MELALUI RUANG

Saturday, May 26, 2018

Buku yang Saya Baca April 2018

May 26, 2018 0
Buku yang Saya Baca April 2018
Gagal deh rutin membaca setiap bulan. Saya telah melewatkan bulan Maret, tapi ya sudahlah saya harus move on. Mari membahas buku-buku yang saya baca di bulan April.

Twinwar

23 Maret - 11 April 2018 pukul 21:50 baru saja selesai membaca Twinwar
Tadi saya sempat bilang bulan Maret saya tidak baca buku, sebenarnya baca sih tapi selesainya April. Progress baca saya memang lamban, 2 minggu lebih baru selesai karena banyak berhentinya. Ok, sudah basa-basinya, jadi Twinwar adalah novel yang ditulis oleh Dwipatra, juara 1 Gramedia Writing Project batch 3 yang digelar pada tahun 2017. Dari judulnya sudah menggambarkan kalau novel ini mengisahkan pertengkaran antara saudara kembar. Kenapa pertengkaran itu bisa terjadi? Baca sendiri kalau penasaran. Novel ini tergolong teenlit, jadi konfliknya khas anak remaja.

Novel Gramedia Twinwar ditulis oleh Dwipatra merupakan pemenang pertama kompetisi Gramedia Writing Project batch 3
Twinwar ©

Sebelumnya saya sudah pernah baca beberapa bab di situs gwp.co.id dan langsung suka dengan konflik cerita tersebut. Akhirnya bisa baca secara utuh.

Tokoh utama di novel Twinwar adalah si kembar Gara dan Hisa. Perseteruan antara Gara dan Hisa terasa banget di dalam novel ini. Penulisannya rapi (tidak kayak saya suka lompat-lompat kayak katak, eh curhat). Semua pertanyaan yang muncul di awal cerita dijawab oleh penulis, jadi jangan khawatir akan mengernyitkan dahi atau penasaran setengah mati setelah kata 'tamat'.

... sedih atau bahagianya kita tidak tergantung pada siapa pun selain diri kita sendiri. hl. 247

Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi

15 - 19 April 2018 pukul 21:59 baru saja selesai membaca Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi
Ini adalah kumpulan cerpen karya Eka Kurniawan, terdiri dari 15 cerita. Sebagian besar adalah cerpen yang pernah dimuat di media cetak. Menurut saya cerpen-cerpen dalam buku ini sarat akan pesan moral. Kadang perlu berpikir untuk menangkap makna tersirat dari suatu cerpen. Sempat berpikir juga "ini penafsiran saya benar nggak ya". Namun, pada dasarnya cerita ketika sampai di tangan pembaca, maka pembaca memiliki kebebasan menafsirkan tulisan yang ia baca. Tidak harus persis dengan maksud penulis.

Kumpulan Cerpen Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi oleh Eka Kurniawan
Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi ©

That's all, cuma 2 buku yang saya baca di bulan April. Dan, baru sempat posting di akhir Mei ini. Terus gimana dengan buku yang saya baca di bulan Mei? Saya membaca buku Menggali Sumur dengan Ujung Jarum (itu satu-satunya buku yang saya baca di bulan Mei). Buku ini berisi cerita pendek dan esai para penulis terkenal dunia, seperti Luis Borges, Orhan Pamuk, Garcia Marquez, Naguib Mahfouz, Seamus Heaney, dan William Saroyan.

Jujur saja saya harus berpikir cukup keras saat membaca buku ini. Selain karena makna yang tersirat dan gaya penulisan, terdapat beberapa kosa kata yang asing di telinga saya, beberapa kali saya harus mencari artinya di search engine (tapi ini bagus untuk menambah kosa kata saya). Jika dibaca dari judulnya saja sudah menunjukkan makna tersirat di sana. Menggali sumur dengan ujung jarum? Mungkin saja dilakukan, tapi berat. Ada perihal yang hampir mustahil diwujudkan atau setidaknya butuh usaha ekstra berat untuk mewujudkannya. Itu sih penafsiran saya, orang lain boleh saja berbeda. Namun, harus saya akui tidak ada cerpen yang menjadi favorit di dalam buku ini, saya tetap lebih suka Padang Rumput Afrika-nya Ray Bradbury dan 13-nya Zakaria Tamer (tidak tahu kalau nanti ada lagi yang lebih menohok).

