MELALUI RUANG

Thursday, January 3, 2019

Buku yang Saya Baca Akhir Tahun 2018 part 2

January 03, 2019 0
Buku yang Saya Baca Akhir Tahun 2018 part 2
Selamat tahun baru 2019 guys! Maafkan saya baru bisa menepati janji memposting ulasan saya di tahun 2019. Ini dia part 2 buku yang saya baca akhir tahun. Silakan disimak.

Things About Him

06 Desember 2018 pukul 17:19 baru saja selesai membaca Things About Him.
Penulis : Nara Lahmusi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Halaman : 248
Tahun terbit : 2018

Things About Him ini tidak hanya menceritakan kisah cinta anak SMA, tapi ada juga hubungan antar keluarga. Thing About Him dibungkus dengan cara yang berbeda sehingga tidak mainstream. Ada masa lalu, ada misteri, ada masa kini. Saya suka cara penulis menyajikan alur maju mundur. Sementara itu berbicara tentang tokoh, saya suka dengan tokoh Cinta yang mandiri (Duh kalau ada tokoh yang namanya Cinta bawaannya pengin nyanyi Ada Apa Dengan Cinta).

Novel Gramedia Things About Him
Things About Him ©

Tadi saya bilang ada misterinya kan, nah saya sudah bisa nebak misterinya di tengah-tengah karena di awal bab sudah ada clue (senang kalau bisa nebak haha...). Ini nih yang membuat saya tidak bosan, karena saya ingin selalu tahu lembar berikutnya apa. Meskipun tadi saya bisa menebak satu misteri, tapi tidak semuanya. Masih banyak misteri lain yang akan dibongkar di akhir cerita. Di novel ini semua pertanyaan yang berkecamuk sudah dijawab semua oleh penulis.

O iya yang tidak kalah menarik dari Things About Him, di novel ini juga sedikit berbau pelajaran biologi. Tokoh utama, Cinta, memang suka dengan pelajaran biologi. Ayah Cinta sendiri suka membuat nata di rumah, bahkan dia memiliki laboratorium pribadi (Nata ini jadi mengingatkan saya pada praktikum nata de coco saya yang gagal). Percakapan-percakapan Cinta dengan temannya juga tidak luput dari pelajaran biologi, kadang mereka membuat suatu analogi.
Lewat foto, kita bukan cuma mengabadikan kenangan, tapi juga bisa menyentuh perasaan. Melembutkan hati orang-orang. -Dion-


Rahasia Tergelap

08 Desember 2018 pukul 21:59 baru saja selesai membaca Rahasia Tergelap.
Penulis : Lexie Xu
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Halaman : 304
Tahun terbit : 2016

Sebenarnya saya sudah mulai membaca buku ini dari bulan September, tapi sempat berhenti lama. Sampai akhirnya saya bisa membacanya sampai tamat. Lega.

Novel Rahasia Tergelap ditulis oleh Lexie Xu
Rahasia Tergelap ©

Novel ini berkisah tentang misteri kematian seorang cewek bernama Merly. Cewek itu melompat dari gedung kampus. Giselle, salah satu teman kampus Merly, merasa ada yang tidak beres dengan kematian Merly. Lalu, dia dan teman-temannya berusaha menguak misteri kematian itu.

Novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama, tapi ada dua tokoh yang bernarasi yaitu Giselle dan Daryl. Saya menikmati narasi Giselle, tapi saya kurang menikmati bagian Daryl. Di narasi Giselle saya bisa membedakan suara Giselle dan teman-temannya. Dialognya ngalir.

Di pertengahan akhirnya saya menemukan satu karakter yang saya sukai. Siapa dia? Iya, karakter itu adalah Grey.
Kalo ternyata yang kita temukan adalah aib, ya udah, mari kita kubur dalam-dalam hasil penyelidikan kita. Yang udah meninggal, ya biarlah meninggal dengan tenang. Nggak usah ditambah dengan membuka aibnya segala. -Grey-


Caramellove Recipe

21 Desember 2018 pukul 16:32 baru saja selesai membaca Caramellove Recipe
Penulis : Lia Nurida
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Halaman : 240
Tahun terbit : 2018

Kalau kalian membaca judul novel yang satu ini apa yang terlintas? Masakan, iya kan? Entah kenapa karena ada kata caramel-nya saya mikirnya tentang kue-kue gitu, ternyata nggak. Tapi tetap tidak jauh dari makanan. Tokoh utama di sini ada Karmel, Satria, dan Sadam. Mereka sama-sama hobi memasak. Karmel dan Satria sudah bersahabat sejak lama dan mereka sedang berjuang untuk menjadi pemenang Teen Cooking Competition. Namun tiba-tiba Satria sakit tifus dan itu membuat Karmel terpaksa bekerja sama dengan Sadam di Teen Cooking Competition.

