp tahanan perang. Entah kenapa ketika nonton trailernya saja saya bisa menangkap nilai di balik film ini.

Plot dan Pesan Moral Swing Kids

Swing Kids tayang Desember 2018 di Korea Selatan dan baru tayang di Indonesia tahun 2019. Film ini bercerita tentang kehidupan Rho Ki Soo sebagai tahanan perang di kamp Pulau Geoje. Di Kamp tersebut dibagi jadi anti-komunis dan pro-komunis. Di tempat yang harusnya terasa seperti neraka Ki Soo menemukan sebuah harapan melalui tarian tap, ketika Sersan Jackson membentuk sebuah tim tari. Selain Ki Soo tiga anggota lainnya juga memiliki tujuan kenapa mereka menari dan bersama-sama mereka berusaha mewujudkannya.

Film ini diperankan oleh Do Kyungsoo sebagai Rho Ki Soo yang berasal dari Korea Utara, Park Hye Soo sebagai Yang Pan Rae yang berasal dari Korea Selatan, Jared Grimes sebagai Sersan Jackson yang tentu saja berasal dari Amerika, Kim Min Ho sebagai Xiao Fang yang berasal dari China, dan Oh Jung Se sebagai Kang Byung Sam berasal dari Korea Selatan.

Ok, kenapa saya repot-repot mengenalkan mereka satu per satu bahkan sampai kewarganegaraannya juga? Cuma mau menunjukkan saja kalau mereka berlima beragam dan bisa bersatu karena tarian. Itu sungguh menenangkan hati. Di film Swing Kids juga menyinggung tentang isu rasis, yang menurut saya hingga saat ini masih terjadi di beberapa belahan dunia.

Perang selalu meninggalkan penderitaan dan kesedihan, itu juga yang terlihat di dalam film Swing Kids. Para tawanan hanya ingin perang berakhir sehingga mereka bisa pulang kepada keluarga mereka. Bagi saya film ini meninggalkan kesan dan pesan yang sangat mendalam.

Para Tokoh dalam Swing Kids

Selain pesan yang kuat, kalian akan dibuat takjub dengan kemampuan menari para aktornya. Saya yakin tap dance tidaklah mudah, para aktor pastilah berlatih sangat keras untuk bisa menari sebagus itu. Big applause.

Seperti yang saya duga sejak awal akting Kyungsoo pun sangat memukau. Sebagai seseorang yang berjiwa nasionalis Ki Soo mengalami pergolakan antara menjadi pahlawan bagi bangsanya atau menari sesuai keinginan hatinya (Bagi orang Korea Utara budaya barat itu tidak bisa mereka terima dan tap dance jelas berasal dari Amerika.). Menurut saya Kyungsoo berhasil menjadi Ki Soo yang penuh pergolakan.

Untuk film Swing Kids saya tidak bisa memilih karakter mana yang paling saya sukai. Menurut saya kelima pemain utama memiliki karakter yang kuat. Bahkan Xiao Fang yang lebih banyak diam pun juga. Xiao Fang berhasil menunjukkan ia ingin menari karena itu memang passionnya. Tapi sempat disebut juga oleh Ki Soo kalau Xiao Fang menari karena ingin kurus. Sementara itu Byung Sam ingin menari demi mencari istrinya yang sempat terpisah. Sepertinya istri Byung Sam ini berbeda kewarganegaraan apa gimana, saya kurang ngerti juga.

Saya juga suka Pan Rae. Ia menggambarkan kekuatan seorang wanita, apalagi di tengah kesulitan hidup karena perang. Ia banyak bekerja keras dan seorang yang pintar. Ia bisa berbicara dalam empat bahasa.

Jackson sebagai seorang kulit hitam juga mengalami ketidakadilan oleh bangsanya sendiri. Ia dikirim ke Geoje tentu karena rekan-rekannya yang berkulit putih tidak menyukainya. Tapi tidak seperti prajurit lain, saya melihat ketulusan dari Jackson. Saya sangat tersentuh ketika ia menyapaikan kata pembuka sebelum melakukan pertunjukan. Intinya semua orang bisa mencapai impian mereka, jika tidak ada perang.