Buku Menggali Sumur dengan Ujung Jarum
Menggali Sumur dengan Ujung Jarum ©

Silakan tinggalkan komentar atau share buku apa saja yang sedang kalian baca.

Saturday, March 17, 2018

Perpustakaan Kecil di Angkutan

March 17, 2018 0
Perpustakaan Kecil di Angkutan
Di suatu sore itu habis turun hujan, sekitar jam 17:00 saya naik angkutan seperti biasa. Namun, ada yang tidak biasa dengan angkutan yang saya naiki. Di bagian belakang angkutan terdapat deretan buku dan air mineral gratis. Cukup takjub dengan angkutan tersebut karena sejak dulu menggunakan jasa angkutan sampai sekarang belum pernah menemui angkutan serupa. Hal tersebut membuat saya tersentuh, sambil mencari nafkah supir angkutan tersebut menyebarkan budaya membaca di masyarakat.

Dokumentasi pribadi

Di depan deretan buku tersebut ada tulisan 'timbang ngalamun moco buku lur, nek ngelak ngombeo, gratis', yang artinya 'daripada melamun baca buku saudara, kalau haus minum saja, gratis'. Buku yang diletakkan di rak tersebut memang masih sedikit, sekitar sepuluh mungkin. Namun, bagi saya ajakan untuk membaca itulah yang patut diapresiasi.

Saat saya naik angkutan turut juga seorang anak dan ada beberapa ibu-ibu juga. Anak tersebut nampak tertarik membaca buku cerita, sedangkan ibu-ibu membuka-buka buku resep masakan. Hal itu menunjukkan sebenarnya keinginan masyarakat untuk membaca itu ada hanya mungkin ada beberapa faktor penghambat, entah karena harga buku masih relatif mahal bagi mereka atau keberadaan perpustakaan yang kurang maksimal.

Sebagai seorang yang suka baca buku saya sendiri belum bisa melakukan tindakan nyata untuk mengajak masyarakat membaca buku, tapi saya berharap suatu saat bisa berpartisipasi. Semoga semakin banyak masyarakat Indonesia yang sadar akan pentingnya membaca.

Thursday, March 1, 2018

Buku yang Saya Baca Februari 2018

March 01, 2018 0
Buku yang Saya Baca Februari 2018
Memasuki bulan kedua di tahun 2018, cukup baik masih konsisten membaca buku. Sebenarnya Februari ini saya khususkan untuk membaca buku tahun lalu yang belum sempat saya selesaikan, alias mandek di tengah jalan.

Critical Eleven

15 Februari - 22 Februari 2018 pukul 22:30 baru saja selesai membaca Critical Eleven
Siapa sih yang tidak tahu novel ini, pasti sudah pada tahu ya, apalagi setelah difilmkan. Saya mendapat novel ini gratis, dapat dari acara Gramedia punya sekitar bulan Juli 2017. Sebelumnya cuma tahu mengenai Critical Eleven ya dari trailer filmnya (cuma trailer belum pernah nonton juga). Kapan saya mulai baca novel ini jawabannya adalah lupa, mungkin bulan Agustus atau September, entahlah. Yang jelas setelah itu malah mandek. Apa alasan saya berhenti? Bukan karena tidak tertarik, tapi saat itu lebih banyak meluangkan waktu untuk menulis (yang hasilnya belum nampak sampai sekarang hahaha).