Novel Teenlit Caramellove Recipe oleh Lia Nurida
Caramellove Recipe ©

Novel ini mengingatkan saya dengan acara TV Master Chef. Cukup mudah untuk membayangkan suasana saat kompetisi. Cerita yang disajikan tergolong ringan, namun tidak luput dari moral value yang bisa dipetik dari perjuangan setiap tokoh. Setiap tokoh berusaha menekan ego demi memenangkan kompetisi. Dan yang saya sukai dari novel ini adalah ending-nya, yang tergolong dalam open ending. Ada dua kemungkinan open ending karena mau dibikin sekuel atau memang sudah ending saja. Saya suka open ending karena penulis memberikan kesempatan kepada pembaca untuk berspekulasi atau menentukan ending.
Kadang ia merasa mimpi mereka terlalu tinggi. Namun, bukankah semua orang bebas bermimpi tentang apa pun?


Ocean Breeze

31 Desember 2018 15:32 baru saja selesai membaca Ocean Breeze
Penulis : Cepi R. Dini
Penerbit : Ice Cube
Halaman : 254
Tahun terbit : 2015

Hal yang manis dari novel ini adalah hubungan father daughter. Setting di Miami, cerita ini mengisahkan seorang remaja bernama Ocean yang harus tinggal bersama ayahnya yang selama ini tidak ia kenal, setelah ibunya meninggal. Kebayangkan betapa kikuknya Ocean serumah dengan ayah yang baru ia kenal. Cara penulis menggambarkan hubungan anak ayah ini benar-benar pas. Lalu konflik Ocean dengan teman-temannya, benar-benar konflik khas remaja.

Dokumentasi pribadi

Ngomong-ngomong soal tokoh-tokoh di dalam novel ini, saya membayangkannya seperti aktor-aktor di film Fast & Furious. Kalau kalian pecinta Fast & Furious kemungkinan juga akan merasakan hal yang sama dengan saya. Yah itu tidak mengganggu saya, tapi justru membantu saya membayangkan setiap adegan lebih baik.

Kesimpulan saya, Ocean Breeze adalah cerita sederhana yang ditulis dengan baik dan rapi. Novel ini juga sudah menutup akhir tahun saya dengan cerita yang manis antara ayah dan anak.
Kau putriku. Aku tak perlu alasan untuk mencintai putriku.

Tahun 2018 sudah berakhir dan ternyata saya hanya mampu melahap 18 buku. Baiklah tidak masalah setidaknya itu lebih banyak dari tahun lalu. Kalian di tahun 2019 sudah ada rencana mau membaca berapa banyak buku? Saya mungkin berharap bisa membaca 22-26 buku, syukur lebih dari itu. Tadi saya baru saja membereskan buku-buku yang saya tata menjadi pohon natal, sekalian menghitung jumlah buku yang belum dibaca. Lumayan ada 11 buku yang belum saya baca, jadi setidaknya tahun 2019 harus menambah 15 buku untuk mencapai target. Saya juga akan mencoba untuk membaca buku versi e-book, setelah sebelumnya selalu mandek karena merasa tidak puas kalau tidak menggenggam buku. Hahaha

Tuesday, December 18, 2018

Buku yang Saya Baca Akhir Tahun 2018 part 1

December 18, 2018 2
Buku yang Saya Baca Akhir Tahun 2018 part 1
Tidak terasa sudah di penghujung tahun 2018. Saya mau merangkum buku apa saja yang saya baca beberapa bulan terakhir ini, antara bulan Agustus hingga Desember. Saat ini saya masih berusaha membaca buku-buku yang saya timbun tahun ini (jadi ketahuan tukang timbun buku). Ulasan kali ini akan saya bagi menjadi dua bagian agar tidak terlalu panjang. Silakan disimak barangkali bisa digunakan untuk referensi bacaan. Namun ingat bahwa review ini murni pendapat saya pribadi, bukan patokan mutlak buku itu bagus atau tidak. Pendapat itu tidak ada yang salah atau benar, dan ini kadang tentang selera. Selera saya dan selera Anda bisa berbeda.

Halo Tifa

20 Agustus 2018 pukul 01:05 baru saja selesai membaca Halo Tifa.
Penulis : Ayu Welirang
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Halaman: 256
Tahun terbit: 2016

Halo Tifa ini sudah menjadi incaran sejak saya baca preview-nya di web Gramedia Writing Project (GWP). Saya cari di toko buku tapi sudah tidak ada, cuma waktu itu kok tidak kepikiran beli online ckck. Kemudian wishlist ini terlupakan begitu saja dengan menambahnya wishlist lain. Nah tahun ini kebetulan teman saya jual buku bekas online, ada Halo Tifa langsung sikat dong.

Novel Gramedia Halo Tifa oleh Ayu Welirang
Halo Tifa ©

Bagi saya Halo Tifa itu fresh, karena setting-nya sendiri di Sekolah Menengah Kejuruan yang mana kebanyakan novel remaja adalah kehidupan anak SMA (atau saya saja yang baca bukunya kurang banyak ya). Poin itu saja sudah membuat saya tertarik. Selain itu tokoh Tifa dan Terra itu memiliki karakter yang kuat, tokoh yang selalu diingat.