Pada akhirnya film Swing Kids ini worth it untuk ditonton. Apakah kalian juga sudah nonton? Silakan tinggalkan komentar kesan dan pesan apa yang kalian peroleh setelah nonton film ini.

Thursday, March 7, 2019

Drama Mandarin The Big Boss season 1

March 07, 2019 12
Drama Mandarin The Big Boss season 1

Drama Mandarin yang Bikin Ngakak

Bisa dibilang nonton drama The Big Boss ini adalah suatu ketidaksengajaan saat saya berselancar di You Tube. Saya pikir ini drama baru ternyata sudah lumayan lama. Release tahun 2017 The Big Boss memiliki 18 episode dan ada season dua dengan jumlah episode yang sama. Penasaran saya coba nonton episode satu, dan... Gokil!

The Big Boss menceritakan kehidupan SMA seorang perempuan bernama Ye Mu Xi (nickname: Yezi). Ketika hari pertama masuk SMA dia tidak sengaja berpapasan dengan tetangganya, Liao Dan Yi, musuh bebuyutannya. Selama 9 tahun wajib belajar Yezi merasa terkekang oleh sikap Danyi yang suka mengaturnya. Mereka selalu berada di kelas yang sama dan Danyi selalu menjadi ketua kelas. Yezi senang pada akhirnya dia lulus SMP dan bisa menghirup udara kebebasan. Awalnya dia pikir Danyi bersekolah di tempat lain, tapi harapannya pudar ketika dia menemukan bahwa Danyi bersekolah di tempat yang sama, SMA Maple. Bahkan Danyi sekelas dengannya, di kelas 10 (Kelas paling buruk, karena diisi dengan murid yang nilainya jelek.). Padahal sudah jelas bahwa Danyi sangat pintar seharusnya dia bisa berada di kelas 1. Fyi, di SMA Maple kelas-kelas dibagi berdasarkan nilai dari terbaik ke terburuk.

Siapa yang disebut The Big Boss? Tentu saja Yezi. Semuanya berawal dari Danyi yang mengajukan diri untuk menjadi ketua kelas 10, tapi membayangkan Danyi akan mengaturnya Yezi merasa ngeri. Akhirnya dengan berbekal keberanian dia juga mengajukan diri untuk menjadi ketua kelas. Karena kelas 10 itu nyeleneh banget, maka yang terpilih jadi ketua kelas adalah Yezi, meskipun dengan suara 4:3 (Seriusan itu yang pilih cuma orang 11, murid lainnya ngaco pilih ketua kelasnya.).

Awalnya saya agak bingung kok settingnya macam-macam ada fantasinya gitu. Ternyata itu semua hanya imajinasi Yezi, kadang juga imajinasi teman-temannya Yezi. Ya, drama mandarin ini memang memiliki nuansa yang komik banget. Di The Big Boss ini juga diceritakan kalau Yezi suka baca komik. Tidak heran jika dia suka menggambar di buku pelajarannya sambil berimajinasi.

Selain itu di awal disebutkan bahwa The Big Boss ini bukan lah kisah cinta, setidaknya kisah cinta bukan menjadi yang utama. Cerita yang utama dari The Big Boss lebih ke remaja yang sedang mencari jati diri. Hal-hal tentang persahabatan dan impian sangat kental. Cerita yang begini termasuk yang saya sukai, masa remaja tidak melulu soal cinta.

Saya akui akting Eleanor Lee sebagai Ye Mu Xi keren banget, tengilnya dapat. Dia diam saja sudah kelihatan tengil, hahaha... Selain itu dia juga ekspresif banget. Saya bertanya-tanya itu lawan mainnya pada nahan tawa atau tidak waktu adegan sama Ye Mu Xi yang kocak. Bahkan Huang Jun Jie sebagai Danyi harus selalu tampil dengan poker face-nya itu. Saya saja ngakak.

Walaupun The Big Boss dibalut dengan komedi yang kadang receh, tapi tetap ada pesan moral di balik setiap cerita. Yang paling saya rasakan, kadang orang meremehkan seseorang hanya karena nilai akademik mereka tidak bagus. Padahal bisa saja orang-orang tersebut memiliki bakat di bidang lain. Ini sih yang kebanyakan terjadi pada murid di kelasnya Yezi.