Novel Critical Eleven oleh Ika Natassa
Critical Eleven ©

Buku ini memakai sudut pandang orang pertama yang secara bergantian antara Anya dan Ale. Kesan saya baca buku ini cukup enjoy, suka gaya bahasanya, tapi menurut saya alurnya lamban. Sejujurnya saya tidak terlalu suka alur lamban, yah tergantung selera ya. Selama membaca saya mudah membayangkan tokoh-tokoh yang ada, terlebih saya sudah nonton trailernya jadi yang terbayang ya Adinia Wirasti dan Reza Rahadian. Selain itu, flashback yang disajikan dalam novel ini menurut saya menjadi salah satu yang menarik. Meskipun alurnya maju mundur tapi saya tidak kesulitan memahami ceritanya.

Bagi saya membaca buku juga harus bisa memetik makna di balik cerita yang disuguhkan atau sekadar baca untuk hiburan tidak apa-apa juga sih. Di sini saya menangkap, 'oh ini toh yang namanya five stages of grief'. Stages tersebut antara lain, penyangkalan, kemarahan, menawar, depresi, dan penerimaan. Anya dan Ale mengalami masalah berat, yang kemudian penyelesaiannya melalui tahapan-tahapan tersebut. Dan, konflik di antara mereka bagi saya terlihat nyata dan natural.

Kumpulan Budak Setan

24 Februari 2018 baru saja selesai membaca Kumpulan Budak Setan
Saya lupa sekali beli buku ini bulan kapan dan mulai baca kapan (penyakit!). Saya juga tidak yakin kenapa kalau membaca kumpulan cerpen suka berhenti-berhenti. Jadi, buku ini ditulis oleh Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, dan Ugoran Prasad. Kumpulan cerpen ini semacam didedikasikan untuk penulis lampau bernama Abdullah Harahap. Saya sendiri belum pernah membaca karya beliau (Dan saya yakin pasti bukunya langka).

Kesan singkat setelah baca buku ini -> sama kayak judulnya, 'ini budak setan banget'. Jangan mengharapkan happy ending, never happened! Sudah itu saja (seriusan singkat).

Buku Kumpulan Budak Setan oleh Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, Ugoran Prasad
Kumpulan Budak Setan ©

Resign

24 Februari - 25 Februari 2018 pukul 16:00 baru saja selesai membaca Resign
Buku ini baru saja saya beli, jadi tidak masuk prokrastinasi saya. Awalnya tertarik beli karena baca tweet salah satu editor GPU yang suka lewat di timeline (efektif ini), jadi penasaran banget. Katanya ada versi wattpadnya, tapi saya belum pernah baca yang di wattpad. Novel ini ditulis oleh Almira Bastari, mengisahkan kehidupan kantor para Cungpret (kacung kampret) yang overload. Mereka melakukan taruhan agar bisa resign lebih dahulu dari yang lain. Ibaratkan kalau 17 Agustus ada lomba balap karung, nah kalau ini lomba balap resign.

Novel Resign oleh Almira Bastari
Resign ©

Overall buatku novel ini menghibur sekali. Bikin senyum-senyum sendiri, kadang juga bikin saya mengangguk-angguk setuju dengan opini para Cungpret ini. Selama saya membaca buku ini enjoy sekali, tidak ada halaman yang membuat saya bosan. Ringan juga, tidak perlu mikir terlalu keras, cocok dibaca buat santai di akhir pekan.

Sama dengan bulan lalu, bulan ini saya baru mampu baca tiga buku, tapi lumayanlah. Itu dia kesan saya baca novel-novel tersebut. Semoga bulan Maret saya bisa baca buku lebih dari tiga ya, semoga.


Thursday, February 1, 2018

Buku yang Saya Baca Januari 2018

February 01, 2018 0
Buku yang Saya Baca Januari 2018
Tahun ini saya bertekad untuk bisa membaca buku lebih banyak. Itu menjadi salah satu resolusi di tahun 2018. Nah, sayang banget kalau sudah baca buku tetapi tidak saya bagikan kesan membaca buku-buku tersebut. Rencananya akan saya posting setiap bulan buku apa saja yang saya baca (semoga bisa konsisten).

