MELALUI RUANG

Monday, February 18, 2019

5 Hal Tentang Drama Korea Kingdom

February 18, 2019 0
5 Hal Tentang Drama Korea Kingdom
Selain drama korea Memories of the Alhambra, drama korea Kingdom juga menjadi original series di saluran Netflix. Jika kalian penasaran bisa menonton trailernya dulu di You Tube. Waktu itu saya juga sempat nonton trailer drama korea bertema zombie ini, tapi masih belum tergugah untuk nonton. Lalu baca komentar teman di Twitter jadi penasaran, katanya recommended banget. Cusss saya nonton serial televisi Kingdom.

Drama korea kolosal Kingdom bercerita tentang rumor aneh yang menyebar di kerajaan mengenai penyakit yang diderita oleh Raja. Kemudian wabah misterius menyerang negeri tersebut, menyebabkan orang-orang memangsa satu sama lain. Putra Mahkota yang mengetahui konspirasi dan penyebab wabah tersebut menjadi satu-satunya harapan. Kingdom diadaptasi dari webtoon berjudul Land of the Gods yang ditulis oleh Kim Eun Hee. Pangeran Lee Chang diperankan oleh Ju Ji Hoon, Ryu Seung Ryong berperan sebagai Ketua Dewan Kerajaan bernama Cho Hak Ju (dari klan Hae Won Cho), dan Bae Doona sebagai tabib bernama Seo Bi.

Jumlah episode drama korea Kingdom ini cukup sedikit, hanya ada 6 episode; tapi karena akan ada season kedua jadi wajarlah. Setelah nonton episode pertama, saya semangat untuk lanjut ke episode selanjutnya, pokoknya menjanjikan banget. Kita sudah langsung paham premis cerita hanya dengan nonton episode pertama. Cerita kerajaan itu memang tidak jauh-jauh dari politik kekuasaan, di Kingdom ini juga hal tersebutlah yang mendasari berbagai peristiwa yang terjadi. Jika kalian sudah nonton trailernya maka diperlihatkan bahwa Sang Raja menjadi zombie. Tentu Raja tidak menjadi zombie dengan sendirinya. Itu adalah ulah orang-orang yang ingin mempertahankan kekuasaan mereka. Lalu apa yang menarik dari drama korea Kingdom ini, simak penjelasan saya berikut.

Setting Lokasi dan Waktu 

Drama korea Kingdom yang bertema zombie mengambil setting waktu pada era Joseon membuatnya unik. Kebanyakan film zombie yang saya tonton punya setting waktu di zaman modern. Dengan berbagai teknologi canggih saya rasa itu sangat membantu mereka untuk membasmi para zombie. Tapi kalau di zaman dulu yang semua masih serba manual, bakal lebih kesulitan. Selain itu setting lokasi di Kingdom sangat detail, gambaran desa-desa terpencil nan miskin; Jiyulheon (semacam puskesmas di era saat itu) yang porak poranda setelah pasien terkena wabah; benteng yang di bangun di setiap jalan masuk ke Sangju (salah satu kawasan). That’s cool!

Akting Para Aktor 

Akting zombie-nya itu keren banget, mencuri perhatian saya, hahaha. Badan bisa meliuk-liuk gitu, terus ekspresinya juga dapat banget. Saya merasa merinding dan ketakutan waktu bagian dikejar-kejar. Kayaknya kalau itu saya yang dikejar, saya tidak akan sanggup untuk lari, sudah lemes duluan kaki ini. Menurut saya zombie di Kingdom lebih serem daripada zombie di Resident Evil ataupun I am Legend. Kalau aktor lainnya tidak usah dipertanyakan lagi, aktor senior Ryu Seung Ryong sudah bermain di berbagai drama dan film, Ju Ji Hoon pun demikian; ia terkenal dengan perannya di drama Goong dan film Along with the Gods, Bae Doona bermain di film US seperti Jupiter Ascending dan serial Sense8.

Make up dan Kostum 

Saya kurang tahu apakah mereka menggunakan boneka atau patung lilin untuk beberapa scene, tapi harusnya memang pakai karena ada beberapa scene tubuh zombie saling bertumpukan, terus jangan kaget juga kalau ada kepala menggelinding. Tapi saya takjub dengan make up para zombie yang terlihat sangat nyata. Mulai dari warna kulit hingga luka-luka pada tubuh zombie. Kostum yang digunakan juga menggambarkan setiap ocassion. Pakaian tradisional Korea yang menarik tampak indah dikenakan oleh orang-orang di kerajaan, tapi sangat kontras dengan warga biasa yang cenderung miskin.