Sejak awal membaca Halo Tifa pembaca sudah disungguhi teka-teki (bukan teka-teki silang lho). Ini yang membuat saya tidak bisa berhenti membaca. Saya selalu penasaran dan terus membalik lembar demi lembar halaman untuk menemukan jawaban dari teka-teki tersebut. Pembaca tidak akan bosan, karena tidak ada narasi yang bertele-tele. Meskipun gaya bahasanya cenderung biasa, tapi saya menikmatinya. Saya pikir inilah yang disebut meniupkan nyawa ke dalam karakter. Seperti apa pun gaya bahasanya, jika karakter itu hidup maka pembaca tidak akan bosan. Pembaca akan merasakan kehadiran tokoh tersebut.
Kadang orang yang merasa dirinya paling kuat harus dikalahkan dulu untuk paham masih banyak orang yang lebih hebat. Dengan begitu, dia nggak ngerasa paling hebat atau ngerasa bisa berjalan sendirian terus. -Terra-


Dokumen Delapan

20 September 2018 pukul 22:33 baru saja selesai membaca Dokumen Delapan.
Penulis : Probo Nella
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Halaman : 320
Tahun terbit : 2018

Saya excited sekali membicarakan novel ini. Ini menjadi salah satu novel favorit saya. Ya Dokumen Delapan ini adalah novel bergenre misteri, salah satu genre favorit saya. Lagi, saya tertarik dengan novel ini saat membaca preview-nya di web GWP. Sesuai judulnya ada delapan identitas yang menjadi pusat cerita di novel ini. Mereka bergabung dalam situs misterius dan menggunakan nama samaran. Hanya dengan bergabung dalam situs tersebut mereka mendapatkan pertolongan yang mereka butuhkan. Sampai di situ saja saya sudah penasaran setengah mati.

Novel Gramedia Dokumen Delapan oleh Probo Nella
Dokumen Delapan ©

Delapan tokoh ini memiliki cerita yang menarik dan sama-sama kuat. Saya sedikit pun tidak pernah bosan, benar-benar menikmati alur cerita. Selain itu saya juga dibuat berpikir keras dan menebak-nebak beberapa hal. Well, itu sensasi yang saya sukai setiap membaca novel misteri. Bahkan saya sengaja membuat bagan tokoh-tokoh di dalam novel ini lho, agar saya lebih paham keterkaitan antar tokoh. Misteri dalam novel ini dibongkar secara perlahan dan mulus. Ketika sampai di halaman terakhir saya benar-benar speechless. This novel is pretty damn great! Saya tidak akan banyak cerita, takut spoiler. Enam kata sebelumnya sudah banyak menjelaskan betapa kerennya novel ini.
Kami sepakat dalam satu hal: hidup berubah, seiring masa yang berganti. Hanya satu yang tetap, bahwa kita lahir di dunia ini menjalani hidup singkat yang penuh misteri, hingga akhirnya dipanggil untuk kembali. -Diamond-


Semua Ikan di Langit

12 November 2018 (lupa selesai pukul berapa) baru saja selesai membaca Semua Ikan di Langit.
Penulis: Ziggy Zezyazeoviennazabriezkie
Penerbit : Grasindo
Halaman : 259
Tahun terbit : 2017

Pemenang Pertama Sayembara Novel DKJ 2016, siapa lagi yang meragukan kekerenan buku Semua Ikan di Langit. Sudut pandang yang digunakan saja unik. Buku ini menceritakan perjalanan ‘Aku’ bersama seorang anak laki-laki menjelajahi alam semesta. Di awal cerita tidak diketahui siapa ‘Aku’ ini, tapi lambat laun ‘Aku’ akan memberitahu siapa dirinya. Saya pikir semua karakter di buku ini sangat kuat, terutama 'Aku' dan si anak laki-laki, bahkan anak laki-laki yang lain juga. Selain itu ruang dan waktu di buku ini adalah suatu hal yang tidak tetap. Bukan waktu yang terus maju, bukan ruang yang familiar.

Novel Semua Ikan di Langit oleh Ziggy adalah pemenang Sayembara DKJ tahun 2016
Semua Ikan di Langit ©

Saya sangat suka dengan diksi yang digunakan, enak banget dibaca. Penulis seolah membawa saya ikut bertualang dengan ‘Aku’ dan si anak laki-laki. Alur cerita yang tidak biasa membuat buku ini sangat unik, mind blowing banget. Bebas, satu kata yang bisa menggambarkan saat saya membaca buku ini. Di lembar-lembar akhir saya sempat menitikkan air mata, serius. Padahal bukan tipe saya banget baca buku sambil nangis. Yah soalnya ada hal yang menyentuh sekali.
Hancur berkeping-keping demi mempertahankan perasaan cinta yang begitu kuat bukanlah hal besar ketika tidak ada hal lain yang lebih penting dari rasa itu. Kehancuran diri ini tidak berarti apa-apa bagi saya, karena saya hancur demi dirinya. -Aku-


Absolute Justice

25 November 2018 pukul 21:40 baru saja selesai membaca Absolute Justice.
Penulis : Akiyoshi Rikako
Penerbit : Haru
Halaman : 268
Tahun terbit : 2016

Ini buku rekomendasi dari teman-teman di grup kepenulisan. Setelah saya baca review-nya langsung tertarik. Tetap dong genre misteri itu selalu dengan mudah membuat saya tertarik. Beberapa orang bilang habis baca buku ini mereka ingin misuh-misuh alias berkata kasar. Saya semakin penasaran dengan buku ini. Dan, benar sih kata mereka. Tapi saya tidak seekstrim itu ingin berkata kasar, cuma kesal aja.

Novel Absolute Justice oleh Akiyoshi Rikako
Absolute Justice ©

Kata-kata dan tindakan yang mungkin dianggap sepele atau kecil ternyata bisa merubah hidup seseorang atau mengacaubalaukannya. Absolute Justice, yah kedengarannya hukum itu memang mutlak ya (tapi tidak semuanya guys). Setelah membaca buku ini kalian akan paham kenapa hukum yang mutlak itu menyakitkan.

Cerita misteri tidak lengkap tanpa plot twist, iya kan? Hehehe... Plot twist di novel ini tidak mengada-ada, memang sudah dipersiapkan secara matang. Diletakkan di bagian yang tidak mudah ditebak. Saya sempat terkecoh, tapi bahkan saya selalu bertanya-tanya pada diri saya sendiri, ‘Tidak mungkin cuma begini, pasti ada sesuatu.’ Tapi saya tidak bisa menebak apa itu. Good job Akiyoshi-san!
Hanya menilai sesuatu berdasarkan benar atau salah. Tidak memahami perasaan orang.” -Kazuki-“Pahlawan kebenaran yang selalu sempurna tidak akan bisa mengerti kelemahan manusia biasa. -Yumiko-


Match Point

01 Desember 2018 pukul 21:35 baru saja selesai membaca Match Point.
Penulis : Saufina
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Halaman : 240
Tahun terbit : 2018

Buat pecinta badminton wajib baca buku ini, karena buku ini menceritakan tentang seorang atlet badminton (ya iyalah). Bukan cuma karena itu sih, kalian akan tahu bagaimana kehidupan seorang atlet dan apa yang sebenarnya mereka rasakan ketika kekalahan menimpa mereka. Kebetulan saya kenal dengan si penulis, jebolan GWP batch 3. Beberapa waktu lalu sempat ikut talk show di Gramedia Balaikota Semarang, salah satunya membicarakan mengenai Match Points. Riset penulis ini tidak main-main, penulis memang memiliki narasumber atlet dari pelatnas (tapi bukan Ginting ya guys).

Novel terbitan Gramedia Match Point oleh Saufina
Match Point ©

Penulis mengangkat cerita mengenai fenomena netizen yang suka mem-bully atlet yang kalah. (Ingat netizen yang budiman, kata-kata bisa setajam belati atau selembut kapuk. Kalau comment tolong yang wajar. Atlet juga manusia.) Meskipun bercerita seputar dunia badminton novel ini tidak berat kok guys. Saya enjoy selama baca, cocok sambil santai atau kalau ingin baca yang ringan. Ada beberapa bagian juga yang membuat saya tersentuh dan menyadarkan saya akan suatu hal. Meskipun kita terpuruk, jatuh ke dalam jurang paling dalam, kita tidak boleh lupa untuk merangkak dan bangkit. (Tiba-tiba saya menjadi motivator. haha...)

Game point itu cuma gerbang, dan puncaknya adalah saat berhasil menaklukkan match point lalu jadi juara. -Ragil-

Saturday, May 26, 2018

Buku yang Saya Baca April 2018

May 26, 2018 0
Buku yang Saya Baca April 2018
Gagal deh rutin membaca setiap bulan. Saya telah melewatkan bulan Maret, tapi ya sudahlah saya harus move on. Mari membahas buku-buku yang saya baca di bulan April.

Twinwar

23 Maret - 11 April 2018 pukul 21:50 baru saja selesai membaca Twinwar
Tadi saya sempat bilang bulan Maret saya tidak baca buku, sebenarnya baca sih tapi selesainya April. Progress baca saya memang lamban, 2 minggu lebih baru selesai karena banyak berhentinya. Ok, sudah basa-basinya, jadi Twinwar adalah novel yang ditulis oleh Dwipatra, juara 1 Gramedia Writing Project batch 3 yang digelar pada tahun 2017. Dari judulnya sudah menggambarkan kalau novel ini mengisahkan pertengkaran antara saudara kembar. Kenapa pertengkaran itu bisa terjadi? Baca sendiri kalau penasaran. Novel ini tergolong teenlit, jadi konfliknya khas anak remaja.

Novel Gramedia Twinwar ditulis oleh Dwipatra merupakan pemenang pertama kompetisi Gramedia Writing Project batch 3
Twinwar ©

Sebelumnya saya sudah pernah baca beberapa bab di situs gwp.co.id dan langsung suka dengan konflik cerita tersebut. Akhirnya bisa baca secara utuh.

Tokoh utama di novel Twinwar adalah si kembar Gara dan Hisa. Perseteruan antara Gara dan Hisa terasa banget di dalam novel ini. Penulisannya rapi (tidak kayak saya suka lompat-lompat kayak katak, eh curhat). Semua pertanyaan yang muncul di awal cerita dijawab oleh penulis, jadi jangan khawatir akan mengernyitkan dahi atau penasaran setengah mati setelah kata 'tamat'.

... sedih atau bahagianya kita tidak tergantung pada siapa pun selain diri kita sendiri. hl. 247

Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi

15 - 19 April 2018 pukul 21:59 baru saja selesai membaca Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi
Ini adalah kumpulan cerpen karya Eka Kurniawan, terdiri dari 15 cerita. Sebagian besar adalah cerpen yang pernah dimuat di media cetak. Menurut saya cerpen-cerpen dalam buku ini sarat akan pesan moral. Kadang perlu berpikir untuk menangkap makna tersirat dari suatu cerpen. Sempat berpikir juga "ini penafsiran saya benar nggak ya". Namun, pada dasarnya cerita ketika sampai di tangan pembaca, maka pembaca memiliki kebebasan menafsirkan tulisan yang ia baca. Tidak harus persis dengan maksud penulis.

