MELALUI RUANG

Thursday, February 1, 2018

Buku yang Saya Baca Januari 2018

February 01, 2018 0
Buku yang Saya Baca Januari 2018
Tahun ini saya bertekad untuk bisa membaca buku lebih banyak. Itu menjadi salah satu resolusi di tahun 2018. Nah, sayang banget kalau sudah baca buku tetapi tidak saya bagikan kesan membaca buku-buku tersebut. Rencananya akan saya posting setiap bulan buku apa saja yang saya baca (semoga bisa konsisten).

Dimulai pada bulan Januari, tidak ada target jumlah harus baca buku berapa, tapi dalam sebulan harus ada buku yang dibaca pokoknya. Bulan ini saya membaca 3 buku (lumayan sekali ketimbang tahun lalu). Apa saja buku itu? Ini dia...


One Of Us Is Lying

Saya mengawali tahun ini dengan membaca buku yang ditulis oleh Karen M. Mcmanus, yang mana buku tersebut adalah debutnya. Awal mula saya tertarik baca buku ini tidak lain karena buku ini sering mondar-mandir di timeline twitter saya. Lalu saya mencari tahu tentang buku tersebut dan ternyata ini genre buku yang memang saya suka. Ok, saya harus punya buku itu. Ini dia!

Novel One of Us is Lying oleh Karen McManus
One of Us is Lying ©

2 - 7 Januari 2018 Pukul 00:11 Baru saja selesai membaca One Of Us Is Lying. 
Kenapa saya bela-belain membaca buku ini sampai tengah malam? Tidak lain karena rasa penasaran. Dan saya tidak mau sampai tidak tidur nyenyak karena kepikiran. Siapa sih yang membunuh Simon? Apakah Bronwyn? Addy? Nate? Copper? Dan berbagai pertanyaan lain berkecamuk. Plot twist-nya lumayan mengecoh. Jujur saya tidak kepikiran bahwa si A ini adalah tersangkanya. Terus ada plot twist lain yang juga bikin saya melongo. Kalau penasaran cus baca.

One of Us is lying menggunakan sudut pandang orang pertama, tapi dilihat sisi setiap tokoh. Setiap bab mewakili tokoh yang berbeda-beda. Dan syukurlah suara mereka tidak sama jadi saya sangat enjoy saat baca. Mereka memiliki karakter masing-masing yang kuat.


Looking For Alaska

Ini bukan tergolong buku baru dan barangkali saya sudah ketinggalan zaman karena baru baca buku ini di tahun 2018. Baca dari blurbnya sih saya cukup penasaran, makanya saya memutuskan beli buku ini.

Mengisahkan Pudge yang masuk ke sekolah asrama untuk mencari "Kemungkinan Besar". Di sana ia bertemu dengan seorang perempuan bernama Alaska Young. Kisahnya pun dimulai di tempat baru itu.

Novel Looking for Alaska oleh John Green
Looking for Alaska ©

10 - 25 Januari 2018 Pukul 23:05 Baru saja selesai membaca Looking For Alaska.
Menghabiskan waktu terlalu lama, 16 hari, untuk membaca buku setebal 278 halaman. Sejujurnya banyak hari di mana saya tidak membaca buku ini. Entah untuk alasan-alasan yang tidak bisa saya sebutkan. Namun, bisa dibilang buku ini tidak bisa membuat saya penasaran sepanjang saya membacanya (tidak seperti saat membaca One Of Us Is Lying). Hanya saja pada halaman 175 saya mulai dirundung rasa penasaran. Saya tidak bisa bilang tidak menyukai buku ini, meskipun saya kecewa dengan ending-nya yang terlalu tiba-tiba. Bahkan banyak quote yang bakal saya suka, salah satunya, 'I go to seek a great perhaps'. Tokoh yang paling saya sukai di sini adalah Chip Martin, tidak tahu kenapa.

Kesan saya tentang:
Chip itu, 'semua yang terjadi harus ada alasannya'
Alaska itu, 'tidak semua hal yang terjadi harus ada alasannya'
Miles (alias Pudge) itu, 'aku nggak peduli, tapi aku peduli'

Hujan Bulan Juni

26 - 31 Januari 2018 Pukul 23:00
Sama halnya dengan Looking For Alaska, terlalu lama untuk membaca buku ini karena kebanyakan berhenti (apalagi buku ini tergolong tipis, 130 halaman saja). Sebenarnya ini bukan pertama kalinya baca novel sastra. Saya yakin dulu sekali waktu SMP pernah baca novel sastra yang judulnya tak pernah saya ingat. Namun, ini pertama kalinya saya baca karya Sapardi Djoko Damono. Saya suka kalimat-kalimat yang dirangkai di buku ini. Suka beberapa kutipan sajak. Dan itu membuat saya ingin membaca buku-bukunya yang lain juga, terutama puisi.