Moral Value

Kingdom tidak hanya menceritakan wabah misterius yang menyebar dan intrik di dunia politik, tapi juga sisi lain tentang isu ketidakadilan. Di drama korea ini tampak jelas bagaimana pejabat hidup dengan makmur sedangkan rakyat hidup kekurangan karena pajak yang terlalu tinggi. Para pejabat cenderung memperkaya diri dan mengabaikan keadilan bagi rakyat. Bahkan mereka tidak segan menggunakan kebohongan demi mendapatkan kekuasaan. Orang-orang yang jujur dan bermoral justru dijatuhkan. Ketika Pangeran Lee Chang keluar dari kawasan kerajaan, ia menyadari ketimpangan sosial tersebut. Ia ingin bertahan hidup demi menjadi pemimpin yang baik kelak.

Plot Twist 

Kingdom tentu menghadirkan plot twist dan tidak akan saya sebutkan apa itu, nanti spoiler. Yang jelas saya tidak menduganya sejak awal. Salah satu plot twist-nya bikin saya merasa miris. Orang yang gila kekuasaan memang bisa sekejam itu. Terus plot twist yang satunya lagi juga bikin gregetan. Tidak terbayang bagaimana nasib mereka di season dua nanti. Kayaknya bakal lebih banyak pertumpahan darah.

Saya sangat menantikan Kingdom season dua. Kabarnya bulan Februari tahun ini mulai dilakukan penggarapan season dua. Namun belum diketahui kapan season dua akan release, kemungkinan tahun depan, semoga saja. Jika kalian belum nonton buruan nonton di Netflix.

Tuesday, February 12, 2019

Kompetisi Menulis 2019

February 12, 2019 0
Kompetisi Menulis 2019
Saya termasuk orang yang suka berburu kompetisi menulis, karena bisa dijadikan sebagai latihan dan tolak ukur kemampuan menulis. Tahun 2019 ini ada beberapa kompetisi menulis yang sayang untuk dilewatkan. Simak informasinya di bawah ini.

Sayembara oleh Dewan Kesenian Jakarta

Tahun ini Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) mengadakan beberapa sayembara, yaitu sayembara novel, cerita anak dan kritik sastra. DKJ memang rutin membuat sayembara, tentu ini adalah peluang yang bagus untuk para penulis Indonesia. Apalagi penilaian karya tidak terpaku pada nama penulis, jadi penilaian murni secara objektif.
Syarat Umum:
- Mengisi formulir di web DKJ.
- Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu karya.
- Tema bebas.
- Karya belum pernah dipublikasikan dalam versi utuh.
- Karya asli, bukan jiplakan, bukan saduran.
- Peserta merupakan WNI, dibuktikan dengan fotokopi tanda pengenal.
- Tidak perlu membubuhkan nama penulis di naskah. Biodata ditulis di lembar terpisah.
- Empat salinan naskah dikirim ke: Panitia Sayembara Novel DKJ 2019, Dewan Kesenian Jakarta, Jl. Cikini Raya 73, Jakarta 10330
- Batas akhir 3 September 2019 (cap pos).

Ketentuan khusus Sayembara Cerita Anak:
- Panjang karya minimal 10.000 kata (format kertas A4, spasi 1,5, huruf TNR ukuran 12).
Informasi lebih lanjut kunjungi Sayembara Cerita Anak DKJ.

Ketentuan khusus Sayembara Novel:
- Panjang karya minimal 20.000 kata (format kertas A4, spasi 1,5, huruf TNR ukuran 12).
Informasi lebih lanjut kunjungi Sayembara Novel DKJ.

Ketentuan khusus Kritik Sastra:
- Harus membahas satu karya sastra (buku tunggal karya satu penulis).
- Panjang kritik minimal 15 halaman (format kertas A4, spasi 1,5, huruf TNR ukuran 12).
Informasi lebih lanjut kunjungi Sayembara Kritik Sastra DKJ.

Lomba Menulis Flash Fiction oleh Penerbit Spring

Ketentuan lomba:
- Tema: Retelling cerita rakyat Indonesia yang mengandung unsur kemerdekaan.
- Karya belum pernah dipublikasikan.
- Panjang naskah 750-1000 kata.
- Format kertas A4, huruf TNR 12 pt, spasi 1,5, margin normal.
- Karya dikirim ke email portalfantasi@gmail.com dengan format Spring in Summer_Nama_Judul
- Batas akhir pengiriman naskah 10 Agustus 2019.
Informasi lebih lanjut bisa mengunjungi Instagram Penerbit Spring atau Portal PNFI.

Festival Internasional Sastra Gunung Bintan

Ketentuan pengiriman puisi:
- Terbuka untuk umum (Indonesia, Malaysia, Brunai Darussalam, Singapura, Kamboja, Vietnam, Myanmar, Thailand.)
- Tema: Segara Sakti, Rantau Bertuah (Jazirah Melayu dalam puisi).
- Peserta hanya boleh mengirimkan maksimal 5 karya.
- Puisi disertai dengan biodata dan foto diri.
- Karya dikirim ke email panitia: antologipuisijazirah@gmail.com atau rliamsipku@gmail.com atau fhardelia2@gmail.com
- Batas akhir pengiriman karya 31 Agustus 2019.
- Penyair yang puisinya dimuat akan diundang ke acara Festival Sastra Internasional Gunung Bintan 2019 di Tanjungpinang, Riau. (Akomodasi dan konsumsi selama acara ditanggung panitia, tapi transportasi dari tempat asal penyair ke tempat acara tidak ditanggung oleh panitia.)
- Puisi yang dimuat tidak mendapat honorarium.
- Infomasi lebih lanjut hubungi panitia: WA 08117001943 atau Fatih Muftih 085376022456.

Lomba Cerpen Genre Punk oleh LCDP

Ketentuan lomba:
- Genre wajib: Punk (bisa cyberpunk, biopunk, steampunk, clockpunk)
- Panjang karya 3000-5000 kata.
- Karya belum pernah dipublikasikan.
- Hanya boleh mengirim satu naskah.
- Karya bukan fanfic, SARA dan NSFW diperbolehkan tapi diluar tanggung jawab panitia.
- Boleh ditulis lebih dari satu penulis, tapi dengan satu nama pena.
- Bonus poin jika: tidak ada typo, bukan isekai, tidak ada "ternyata ini hanya mimpi".
- Karya dikirim ke email kastel.lcdp@gmail.com dengan format judul Nama Pena_Judul Cerpen_LCDP 2019, eksistensi file doc atau docx.
- Batas akhir pengiriman naskah 17 Agustus 2019.
Informasi lebih lanjut bisa mengunjungi situs LCDP 2019.

Buruan kalau kalian memiliki naskah cerpen, novel atau puisi yang sesuai tema segera diperbaiki lalu dikirim. Batas akhir pengiriman sudah dekat nih. Siapa tahu karya kalian bisa menarik perhatian juri. Semangat menulis.

Review Film Along with the Gods: The Last 49 Days

February 12, 2019 0
Review Film Along with the Gods: The Last 49 Days

Genre              : Fantasi, Drama
Aktor               : Ha Jung Woo, Ju Ji Hoon, Kim Hyang Gi, Ma Dong Seok, Kim Dong Wook
Durasi              : 141 menit
Tanggal rilis    : 15 Agustus 2018 (Indonesia)

AWTG The Last 49 Days ini lebih kompleks dan lebih banyak flashback-nya daripada filmnya yang pertama. Namun film pertama dan kedua ini saling berkaitan, jadi kalau mau nonton harus keduanya. Masih menceritakan tentang perjalanan Gang Rim, Haewonmaek, dan Deok Choon yang membantu jiwa untuk melewati percobaan agar bisa reinkarnasi. Kali ini jiwa yang dibantu adalah Su Hong (Muncul di film pertama sebagai arwah yang penuh dendam.) adik dari Ja Hong (Muncul di film pertama, tapi tidak muncul di film kedua.). Selama perjalanan tersebut Gang Rim dkk juga harus berurusan dengan seorang Dewa Pelindung Rumah (Ma Dong Seok) bernama Seong Ju. Namun Seong Ju lah yang akan menguak masa lalu Haewonmaek dan Deok Choon.

Jika di film pertama menceritakan hubungan anak dengan ibu maka di film kedua ini hubungan dengan ayah. Meskipun tidak sesedih film yang pertama, tapi tetap ada bagian yang membuat saya menitikkan air mata. Entah kenapa cerita tentang keluarga itu selalu dapat menyentuh bagi saya. Selain itu di film pertama kisah utamanya tentang Ja Hong, tapi di film kedua ini kisah utamanya adalah para malaikat pelindung. Jadi kisah Su Hong tidak terlalu banyak, tapi tetap ada benang merahnya. Rasa penasaran saya tentang masa lalu ketiga malaikat pelindung itu pun terbayarkan lunas di film kedua.

Karakter Deok Choon dan Haewonmaek tetap menjadi favorit saya di film kedua ini, bahkan saya tambah cinta dengan karakter itu. Hubungan brother-sister antara mereka itu manis sekali, partner in crime bangetlah, meskipun masa lalu mereka tragis. Di film kedua ini juga dibeberkan hubungan antara Gang Rim, Haewonmaek, dan Lee Deok Choon; kenapa ketiganya bisa menjadi malaikat pelindung. Awalnya saya tidak menduga kalau mereka bertiga saling berkaitan, sampai sedikit demi sedikit misteri dibongkar.

Audio dan efek visualnya tetap mengesankan. Dan saya suka bagian saat Su Hong mulai membayangkan hal apa yang dia takuti, sedangkan Gang Rim tidak paham dengan ocehan Su Hong tentang dinosaurus. Lalu kawanan raptor pun muncul yang disusul dengan tiranosaurus, hingga akhirnya mosasaurus.

Mungkin beberapa orang berpandangan alur kompleks dan banyak flashback membuat sedikit bosan, tapi saya tidak bosan sama sekali. Terlebih tetap ada bagian lucu yang bikin ngakak, malah lebih banyak dari film pertamanya.

Mengenai akting para aktornya tidak perlu diragukan lagi. Juara! Apalagi yang membuat saya terkesan adalah akting Ju Ji Hoon. Dia menjadi Haewonmaek seribu tahun lalu dan masa kini, itu adalah dua karakter yang berbeda banget. Kim Hyang Gi dan Ha Jung Woo juga memerankan dua karakter berbeda sih, tapi yang kentara beda banget itu Ji Hoon. Haewonmaek di masa kini kan ceplas-ceplos, sok keren (memang keren sih), tengil; tapi di masa lalu itu dia seorang yang tenang, berwibawa, berhati emas (Jangan bilang saya lebay, memang gitu kok.). Dan akting Ji Hoon memerankan kepribadian yang berbeda drastis itu dapat banget.

Menurut saya, Deok Choon (Kim Hyang Gi) seribu tahun lalu dan masa kini sama-sama pelindung anak, rela berkorban, dan sosok yang warm. Sementara itu Gang Rim masih sosok yang berwibawa seribu tahun lalu dan masa kini, tapi bedanya seribu tahun lalu dia penuh kedengkian dan sekarang dia penuh rasa bersalah.

Mendengar kabar bahwa AWTG masih akan ada sekuel ke tiga dan empatnya saya sangat excited. Selain itu juga akan diproduksi versi drama dan alurnya akan sama dengan yang ada di webtoon. Tapi kalau yang jadi malaikat pelindungnya bukan Jung Woo, Ji Hoon, dan Hyang Gi kayaknya saya harus mikir dua kali untuk nonton versi dramanya. Sudah terlanjur jatuh cinta sama mereka bertiga.

Sekuel ketiga AWTG bisa diprediksi mengisahkan tentang perjalanan akhirat Won Dong Yeon, karena di akhir cerita sudah diperlihatkan bahwa Gang Rim dkk mendapat jiwa teladan, lagi. Lho reinkarnasi mereka gimana? Mm... saya juga masih penasaran. Mungkin akan terjawab di film keempat, entahlah. Mari tunggu saja dua sekuel berikutnya tayang (yang masih lama sekali itu).

Quote Along with the Gods:
"Mereka yg bertemu pada akhirnya harus berpisah, mereka yg berpisah akan bertemu kembali."

"Tidak ada manusia yang jahat sejak lahir hanya keadaan yang mjd buruk. Jadi saat kau merasa benci, marah, dan tdk mengerti cobalah untuk membaca dan berpikir semuanya secara terbalik. Maka semuanya akan masuk akal. Orang-orang ini, dunia ini, tempat ini."

Sunday, February 10, 2019

Review Film THUG (The Hate U Give)

February 10, 2019 2
Review Film THUG (The Hate U Give)

Genre              : Drama kriminal
Aktor               : Amandla Stenberg, Regina Hall, Russel Hornsby, K.J. Apa
Durasi              : 133 menit
Tanggal rilis    : 5 Oktober 2018 (USA)

Akhirnya saya nonton film THUG, setelah bulan lalu selesai baca novelnya. Dan memang beda banget sama novelnya, tapi tidak mengurangi inti ceritanya kok. Saya memahami cerita sekompleks di novel tidak mungkin semuanya dituangkan ke dalam film. Durasinya bisa jebol. Beda sih kalau dibikin TV series, kayak 13 Reasons Why misalnya. (Kok tangan saya gatal mengetik perbedaan film dengan bukunya, tapi saya sisihkan nanti saja.)

Pertama saya mau ngomongin akting Amandla Stenberg sebagai Starr yang keren banget, big applause... Dia bisa menunjukkan betapa frustasinya Starr, trauma, dan serba salah karena dia menjadi satu-satunya saksi mata atas penembakan sahabatnya, Khalil (Algee Smith). Sulit rasanya untuk speak up ketika kalian adalah minoritas, tapi di sisi lain itu menghancurkan hati kalian sendiri dan orang yang kalian sayangi jika kalian memilih diam. Selain itu akting Regina Hall (Lisa Carter) sebagai ibu Starr juga mencuri perhatian saya, sungguh persis dengan bayangan saya selama membaca novelnya. Karakter Maverick (Russell Hornsby) sebagai ayah Starr juga tepat seperti yang saya bayangkan. Sejauh ini hanya tiga peran itu yang benar-benar kuat menurut saya.

Peran Seven (Lamar Johnson) dan Chris (K.J. Apa) di film yang justru membuat saya sedikit kecewa. Bayangan saya Seven adalah seorang kakak yang karismatik dan pelindung adik-adiknya, sayangnya di film kurang menunjukkan hal tersebut. Wajah Seven juga terlalu muda sebagai kakaknya Starr dan Kenya. Dia malah terlihat sepantaran dengan Starr. Bahkan Chris malah kelihatan lebih tua daripada Seven. Interaksi Chris dengan keluarga Starr juga kurang di sini, ok mungkin itu bisa di-skip di film, tapi at least ketika demo harapanku Chris masih ada di sana bersama Starr. Sayangnya Chris dibuat pergi dengan alasan harus mengantar Kenya dan Lyric. Menurut saya dengan keberadaan Chris sampai akhir sebenarnya buat mempertegas bahwa diversity is real. Itu juga sebenarnya yang membuat ayah Starr akhirnya tidak “menjaga jarak” dengan orang kulit putih.

Spoiler alert !

Bagian ending di film saya kurang suka, sungguh. Setelah demo dan kerusuhan, kenapa ada adegan Sekani menodongkan pistol. Ya mungkin memang untuk mempertegas arti dari ‘thug life’ (The hate you give little infants f*s everybody. Saya sudah menjelaskan tentang arti ini di ulasan saya tentang novel THUG.). Namun menurut saya pribadi itu tidak perlu. Pesan itu sudah sangat melekat bahkan sejak adegan pembunuhan Khalil.

Inikah yang namanya kutukan membaca novel lalu nonton filmnya. Keduanya benar-benar hal yang berbeda, yang saya rasakan juga berbeda. Jika disuruh memilih saya akan lebih memilih novelnya karena lebih lengkap penjelasannya (Misalnya kenapa Starr marah waktu Hailey mengatakan tentang lelucon ayam goreng, ternyata itu hinaan bagi orang kulit hitam. Difilm tidak dijelaskan.). Namun bukan berarti filmnya tidak bagus, bagus dan pesan moralnya tetap sampai. Bagi orang yang menonton filmnya dulu pasti tidak akan mempermasalahkan hal yang saya permasalahkan. Hahaha...  Apalagi di Rotten Tomatoes rating film ini tinggi, yaitu 97%. Terus apakah saya masih harus menulis perbedaan film dengan bukunya? Saya tulis saja ya (Sudah gatel nih.), silakan disimak.

1. Urutan

Urutan kejadian di film jelas beda banget dengan yang di novel. Di film lebih acak dan ada beberapa adegan yang digabung menjadi satu adegan seolah memiliki keterikatan.

2. Tokoh yang dihapus kisahnya
Sejujurnya ada tokoh DeVante yang mengalami nasib seperti Khalil, dia terpaksa menjual narkoba demi menghidupi keluarga. Di film DeVante ada sih, cuma muncul di pesta saja waktu Kenya mau ngelabrak Denasia. Dan, yang dipukuli oleh King itu bukan Seven tapi DeVante, karena dia mencuri uang darinya. Mungkin secara alur DeVante tidak mempengaruhi jalan cerita secara signifikan, jadi kisahnya tidak dimunculkan di film. Tapi menurutku penting juga DeVante ini karena ada pesan yang bisa kita petik. DeVante bisa saja menjadi Khalil yang lain, tapi Maverick memutuskan membantunya dan itu membuat DeVante akhirnya bertobat.

3. Adegan yang tidak ada atau diganti
Starr dan keluarga harusnya pindah dari Garden Height, tapi di film tidak. Maya harusnya membela Starr karena dia juga merasa Hailey rasis kepadanya (Jadi Maya itu oriental ya guys.), tapi tidak. Starr memukul Hailey, tapi difilm diganti dengan merebut sisir dan menodongkannya seolah itu pistol. Lalu di novel interogasi dengan polisi sebelum masuk ke dewan juri itu tidak cuma sekali. Ada juga adegan pesta ulang tahun Seven sekaligus perayaan kelulusannya. Masih banyak sebenarnya, tapi nanti kepanjangan.

Silakan tinggalkan jejak di kolom komentar, kalian yang sudah pernah baca novel dan nonton film THUG lebih suka yang mana? Atau yang baru baca/nonton saja gimana pendapat kalian tentang THUG?

Wednesday, February 6, 2019

TV Series Netflix yang Ditunggu di Tahun 2019

February 06, 2019 0
TV Series Netflix yang Ditunggu di Tahun 2019

Di tahun 2019 ini lumayan banyak TV series Netflix yang saya tunggu-tunggu. Berikut ini beberapa daftarnya.

1.      The Umbrella Academy
Sejujurnya saya tidak maniak dengan cerita superhero, nyaris tidak minat malahan. Namun ada beberapa pengecualian sih, seperti film Dr. Strange, Venom, Guardian of the Galaxy, dan belakangan Spider-Man: Into the Spider-Verse bisa membuat saya tertarik. Nah, The Umbrella Academy ini adalah TV series yang berhubungan dengan superhero dan mampu membuat saya tertarik. Awalnya karena tahu Ellen Page main di The Umbrella Academy sih. Saya suka saja dengan aktingnya yang bagus.

The Umbrella Academy diadaptasi dari komik dengan judul yang sama. TV series ini bercerita tentang tujuh anak yang diadopsi oleh pria kaya raya bernama Sir Reginald Hargreeves, setelah ada kejadian aneh menimpa beberapa wanita yang tiba-tiba melahirkan tanpa sebab. Dia jugalah yang membangun The Umbrella Academy. Namun tidak semua berjalan dengan baik, Sir Reginald meninggal dan meninggalkan banyak tanda tanya pada anak-anaknya. Luther, Diego, Allison, Klaus, Number Five, dan Vanya berusaha menguak misteri tersebut (Saya tidak tahu anak yang satu lagi ke mana. Ini juga yang bikin penasaran.). Apalagi juga disebutkan bahwa Vanya (diperankan oleh Ellen Page) adalah satu-satunya anak yang tidak memiliki kemampuan super. Kan tambah penasaran saya.

The Umbrella Academy akan mulai tayang perdana pada 15 Februari 2019. Itu artinya tidak lama lagi guys!

2.      Stranger Things season 3
Stranger Things berkisah tentang seorang anak bernama Will yang menghilang secara misterius. Lalu kawan-kawannya berusaha menguak misteri menghilangnya teman mereka. Mereka justru bertemu dengan anak perempuan yang memiliki kekuatan psikokinetik bernama Eleven. Dari sanalah petualangan mereka dimulai.

Saya sudah mengikuti TV series ini dari season 1 dan 2. Ini menjadi salah satu TV series favorit saya. Entah kenapa semuanya terasa pas baik alur maupun penokohannya. Season 1 dan 2 sama sekali tidak bikin kecewa. Dan saya juga yakin season 3 juga tidak akan membuat kecewa

Di akhir season 2 memang tampaknya gerbang menuju Upside Down sudah ditutup oleh Eleven, sehingga Demogorgon tidak bisa keluar. Namun, ada sebagian tubuh Demogorgon yang masih ada di Hawkins, ditambah lagi Demodog yang dimasukin kulkas sama Dustin dan Steve. Kayaknya saja Demodog itu sudah mati, tapi ternyata masih hidup kan gawat. Apalagi makhluk dari Upside Down itu kan suka dingin guys. Sudah pasti season 3 akan bercerita seputar Demogorgon yang keberadaannya ternyata masih mengancam Mike dan kawan-kawan. Duh bikin penasaran...

Stranger Things season 3 akan release tanggal 4 Juli 2019, masih lama ya. Tapi sudah banyak beredar foto saat para pemain sedang syuting. Salah satu setting tempatnya pun sudah terkuak, berada di sebuah mall ala tahun 1985. Selain itu juga ada foto Steve Harrington lagi jualan. Duh tokoh satu itu termasuk yang ingin saya ketahui kabarnya karena perkembangan karakternya yang wow itu. Selain itu yang tidak kalah menarik adalah kisah cinta antara Mike dan Eleven.

3.      13 Reasons Why season 3
TV series ini diadaptasi dari novel yang ditulis oleh Jay Asher dengan judul yang sama. Berkisah tentang Hannah Baker yang bunuh diri karena mengalami perundungan di sekolah. Saya sudah ada novelnya, tapi belum saya baca dong. Kalau dari beberapa review yang saya baca memang novel dan TV series-nya beda. Bahkan ada perkembangan ke season 2 dan 3, sudah pasti ada beberapa cerita yang ditambahkan.

Awal nonton season 1 saya cukup terkesan dengan alur maju mundur di 13 Reasons Why yang dikemas tanpa membuat bingung, melalui sudut pandang seorang Hannah Baker yang bercerita melalui kaset. Dan yang terpenting ada pesan mendalam yang bisa penonton petik dari kisah Hannah Baker. Hanya saja di season 2 saya kurang enjoy. Cerita-cerita tambahan itu kesannya dipaksakan, entahlah. Walaupun di sini nasib kasus Hannah ditentukan di pengadilan. Di akhir season 2 pun nasib Tyler juga masih dipertanyakan, makanya ada season 3. Walaupun kurang enjoy dengan season 2, saya tetap ingin lanjut nonton season 3. Semoga tidak mengecewakan.

Tanggal release 13 Reason Why season 3 belum diketahui kapan, meskipun Netflix sudah mengumumkan akan release tahun 2019. Belum ada teasernya juga, jadi mari menunggu kabar selanjutnya.

4.      Wu Assassins
Kalian tahu kan siapa pemain utama di Wu Assassins? Yes, Iko Uwais. Siapa sih yang tidak penasaran dengan aksi Iko Uwais di tv series garapan Netflix ini. Selain menjadi tokoh utama Iko Uwais juga menjadi produser, fight choreographer, dan stunt coordinator. Keren kan?!

Wu Assasins ini bercerita tentang seorang koki di Chinatown San Fransisco bernama Kai Jin (Iko Uwais) yang ternyata adalah seorang Wu Assasin terakhir. Kai Jin berusaha mengungkap misteri kuno dan mengalahkan para pembunuh yang memiliki kekuatan supernatural. Nah premisnya saja sudah bikin penasaran ya. TV series ini disebutkan memiliki episode sebanyak 10 (Kalau saya kepoin Instagramnya bang Iko sih kayaknya syutingnya sudah kelar). Menurut keterangan di website Netflix, tv series ini akan tayang tahun 2019, sayangnya belum ada kabar tanggal rilisnya kapan. Kita tunggu saja. Ekspektasi saya tinggi terhadap tv series ini.

5.      A Series of Unfortunate Events
Season 3 A Series of Unfortunate Events (sekaligus menjadi season terakhir) sudah release tanggal 1 Januari 2019, tapi saya belum nonton, bahkan yang season 1 dan 2-nya juga belum. Tapi saya sudah nonton versi film dan baca novelnya juga, walaupun tidak semua novelnya saya baca. A Series of Unfortunate Events berkisah tentang tiga anak Baudelaire bernama Violet, Klaus, dan Sunny yang menjadi yatim piatu setelah kedua orangtuanya meninggal saat rumah mereka kebakaran. Usut punya usut kebakaran tersebut ternyata disebabkan oleh Count Olaf, salah satu wali pertama anak-anak Baudelaire setelah orangtua mereka meninggal. Count Olaf memiliki niat jahat untuk bisa menguasai harta warisan milik anak-anak Baudelaire. Sayangnya dia gagal jadi wali mereka karena ketahuan lalai menjaga mereka. Nah jadilah itu anak-anak dioper ke sana ke mari, dari wali satu ke wali lainnya oleh kuasa hukum mereka. Tapi Count Olaf terus mengejar mereka.

Kalau difilmnya sih yang diadaptasi cuma novel 1-3. Terus saya sudah baca sampai novel 6 kalau tidak salah, kok lupa, sudah lama banget soalnya. Rasanya kesel banget kalau baca novel A Series of Unfortunate Events, kok ya anak-anak Baudelaire itu nelangsa banget. Meskipun mengjengkelkan saya tetap penasaran dengan kisah ketiga anak itu. Apakah akhirnya mereka tidak kena apes lagi. Sungguh saya mengharapkan happy ending. Jadi saya akan nonton season 1-3, soon!

Silakan komentar TV series apa yang kalian tunggu-tunggu di tahun 2019 atau bahkan TV series apa yang kalian harapkan memiliki season lanjutan.

Tuesday, February 5, 2019

Review Along with the Gods: The Two Worlds

February 05, 2019 0
Review Along with the Gods: The Two Worlds

Film Korea Along with the Gods atau Singwa Hamkke Sarat akan Pesan Mendalam 

Baru-baru ini saya menonton film Along with the Gods. Simak review saya berikut, siapa tahu kalian belum nonton dan putuskan sendiri worth it atau tidak untuk ditonton (Kalau menurut saya worth it banget!).

Genre : Fantasi, Drama 
Aktor : Ha Jung Woo, Cha Tae Hyun, Ju Ji Hoon, Kim Hyang Gi 
Durasi : 139 menit 
Tanggal rilis : 5 Januari 2018 (Indonesia)

Along with the Gods bercerita tentang tiga Grim Reaper (Gang-rim, Haewonmak, dan Lee Deok Choon) yang membantu jiwa seorang pemadam kebakaran (Kim Ja Hong) untuk melalui sidang selama 49 hari agar bisa reinkarnasi. Ja Hong harus melalui percobaan tentang ketidakjujuran, kemalasan, ketidakadilan, pengkhianatan, kekerasan, pembunuhan, dan kedurhakaan. Percobaan tersebut dimulai dari yang teringan ke terberat dan tidak ada yang tahu urutannya kecuali Raja Yeomra. Di balik itu Gang Rim, Haewonmak, dan Deok Choon juga memiliki tujuan tersendiri. Apa tujuannya? Silakan nonton. 

Saya suka dengan premis AWTG serta idenya yang menarik. Cerita fantasi selalu bisa menarik buat saya, karena cakupan imajinasinya luas. Alur cerita di film ini maju mundur, tentu saja karena para Grim Reaper harus menunjukkan berbagai bukti semasa Ja Hong hidup demi memenangkan peradilan, di situlah beberapa flashback muncul. Tapi tenang saja itu tidak akan membuat bosan atau kebingungan. Saya tetap menikmati alur tersebut. 

Hal yang tidak saya sangka, bahwa film ini sangat menguras air mata. Awalnya saya pikir AWTG seperti kebanyakan film fantasi yang hanya menyuguhkan petualangan yang seru. Ternyata tidak hanya unsur petualangan yang seru, AWTG juga menyuguhkan drama keluarga yang sangat menyentuh. Saya biasanya menghindari film-film sedih karena gampang nangis. Film ini benar-benar berhasil membuat saya menangis hingga akhir. 

Banyak sekali pesan-pesan moral mendalam yang dapat dipetik dari film AWTG, tentang kasih sayang antara ibu dan kedua anaknya; tentang penebusan karena rasa bersalah; tentang pengorbanan; tentang kesetiakawanan; tentang kepercayaan; tentang memaafkan. Selain itu ada hal menarik saat pengadilan berlangsung, kayak misalnya melakukan kejahatan untuk kebaikan atau melakukan kebohongan untuk kebaikan, lha gimana itu? Namanya kejahatan tetap kejahatan kan. Tapi ternyata memang tidak mungkin serba absolut (Tiba-tiba jadi teringat novel Absolut Justice, relate banget.). Kalian akan memahaminya melalui perjalanan arwah Ja Hong di neraka. 

Sudah ngomongin alur dan pesan, nah tidak lengkap kalau tidak ngomongin tokoh. Empat tokoh utama di sini memang kuat banget karakternya. Saya paling suka dengan karakter Deok Choon dan Haewonmak. Deok Choon itu tokoh yang warm dan terlihat tulus banget. Dia juga care dengan Ja Hong, buktinya dia mau mendengarkan cerita Ja Hong selama perjalanan. Haewonmak kayaknya saja cuek, tapi sebenarnya peduli dan orang yang setia kawan, terlepas dari pendapatnya yang kadang berlawanan dengan Gang Rim. Dia kalau ngomong ceplas-ceplos dan itu bikin ketawa. Ja Hong sendiri juga seorang karakter yang menarik. Sebagai manusia sih saya bilang Ja Hong termasuk orang yang baik banget, tapi tetap saja ada celah di persidangan. Sementara itu, Gang Rim adalah seorang yang berkarisma, jadi tidak heran dia menjadi kapten bagi Haewonmak dan Deok Choon. Di antara ketiga Grim Reaper tersebut, Gang Rim lah satu-satunya yang masih memiliki ingatan masa lalu. 

Film ini penuh dengan efek visual. Saya tidak terlalu paham dengan kualitas efek visual, tapi tetap terkesan dengan efek visual di film ini. Saya suka efek visual saat Gang Rim dan Haewonmak bergerak dengan cepat pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Terus visual efek di Volcano Damned dan neraka kekerasan juga kece. 

Entah kenapa saya ini termasuk pecinta plot twist, rasanya hambar kalau tidak ada plot twistnya (Orang hidup saja ada plot twistnya.). Kalian akan menemukan beberapa plot twist di film ini. Saya sendiri sama sekali tidak menduganya. Bahkan hingga akhir film ini, masih ada beberapa misteri yang belum terkuak, tentu saja dibuat demikian karena ada sekuelnya. Saya excited sekali untuk menonton sekuelnya, yaitu Along with the God: The Last 49 Days. Di akhir cerita memang disebutkan bahwa adik dari Ja Hong akan menjadi arwah ke 49 yang akan Gang Rim, Haewonmak, dan Deok Choon bimbing. Jadi sekuelnya kurang lebih akan menceritakan hal tersebut. Yang membuat saya penasaran sih justru bagaimana nasib Gang Rim, Haewonmak, dan Deok Choon; sudah gitu penasaran juga dengan masa lalu mereka seribu tahun lalu. 

Quote Along with the Gods: "Semua manusia hidup dengan dosa, hanya beberapa manusia yang mempunyai keberanian untuk meminta maaf. Dan hanya sedikit dari mereka yang benar-benar dimaafkan." - Raja Yeomra

Saturday, February 2, 2019

Buku yang Saya Baca Januari 2019

February 02, 2019 0
Buku yang Saya Baca Januari 2019
Berapa banyak buku yang saya baca bulan Januari 2019? Syukurlah saya membaca tiga buku bulan ini. Sebenarnya ada e-book non fiksi juga yang saya baca, tapi belum selesai. Silakan simak ulasan saya siapa tahu bisa dijadikan pedoman buku apa yang harus Anda baca, ketiganya adalah buku fiksi.

Enigma Pasha

5 Januari 2019 12:20 baru saja selesai membaca Enigma Pasha
Penulis : Akaigita
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Halaman : 264
Tahun terbit : 2018

Novel young adult berjudul Enigma Pasha menjadi buku pertama yang saya baca di tahun 2019. Saya memang sudah lama mengincar novel ini. Novel Enigma Pasha merupakan jebolan dari Gramedia Writing Project Batch 3. Sebelum kompetisi berakhir saya memang sudah baca di web GWP dan langsung jatuh cinta. Akhirnya bisa membaca dalam bentuk bukunya.

Sesuai dengan judulnya enigma yang berarti teka-teki, novel ini menyuguhkan teka-teki tentang seorang cowok bernama Pasha. Pasha adalah murid pindahan dari SMA Adigana. Ketika awal masuk sekolah di SMA Baswara dia mengaku sudah membaca data pribadi semua anak di kelasnya. Sella sebagai teman sebangkunya pun bertanya-tanya tentang asal-usul cowok itu. Namun, lambat laun Sella dapat berteman dengan cowok misterius itu.

Memang tidak seru kalau teka-teki cuma secuil. Pasha ini sukses membuat penasaran tidak hanya Sella tapi juga saya. Dia meninggalkan jejak-jejak yang kemudian berusaha Sella ikuti, tapi itu justru membawanya pada jebakan yang sama sekali tidak terduga. Sampai sejauh ini sudah penasaran?

Saya sangat suka gaya penulisan di novel ini, mengalir, mudah diikuti, membuat saya dapat membayangkan adegan dengan baik. