MELALUI RUANG

Sunday, February 10, 2019

Review Film THUG (The Hate U Give)

February 10, 2019 2
Review Film THUG (The Hate U Give)

Genre              : Drama kriminal
Aktor               : Amandla Stenberg, Regina Hall, Russel Hornsby, K.J. Apa
Durasi              : 133 menit
Tanggal rilis    : 5 Oktober 2018 (USA)

Akhirnya saya nonton film THUG, setelah bulan lalu selesai baca novelnya. Dan memang beda banget sama novelnya, tapi tidak mengurangi inti ceritanya kok. Saya memahami cerita sekompleks di novel tidak mungkin semuanya dituangkan ke dalam film. Durasinya bisa jebol. Beda sih kalau dibikin TV series, kayak 13 Reasons Why misalnya. (Kok tangan saya gatal mengetik perbedaan film dengan bukunya, tapi saya sisihkan nanti saja.)

Pertama saya mau ngomongin akting Amandla Stenberg sebagai Starr yang keren banget, big applause... Dia bisa menunjukkan betapa frustasinya Starr, trauma, dan serba salah karena dia menjadi satu-satunya saksi mata atas penembakan sahabatnya, Khalil (Algee Smith). Sulit rasanya untuk speak up ketika kalian adalah minoritas, tapi di sisi lain itu menghancurkan hati kalian sendiri dan orang yang kalian sayangi jika kalian memilih diam. Selain itu akting Regina Hall (Lisa Carter) sebagai ibu Starr juga mencuri perhatian saya, sungguh persis dengan bayangan saya selama membaca novelnya. Karakter Maverick (Russell Hornsby) sebagai ayah Starr juga tepat seperti yang saya bayangkan. Sejauh ini hanya tiga peran itu yang benar-benar kuat menurut saya.

Peran Seven (Lamar Johnson) dan Chris (K.J. Apa) di film yang justru membuat saya sedikit kecewa. Bayangan saya Seven adalah seorang kakak yang karismatik dan pelindung adik-adiknya, sayangnya di film kurang menunjukkan hal tersebut. Wajah Seven juga terlalu muda sebagai kakaknya Starr dan Kenya. Dia malah terlihat sepantaran dengan Starr. Bahkan Chris malah kelihatan lebih tua daripada Seven. Interaksi Chris dengan keluarga Starr juga kurang di sini, ok mungkin itu bisa di-skip di film, tapi at least ketika demo harapanku Chris masih ada di sana bersama Starr. Sayangnya Chris dibuat pergi dengan alasan harus mengantar Kenya dan Lyric. Menurut saya dengan keberadaan Chris sampai akhir sebenarnya buat mempertegas bahwa diversity is real. Itu juga sebenarnya yang membuat ayah Starr akhirnya tidak “menjaga jarak” dengan orang kulit putih.

Spoiler alert !

Bagian ending di film saya kurang suka, sungguh. Setelah demo dan kerusuhan, kenapa ada adegan Sekani menodongkan pistol. Ya mungkin memang untuk mempertegas arti dari ‘thug life’ (The hate you give little infants f*s everybody. Saya sudah menjelaskan tentang arti ini di ulasan saya tentang novel THUG.). Namun menurut saya pribadi itu tidak perlu. Pesan itu sudah sangat melekat bahkan sejak adegan pembunuhan Khalil.

Inikah yang namanya kutukan membaca novel lalu nonton filmnya. Keduanya benar-benar hal yang berbeda, yang saya rasakan juga berbeda. Jika disuruh memilih saya akan lebih memilih novelnya karena lebih lengkap penjelasannya (Misalnya kenapa Starr marah waktu Hailey mengatakan tentang lelucon ayam goreng, ternyata itu hinaan bagi orang kulit hitam. Difilm tidak dijelaskan.). Namun bukan berarti filmnya tidak bagus, bagus dan pesan moralnya tetap sampai. Bagi orang yang menonton filmnya dulu pasti tidak akan mempermasalahkan hal yang saya permasalahkan. Hahaha...  Apalagi di Rotten Tomatoes rating film ini tinggi, yaitu 97%. Terus apakah saya masih harus menulis perbedaan film dengan bukunya? Saya tulis saja ya (Sudah gatel nih.), silakan disimak.

1. Urutan

Urutan kejadian di film jelas beda banget dengan yang di novel. Di film lebih acak dan ada beberapa adegan yang digabung menjadi satu adegan seolah memiliki keterikatan.

2. Tokoh yang dihapus kisahnya
Sejujurnya ada tokoh DeVante yang mengalami nasib seperti Khalil, dia terpaksa menjual narkoba demi menghidupi keluarga. Di film DeVante ada sih, cuma muncul di pesta saja waktu Kenya mau ngelabrak Denasia. Dan, yang dipukuli oleh King itu bukan Seven tapi DeVante, karena dia mencuri uang darinya. Mungkin secara alur DeVante tidak mempengaruhi jalan cerita secara signifikan, jadi kisahnya tidak dimunculkan di film. Tapi menurutku penting juga DeVante ini karena ada pesan yang bisa kita petik. DeVante bisa saja menjadi Khalil yang lain, tapi Maverick memutuskan membantunya dan itu membuat DeVante akhirnya bertobat.

3. Adegan yang tidak ada atau diganti
Starr dan keluarga harusnya pindah dari Garden Height, tapi di film tidak. Maya harusnya membela Starr karena dia juga merasa Hailey rasis kepadanya (Jadi Maya itu oriental ya guys.), tapi tidak. Starr memukul Hailey, tapi difilm diganti dengan merebut sisir dan menodongkannya seolah itu pistol. Lalu di novel interogasi dengan polisi sebelum masuk ke dewan juri itu tidak cuma sekali. Ada juga adegan pesta ulang tahun Seven sekaligus perayaan kelulusannya. Masih banyak sebenarnya, tapi nanti kepanjangan.

Silakan tinggalkan jejak di kolom komentar, kalian yang sudah pernah baca novel dan nonton film THUG lebih suka yang mana? Atau yang baru baca/nonton saja gimana pendapat kalian tentang THUG?

Wednesday, February 6, 2019

TV Series Netflix yang Ditunggu di Tahun 2019

February 06, 2019 0
TV Series Netflix yang Ditunggu di Tahun 2019

Di tahun 2019 ini lumayan banyak TV series Netflix yang saya tunggu-tunggu. Berikut ini beberapa daftarnya.

1.      The Umbrella Academy
Sejujurnya saya tidak maniak dengan cerita superhero, nyaris tidak minat malahan. Namun ada beberapa pengecualian sih, seperti film Dr. Strange, Venom, Guardian of the Galaxy, dan belakangan Spider-Man: Into the Spider-Verse bisa membuat saya tertarik. Nah, The Umbrella Academy ini adalah TV series yang berhubungan dengan superhero dan mampu membuat saya tertarik. Awalnya karena tahu Ellen Page main di The Umbrella Academy sih. Saya suka saja dengan aktingnya yang bagus.