Hujan Bulan Juni ©

Itu dia kesan saya membaca ketiga buku di atas. Kesan saya bisa berbeda dengan kesan Anda, tergantung perspektif.

Wednesday, August 9, 2017

Expert Writing Class

August 09, 2017 0
Expert Writing Class
Di artikel sebelumnya saya sudah menulis mengenai Gramedia Writing Project (GWP). Nah, tahun ini GWP mengadakan lomba menulis novel dengan kategori teenlit dan young adult. Pendaftaran mulai dibuka bulan Januari, tapi saya baru tahu akhir Februari (untung nggak ketinggalan). Meskipun sudah tahu dari bulan februari, saya baru daftar akhir bulan Maret. 

Lumayan banyak naskah yang diposting di GWP, sekitar 456 kalau nggak salah (pokoknya lebih dari 400). Naskah-naskah tersebut bakal disaring dan yang tersaring bisa ikut Expert Writing Class. Setelah nunggu-nunggu akhirnya pengumuman keluar bulan Mei. Senang banget waktu tahu saya masuk pada tahap seleksi. Jumlah yang masuk seleksi ada 90 orang. Memang lebih banyak dari GWP sebelumnya.

Sembilan puluh peserta yang masuk seleksi tahap I ini wajib mengirimkan naskah lengkap sebagai syarat bisa mengikuti Expert Writing Class. Saya langsung semangat buat nerusin naskah dong. Sebelum date line yang ditentukan sudah dikirim.

Kapan pengumuman pemenang? Nah, ternyata diumumin saat Expert Writing Class, tanggal 22 Juli 2017. Tambah deg-deg deh, tapi excited juga. Gimana nggak, coach yang bakal mengisi Expert Writing Class kece badai, ada Tere Liye; Rosi L. Simamora; Aan Mansyur; Bernard Batubara; dan editor Gramedia Hetih Rusli.

Suasana Sebelum Pembukaan (dokumentasi pribadi)

Dan, setelah bersabar menunggu akhirnya hari itu datang. Acara diadakan di Jakarta Creative Hub, dimulai dari pukul 08.00 – 16.00. Waktu itu saya jalan kaki dari hotel di daerah Tanah Abang ke lokasi (sambil olahraga lah ya). Sampai di sana registrasi, mengisi daftar hadir; dapat name tag; goodie bag; sama snack.

Isi goodie bag dari Gramedia (dokumentasi pribadi)
 
Waktu pertama datang sih cuma celingak-celinguk. Belum ada yang dikenal, meskipun sudah gabung di grup WA GWP3. Terus ngajak kenalan sama kakak-kakak yang juga lagi registrasi, tapi habis itu saya diam seribu bahasa. Mau SKSD, tapi kok nggak bakat. Tapi akhirnya kenal juga sama yang lain.

Acara pun dibuka, diawali oleh sambutan dari Bu Greti selaku GM PT. Gramedia Pustaka Utama.

Ternyata kelas hari itu dibagi jadi 3, saya masuk ke kelompok 2. Kelas pertama kelasnya Aan Mansyur. Iya, Aan Mansyur yang nulis puisi-puisi di film AADC 2. Saya pikir karena Aan Mansyur nulis puisi, beliau bakal memberi contoh tentang sepengal duapengal puisi. Excited kan pagi-pagi disuguhi puisi romantis gitu, ternyata nggak. Beliau membawakan materi mengenai narasi. Kelas bersama beliau cuma berlangsung selama 45 menit dan entah kenapa waktu bergerak dengan cepat. Katakanlah kalau menunggu orang 45 menit itu kan terasa lama banget ya. Yah, mungkin karena memang seru jadi teras cepat aja.