Kumpulan Cerpen Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi oleh Eka Kurniawan
Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi ©

That's all, cuma 2 buku yang saya baca di bulan April. Dan, baru sempat posting di akhir Mei ini. Terus gimana dengan buku yang saya baca di bulan Mei? Saya membaca buku Menggali Sumur dengan Ujung Jarum (itu satu-satunya buku yang saya baca di bulan Mei). Buku ini berisi cerita pendek dan esai para penulis terkenal dunia, seperti Luis Borges, Orhan Pamuk, Garcia Marquez, Naguib Mahfouz, Seamus Heaney, dan William Saroyan.

Jujur saja saya harus berpikir cukup keras saat membaca buku ini. Selain karena makna yang tersirat dan gaya penulisan, terdapat beberapa kosa kata yang asing di telinga saya, beberapa kali saya harus mencari artinya di search engine (tapi ini bagus untuk menambah kosa kata saya). Jika dibaca dari judulnya saja sudah menunjukkan makna tersirat di sana. Menggali sumur dengan ujung jarum? Mungkin saja dilakukan, tapi berat. Ada perihal yang hampir mustahil diwujudkan atau setidaknya butuh usaha ekstra berat untuk mewujudkannya. Itu sih penafsiran saya, orang lain boleh saja berbeda. Namun, harus saya akui tidak ada cerpen yang menjadi favorit di dalam buku ini, saya tetap lebih suka Padang Rumput Afrika-nya Ray Bradbury dan 13-nya Zakaria Tamer (tidak tahu kalau nanti ada lagi yang lebih menohok).

Buku Menggali Sumur dengan Ujung Jarum
Menggali Sumur dengan Ujung Jarum ©

Silakan tinggalkan komentar atau share buku apa saja yang sedang kalian baca.

Saturday, March 17, 2018

Perpustakaan Kecil di Angkutan

March 17, 2018 0
Perpustakaan Kecil di Angkutan
Di suatu sore itu habis turun hujan, sekitar jam 17:00 saya naik angkutan seperti biasa. Namun, ada yang tidak biasa dengan angkutan yang saya naiki. Di bagian belakang angkutan terdapat deretan buku dan air mineral gratis. Cukup takjub dengan angkutan tersebut karena sejak dulu menggunakan jasa angkutan sampai sekarang belum pernah menemui angkutan serupa. Hal tersebut membuat saya tersentuh, sambil mencari nafkah supir angkutan tersebut menyebarkan budaya membaca di masyarakat.

Dokumentasi pribadi

Di depan deretan buku tersebut ada tulisan 'timbang ngalamun moco buku lur, nek ngelak ngombeo, gratis', yang artinya 'daripada melamun baca buku saudara, kalau haus minum saja, gratis'. Buku yang diletakkan di rak tersebut memang masih sedikit, sekitar sepuluh mungkin. Namun, bagi saya ajakan untuk membaca itulah yang patut diapresiasi.

Saat saya naik angkutan turut juga seorang anak dan ada beberapa ibu-ibu juga. Anak tersebut nampak tertarik membaca buku cerita, sedangkan ibu-ibu membuka-buka buku resep masakan. Hal itu menunjukkan sebenarnya keinginan masyarakat untuk membaca itu ada hanya mungkin ada beberapa faktor penghambat, entah karena harga buku masih relatif mahal bagi mereka atau keberadaan perpustakaan yang kurang maksimal.

Sebagai seorang yang suka baca buku saya sendiri belum bisa melakukan tindakan nyata untuk mengajak masyarakat membaca buku, tapi saya berharap suatu saat bisa berpartisipasi. Semoga semakin banyak masyarakat Indonesia yang sadar akan pentingnya membaca.

Thursday, March 1, 2018

Buku yang Saya Baca Februari 2018

March 01, 2018 0
Buku yang Saya Baca Februari 2018
Memasuki bulan kedua di tahun 2018, cukup baik masih konsisten membaca buku. Sebenarnya Februari ini saya khususkan untuk membaca buku tahun lalu yang belum sempat saya selesaikan, alias mandek di tengah jalan.

Critical Eleven

15 Februari - 22 Februari 2018 pukul 22:30 baru saja selesai membaca Critical Eleven
Siapa sih yang tidak tahu novel ini, pasti sudah pada tahu ya, apalagi setelah difilmkan. Saya mendapat novel ini gratis, dapat dari acara Gramedia punya sekitar bulan Juli 2017. Sebelumnya cuma tahu mengenai Critical Eleven ya dari trailer filmnya (cuma trailer belum pernah nonton juga). Kapan saya mulai baca novel ini jawabannya adalah lupa, mungkin bulan Agustus atau September, entahlah. Yang jelas setelah itu malah mandek. Apa alasan saya berhenti? Bukan karena tidak tertarik, tapi saat itu lebih banyak meluangkan waktu untuk menulis (yang hasilnya belum nampak sampai sekarang hahaha).