The Umbrella Academy diadaptasi dari komik dengan judul yang sama. TV series ini bercerita tentang tujuh anak yang diadopsi oleh pria kaya raya bernama Sir Reginald Hargreeves, setelah ada kejadian aneh menimpa beberapa wanita yang tiba-tiba melahirkan tanpa sebab. Dia jugalah yang membangun The Umbrella Academy. Namun tidak semua berjalan dengan baik, Sir Reginald meninggal dan meninggalkan banyak tanda tanya pada anak-anaknya. Luther, Diego, Allison, Klaus, Number Five, dan Vanya berusaha menguak misteri tersebut (Saya tidak tahu anak yang satu lagi ke mana. Ini juga yang bikin penasaran.). Apalagi juga disebutkan bahwa Vanya (diperankan oleh Ellen Page) adalah satu-satunya anak yang tidak memiliki kemampuan super. Kan tambah penasaran saya.

The Umbrella Academy akan mulai tayang perdana pada 15 Februari 2019. Itu artinya tidak lama lagi guys!

2.      Stranger Things season 3
Stranger Things berkisah tentang seorang anak bernama Will yang menghilang secara misterius. Lalu kawan-kawannya berusaha menguak misteri menghilangnya teman mereka. Mereka justru bertemu dengan anak perempuan yang memiliki kekuatan psikokinetik bernama Eleven. Dari sanalah petualangan mereka dimulai.

Saya sudah mengikuti TV series ini dari season 1 dan 2. Ini menjadi salah satu TV series favorit saya. Entah kenapa semuanya terasa pas baik alur maupun penokohannya. Season 1 dan 2 sama sekali tidak bikin kecewa. Dan saya juga yakin season 3 juga tidak akan membuat kecewa

Di akhir season 2 memang tampaknya gerbang menuju Upside Down sudah ditutup oleh Eleven, sehingga Demogorgon tidak bisa keluar. Namun, ada sebagian tubuh Demogorgon yang masih ada di Hawkins, ditambah lagi Demodog yang dimasukin kulkas sama Dustin dan Steve. Kayaknya saja Demodog itu sudah mati, tapi ternyata masih hidup kan gawat. Apalagi makhluk dari Upside Down itu kan suka dingin guys. Sudah pasti season 3 akan bercerita seputar Demogorgon yang keberadaannya ternyata masih mengancam Mike dan kawan-kawan. Duh bikin penasaran...

Stranger Things season 3 akan release tanggal 4 Juli 2019, masih lama ya. Tapi sudah banyak beredar foto saat para pemain sedang syuting. Salah satu setting tempatnya pun sudah terkuak, berada di sebuah mall ala tahun 1985. Selain itu juga ada foto Steve Harrington lagi jualan. Duh tokoh satu itu termasuk yang ingin saya ketahui kabarnya karena perkembangan karakternya yang wow itu. Selain itu yang tidak kalah menarik adalah kisah cinta antara Mike dan Eleven.

3.      13 Reasons Why season 3
TV series ini diadaptasi dari novel yang ditulis oleh Jay Asher dengan judul yang sama. Berkisah tentang Hannah Baker yang bunuh diri karena mengalami perundungan di sekolah. Saya sudah ada novelnya, tapi belum saya baca dong. Kalau dari beberapa review yang saya baca memang novel dan TV series-nya beda. Bahkan ada perkembangan ke season 2 dan 3, sudah pasti ada beberapa cerita yang ditambahkan.

Awal nonton season 1 saya cukup terkesan dengan alur maju mundur di 13 Reasons Why yang dikemas tanpa membuat bingung, melalui sudut pandang seorang Hannah Baker yang bercerita melalui kaset. Dan yang terpenting ada pesan mendalam yang bisa penonton petik dari kisah Hannah Baker. Hanya saja di season 2 saya kurang enjoy. Cerita-cerita tambahan itu kesannya dipaksakan, entahlah. Walaupun di sini nasib kasus Hannah ditentukan di pengadilan. Di akhir season 2 pun nasib Tyler juga masih dipertanyakan, makanya ada season 3. Walaupun kurang enjoy dengan season 2, saya tetap ingin lanjut nonton season 3. Semoga tidak mengecewakan.

Tanggal release 13 Reason Why season 3 belum diketahui kapan, meskipun Netflix sudah mengumumkan akan release tahun 2019. Belum ada teasernya juga, jadi mari menunggu kabar selanjutnya.

4.      Wu Assassins
Kalian tahu kan siapa pemain utama di Wu Assassins? Yes, Iko Uwais. Siapa sih yang tidak penasaran dengan aksi Iko Uwais di tv series garapan Netflix ini. Selain menjadi tokoh utama Iko Uwais juga menjadi produser, fight choreographer, dan stunt coordinator. Keren kan?!

Wu Assasins ini bercerita tentang seorang koki di Chinatown San Fransisco bernama Kai Jin (Iko Uwais) yang ternyata adalah seorang Wu Assasin terakhir. Kai Jin berusaha mengungkap misteri kuno dan mengalahkan para pembunuh yang memiliki kekuatan supernatural. Nah premisnya saja sudah bikin penasaran ya. TV series ini disebutkan memiliki episode sebanyak 10 (Kalau saya kepoin Instagramnya bang Iko sih kayaknya syutingnya sudah kelar). Menurut keterangan di website Netflix, tv series ini akan tayang tahun 2019, sayangnya belum ada kabar tanggal rilisnya kapan. Kita tunggu saja. Ekspektasi saya tinggi terhadap tv series ini.

5.      A Series of Unfortunate Events
Season 3 A Series of Unfortunate Events (sekaligus menjadi season terakhir) sudah release tanggal 1 Januari 2019, tapi saya belum nonton, bahkan yang season 1 dan 2-nya juga belum. Tapi saya sudah nonton versi film dan baca novelnya juga, walaupun tidak semua novelnya saya baca. A Series of Unfortunate Events berkisah tentang tiga anak Baudelaire bernama Violet, Klaus, dan Sunny yang menjadi yatim piatu setelah kedua orangtuanya meninggal saat rumah mereka kebakaran. Usut punya usut kebakaran tersebut ternyata disebabkan oleh Count Olaf, salah satu wali pertama anak-anak Baudelaire setelah orangtua mereka meninggal. Count Olaf memiliki niat jahat untuk bisa menguasai harta warisan milik anak-anak Baudelaire. Sayangnya dia gagal jadi wali mereka karena ketahuan lalai menjaga mereka. Nah jadilah itu anak-anak dioper ke sana ke mari, dari wali satu ke wali lainnya oleh kuasa hukum mereka. Tapi Count Olaf terus mengejar mereka.