Kelas Aan Mansyur (dokumentasi pribadi)

Selanjutnya kelas Rosi L. Simamora, kalau tahu buku Negeri Para Roh berarti tahu beliau, kalau tahu editor Critical Eleven (Ika Natassa) berarti tahu beliau. Beliau membawakan materi mengenai plot. Dan habis mendengarkan materi dari beliau saya langsung sadar, selama ini suka ngawur bikin plot. Tahu awal dan akhir cerita belum tentu tahu plotnya apa. Cerita dan plot itu pun dua hal yang berbeda. Batin saya waktu itu, ah akhirnya saya dapat pencerahan.

Berikutnya adalah makan siang. By the way, makan siangnya enak dan perut kecil ini kenyang sekali. ^^ Habis makan siang leyeh-leyeh dulu sambil ngobrol-ngobrol sama teman sebelum lanjut kelas lagi. Ada juga yang menggunakan waktu tersebut untuk foto-foto bareng coach. Saya nggak minta tanda tangan atau foto bareng sih. Foto sehabis kelas sama coach dan teman-teman lain sudah cukup kok.

Next, kelasnya Tere Liye yang karyanya lagi banyak digandrungi itu dan sudah banyak difilmkan. Beliau membawakan materi mengenai Ide dan Karakter. Mengutip dari kata-kata beliau, “Ide bisa apa saja, tapi penulis bisa menemukan sudut pandang yang spesial dari ide tersebut.” Nah, ini yang sulit untuk membuat ide yang apa saja itu jadi spesial. Saran beliau sih harus banyak latihan.

Kelas Ci Hetih ini super kilat, cuma 20 menit lho, tapi nagih. Materinya singkat padat jelas. Dibagi jadi beberapa poin yang ditampilkan menggunakan quotes beberapa penulis.

Terakhir adalah kelas bersama Bang Bara. Beliau menyampaikan materi mengenai author’s online presence. Saya belajar bagaimana membangun image sebagai penulis melalui media sosial, lalu bagaimana melakukan promosi yang tepat lewat medsos.

Setelah melewati berbagai rangkaian kelas, akhirnya sampailah di bagian yang paling bikin deg-degan, yaitu pengumuman. Jujur saya nggak punya ekspetasi untuk menang. Ngerasa kalau naskah yang saya tulis memang belum bagus. Dan, memang nggak menang (wkwk). Juara pertama Kak Patra (Twin War), juara kedua Kak Indah (Being 17 Once Again), juara ketiga Kak Rara (A Sweet Mistake), juara harapan pertama Kak Lia (Caramellove Recipe), dan juara harapan kedua Kak Anastasye (Seira dan Tongkat Toar Lumimuut).

Para Pemenang (dokumentasi pribadi)

Terakhir, sebelum pulang, kami sempatkan untuk saling tukar buku sebagai kenang-kenangan. Buku dibungkus koran, biar surprise. Saya bawa 3 buku, jadi berhak ambil 3 buku juga. ^^ Lucunya waktu saya sampai rumah dan buka bungkusan, salah satu novel yang saya dapat sama dengan novel yang sudah saya punya. Jadilah sekarang punya 2 novel yang sama.

Well, itu pengalaman berharga banget bisa mengikuti Expert Writing Class, meskipun nggak menang dan naskah saya nggak dilirik editor, tapi saya tetap senang. Selain mendapat pengalaman dan ilmu, juga bisa dapat teman baru. Itu benar-benar memotivasi saya untuk terus menulis dan memperbaiki tulisan saya. Saya yakin, one day naskah saya akan menemukan rumahnya, seperti yang teman-teman GWP 3 katakan.

Thursday, December 22, 2016

Mencoba Menjadi Penulis Lain

December 22, 2016 0
Mencoba Menjadi Penulis Lain
Try to be others, this is mistake! Saya baru sadar setelah membaca beberapa jurnal di blog Eka Kurniawan, meskipun tak segamblang itu tapi ini menggiring saya untuk berpikir demikian. Begitu penting bagi seorang penulis nyaman dengan apa yang ditulis. Celakanya belakangan ini saya berusaha menjadi orang lain hanya karena ingin menang lomba menulis. Hasilnya, tentu saja saya tidak menang.

Dalam setahun ada beberapa lomba menulis yang memberikan tema tertentu. Penulis super amatiran seperti saya ini jelas tertarik. Selain bisa untuk latihan juga dapat mengukur semahir apa saya menulis, sejauh mana perkembangan saya. Kebanyakan tema lomba tersebut adalah mengenai percintaan, yang mana saya merasa paling tidak bisa membuat cerita romance. Bahkan dari banyak genre film, genre yang satu ini adalah yang paling tidak saya sukai. Tapi ini membuat saya semakin tertantang untuk membuat cerita romance. Kesalahan saya adalah, saya berusaha menulisnya dengan gaya novel percintaan yang menurut saya laku keras di pasaran, ketimbang menulisnya dengan gaya saya sendiri. Kebodohan tersebut juga terjadi karena saya beranggapan bahwa jika saya dapat menulis cerita seperti yang laku di pasaran itu, saya akan menang.