Contohnya si kembar Huang Nan dan Huang Yi, mereka itu pintar kimia tapi sayangnya malah digunakan untuk menjahili orang lain, pintar dagang juga (bahkan sepedanya kepala sekolah sampai tidak sengaja dijual juga); Yuan Ke Er itu pintar gambar tapi malah disalurkan dengan bikin mural di jalanan, kurang dapat support; lalu Tian Cheng punya bakat menulis tapi lebih suka menyendiri karena memiliki masalah dengan ayahnya, dia juga tidak peduli dengan kebersihan sehingga dijauhi teman-temannya. Tapi berkat Yezi dan pengurus kelas lainnya Ke Er dan Tian Cheng bisa berubah jadi lebih baik.

Meskipun Danyi selalu menganggap Yezi payah dalam pelajaran, tapi menurut saya Yezi ini memiliki keberanian dan kelebihan untuk merangkul teman-temannya. Kayaknya saja cuek tapi dia termasuk orang yang peduli dengan teman-temannya. Secara pribadi saya suka dengan tokoh Yezi, terlepas dari sifatnya yang kurang mandiri dan pemalas (Ya masa mau sarapan saja kudu kakaknya yang bikin.).


Well, kalau kalian suka cerita khas remaja ala komik, penuh dengan komedi, dan pesan positif; maka The Big Boss adalah pilihan yang tepat.

Tuesday, March 5, 2019

Buku yang Saya Baca Februari 2019

March 05, 2019 0
Buku yang Saya Baca Februari 2019
Bulan Februari saya cuma berhasil membaca dua buku. Kedua buku tersebut adalah buku fiksi terbitan Gramedia. Simak ulasan saya tentang kedua buku tersebut.
Covernya bisa senada gini ya (dok. pribadi)

Breaking Point

13 Februari 2019 11:56 baru saja selesai membaca Breaking Point
Penulis             : Pretty Angelia
Penerbit           : PT. Gramedia Pustaka Utama
Halaman          : 240
Tahun terbit    : 2017

Breaking Point merupakan jebolan GWP batch 3. Awal saya baca blurb-nya sudah tertarik banget. Breaking Point menceritakan tentang perjuangan orang-orang yang mengikuti program Paket C karena suatu permasalahan. Geta berusia 17 tahun dikeluarkan dari sekolah, padahal dia termasuk murid pandai bahkan pernah menjadi Ketua OSIS. Vierro berusia 18 tahun terpaksa meninggalkan UN karena tidak bisa meninggalkan kompetisi catur di Roma. Daniar berusia 17 tahun memiliki suatu penyakit dan hanya dengan mengikuti program Paket C dia bisa mewujudkan cita-citanya. Terakhir Bogel berusia 20 tahun, seorang mantan napi yang ingin memiliki ijazah.

Novel dengan genre young adult ini ditulis dengan gaya ringan dan mengalir, khas anak remaja. Konflik yang disajikan lebih kompleks, tapi memiliki alur yang cepat. Jadi tidak bikin bosan. Saya suka dengan covernya dan kutipan kalimat di bawah judulnya. “Kesempatan kedua ada bagi mereka yang mau berjuang.” Sudah kelihatan banget kalau novel ini akan sangat menginspirasi dan memang iya. Selama ini banyak yang meremehkan orang yang mengikuti program Paket C, tanpa mengetahui apa alasan mereka.

Tokoh utama yaitu Geta, memiliki karakter pemberani yang kadang justru membuatnya dalam masalah. Dia juga orang yang sengak, menurut saya. Tapi jauh dari sifat sengaknya itu saya suka dengan karakternya yang kuat. Sementara karakter lain tidak terlalu menonjol, meskipun Vierro tampaknya sangat populer dan keren tapi menurut saya biasa saja, haha... Sementara itu, karakter Daniar yang berjuang dengan panyakitnya mampu menyentuh hati saya. Walaupun penyakit itu terus menggerogotinya, tapi dia tidak pasrah dan masih ingin berjuang buat impiannya.