Kalau difilmnya sih yang diadaptasi cuma novel 1-3. Terus saya sudah baca sampai novel 6 kalau tidak salah, kok lupa, sudah lama banget soalnya. Rasanya kesel banget kalau baca novel A Series of Unfortunate Events, kok ya anak-anak Baudelaire itu nelangsa banget. Meskipun mengjengkelkan saya tetap penasaran dengan kisah ketiga anak itu. Apakah akhirnya mereka tidak kena apes lagi. Sungguh saya mengharapkan happy ending. Jadi saya akan nonton season 1-3, soon!

Silakan komentar TV series apa yang kalian tunggu-tunggu di tahun 2019 atau bahkan TV series apa yang kalian harapkan memiliki season lanjutan.

Tuesday, February 5, 2019

Review Along with the Gods: The Two Worlds

February 05, 2019 0
Review Along with the Gods: The Two Worlds

Film Korea Along with the Gods atau Singwa Hamkke Sarat akan Pesan Mendalam 

Baru-baru ini saya menonton film Along with the Gods. Simak review saya berikut, siapa tahu kalian belum nonton dan putuskan sendiri worth it atau tidak untuk ditonton (Kalau menurut saya worth it banget!).

Genre : Fantasi, Drama 
Aktor : Ha Jung Woo, Cha Tae Hyun, Ju Ji Hoon, Kim Hyang Gi 
Durasi : 139 menit 
Tanggal rilis : 5 Januari 2018 (Indonesia)

Along with the Gods bercerita tentang tiga Grim Reaper (Gang-rim, Haewonmak, dan Lee Deok Choon) yang membantu jiwa seorang pemadam kebakaran (Kim Ja Hong) untuk melalui sidang selama 49 hari agar bisa reinkarnasi. Ja Hong harus melalui percobaan tentang ketidakjujuran, kemalasan, ketidakadilan, pengkhianatan, kekerasan, pembunuhan, dan kedurhakaan. Percobaan tersebut dimulai dari yang teringan ke terberat dan tidak ada yang tahu urutannya kecuali Raja Yeomra. Di balik itu Gang Rim, Haewonmak, dan Deok Choon juga memiliki tujuan tersendiri. Apa tujuannya? Silakan nonton. 

Saya suka dengan premis AWTG serta idenya yang menarik. Cerita fantasi selalu bisa menarik buat saya, karena cakupan imajinasinya luas. Alur cerita di film ini maju mundur, tentu saja karena para Grim Reaper harus menunjukkan berbagai bukti semasa Ja Hong hidup demi memenangkan peradilan, di situlah beberapa flashback muncul. Tapi tenang saja itu tidak akan membuat bosan atau kebingungan. Saya tetap menikmati alur tersebut. 

Hal yang tidak saya sangka, bahwa film ini sangat menguras air mata. Awalnya saya pikir AWTG seperti kebanyakan film fantasi yang hanya menyuguhkan petualangan yang seru. Ternyata tidak hanya unsur petualangan yang seru, AWTG juga menyuguhkan drama keluarga yang sangat menyentuh. Saya biasanya menghindari film-film sedih karena gampang nangis. Film ini benar-benar berhasil membuat saya menangis hingga akhir. 

Banyak sekali pesan-pesan moral mendalam yang dapat dipetik dari film AWTG, tentang kasih sayang antara ibu dan kedua anaknya; tentang penebusan karena rasa bersalah; tentang pengorbanan; tentang kesetiakawanan; tentang kepercayaan; tentang memaafkan. Selain itu ada hal menarik saat pengadilan berlangsung, kayak misalnya melakukan kejahatan untuk kebaikan atau melakukan kebohongan untuk kebaikan, lha gimana itu? Namanya kejahatan tetap kejahatan kan. Tapi ternyata memang tidak mungkin serba absolut (Tiba-tiba jadi teringat novel Absolut Justice, relate banget.). Kalian akan memahaminya melalui perjalanan arwah Ja Hong di neraka. 

Sudah ngomongin alur dan pesan, nah tidak lengkap kalau tidak ngomongin tokoh. Empat tokoh utama di sini memang kuat banget karakternya. Saya paling suka dengan karakter Deok Choon dan Haewonmak. Deok Choon itu tokoh yang warm dan terlihat tulus banget. Dia juga care dengan Ja Hong, buktinya dia mau mendengarkan cerita Ja Hong selama perjalanan. Haewonmak kayaknya saja cuek, tapi sebenarnya peduli dan orang yang setia kawan, terlepas dari pendapatnya yang kadang berlawanan dengan Gang Rim. Dia kalau ngomong ceplas-ceplos dan itu bikin ketawa. Ja Hong sendiri juga seorang karakter yang menarik. Sebagai manusia sih saya bilang Ja Hong termasuk orang yang baik banget, tapi tetap saja ada celah di persidangan. Sementara itu, Gang Rim adalah seorang yang berkarisma, jadi tidak heran dia menjadi kapten bagi Haewonmak dan Deok Choon. Di antara ketiga Grim Reaper tersebut, Gang Rim lah satu-satunya yang masih memiliki ingatan masa lalu. 

Film ini penuh dengan efek visual. Saya tidak terlalu paham dengan kualitas efek visual, tapi tetap terkesan dengan efek visual di film ini. Saya suka efek visual saat Gang Rim dan Haewonmak bergerak dengan cepat pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Terus visual efek di Volcano Damned dan neraka kekerasan juga kece. 

Entah kenapa saya ini termasuk pecinta plot twist, rasanya hambar kalau tidak ada plot twistnya (Orang hidup saja ada plot twistnya.). Kalian akan menemukan beberapa plot twist di film ini. Saya sendiri sama sekali tidak menduganya. Bahkan hingga akhir film ini, masih ada beberapa misteri yang belum terkuak, tentu saja dibuat demikian karena ada sekuelnya. Saya excited sekali untuk menonton sekuelnya, yaitu Along with the God: The Last 49 Days. Di akhir cerita memang disebutkan bahwa adik dari Ja Hong akan menjadi arwah ke 49 yang akan Gang Rim, Haewonmak, dan Deok Choon bimbing. Jadi sekuelnya kurang lebih akan menceritakan hal tersebut. Yang membuat saya penasaran sih justru bagaimana nasib Gang Rim, Haewonmak, dan Deok Choon; sudah gitu penasaran juga dengan masa lalu mereka seribu tahun lalu. 

Quote Along with the Gods: "Semua manusia hidup dengan dosa, hanya beberapa manusia yang mempunyai keberanian untuk meminta maaf. Dan hanya sedikit dari mereka yang benar-benar dimaafkan." - Raja Yeomra

Saturday, February 2, 2019

Buku yang Saya Baca Januari 2019

February 02, 2019 0
Buku yang Saya Baca Januari 2019
Berapa banyak buku yang saya baca bulan Januari 2019? Syukurlah saya membaca tiga buku bulan ini. Sebenarnya ada e-book non fiksi juga yang saya baca, tapi belum selesai. Silakan simak ulasan saya siapa tahu bisa dijadikan pedoman buku apa yang harus Anda baca, ketiganya adalah buku fiksi.