Novel Critical Eleven oleh Ika Natassa
Critical Eleven ©

Buku ini memakai sudut pandang orang pertama yang secara bergantian antara Anya dan Ale. Kesan saya baca buku ini cukup enjoy, suka gaya bahasanya, tapi menurut saya alurnya lamban. Sejujurnya saya tidak terlalu suka alur lamban, yah tergantung selera ya. Selama membaca saya mudah membayangkan tokoh-tokoh yang ada, terlebih saya sudah nonton trailernya jadi yang terbayang ya Adinia Wirasti dan Reza Rahadian. Selain itu, flashback yang disajikan dalam novel ini menurut saya menjadi salah satu yang menarik. Meskipun alurnya maju mundur tapi saya tidak kesulitan memahami ceritanya.

Bagi saya membaca buku juga harus bisa memetik makna di balik cerita yang disuguhkan atau sekadar baca untuk hiburan tidak apa-apa juga sih. Di sini saya menangkap, 'oh ini toh yang namanya five stages of grief'. Stages tersebut antara lain, penyangkalan, kemarahan, menawar, depresi, dan penerimaan. Anya dan Ale mengalami masalah berat, yang kemudian penyelesaiannya melalui tahapan-tahapan tersebut. Dan, konflik di antara mereka bagi saya terlihat nyata dan natural.

Kumpulan Budak Setan

24 Februari 2018 baru saja selesai membaca Kumpulan Budak Setan
Saya lupa sekali beli buku ini bulan kapan dan mulai baca kapan (penyakit!). Saya juga tidak yakin kenapa kalau membaca kumpulan cerpen suka berhenti-berhenti. Jadi, buku ini ditulis oleh Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, dan Ugoran Prasad. Kumpulan cerpen ini semacam didedikasikan untuk penulis lampau bernama Abdullah Harahap. Saya sendiri belum pernah membaca karya beliau (Dan saya yakin pasti bukunya langka).

Kesan singkat setelah baca buku ini -> sama kayak judulnya, 'ini budak setan banget'. Jangan mengharapkan happy ending, never happened! Sudah itu saja (seriusan singkat).

Buku Kumpulan Budak Setan oleh Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, Ugoran Prasad
Kumpulan Budak Setan ©

Resign

24 Februari - 25 Februari 2018 pukul 16:00 baru saja selesai membaca Resign
Buku ini baru saja saya beli, jadi tidak masuk prokrastinasi saya. Awalnya tertarik beli karena baca tweet salah satu editor GPU yang suka lewat di timeline (efektif ini), jadi penasaran banget. Katanya ada versi wattpadnya, tapi saya belum pernah baca yang di wattpad. Novel ini ditulis oleh Almira Bastari, mengisahkan kehidupan kantor para Cungpret (kacung kampret) yang overload. Mereka melakukan taruhan agar bisa resign lebih dahulu dari yang lain. Ibaratkan kalau 17 Agustus ada lomba balap karung, nah kalau ini lomba balap resign.

Novel Resign oleh Almira Bastari
Resign ©

Overall buatku novel ini menghibur sekali. Bikin senyum-senyum sendiri, kadang juga bikin saya mengangguk-angguk setuju dengan opini para Cungpret ini. Selama saya membaca buku ini enjoy sekali, tidak ada halaman yang membuat saya bosan. Ringan juga, tidak perlu mikir terlalu keras, cocok dibaca buat santai di akhir pekan.

Sama dengan bulan lalu, bulan ini saya baru mampu baca tiga buku, tapi lumayanlah. Itu dia kesan saya baca novel-novel tersebut. Semoga bulan Maret saya bisa baca buku lebih dari tiga ya, semoga.


Thursday, February 1, 2018

Buku yang Saya Baca Januari 2018

February 01, 2018 0
Buku yang Saya Baca Januari 2018
Tahun ini saya bertekad untuk bisa membaca buku lebih banyak. Itu menjadi salah satu resolusi di tahun 2018. Nah, sayang banget kalau sudah baca buku tetapi tidak saya bagikan kesan membaca buku-buku tersebut. Rencananya akan saya posting setiap bulan buku apa saja yang saya baca (semoga bisa konsisten).

Dimulai pada bulan Januari, tidak ada target jumlah harus baca buku berapa, tapi dalam sebulan harus ada buku yang dibaca pokoknya. Bulan ini saya membaca 3 buku (lumayan sekali ketimbang tahun lalu). Apa saja buku itu? Ini dia...


One Of Us Is Lying

Saya mengawali tahun ini dengan membaca buku yang ditulis oleh Karen M. Mcmanus, yang mana buku tersebut adalah debutnya. Awal mula saya tertarik baca buku ini tidak lain karena buku ini sering mondar-mandir di timeline twitter saya. Lalu saya mencari tahu tentang buku tersebut dan ternyata ini genre buku yang memang saya suka. Ok, saya harus punya buku itu. Ini dia!