Quote:
“Karena selama orangtua kita ada, selama itulah waktu yang tepat untuk banggain mereka.”
-Vierro-

Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu

28 Februari 2019 pukul 19:55 baru saja selesai membaca Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu
Penulis             : Norman Erikson Pasaribu
Penerbit           : PT. Gramedia Pustaka Utama
Halaman          : 171
Tahun terbit    : 2014

Saya membeli kumpulan prosa ini dengan versi cover baru, dapat rekomendasi dari teman saya. Awalnya saya tahunya Norman Erikson ini menulis kumpulan puisi Sergius Mencari Bacchus dan kabarnya sudah diterjemahkan dalam bahasa inggris. Satu kata yang dapat menggambarkan kumpulan prosa ini ‘genius’. Buku ini merupakan debut Norman Erikson dan langsung masuk ke dalam Lima Besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2014. Keren!

Terkadang saya bingung gimana mau mengulas buku yang keren, karena rasanya tidak ada kalimat yang mampu mengungkapkannya.

Di dalam buku ini ada 20 prosa dan memiliki atmosfer gloomy. Yang paling saya sukai adalah Pria Murakami (Sebenarnya suka juga dengan Mendaki Bersama Xingjian, tapi karena paling saya harus pilih salah satu.). Mostly, ending cerita prosa di buku ini termasuk open ending, yang tentunya saya sukai. Dan kebanyakan dari cerita tersebut meninggalkan kesan buat saya. Saya juga suka banget dengan gaya penulisan Norman Erikson.

Kayaknya Sergius Mencari Bacchus juga harus masuk list  dan saya tunggu karya-karya selanjutnya dari Norman Erikson Pasaribu.

Quote:
“Sebab, aku selalu menemukan kesepian pada ruang antara deretan tempat duduk itu. Di sana, kutemukan kesunyian yang menganga dan dari lubang besar itu keluar rayap-rayap sepi yang perlahan menggerogoti hatiku.” -Kondektur, hl. 97-


Kalau kalian suka dengan sastra, maka buku Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu adalah pilihan yang tepat. Sebaliknya jika suka dengan bacaan khas remaja bisa baca Breaking Point. Semuanya bagus. Jangan lupa tinggalkan komentar, kasih tahu saya buku bagus apa yang harus saya baca. Terima kasih.

Peacock Koffie dan Kofinary Semarang

March 05, 2019 2
Peacock Koffie dan Kofinary Semarang
Hari Sabtu saya habiskan untuk pergi ke coffee shop sambil ngetik artikel (walaupun keyboard saya lagi rusak dan harus pakai on-screen keyboard, cry). Saya mengunjungi dua coffee shop di daerah Semarang bawah. Kedua coffee shop tersebut dapat dijangkau dengan mudah menggunakan Trans Semarang, apalagi kalau bayar pakai Gopay dapat diskon 50%. Simak ulasan singkat saya tentang coffee shop di Semarang berikut.

Peacock Koffie

Di Semarang Peacock Koffie ada di tiga lokasi, yaitu:
1.      Jalan Gajahmada No. 22, Kembangsari, Semarang Tengah, Kota Semarang, 50133
2.      Jalan Yudistira No. 5, Pendrikan Kidul, Semarang Tengah, Kota Semarang, 50131
3.      Jalan Gombel Lama No. 11, Tinjomoyo, Kota Semarang, 50262

Saya ngopi di Peacock Koffie jalan Yudistira dekat sama Kampus Udinus. Coffee shop  di sini buka pukul 06:00 – 23:00 menurut google map, tapi untuk yang di Gajahmada buka 24 jam. Peacock Koffie yang di Gombel Lama entah masih buka atau tidak, soalnya kalau saya lewat sepi banget. Selain itu warung yang gabungan dengan Peacock Koffie di lantai satu itu memang sudah tutup. Lokasinya kurang strategis kalau menurut saya, beda sama dua coffee shop lainnya.