Enigma Pasha

5 Januari 2019 12:20 baru saja selesai membaca Enigma Pasha
Penulis : Akaigita
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Halaman : 264
Tahun terbit : 2018

Novel young adult berjudul Enigma Pasha menjadi buku pertama yang saya baca di tahun 2019. Saya memang sudah lama mengincar novel ini. Novel Enigma Pasha merupakan jebolan dari Gramedia Writing Project Batch 3. Sebelum kompetisi berakhir saya memang sudah baca di web GWP dan langsung jatuh cinta. Akhirnya bisa membaca dalam bentuk bukunya.

Sesuai dengan judulnya enigma yang berarti teka-teki, novel ini menyuguhkan teka-teki tentang seorang cowok bernama Pasha. Pasha adalah murid pindahan dari SMA Adigana. Ketika awal masuk sekolah di SMA Baswara dia mengaku sudah membaca data pribadi semua anak di kelasnya. Sella sebagai teman sebangkunya pun bertanya-tanya tentang asal-usul cowok itu. Namun, lambat laun Sella dapat berteman dengan cowok misterius itu.

Memang tidak seru kalau teka-teki cuma secuil. Pasha ini sukses membuat penasaran tidak hanya Sella tapi juga saya. Dia meninggalkan jejak-jejak yang kemudian berusaha Sella ikuti, tapi itu justru membawanya pada jebakan yang sama sekali tidak terduga. Sampai sejauh ini sudah penasaran?

Saya sangat suka gaya penulisan di novel ini, mengalir, mudah diikuti, membuat saya dapat membayangkan adegan dengan baik. Ngomong-ngomong di novel ini ada unsur bisbolnya (Iya lah covernya aja sudah menunjukkan). Kebetulan saya cukup familiar dengan olahraga softball, meskipun memiliki perbedaan tapi prinsipnya sama lah jadi tidak membuat saya bingung dengan istilah-istilah dan adegan di dalam novel. Namun mungkin untuk beberapa orang yang kurang familiar dengan olahraga ini cukup kebingungan, tapi bisa googling kalau penasaran.

Alur cerita novel ini tidak ketebak, itu memberikan sensasi tersendiri. Kalian tidak akan berhenti membaca sampai semua pertanyaan di kepala kalian terjawab. Saya suka cerita yang penuh misteri, jadi novel ini cocok banget sama tipe saya (Eh dikira pilih cowok, pake tipe-tipean segala). Tokoh-tokoh di cerita ini juga kuat, sangat membekas setelah selesai membaca. Menurut saya tokoh Pasha itu memiliki karisma yang tidak tertandingi. Sedangkan tokoh Sella menurut saya cool, walaupun dia adalah sosok Rapunzel di dunia nyata.

Padahal tanpa disadari, kita juga butuh orang lain untuk melakukan hal-hal yang tidak bisa kita lakukan sendiri.

The Hate U Give (THUG)

20 Januari 2019 13:45 baru saja selesai membaca THUG
Penulis : Angie Thomas
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Halaman : 488
Tahun terbit : 2018

Memenangkan Goodreads Choice Awards 2017 untuk kategori YA Fiction dan Debut Author, novel THUG ini sangat fenomenal guys, terlebih karena tema yang diusung. Novel ini juga merupakan The New York Times Bestseller lho. Keren ya!

Bercerita tentang gadis kulit hitam berusia enam belas tahun, Starr Carter, yang tinggal di lingkungan kumuh. Dia bersekolah di SMA bergengsi di pinggiran kota. Lingkungan tempat tinggal dan sekolah, keduanya adalah dunia yang berbeda seratus delapan puluh derajat. Dia berusaha menjaga keseimbangan di antara keduanya, tapi berantakan ketika dia menjadi satu-satunya saksi mata atas tragedi penembakan oleh polisi terhadap sahabatnya, Khalil.

Kasus tersebut langsung menjadi tajuk utama, tapi justru Khalil disebut-sebut sebagai pengedar narkoba. Lalu terjadi demo besar-besaran untuk menuntut keadilan. Banyak orang yang ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Khalil. Hanya Starr yang bisa menjawab semua itu, tapi tidak mudah baginya untuk berbicara. Bisa jadi pengakuannya akan menghancurkan lingkungannya, bahkan dia dan keluarganya.

Isu rasis memang masih menjadi PR di dunia ini, tidak terkecuali Amerika di Indonesia juga. Novel ini menurut saya menjadi contoh betapa berharganya setiap individu tidak peduli apa agama, ras, atau suku mereka. Setiap individu berhak memperoleh keadilan seadil-adilnya. Selain itu novel ini juga mengajarkan bahwa kita harus berani berbicara sejujurnya demi perubahan yang lebih baik. Terkadang memang banyak tekanan, apalagi jika kita kaum minoritas. Inilah yang dirasakan Starr.

Novel ini juga sudah difilmkan dengan judul yang sama, release Oktober 2018. Tokoh Starr diperankan oleh Amandla Stenberg. Saya ingat banget Amandla ini yang main di Hunger Games, jadi Rue (Dia sudah gede sekarang, kayanya baru tahun kapan sih Hunger Games. Seketika saya merasa tua). Apakah film dengan novelnya sama persis? Saya kurang tahu, belum nonton. Haha...

Karakter yang paling saya sukai di sini tentu saja Starr, tapi saya juga suka Seven gimana dia berusaha menjaga adik-adiknya, sungguh sweet. Dan yang tidak ketebak karakter Chris, kupikir dia akan menjadi berbalik arah kalau tahu hal-hal yang disembunyikan oleh Starr. Syukurlah dia tetap menjadi baik hingga akhir. Saya apresiasi karakter Chris. Dia ini bagaikan oasis, karena dia sama sekali tidak rasis meskipun orang berusaha rasis terhadapnya sekali pun.

Selain dari segi moral value yang deep banget, alur cerita, dan tokoh, saya juga sangat suka judul novel ini. THUG tidak hanya sekadar judul, ada arti lebih dalam dari The Hate U Give (Benci yang Kautanam). Thug secara harafiah memiliki beberapa arti kalau dilihat di kamus bahasa inggris, bisa berarti penjahat atau membunuh. Arti lebih dalam yang dimaksud di dalam novel ini adalah kebencian yang masyarakat berikan pada generasi masa kini akan berbalik kepada mereka. Judul saja sudah keren apalagi isinya. Kalian harus baca, worth it sekali!

Berani bukan berarti kau tidak takut. Tapi tetap mau melanjutkan walaupun kau takut.

Animal Farm

23 Januari 2019 13:35 baru saja selesai membaca Animal Farm
Penulis : George Orwell
Penerbit : Bentang Pustaka
Halaman : 144
Tahun terbit : 2015

Animal Farm adalah karya legendaris Orwell yang dianugerahi Retro Hugo Award (1996) untuk novela terbaik dan Prometheus Hall of Fame Award (2011). Novel alegori politik ini mampu membuat pembaca terhenyak, sesekali juga jadi kesal. Menurut saya pesan yang disampaikan melalui novel ini juga masih relevan dengan dunia politik zaman sekarang (Kadang saya mikir ke mana-mana apalagi tahun 2019 ini adalah tahun politik. Ups... Abaikan!).