Novel One of Us is Lying oleh Karen McManus
One of Us is Lying ©

2 - 7 Januari 2018 Pukul 00:11 Baru saja selesai membaca One Of Us Is Lying. 
Kenapa saya bela-belain membaca buku ini sampai tengah malam? Tidak lain karena rasa penasaran. Dan saya tidak mau sampai tidak tidur nyenyak karena kepikiran. Siapa sih yang membunuh Simon? Apakah Bronwyn? Addy? Nate? Copper? Dan berbagai pertanyaan lain berkecamuk. Plot twist-nya lumayan mengecoh. Jujur saya tidak kepikiran bahwa si A ini adalah tersangkanya. Terus ada plot twist lain yang juga bikin saya melongo. Kalau penasaran cus baca.

One of Us is lying menggunakan sudut pandang orang pertama, tapi dilihat sisi setiap tokoh. Setiap bab mewakili tokoh yang berbeda-beda. Dan syukurlah suara mereka tidak sama jadi saya sangat enjoy saat baca. Mereka memiliki karakter masing-masing yang kuat.


Looking For Alaska

Ini bukan tergolong buku baru dan barangkali saya sudah ketinggalan zaman karena baru baca buku ini di tahun 2018. Baca dari blurbnya sih saya cukup penasaran, makanya saya memutuskan beli buku ini.

Mengisahkan Pudge yang masuk ke sekolah asrama untuk mencari "Kemungkinan Besar". Di sana ia bertemu dengan seorang perempuan bernama Alaska Young. Kisahnya pun dimulai di tempat baru itu.

Novel Looking for Alaska oleh John Green
Looking for Alaska ©

10 - 25 Januari 2018 Pukul 23:05 Baru saja selesai membaca Looking For Alaska.
Menghabiskan waktu terlalu lama, 16 hari, untuk membaca buku setebal 278 halaman. Sejujurnya banyak hari di mana saya tidak membaca buku ini. Entah untuk alasan-alasan yang tidak bisa saya sebutkan. Namun, bisa dibilang buku ini tidak bisa membuat saya penasaran sepanjang saya membacanya (tidak seperti saat membaca One Of Us Is Lying). Hanya saja pada halaman 175 saya mulai dirundung rasa penasaran. Saya tidak bisa bilang tidak menyukai buku ini, meskipun saya kecewa dengan ending-nya yang terlalu tiba-tiba. Bahkan banyak quote yang bakal saya suka, salah satunya, 'I go to seek a great perhaps'. Tokoh yang paling saya sukai di sini adalah Chip Martin, tidak tahu kenapa.

Kesan saya tentang:
Chip itu, 'semua yang terjadi harus ada alasannya'
Alaska itu, 'tidak semua hal yang terjadi harus ada alasannya'
Miles (alias Pudge) itu, 'aku nggak peduli, tapi aku peduli'

Hujan Bulan Juni

26 - 31 Januari 2018 Pukul 23:00
Sama halnya dengan Looking For Alaska, terlalu lama untuk membaca buku ini karena kebanyakan berhenti (apalagi buku ini tergolong tipis, 130 halaman saja). Sebenarnya ini bukan pertama kalinya baca novel sastra. Saya yakin dulu sekali waktu SMP pernah baca novel sastra yang judulnya tak pernah saya ingat. Namun, ini pertama kalinya saya baca karya Sapardi Djoko Damono. Saya suka kalimat-kalimat yang dirangkai di buku ini. Suka beberapa kutipan sajak. Dan itu membuat saya ingin membaca buku-bukunya yang lain juga, terutama puisi.

Hujan Bulan Juni ©

Itu dia kesan saya membaca ketiga buku di atas. Kesan saya bisa berbeda dengan kesan Anda, tergantung perspektif.

Wednesday, August 9, 2017

Expert Writing Class

August 09, 2017 0
Expert Writing Class
Di artikel sebelumnya saya sudah menulis mengenai Gramedia Writing Project (GWP). Nah, tahun ini GWP mengadakan lomba menulis novel dengan kategori teenlit dan young adult. Pendaftaran mulai dibuka bulan Januari, tapi saya baru tahu akhir Februari (untung nggak ketinggalan). Meskipun sudah tahu dari bulan februari, saya baru daftar akhir bulan Maret. 

Lumayan banyak naskah yang diposting di GWP, sekitar 456 kalau nggak salah (pokoknya lebih dari 400). Naskah-naskah tersebut bakal disaring dan yang tersaring bisa ikut Expert Writing Class. Setelah nunggu-nunggu akhirnya pengumuman keluar bulan Mei. Senang banget waktu tahu saya masuk pada tahap seleksi. Jumlah yang masuk seleksi ada 90 orang. Memang lebih banyak dari GWP sebelumnya.

Sembilan puluh peserta yang masuk seleksi tahap I ini wajib mengirimkan naskah lengkap sebagai syarat bisa mengikuti Expert Writing Class. Saya langsung semangat buat nerusin naskah dong. Sebelum date line yang ditentukan sudah dikirim.

Kapan pengumuman pemenang? Nah, ternyata diumumin saat Expert Writing Class, tanggal 22 Juli 2017. Tambah deg-deg deh, tapi excited juga. Gimana nggak, coach yang bakal mengisi Expert Writing Class kece badai, ada Tere Liye; Rosi L. Simamora; Aan Mansyur; Bernard Batubara; dan editor Gramedia Hetih Rusli.