Setelah kekalahan telak (berkali-kali), saya semakin bertanya-tanya apa sih patokan sebuah karya itu disebut bagus? Saya pikir tulisan saya cukup bagus untuk bisa menang (mungkin semua penulis pernah mikir seperti itu). Dan pertanyaan saya tak pernah terjawab secara pasti. Bahkan saya berusaha menjawab sendiri. Jawabannya, mungkin karena selera (aku suka maka ini yang terbaik); atau karena karya tersebut mudah diterima; atau karena itu laku keras. Entahlah. Yang jelas saya setuju 100% sama kata bang Eka, bahwa setiap penulis harus menemukan cara mereka sendiri untuk menulis. Jangan sampai seperti saya yang berusaha menjadi orang lain, sampai sampai gaya tulisan saya juga. Percaya dengan banyak membaca, menganalisis yang kita baca, dan menulis; saya akan menemukan cara saya sendiri untuk menulis. Never try to be someone else! Yang penting nyaman dengan apa yang ditulis dan cara menulis.

Tuesday, December 20, 2016

Writing Project

December 20, 2016 0
Writing Project
Waktu melihat isi folder bertuliskan ‘writing project’‒yang isinya file lumayan banyak‒saya mengernyitkan dahi. Tidak lain karena sebagian file tersebut hanya saya simpan untuk diri saya sendiri (hanya beberapa file yang waktu itu sempat saya terbitkan secara mandiri). OK, saya memutuskan untuk browsing, kira-kira ada cara lain nggak ya untuk ‘memberdayakan’ file saya ini (ahaha).

Dan akhirnya menemukan situs gwp.co.id, yah hampir serupa sama wattpad. Hanya saja situs tersebut dikelola oleh penerbit mayor, yang tak lain adalah Gramedia. Situs tersebut dimaksudkan untuk menemukan penulis baru. GWP (Gramedia Writing Project) ini sudah ada sejak tahun 2013, dan saya baru tahu akhir-akhir ini (ke mana saja). Tapi nggak ada kata terlambat untuk berkarya ya.

Langsung lah saya menyortir file yang hanya tersimpan di folder itu. Pilihan saya jatuh pada flash fiction yang saya buat setahun yang lalu. Flash fiction tersebut bertema horor dan bisa banget dikembangkan jadi novel. Seharian saya menulis prolog, bab 1, dan bab 2. Dua hari berikutnya saya upload di gwp.co.id. Ceritanya memang belum selesai, tapi sudah excited banget. Bisa check karya saya di link gwp.co.id/piala-kehormatan/, sekalian di-rate kalau punya akun gwp. ^^


Saturday, October 1, 2016

Macam-macam Genre Novel

October 01, 2016 0
Macam-macam Genre Novel

Genre Novel yang Perlu Kalian Ketahui dan Penjelasannya

Lama tak nge-blog kali ini saya ingin membahas mengenai berbagai genre novel serta penjelasannya. Literatur fiksi memiliki berbagai macam genre, seperti romance, misteri, science fiction, horor, thriller, suspense, humor, dll. Tidak jarang juga ada karya yang mengandung lebih dari satu genre, misalnya genre romance yang dibumbui dengan genre humor, atau genre misteri yang dibumbui dengan genre horor.

Kalau saya selalu suka dengan genre science fiction, fantasi, misteri dan horor. Genre science fiction dan misteri selalu bikin saya ikut berpikir. Sementara genre fantasi membuat saya ikut berimajinasi dan genre horor bikin jantung saya dag-dig-dug. Intinya setiap genre memiliki dampak atau efek berbeda kepada pembaca. Berikut ini penjelasan mengenai genre-genre dalam literatur fiksi.

1. Science fiction
Genre sci-fi pada umumnya mengangkat topik yang berhubungan dengan teknologi atau sains. Kecanggihan teknologi atau kadang cerita yang rumit dalam sci-fi membuat pembaca dituntut untuk lebih berpikir. Kebanyakan tema yang kita temui adalah cerita mengenai time traveler, perjalanan luar angkasa, cyborg, dll. Contoh novel dengan genre sci-fi adalah Time Machine oleh H. G. Wells.