Animal Farm berkisah tentang pemberontakan binatang terhadap manusia yang akan terjadi di masa akan datang. Si babi tua bernama Major lah yang meramalkan hal tersebut. Tak lama setelah itu kekuasaan manusia digulingkan oleh dua babi cerdas bernama Snowball dan Napoleon. Namun kemerdekaan binatang-binatang itu tidak bertahan lama, ketika salah satu di antara pemimpin mengambil alih kekuasaan dan menggulingkan pemimpin lainnya dengan cara kotor (Iya guys kotor sekali! Saya ngetiknya sambil kesal lho ini!).

Menggunakan sudut pandang orang ketiga, jadi penuturan cerita lebih luas. Itu juga yang membuat pembaca segera tahu fakta-fakta yang binatang-binatang itu tidak ketahui. Di situ saya merasa kesal, tapi gimana juga mereka kan binatang.

Makhluk-makhluk di luar memandang dari babi ke manusia, dan dari manusia ke babi lagi; tetapi mustahil mengatakan mana yang satu dan mana yang lainnya.

Segitu dulu ulasan kali ini, bulan depan saya akan kembali dengan ulasan buku yang saya baca bulan Februari. Yang belum membaca ketiga buku di atas, silakan segera beli dan baca, recommended sekali. Dan jangan segan-segan untuk meninggalkan jejak di kolom komentar, saya tunggu.

Thursday, January 31, 2019

Stranger Things: The Game for Android

January 31, 2019 0
Stranger Things: The Game for Android

Awal mula saya tertarik bermain gim Stranger Things tidak lain karena saya mengikuti tv series keluaran Netflix tersebut. TV series Stranger Things sejauh ini baru mencapai season 2, season 3 baru release bulan Juli 2019. Nah gim yang saya mainkan ini mencakup Stranger Things season 1 dan 2, karena sudah ada karakter Max juga. Sekilas info, tv series Stranger Things berkisah tentang seorang anak bernama Will Bryers yang tersesat di Upside Down. Upside Down berada di dimensi lain yang merupakan salinannya Hawkins tapi dalam bentuk yang mencekam. Pintu Upside Down ini tidak sengaja dibuka oleh Eleven, seorang anak perempuan yang memiliki kemampuan psikokinetik. Lalu Mike dan kawan-kawan berusaha mencari Will dengan bantuan Eleven.

Gim Stranger Things keluaran BonusXP, Inc. ini tidak terlalu berat, size-nya cuma sekitar 90 MB. Saya memainkan gim ini di ponsel dengan RAM 3 GB dan memori 24 GB, lancar jaya kok. Gim action adventure ini memiliki gambar yang khas gaya pixel art, jadi kesan jadulnya terasa tapi sama sekali tidak mengurangi keseruannya. Tentu saja setting waktu tv seriesnya saja di tahun 1980an. Ada dua mode gim yaitu normal dan klasik. Kalian dinyatakan berhasil kalau sudah mencapai presentase 100% di kedua mode tersebut.
Pemain akan menjelajahi kota Hawkins untuk menyelesaikan misi. Area-area di dalam gim sama seperti tv seriesnya, ada hutan Mirkwood, perpustakaan, sekolah, laboratorium, sampai Upside Down pun juga ada. Di area tertentu dibuat menjadi dungeon,  ketika memasuki area tersebut kalian akan menghadapi sejumlah musuh dan harus menyelesaikan puzzle untuk bisa menjelajahi seluruh area yang terkunci. Menurut kamus bahasa inggris dungeon adalah penjara bawah tanah terutama yang berada di kastil atau benteng, sedangkan dalam dunia gim dungeon dapat diartikan sebagai labirin yang penuh dengan rahasia.
Selama menjelajahi area kalian juga harus melengkapi eggos, tape, dan gnomes yang bisa kalian temui di area tertentu. Untuk meningkatkan daya hidup kalian harus menemukan quest item yang nantinya didistribusikan ke karakter non-player yang membutuhkan item tersebut. Semua item-item tersebut tersembunyi di setiap sudut Hawkins.
Karater pertama yang bisa kalian gunakan adalah Jim Hopper yang memiliki keahlian meninju. Jika misi awal Jim berhasil nanti akan ada petunjuk di peta, dia harus mencari karakter siapa untuk membantu misi selanjutnya. Lalu jika kalian berhasil membuka semua pintu di salah satu dungeon kalian akan menemukan karakter lain. Karakter kedua yang bisa kalian temukan adalah Lucas Sinclair yang memiliki kemampuan menembak dengan ketapel. Jika misi selesai di satu dungeon, peta akan kembali menunjukkan keberadaan karakter lain. Di sini karakter ketiga adalah Nancy Wheeler yang memiliki kemampuan memukul dengan tongkat baseball.
Karakter keempat adalah Mike Wheeler yang memiliki kemampuan bersepeda dan mengganggu musuh dengan cahaya senter. Jadi Mike ini tidak memiliki kemampuan untuk melumpuhkan lawan ya guys.
Karakter kelima adalah Will Byers yang memiliki kemampuan merayap di gorong-gorong dan pukulan ringan.
Karakter keenam adalah Dustin Henderson yang memiliki kemampuan mengecoh musuh dengan pudding.
Karakter ketujuh adalah Eleven yang memiliki kemampuan berpindah tempat melalui kolam air. Tapi untuk menemukan Eleven kalian harus melengkapi eggos terlebih dahulu untuk bisa membuka kotak yang berisi kunci khusus. Saya tidak terlalu suka dengan karakter ini, ya memang sih dia bisa menghemat waktu untuk pindah dari lokasi satu ke lokasi lainnya.
Dan, karakter terakhir adalah Maxine Mayfield (Max). Dia memiliki kemampuan melempar musuh dengan koin dan berkendara dengan skateboard. Berbeda dengan karakter lain yang akan kalian temui di dungeon, Max bisa kalian temui di depan area bermain gim. Dia akan setuju gabung ke squad jika kalian berhasil menemukan item yang dia minta.
Quest item yang kalian temukan di area-area gim juga bisa membantu meningkatkan kemampuan karakter player. Misalnya kalian menemukan paku, nah itu bisa digunakan untuk memodifikasi tongkat baseball milik Nancy sehingga memiliki dampak kerusakan terhadap musuh lebih besar. Atau kalian bisa menemukan tas sehingga bisa menampung lebih banyak batu dan pudding.
Sejauh ini saya belum tamat main gim ini. Mode normal baru mencapai 92,6% dan mode klasik 14,8%. Di mode normal saya sudah berhasil mengalahkan Demogorgon, tapi saya belum melengkapi gnomes dan belum menemukan semua quest item (Padahal sudah ngubek-ngubek semua area berulang-ulang. Haha...).
Karakter yang paling saya sukai di gim ini adalah Nancy, Lucas, dan Dustin, yang lain cuma pelengkap untuk situasi tertentu. Seperti waktu masuk ke Upside Down, yang bisa masuk cuma Jim karena pakaian pelindungnya untuk dewasa dan area tersebut juga berbahaya untuk anak-anak. Terus waktu dikejar oleh mobil orang-orang dari Laboratorium Hawkins hanya bisa pakai karakter Mike. Kenapa saya suka Nancy, karena kemampuan Nancy memukul memiliki dampak kerusakan yang besar, bahkan bisa menghancurkan tembok yang tidak bisa dilakukan dengan tinjuan Jim. Sedangkan kemampuan Lucas sangat cocok untuk pertempuran jarak jauh atau menjangkau hal-hal yang jauh lah. Kalau kemampuan Dustin itu berguna sekali waktu menghadapi elite group, lumayan untuk mengecoh mereka.
Untuk karakter tertentu seperti Lucas, Dustin, dan Max kalian harus mengumpulkan batu; pudding; dan koin. Soalnya itu adalah sumber kekuatan mereka. Kalian bisa menemukan item tersebut di sekitar semak, tong sampah, loker, lemari, atau bahkan setelah mengalahkan musuh kalian bisa mendapatkan item tersebut.
Beberapa musuh memiliki kekebalan dan tidak bisa dihancurkan hanya dengan pukulan, yang bisa kalian lakukan adalah mengecohnya. Musuh yang memiliki kekebalan ini biasanya masuk ke elite group dan akan muncul sebelum kalian mengakhiri misi di suatu dungeon. Kalau kalian sudah masuk ke area para elite group berada, maka mau tidak mau kalian harus mengalahkan mereka karena tidak ada jalan untuk kembali.
Selain mengalahkan musuh di sini juga ada gangguan dari hewan guys. Itu lumayan annoying sih soalnya bisa mengurangi daya hidup. Hewan yang mengganggu di gim ini adalah burung hantu dan satu lagi beruang. Kalau beruang tidak bikin daya hidup berkurang, tapi dia menutup beberapa akses jadi kalian harus mengecohnya. Eh ada lagi semacam makhluk dari Upside Down. Kalau ditembak mereka akan membelah diri. Mereka juga bisa mengurangi daya hidup.
Ketika daya hidup habis kalian bisa mengulangi permainan di check point yang sudah ditentukan, jadi kalian tidak akan sepenuhnya keluar dari dungeon kok. Kan nyesek ya kalau harus mengulang dari awal. Sejauh ini daya hidup saya ada 13 hati, lumayan membantu waktu menghadapi elite group.
Ada satu karakter non-player yang berguna untuk memulihkan daya hidup, yaitu Joyce Bryers. Tapi kalian harus menemuinya di rumahnya, dekat hutan Mirkwood. Kurang membantu sih kalau kalian sudah terjebak di dalam dungeon.
Nah menurut kalian gimana, seru dan menarik kan gim Stranger Things. Menurut saya sih seru. Silakan coba main untuk membuktikan sendiri.