Dimulai pada bulan Januari, tidak ada target jumlah harus baca buku berapa, tapi dalam sebulan harus ada buku yang dibaca pokoknya. Bulan ini saya membaca 3 buku (lumayan sekali ketimbang tahun lalu). Apa saja buku itu? Ini dia...


One Of Us Is Lying

Saya mengawali tahun ini dengan membaca buku yang ditulis oleh Karen M. Mcmanus, yang mana buku tersebut adalah debutnya. Awal mula saya tertarik baca buku ini tidak lain karena buku ini sering mondar-mandir di timeline twitter saya. Lalu saya mencari tahu tentang buku tersebut dan ternyata ini genre buku yang memang saya suka. Ok, saya harus punya buku itu. Ini dia!

Novel One of Us is Lying oleh Karen McManus
One of Us is Lying ©

2 - 7 Januari 2018 Pukul 00:11 Baru saja selesai membaca One Of Us Is Lying. 
Kenapa saya bela-belain membaca buku ini sampai tengah malam? Tidak lain karena rasa penasaran. Dan saya tidak mau sampai tidak tidur nyenyak karena kepikiran. Siapa sih yang membunuh Simon? Apakah Bronwyn? Addy? Nate? Copper? Dan berbagai pertanyaan lain berkecamuk. Plot twist-nya lumayan mengecoh. Jujur saya tidak kepikiran bahwa si A ini adalah tersangkanya. Terus ada plot twist lain yang juga bikin saya melongo. Kalau penasaran cus baca.

One of Us is lying menggunakan sudut pandang orang pertama, tapi dilihat sisi setiap tokoh. Setiap bab mewakili tokoh yang berbeda-beda. Dan syukurlah suara mereka tidak sama jadi saya sangat enjoy saat baca. Mereka memiliki karakter masing-masing yang kuat.


Looking For Alaska

Ini bukan tergolong buku baru dan barangkali saya sudah ketinggalan zaman karena baru baca buku ini di tahun 2018. Baca dari blurbnya sih saya cukup penasaran, makanya saya memutuskan beli buku ini.

Mengisahkan Pudge yang masuk ke sekolah asrama untuk mencari "Kemungkinan Besar". Di sana ia bertemu dengan seorang perempuan bernama Alaska Young. Kisahnya pun dimulai di tempat baru itu.

Novel Looking for Alaska oleh John Green
Looking for Alaska ©

10 - 25 Januari 2018 Pukul 23:05 Baru saja selesai membaca Looking For Alaska.
Menghabiskan waktu terlalu lama, 16 hari, untuk membaca buku setebal 278 halaman. Sejujurnya banyak hari di mana saya tidak membaca buku ini. Entah untuk alasan-alasan yang tidak bisa saya sebutkan. Namun, bisa dibilang buku ini tidak bisa membuat saya penasaran sepanjang saya membacanya (tidak seperti saat membaca One Of Us Is Lying). Hanya saja pada halaman 175 saya mulai dirundung rasa penasaran. Saya tidak bisa bilang tidak menyukai buku ini, meskipun saya kecewa dengan ending-nya yang terlalu tiba-tiba. Bahkan banyak quote yang bakal saya suka, salah satunya, 'I go to seek a great perhaps'. Tokoh yang paling saya sukai di sini adalah Chip Martin, tidak tahu kenapa.

Kesan saya tentang:
Chip itu, 'semua yang terjadi harus ada alasannya'
Alaska itu, 'tidak semua hal yang terjadi harus ada alasannya'
Miles (alias Pudge) itu, 'aku nggak peduli, tapi aku peduli'

Hujan Bulan Juni

26 - 31 Januari 2018 Pukul 23:00
Sama halnya dengan Looking For Alaska, terlalu lama untuk membaca buku ini karena kebanyakan berhenti (apalagi buku ini tergolong tipis, 130 halaman saja). Sebenarnya ini bukan pertama kalinya baca novel sastra. Saya yakin dulu sekali waktu SMP pernah baca novel sastra yang judulnya tak pernah saya ingat. Namun, ini pertama kalinya saya baca karya Sapardi Djoko Damono. Saya suka kalimat-kalimat yang dirangkai di buku ini. Suka beberapa kutipan sajak. Dan itu membuat saya ingin membaca buku-bukunya yang lain juga, terutama puisi.

Hujan Bulan Juni ©

Itu dia kesan saya membaca ketiga buku di atas. Kesan saya bisa berbeda dengan kesan Anda, tergantung perspektif.

Wednesday, August 9, 2017

Expert Writing Class

August 09, 2017 0
Expert Writing Class
Di artikel sebelumnya saya sudah menulis mengenai Gramedia Writing Project (GWP). Nah, tahun ini GWP mengadakan lomba menulis novel dengan kategori teenlit dan young adult. Pendaftaran mulai dibuka bulan Januari, tapi saya baru tahu akhir Februari (untung nggak ketinggalan). Meskipun sudah tahu dari bulan februari, saya baru daftar akhir bulan Maret. 

Lumayan banyak naskah yang diposting di GWP, sekitar 456 kalau nggak salah (pokoknya lebih dari 400). Naskah-naskah tersebut bakal disaring dan yang tersaring bisa ikut Expert Writing Class. Setelah nunggu-nunggu akhirnya pengumuman keluar bulan Mei. Senang banget waktu tahu saya masuk pada tahap seleksi. Jumlah yang masuk seleksi ada 90 orang. Memang lebih banyak dari GWP sebelumnya.

Sembilan puluh peserta yang masuk seleksi tahap I ini wajib mengirimkan naskah lengkap sebagai syarat bisa mengikuti Expert Writing Class. Saya langsung semangat buat nerusin naskah dong. Sebelum date line yang ditentukan sudah dikirim.

Kapan pengumuman pemenang? Nah, ternyata diumumin saat Expert Writing Class, tanggal 22 Juli 2017. Tambah deg-deg deh, tapi excited juga. Gimana nggak, coach yang bakal mengisi Expert Writing Class kece badai, ada Tere Liye; Rosi L. Simamora; Aan Mansyur; Bernard Batubara; dan editor Gramedia Hetih Rusli.

Suasana Sebelum Pembukaan (dokumentasi pribadi)

Dan, setelah bersabar menunggu akhirnya hari itu datang. Acara diadakan di Jakarta Creative Hub, dimulai dari pukul 08.00 – 16.00. Waktu itu saya jalan kaki dari hotel di daerah Tanah Abang ke lokasi (sambil olahraga lah ya). Sampai di sana registrasi, mengisi daftar hadir; dapat name tag; goodie bag; sama snack.

Isi goodie bag dari Gramedia (dokumentasi pribadi)
 
Waktu pertama datang sih cuma celingak-celinguk. Belum ada yang dikenal, meskipun sudah gabung di grup WA GWP3. Terus ngajak kenalan sama kakak-kakak yang juga lagi registrasi, tapi habis itu saya diam seribu bahasa. Mau SKSD, tapi kok nggak bakat. Tapi akhirnya kenal juga sama yang lain.

Acara pun dibuka, diawali oleh sambutan dari Bu Greti selaku GM PT. Gramedia Pustaka Utama.

Ternyata kelas hari itu dibagi jadi 3, saya masuk ke kelompok 2. Kelas pertama kelasnya Aan Mansyur. Iya, Aan Mansyur yang nulis puisi-puisi di film AADC 2. Saya pikir karena Aan Mansyur nulis puisi, beliau bakal memberi contoh tentang sepengal duapengal puisi. Excited kan pagi-pagi disuguhi puisi romantis gitu, ternyata nggak. Beliau membawakan materi mengenai narasi. Kelas bersama beliau cuma berlangsung selama 45 menit dan entah kenapa waktu bergerak dengan cepat. Katakanlah kalau menunggu orang 45 menit itu kan terasa lama banget ya. Yah, mungkin karena memang seru jadi teras cepat aja.