2. Fantasi
Cerita ini berhubungan dengan hal-hal yang diluar akal pikiran dan tidak ada di dunia nyata. Pada umumnya bercerita mengenai suatu negeri khayal dan memiliki tokoh yang tidak biasa misal peri, penyihir, naga, dll. Contoh novel bergenre fantasi adalah The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel karya Michael Scott, Harry Potter karya J.K. Rowling, Eragon karya Christopher Paolini, The Lord of The Ring karya J.R.R. Tolkien, dan masih banyak lagi.

3. Thriller
Pada cerita ini tokoh antagonis atau tersangka sudah dapat diketahui dari awal. Lalu, apa serunya kalau tersangka sudah diketahui? Yang membuat cerita ini menarik dan lebih seru adalah aksi-aksi menegangkan dan mengejutkan. Contoh novel bergenre thriller, yaitu The Book of Mirror karya E.O. Chirovici.

4. Suspense
Genre suspense hampir mirip dengan thriller hanya alurnya yang berbeda. Sejak awal tokoh antagonis atau tersangka sudah diketahui. Namun dalam genre ini tidak banyak aksi-aksi menengangkan seperti dalam thriller. Di sini tokoh protagonis dihadapkan pada situasi tidak menguntungkan yang diciptakan oleh tokoh antagonis. Tokoh antagonis akan menekan tokoh protagonis agar melakukan semua perintahnya.

5. Misteri
Berbeda dengan suspense dan thriller, pada cerita misteri tokoh antagonis atau tersangka tidak langsung diketahui. Ini membuat pembaca akan menebak-nebak siapa tersangka dalam suatu cerita. Cerita ini memberikan sensasi penasaran, mencekam, dan penuh tanda tanya. Kebanyakan tema yang ditemukan dalam genre misteri adalah cerita mengenai detektif. Nah, contoh novel dengan genre misteri yang tidak asing di telinga adalah Sherlock Holmes karya Sir Conan Doyle dan karya-karya Agatha Christie dengan tokoh utama Hercule Poirot dan Miss Marple.

6. Horor
Cerita horor pada umumnya berhubungan dengan hal-hal supernatural/gaib atau mitos pada suatu daerah. Alur cerita ini dibuat mencekam dan menakutkan. Biasanya konflik terjadi antara manusia dan makhluk astral. Salah satu contoh novel dengan genre horor adalah Gerbang Dialog Danur karya Risa Saraswati.

7. Romance
Siapa sih yang tidak tahu genre satu ini. Romance adalah genre yang paling banyak diminati di Indonesia, selain humor tentunya. Genre ini bercerita mengenai percintaan atau hubungan asmara yang tidak lepas dari drama.

8. Humor
Genre ini bisa bikin ketawa, jelas namanya saja humor. Bercerita mengenai hal-hal jenaka atau lucu. Contoh cerita bergenre humor adalah karya-karya milik Raditya Dika (Kambing Jantan, Marmut Merah Jambu, Manusia Setengah Salmon, dll); My Stupid Boss yang ditulis oleh chaos@work.

Itu dulu guys penjelasan mengenai genre-genre dalam buku fiksi. Buat kalian yang mau share genre favorit atau penjelasan lebih detail mengenai genre buku boleh banget comment. ^^

Thursday, July 7, 2016

Novellete, Novela, dan Novel

July 07, 2016 3
Novellete, Novela, dan Novel

NOVELETTE, NOVELLA, DAN NOVEL

Membicarakan mengenai karya sastra, novel merupakan salah satu yang menjadi favorit. Novel sendiri sebenarnya memiliki ‘saudara dekat’, yaitu novelette dan novella. Kebanyakan orang mungkin lebih mengenal novel daripada novelette dan novella. Sebenarnya di toko buku novelette dan novella dapat dengan mudah ditemukan. Namun, orang lebih suka menyebutnya sebagai novel mini.

Apa sih perbedaan antara novelette, novella, dan novel? Perbedaan ke tiganya ada pada jumlah kata yang digunakan.


Novelette

Pada umumnya novelette lebih panjang dari cerita pendek dan lebih pendek dari novella. Karya sastra fiksi ini memiliki jumlah kata sebanyak 7500 – 17000 kata. Jumlah kata yang relatif sedikit ini menjadikan novelette cocok untuk dibaca sekali selesai. Salah satu contoh novelette adalah A Christmas Carol oleh Charles Dickens, The Doll and One Other oleh Algernon Blackwood.