Wednesday, January 30, 2019

Kedai Kopi Tarik Ungaran

January 30, 2019 4
Kedai Kopi Tarik Ungaran

Berlokasi di Jl. Kartini No. 230 B, Sembungan, Ungaran, Kedai Kopi Tarik memanfaatkan rumah hunian sebagai area usaha. Kedai ini memang tidak tampak seperti kedai kopi pada umumnya. Saya yang sering melewati lokasi tersebut pun tidak notice ada kedai kopi di situ. Apalagi lokasi kedai tersebut di tikungan dan tidak menyediakan area parkir, ya karena memang jarak halaman dan jalan raya itu mepet sekali. Tapi kalian bisa parkir di seberang, ada cukup area yang tidak membuat kendaraan memenuhi badan jalan.
Dok. pribadi

Saya tahu lokasi Kedai Kopi Tarik Ungaran justru dari teman saya. Waktu itu saya ke kedai tersebut sekitar jam 19:00 saat weekday, suasana lumayan lengang. Di bagian halaman ada area semacam bar gitulah, area khusus untuk meracik kopi. Beberapa peralatan juga digantung di sisi-sisi bar. Ketika bartender membuat kopi tarik jadi semacam atraksi saja sih. Kursi-kursi untuk pelanggan berada di halaman dan juga di dalam rumah. Saya memilih kursi di bagian teras dan belum pesan apa-apa karena teman belum datang. Sambil menunggu saya melihat-lihat menu, ternyata kedai ini tidak cuma menyajikan kopi tapi juga minuman berempah (saya lupa tidak memfoto menu minuman rempahnya). Saking banyaknya varian kopi saya bingung mau memesan yang mana. Sementara itu untuk menu makanan berat dan camilan memang sangat kurang. Hanya ada indomie, nasi telur, mendoan, pisang goreng, singkong goreng (cuma itu saja sejauh yang saya ingat).
Dok. pribadi


Dok. pribadi

Setengah jam kemudian teman saya datang, lalu kami pindah ke kursi di dalam yang di sampingnya ada rak buku.  Semakin malam orang-orang berdatangan dan kursi terisi seluruhnya. Bahkan pemilik terpaksa menolak pelanggan karena sudah tidak ada tempat duduk lagi.
Setelah memilih-milih saya memutuskan untuk memesan cold brew coffee. Cold brew coffee adalah kopi yang direndam dalam air selama 18-24 jam untuk mendapatkan konsentrat kopi yang selanjutnya diencerkan ketika akan disajikan. Saya kurang tahu metode apa yang mereka gunakan, karena memang ada beberapa metode untuk membuat cold brew coffee. Ngomong-ngomong, cold brew coffee, cold drip coffee dan iced coffee beda ya guys. Yang membedakan mereka ini jelas metode pembuatannya dan cita rasa yang muncul. Cold drip coffee dibuat dengan cara brewing kopi menggunakan air dingin yang diteteskan secara perlahan ke bubuk kopi, sehingga teknik ini memerlukan dripper. Proses brewing tersebut dapat mencapai 1 – 24 jam.
Di kedai ini juga menyediakan menu cold drip cofffee. Sebenarnya saya juga tertarik dengan kopi tariknya, namanya saja Kedai Kopi Tarik Ungaran sudah jelas ya spesialis kopi tarik, tapi mungkin lain kali saja saya pesan kopi tarik. Saya juga pesan semua camilan (ya karena adanya itu saja).
Waktu untuk menu-menu yang saya pesan tiba di meja itu lama banget. Mengingat pelanggannya banyak banget dan mungkin peralatan serta tenaga mereka juga kurang. Menu itu pun tiba antara setengah hingga satu jam. Jadi kalau kalian kurang sabar mending kalian datangnya agak sorean saja, kalau semakin malam justru tambah ramai. Pengunjung pun tidak hanya anak muda, beberapa kali saya lihat ada orang tua dan anak-anak.
Cita rasa cold brew coffee tidak begitu pahit meskipun tanpa gula, sedikit asam, aroma kopinya terasa banget. Saya cuma bisa mendeskripsikan sebatas itu maklum belum expert dalam dunia perkopian (belum bisa membedakan guys spicy, caramel, chocolate, floral & fruty, slight earthy, herbal, nutty, herbal, dll). Body-nya pun aku belum bisa membedakan. Haha...
Kopi yang mereka gunakan ini ternyata berasal dari daerah sekitar lho. Ada beberapa keterangan di menu mereka, jadi mereka pakai kopi dari petani Ungaran. Keren ya, itu membantu banget untuk para petani lokal.
Lanjut untuk makanannya jujur saja saya tidak rekomendasikan. Kalau bisa kalian sudah kenyang kalau ke sana dan memang cuma pengin minum saja. Beberapa orang sih memang cuma minum sambil ngobrol dan diskusi. Cuma malam itu saya dan teman saya lagi lapar-laparnya, jadi tetap pesan makanan.
Dilihat dari segi harga, relatif murah guys jadi jangan takut dompet kalian bolong. Harga secangkir kopi mulai dari Rp. 9000; dan tidak lebih dari Rp. 30.000; (Saya lupa harga kopi termahal berapa, kalau tidak salah masih sekitar 20.000an).