Kelas Aan Mansyur (dokumentasi pribadi)

Selanjutnya kelas Rosi L. Simamora, kalau tahu buku Negeri Para Roh berarti tahu beliau, kalau tahu editor Critical Eleven (Ika Natassa) berarti tahu beliau. Beliau membawakan materi mengenai plot. Dan habis mendengarkan materi dari beliau saya langsung sadar, selama ini suka ngawur bikin plot. Tahu awal dan akhir cerita belum tentu tahu plotnya apa. Cerita dan plot itu pun dua hal yang berbeda. Batin saya waktu itu, ah akhirnya saya dapat pencerahan.

Berikutnya adalah makan siang. By the way, makan siangnya enak dan perut kecil ini kenyang sekali. ^^ Habis makan siang leyeh-leyeh dulu sambil ngobrol-ngobrol sama teman sebelum lanjut kelas lagi. Ada juga yang menggunakan waktu tersebut untuk foto-foto bareng coach. Saya nggak minta tanda tangan atau foto bareng sih. Foto sehabis kelas sama coach dan teman-teman lain sudah cukup kok.

Next, kelasnya Tere Liye yang karyanya lagi banyak digandrungi itu dan sudah banyak difilmkan. Beliau membawakan materi mengenai Ide dan Karakter. Mengutip dari kata-kata beliau, “Ide bisa apa saja, tapi penulis bisa menemukan sudut pandang yang spesial dari ide tersebut.” Nah, ini yang sulit untuk membuat ide yang apa saja itu jadi spesial. Saran beliau sih harus banyak latihan.

Kelas Ci Hetih ini super kilat, cuma 20 menit lho, tapi nagih. Materinya singkat padat jelas. Dibagi jadi beberapa poin yang ditampilkan menggunakan quotes beberapa penulis.

Terakhir adalah kelas bersama Bang Bara. Beliau menyampaikan materi mengenai author’s online presence. Saya belajar bagaimana membangun image sebagai penulis melalui media sosial, lalu bagaimana melakukan promosi yang tepat lewat medsos.

Setelah melewati berbagai rangkaian kelas, akhirnya sampailah di bagian yang paling bikin deg-degan, yaitu pengumuman. Jujur saya nggak punya ekspetasi untuk menang. Ngerasa kalau naskah yang saya tulis memang belum bagus. Dan, memang nggak menang (wkwk). Juara pertama Kak Patra (Twin War), juara kedua Kak Indah (Being 17 Once Again), juara ketiga Kak Rara (A Sweet Mistake), juara harapan pertama Kak Lia (Caramellove Recipe), dan juara harapan kedua Kak Anastasye (Seira dan Tongkat Toar Lumimuut).

Para Pemenang (dokumentasi pribadi)

Terakhir, sebelum pulang, kami sempatkan untuk saling tukar buku sebagai kenang-kenangan. Buku dibungkus koran, biar surprise. Saya bawa 3 buku, jadi berhak ambil 3 buku juga. ^^ Lucunya waktu saya sampai rumah dan buka bungkusan, salah satu novel yang saya dapat sama dengan novel yang sudah saya punya. Jadilah sekarang punya 2 novel yang sama.

Well, itu pengalaman berharga banget bisa mengikuti Expert Writing Class, meskipun nggak menang dan naskah saya nggak dilirik editor, tapi saya tetap senang. Selain mendapat pengalaman dan ilmu, juga bisa dapat teman baru. Itu benar-benar memotivasi saya untuk terus menulis dan memperbaiki tulisan saya. Saya yakin, one day naskah saya akan menemukan rumahnya, seperti yang teman-teman GWP 3 katakan.