Novella

Novella memiliki cerita yang lebih panjang dari novelette dan biasanya disebut sebagai novel mini. Jumlah kata pada karya sastra fiksi ini adalah 17000 – 40000. Tidak seperti novel, novella tidak dibagi dalam chapter. Salah satu contoh novella adalah karya dari Agatha Christie yang berjudul Three Blind Mice.

Novel

Novel memiliki jumlah kata yang paling banyak, yaitu lebih dari 40000 kata. Karya sastra fiksi ini pada umumnya dibagi dalam beberapa chapter. Berdasarkan pada jumlah kata yang lebih dari 40000, maka novel dimaksudkan untuk dibaca selama beberapa hari. Contoh novel yang mungkin sudah tidak asing ditelinga adalah Harry Potter karya J.K. Rowling, The Hunger Games trilogy karya Suzanne Collins, Eragon karya Christopher Paolini.

Kalian lebih suka baca yang mana nih, novelette, novella, atau novel?
Yuk share karya sastra fiksi favorit kalian.

Friday, June 24, 2016

Menerbitkan Buku Secara Mandiri

June 24, 2016 0
Menerbitkan Buku Secara Mandiri
Menerbitkan buku secara mandiri bukanlah hal yang mustahil. Siapa saja bisa memiliki buku.


Bagi yang suka menulis pasti kalian punya impian agar tulisan kalian terbit jadi buku, kan? Saya juga begitu, tapi tidak bisa dipungkiri untuk masuk ke penerbit mayor memang sulit. Mereka memiliki kriteria tersendiri, belum lagi pasti naskah yang masuk ke mereka tidaklah sedikit. Butuh kesabaran untuk menunggu feedback. Nah ada solusi jika kalian ingin segera memiliki buku, yaitu self publishing.



Sekarang ini banyak situs self publishing di internet yang memudahkan penulis agar karyanya bisa terbit. Meskipun menerbitkan secara mandiri, tetap harus memperhatikan kaidah penulisan yang benar ya. Terkadang ada tuh yang menulis dengan tanda baca yang tidak sesuai (titik, tanda seru, tanda tanya banyak banget), kata yang digunakan acak-acakan (pakai bahasa luar angkasa yang hurufnya gede kecil dikombinasi sama angka), tidak sesuai KBBI (Ini relatif karena kalau dialognya bahasa gaul jelas tidak sesuai KBBI dan itu tidak apa-apa.).



Menerbitkan buku secara mandiri jelas ada konsekuensinya. Mulai dari editing, sampul buku, sampai promosi; semua dilakukan sendiri oleh penulis. Kalau punya teman yang bisa editing dan membuatkan sampul buku akan sangat membantu atau bisa cari orang yang terima komisi. Setelah yakin karyamu layak, tinggal upload saja terus tunggu buku dicetak.



Baru tahun ini saya memutuskan menggunakan jasa self publishing. Editing dan sampul buku (yang seadanya itu) saya buat sendiri. Buku yang diterbitkan secara mandiri berupa kumpulan cerita berjudul Ombak: Kumpulan Cerita. Buku ini terdiri dari 12 cerita pendek dengan genre misteri, horor, dan thriller.



Jika sudah memiliki buku yang terbit, apa langkah selanjutnya? Ya, Promosi. Cara yang bisa kalian lakukan untuk promosi beragam, bisa melalui media sosial, web, video berupa book trailer, mengadakan giveaway, promosi lewat bookstagram atau blogger. Lantas apakah jika sudah gencar promosi itu dapat mendongkrak karyamu dibeli? Belum tentu. Promosi ini hanya untuk mengenalkan karyamu ke khalayak. Dibeli atau tidak tergantung pembaca tertarik atau tidak dengan karyamu. Menurut pengalaman saya di lini penerbit mandiri yang jasanya saya gunakan, biasanya ada sampel buku yang bisa diunggah. Ini salah satu cara agar pembaca mengetahui secara garis besar buku seperti apa yang ingin dibeli worth it atau tidak.



Nah apakah ada yang tertarik untuk menggunakan jasa self publishingYuk comment, share pengalaman kalian yang pernah menggunakan jasa self publishingSemangat berkarya!

Comment