Review Kdrama Memories of the Alhambra

January 30, 2019 2
Review Kdrama Memories of the Alhambra

Memories of the Alhambra drama korea tentang VR game

Sejujurnya drama Korea Memories of the Alhambra (MOA) promosinya sudah sering saya lihat wara-wiri di Youtube, Instagram lah. Awalnya saya kira murni drama percintaan. Kalau dibaca dari judulnya saya berasumsi ini tentang memori di masa lalu atau apalah (Biasa sok tahu banget), ternyata jauh guys. Waktu tahu Park Chanyeol main di sini juga, saya tertarik dong. Maklum Chanyeol ini salah satu role model saya guys, orangnya gigih dan suka senyum soalnya (Apaan dah). Saya pun memutuskan mencari info ini drama tentang apa sih. Simak review saya berikut ini.

Judul : Memories of the Alhambra
Genre : Fiksi ilmiah, thriller
Jumlah episode : 16
Jaringan penyiar : tvN, streaming Netflix Asia

Jadi MOA ini drama tentang gim VR (virtual reality), wah sudah pasti bakal seru (Jadi alasan nonton sudah bukan karena Chanyeol lagi. Hehe...). Gim VR memberikan pengalaman kepada pemain menyerupai dunia nyata dengan merangsang persepsi dan indera dari penggunanya. Gim VR dan AR (augmented reality) itu ternyata beda guys. Gim VR membutuhkan sejumlah perangkat, kalau di MOA mereka pakai softlens. Sementara itu gim AR cukup pakai smartphone saja, contoh gim AR adalah Pokemon Go.
Pemain utama MOA adalah Yoo Jin Woo yang diperankan aktor terkenal bernama Hyun Bin dan co-starnya adalah Park Shin Hye yang memerankan tokoh Jung Hee Joo. Mereka berdua dipertemukan di sebuah kota bernama Granada. Hee Joo adalah pemilik Hostel Bonita tempat Jin Woo menginap. Kalau aku bilang sih pertemuan mereka bukan karena sengaja, ya memang Jin Woo ini pergi ke Granada karena mau bertemu dengan adiknya Hee Joo, yaitu Jung Se Joo yang diperankan oleh Chanyeol. Jin Woo yang merupakan direktur perusahaan J One ingin membeli gim buatan Se Joo.
First impression nonton MOA sama sekali tidak mengecewakan. Di episode pertama saya dibuat takjub dengan ide dan graphic gim-nya. Keren! Selain itu saya juga belum bisa menebak jalan ceritanya. Penuh akan teka-teki. Nah rasa penasaran ini bikin nagih dan tidak bisa berhenti untuk nonton episode selanjutnya. Intinya episode pertama itu menjanjikan sekali.
Alur MOA ini maju mundur, tapi tidak bikin bingung kok. Malah itu menambah keseruan dan rasa penasaran. Selain itu ada juga narasi oleh Jin Woo di sela-sela adegan.
Bagaimana dengan plot twist? Oh tentu saja di sini ada, tapi belum akan saya beberkan di bagian mana. Silakan nonton MOA, bisa streaming di Netflix. Episodenya sudah tamat kok, jadi tidak perlu khawatir menunggu, karena menunggu itu tidak enak guys.

(Spoiler alert! Bagi yang belum nonton MOA berhenti baca sampai sini saja. Bagi yang sudah nonton dan mau diskusi silakan lanjut baca.)