Suasana Sebelum Pembukaan (dokumentasi pribadi)

Dan, setelah bersabar menunggu akhirnya hari itu datang. Acara diadakan di Jakarta Creative Hub, dimulai dari pukul 08.00 – 16.00. Waktu itu saya jalan kaki dari hotel di daerah Tanah Abang ke lokasi (sambil olahraga lah ya). Sampai di sana registrasi, mengisi daftar hadir; dapat name tag; goodie bag; sama snack.

Isi goodie bag dari Gramedia (dokumentasi pribadi)
 
Waktu pertama datang sih cuma celingak-celinguk. Belum ada yang dikenal, meskipun sudah gabung di grup WA GWP3. Terus ngajak kenalan sama kakak-kakak yang juga lagi registrasi, tapi habis itu saya diam seribu bahasa. Mau SKSD, tapi kok nggak bakat. Tapi akhirnya kenal juga sama yang lain.

Acara pun dibuka, diawali oleh sambutan dari Bu Greti selaku GM PT. Gramedia Pustaka Utama.

Ternyata kelas hari itu dibagi jadi 3, saya masuk ke kelompok 2. Kelas pertama kelasnya Aan Mansyur. Iya, Aan Mansyur yang nulis puisi-puisi di film AADC 2. Saya pikir karena Aan Mansyur nulis puisi, beliau bakal memberi contoh tentang sepengal duapengal puisi. Excited kan pagi-pagi disuguhi puisi romantis gitu, ternyata nggak. Beliau membawakan materi mengenai narasi. Kelas bersama beliau cuma berlangsung selama 45 menit dan entah kenapa waktu bergerak dengan cepat. Katakanlah kalau menunggu orang 45 menit itu kan terasa lama banget ya. Yah, mungkin karena memang seru jadi teras cepat aja.

Kelas Aan Mansyur (dokumentasi pribadi)

Selanjutnya kelas Rosi L. Simamora, kalau tahu buku Negeri Para Roh berarti tahu beliau, kalau tahu editor Critical Eleven (Ika Natassa) berarti tahu beliau. Beliau membawakan materi mengenai plot. Dan habis mendengarkan materi dari beliau saya langsung sadar, selama ini suka ngawur bikin plot. Tahu awal dan akhir cerita belum tentu tahu plotnya apa. Cerita dan plot itu pun dua hal yang berbeda. Batin saya waktu itu, ah akhirnya saya dapat pencerahan.

Berikutnya adalah makan siang. By the way, makan siangnya enak dan perut kecil ini kenyang sekali. ^^ Habis makan siang leyeh-leyeh dulu sambil ngobrol-ngobrol sama teman sebelum lanjut kelas lagi. Ada juga yang menggunakan waktu tersebut untuk foto-foto bareng coach. Saya nggak minta tanda tangan atau foto bareng sih. Foto sehabis kelas sama coach dan teman-teman lain sudah cukup kok.

Next, kelasnya Tere Liye yang karyanya lagi banyak digandrungi itu dan sudah banyak difilmkan. Beliau membawakan materi mengenai Ide dan Karakter. Mengutip dari kata-kata beliau, “Ide bisa apa saja, tapi penulis bisa menemukan sudut pandang yang spesial dari ide tersebut.” Nah, ini yang sulit untuk membuat ide yang apa saja itu jadi spesial. Saran beliau sih harus banyak latihan.

Kelas Ci Hetih ini super kilat, cuma 20 menit lho, tapi nagih. Materinya singkat padat jelas. Dibagi jadi beberapa poin yang ditampilkan menggunakan quotes beberapa penulis.

Terakhir adalah kelas bersama Bang Bara. Beliau menyampaikan materi mengenai author’s online presence. Saya belajar bagaimana membangun image sebagai penulis melalui media sosial, lalu bagaimana melakukan promosi yang tepat lewat medsos.

Setelah melewati berbagai rangkaian kelas, akhirnya sampailah di bagian yang paling bikin deg-degan, yaitu pengumuman. Jujur saya nggak punya ekspetasi untuk menang. Ngerasa kalau naskah yang saya tulis memang belum bagus. Dan, memang nggak menang (wkwk). Juara pertama Kak Patra (Twin War), juara kedua Kak Indah (Being 17 Once Again), juara ketiga Kak Rara (A Sweet Mistake), juara harapan pertama Kak Lia (Caramellove Recipe), dan juara harapan kedua Kak Anastasye (Seira dan Tongkat Toar Lumimuut).

Para Pemenang (dokumentasi pribadi)

Terakhir, sebelum pulang, kami sempatkan untuk saling tukar buku sebagai kenang-kenangan. Buku dibungkus koran, biar surprise. Saya bawa 3 buku, jadi berhak ambil 3 buku juga. ^^ Lucunya waktu saya sampai rumah dan buka bungkusan, salah satu novel yang saya dapat sama dengan novel yang sudah saya punya. Jadilah sekarang punya 2 novel yang sama.

Well, itu pengalaman berharga banget bisa mengikuti Expert Writing Class, meskipun nggak menang dan naskah saya nggak dilirik editor, tapi saya tetap senang. Selain mendapat pengalaman dan ilmu, juga bisa dapat teman baru. Itu benar-benar memotivasi saya untuk terus menulis dan memperbaiki tulisan saya. Saya yakin, one day naskah saya akan menemukan rumahnya, seperti yang teman-teman GWP 3 katakan.

Comment