Thursday, December 22, 2016

Mencoba Menjadi Penulis Lain

December 22, 2016 0
Mencoba Menjadi Penulis Lain
Try to be others, this is mistake! Saya baru sadar setelah membaca beberapa jurnal di blog Eka Kurniawan, meskipun tak segamblang itu tapi ini menggiring saya untuk berpikir demikian. Begitu penting bagi seorang penulis nyaman dengan apa yang ditulis. Celakanya belakangan ini saya berusaha menjadi orang lain hanya karena ingin menang lomba menulis. Hasilnya, tentu saja saya tidak menang.

Dalam setahun ada beberapa lomba menulis yang memberikan tema tertentu. Penulis super amatiran seperti saya ini jelas tertarik. Selain bisa untuk latihan juga dapat mengukur semahir apa saya menulis, sejauh mana perkembangan saya. Kebanyakan tema lomba tersebut adalah mengenai percintaan, yang mana saya merasa paling tidak bisa membuat cerita romance. Bahkan dari banyak genre film, genre yang satu ini adalah yang paling tidak saya sukai. Tapi ini membuat saya semakin tertantang untuk membuat cerita romance. Kesalahan saya adalah, saya berusaha menulisnya dengan gaya novel percintaan yang menurut saya laku keras di pasaran, ketimbang menulisnya dengan gaya saya sendiri. Kebodohan tersebut juga terjadi karena saya beranggapan bahwa jika saya dapat menulis cerita seperti yang laku di pasaran itu, saya akan menang.

Setelah kekalahan telak (berkali-kali), saya semakin bertanya-tanya apa sih patokan sebuah karya itu disebut bagus? Saya pikir tulisan saya cukup bagus untuk bisa menang (mungkin semua penulis pernah mikir seperti itu). Dan pertanyaan saya tak pernah terjawab secara pasti. Bahkan saya berusaha menjawab sendiri. Jawabannya, mungkin karena selera (aku suka maka ini yang terbaik); atau karena karya tersebut mudah diterima; atau karena itu laku keras. Entahlah. Yang jelas saya setuju 100% sama kata bang Eka, bahwa setiap penulis harus menemukan cara mereka sendiri untuk menulis. Jangan sampai seperti saya yang berusaha menjadi orang lain, sampai sampai gaya tulisan saya juga. Percaya dengan banyak membaca, menganalisis yang kita baca, dan menulis; saya akan menemukan cara saya sendiri untuk menulis. Never try to be someone else! Yang penting nyaman dengan apa yang ditulis dan cara menulis.

Tuesday, December 20, 2016

Writing Project

December 20, 2016 0
Writing Project
Waktu melihat isi folder bertuliskan ‘writing project’‒yang isinya file lumayan banyak‒saya mengernyitkan dahi. Tidak lain karena sebagian file tersebut hanya saya simpan untuk diri saya sendiri (hanya beberapa file yang waktu itu sempat saya terbitkan secara mandiri). OK, saya memutuskan untuk browsing, kira-kira ada cara lain nggak ya untuk ‘memberdayakan’ file saya ini (ahaha).

Dan akhirnya menemukan situs gwp.co.id, yah hampir serupa sama wattpad. Hanya saja situs tersebut dikelola oleh penerbit mayor, yang tak lain adalah Gramedia. Situs tersebut dimaksudkan untuk menemukan penulis baru. GWP (Gramedia Writing Project) ini sudah ada sejak tahun 2013, dan saya baru tahu akhir-akhir ini (ke mana saja). Tapi nggak ada kata terlambat untuk berkarya ya.

Langsung lah saya menyortir file yang hanya tersimpan di folder itu. Pilihan saya jatuh pada flash fiction yang saya buat setahun yang lalu. Flash fiction tersebut bertema horor dan bisa banget dikembangkan jadi novel. Seharian saya menulis prolog, bab 1, dan bab 2. Dua hari berikutnya saya upload di gwp.co.id. Ceritanya memang belum selesai, tapi sudah excited banget. Bisa check karya saya di link gwp.co.id/piala-kehormatan/, sekalian di-rate kalau punya akun gwp. ^^


Comment