Ruangan di Peacock Koffie Yudistira tergolong sempit. Di bagian dalam ruangan ber-AC dibagi menjadi area non-smoking dan smoking, di bagian teras juga ada kursi. Awalnya saya pikir area dalam khusus non-smoking, saya duduk ngasal dong, baru nyadar ada sign-nya di pintu, hahaha... Di setiap meja ada colokan, itu kan yang biasanya dicari di kedai kopi setelah kopi. Tapi saya lihat ada colokan yang rusak juga. Dan, jujur saja ruangannya kurang nyaman. Bukan berarti di kedai Peacock Koffie Gajahmada dan Gombel Lama juga gitu. Mungkin yang saya rasakan hanya di Yudistira.

Waktu ke sana saya tanya rekomendasi kopinya apa, bartendernya bilang hazelnut atau carmelito. Keduanya disediakan dalam dua versi dingin dan panas. Lalu saya pesan carmelito panas dan pie ayam. Harga total keduanya Rp. 55.000;. For your information, menu yang tertempel di belakang kasir tidak tercantum harganya. Semoga bukan saya yang kurang pay attention.
 
Carmelito dan pie ayam (dok. pribadi)
Ketika pesanan saya tiba tampilannya terlihat menggoda. Kopi disajikan di dalam cangkir berwarna coklat dengan tatakan lebar dan di sampingnya ada semacam nougat. Bagian atasnya ada sedikit busa dan taburan choco granule. Sayangnya waktu saya coba rasanya jauh dari ekspektasi. Di benak saya carmelito itu semacam kopi dengan rasa caramel. Tapi ketika saya coba tidak ada rasa caramel dan rasa kopinya kurang tajam. Rasa yang mendominasi cuma rasa susu. Entahlah apakah memang seperti itu atau ini hanya masalah SOP saja. Well, saya belum membandingkannya dengan kopi di dua kedai lainnya, tidak bisa nge-judge juga. Dan, nougatnya itu enak.

Kofinary

Alamat : Jalan Dokter Cipto No. 183 A, Karangturi, Semarang Timur, Kota Semarang 50124
Jam buka : 08:00 – 23:00

Tadinya saya mau ke Blue Lotus Coffee tapi gara-gara saya salah turun halte jadi kejauhan, akhirnya saya putuskan ke Kofinary. Lokasi Kofinary sangat strategis di jalan utama dekat dengan perempatan. Hanya saja area parkir yang disediakan memang tergolong sempit. Bangunan Kofinary ini tampaknya bergabung dengan bangunan toko furniture yang hanya dibatasi dengan kaca. Atmosfer warm sudah menunggu ketika memasuki Kofinary. Saya suka dengan penataan ruangannya, sederhana tapi nyaman. Ruangannya pun luas, tadinya saya pikir area duduk cuma di depan saja, ternyata area duduknya sampai ke belakang.

Waktu saya tanya rekomendasi kopi di Kofinary bartender menyarankan americano, latte, sama apa lagi gitu saya lupa. Saat itu saya langsung memesan Americano dingin, karena memang lagi kepanasan dan males minum yang ditambah susu lagi (karena tadi sudah minum carmelito yang susu banget itu). Selain itu saya juga pesan macaroni schotel. Setelah pesan saya baru ngeh kalau di situ ada speciality coffee. Mata saya memang agak siwer. Tahu gitu tadi saya pesan speciality coffee, karena sebenarnya saya memang mau mencoba berbagai jenis kopi di Indonesia yang dijual di kedai kopi. Kalau saya perhatikan di samping bar ada dripper, kemungkinan mereka juga menyajikan manual brewing. Mungkin next time waktu ke Kofinary lagi saya akan tanyakan kepada bartendernya.
 
Americano dan macaroni schotel (dok. pribadi)
Setelah menyalakan laptop dan ngetik-ngetik sebentar, pesanan saya pun tiba. Gula cair disediakan terpisah, jadi bisa ditambahkan sesuai selera. Sebelum saya tambahkan gula saya coba dulu americano tanpa gula, penasaran sama cita rasanya. Flavor citrus mendominasi, kalau lidah saya tidak salah. Rasa kopinya pun kuat, bahkan setelah es mencair masih terasa kopinya kok.


Nah itu tadi dua kedai kopi yang saya kunjungi di hari yang sama tapi memiliki kesan yang berbeda. Menurut saya pribadi saya lebih suka nongkrong di Kofinary (di sana juga ada colokan kok guys, haha).

Comment