Siapa yang sangka sih mati di dalam gim eh di dunia nyata juga mati. Serem amat. Beda cerita ya guys kalau main gim non stop terus kecapekan dan meninggal (Ada lho beneran). Saya speechless sih waktu tahu Dr. Cha meninggal, karena awalnya saya beranggapan dia akan menjadi tokoh antagonis sampai akhir. Maksud saya berkonflik secara nyata gitu lho, tidak muncul jadi KNP (Karakter Non-Player) di gim. Ternyata malah Prof. Cha yang lebih jahat (Jangan bingung ya, Prof. Cha ini bapaknya Dr. Cha.).
Nah bagian hujan, ada petir, terus lagu Memories of The Alhambra dimainkan itu epik sih. Orisinil banget dan akan selalu diingat sama penonton. Saya juga baru tahu lho kalau Memories of The Alhambra ini adalah lagu karena nonton drama ini. Sebelumnya sih clueless...
Misteri utama di MOA kan adalah di mana keberadaan Se Joo dan gimana Jin Woo bertahan di antara dunia nyata dan gim. Bisa saja sih kalau ternyata Jin Woo itu benar-benar berhalusinasi (Aku bakal kesel kalau plot twist-nya ini, syukurlah tidak) dan Se Joo sudah mati lalu mayatnya ditemukan. Tapi kalau gitu doang tidak seru dong ya.
Dari awal saya sudah percaya sama Jin Woo kalau dia tidak berhalusinasi, nah tentang Se Joo nih yang saya tidak bisa menebak dia masih hidup atau sudah mati. Cuplikan yang akhirnya menunjukkan Se Joo terkapar di samping rel kereta itu juga belum memberikan titik cerah sama sekali (Ini karena saya bukan pemain gim, jadi belum tahu ada yang namanya Instance Dungeon).
Sungguh alur ini drama bergejolak dan tidak dapat ditebak. Contohnya saat Jin Woo jatuh dari lantai 6 gara-gara KNP Dr. Cha tiba-tiba muncul. Tapi terbukti bahwa adegan itu memang ada tujuannya. Pasca jatuh memang kaki Jin Woo jadi cacat. Kaki Jin Woo yang cacat itulah yang membedakan saat dia di dunia nyata, sedangkan saat dia di dunia gim kakinya normal.
Kdrama tidak lengkap tanpa kisah percintaan. Menurut saya kisah percintaan antara Jin Woo dan Hee Joo sesuai porsinya. Ya karena memang premis MOA bukan kisah cinta antara mereka. Selain itu walaupun Hee Joo ini banyak dibuat khawatir oleh Jin Woo, saya masih anggap kisah cinta mereka ini tidak lah menye-menye.
Bagian yang paling mengharukan itu bukan saat Jin Woo dan Hee Joo berpisah, tapi saat sekretarisnya Jin Woo meninggal. Duh padahal dia itu setia banget. Akhirnya Jin Woo harus melawan para zombie-zombie granada sendirian. Salah satu yang tidak saya sangka adalah saat KNP-nya Sekretaris Seo tiba-tiba muncul, sejenak saya pikir dia masih hidup. Sudah berapa kali coba Jin Woo menghadapi masa kritis dan Sekretaris Seo yang masih menjadi sekutunya itu muncul. Dia jadi semacam pelindungnya Jin Woo.
Episode ke belakang tetap seru, karena masih banyak teka-teki sampai akhir. Akhirnya saya tahu Emma (KNP) itu memiliki fungsi tertentu, tadinya saya pikir dia cuma pemanis. Emma adalah lambang perdamaian, jadi tidak bisa ada pertempuran di dekatnya. Semua senjata akan otomatis dihilangkan oleh Emma jika masih nekat mau bertempur di hadapan Emma. Oleh sebab itu di Cafe Alcazaba kondisinya damai meskipun merupakan tempat pertemuan pemain.
Yang membuat saya bertanya-tanya adalah ngapain sih Marco dan Se Joo masuk ke gim dulu waktu mau bertemu dengan Dr. Cha untuk menawarkan gim buatan mereka? Apa cuma buat ngetes gim doang? Seriusan saya masih bingung bagian itu kalau ada yang paham tolong kasih tahu saya. Waktu itu Emma melihat Marco menusuk Se Joo dengan pisau sungguhan di cafe. Itulah yang mengakibatkan error pada gim. Kalau itu senjata dari gim sih Emma bisa langsung menghilangkan senjata itu, tapi ini senjata beneran. Bahkan gara-gara error di gim itu Marco saja sampai mengira Se Joo menembaknya pakai pistol sungguhan. Akhirnya terjadilah tembak menembak dan Marco mati.
Pada akhirnya Marco menjadi KNP yang terus meneror Se Joo. Itulah mengapa Se Joo terpaksa bersembunyi di Instance Dungeon. Instance Dungeon adalah area salinan yang hanya bisa dimasuki oleh pemain tertentu, dalam hal ini pemain dengan skor tertinggi. Di Instance Dungeon pemain akan aman karena tidak seorang pun menyadari keberadaannya baik musuh maupun pemain lain.
Nah plot twist dari MOA ini ada di Emma. Tidak ketebak kan? Yes saya mau misuh-misuh waktu bagian di gereja itu. Ketika akhirnya Jin Woo berhasil di level 100 dan dia memberikan kunci surga ke Emma. Harapan saya pintu surga itu benar-benar akan terbuka yang artinya mungkin Se Joo bisa kembali ke dunia nyata. Eh ternyata Jin Woo malah dikenali sebagai bug atau kekutu (Suatu error yang terjadi pada sistem atau perangkat lunak) dan harus dihapus guys.
Sampailah ke ending yang kebanyakan orang anggap tidak menyenangkan alias bikin kesel, tapi saya tidak beranggapan demikian. Saya tidak kecewa sama sekali dengan ending MOA. Jadi ending itu ada dua jenis guys, yaitu closed ending dan open ending. Menurut saya MOA ini tergolong ke open ending. Tujuan open ending ada dua, pertama dibuat demikian karena akan ada season 2, kedua hanya untuk memberikan penonton kebebasan menentukan ending-nya.
Saya belum menduga sih kalau MOA akan ada season 2, karena takut malah merusak season 1 andai season 2 tidak dibuat sebagus mungkin (Artinya tidak ada plot hole gitu). Meskipun itu drama nagih banget, tapi saya putuskan saja untuk menentukan ending versi saya. Jadi gimana bisa Jin Woo bersembunyi di Instance Dungeon, tapi secara bersamaan dia adalah bug dan harus dihapus? Ya sudah bagi saya Jin Woo sudah dihapus (Kejam ya!).
Mungkin yang masih menjadi pertanyaan adalah di mana tubuh Jin Woo, karena Dr. Cha, Prof. Cha, dan Sekretaris Seo yang juga dideteksi sebagai bugs tubuhnya memang sudah tidak bernyawa. Jadi yang dihapus adalah KNP-nya yang masuk ke gim itu. Makanya banyak yang berasumsi Jin Woo ada di Instance Dungeon, ditambah pula ucapan dari Se Joo. Tapi di episode terakhir para pemain bisa melihat Jin Woo, lah berarti dia tidak sembunyi di Instance Dungeon dong lha wong pemain lain bisa lihat. Apa lagi yang bisa punya privilage Instance Dungeon adalah pemain dengan peringkat atas. Sementara itu andai yang muncul KNP-nya Jin Woo berarti dia bug dong, kan bukan berasal dari gim itu. (Nah loh yang dihapus apa?)
Jadi saya beranggapan yang muncul itu memang KNP-nya Jin Woo dan dia bug karena dia membantu pemain lain untuk mengalahkan musuh. Otomatis pemain diuntungkan, karena pemain jadi memiliki kemudahan bermain gim itu. Di Indonesia sendiri ada kasus beberapa oknum sengaja mencari bugs dalam sebuah perangkat lunak atau sistem untuk memberikan keuntungan bagi mereka.
Jangan kesel kalau ending-nya seperti itu, kok gantung lah (bukan gantung tapi open ending), kasihan Hee Joo patah hati lah. Dari awal kan memang Jin Woo yang mau menyelesaikan gim itu dan bug adalah salah satu hal yang bisa menjelaskan kecacatan pada gim. Andai Jin Woo tetap hidup (Artinya tidak dihapus.) ya gim-nya tidak bisa direset oleh Emma, kemungkinan Se Joo pun tidak akan bisa kembali. Pilihannya ada di Jin Woo atau Se Joo. Tidak bisa keduanya.
Tapi masih ada pertanyaan yang berkecamuk (Tetap ya tanda tanya yang tiada akhir.), apakah artinya yang terhapus adalah tubuh asli Jin Woo makanya KNP-nya masih muncul di dalam gim? Soalnya kasus Jin Woo ini berbeda dengan Marco, Dr. Cha, Sekretaris Seo, dan Prof. Cha. Sesungguhnya yang jadi pertanyaan memang status Jin Woo. Haha. Dia player atau non-player atau bug?
Yuk diskusi di kolom komentar.

Comment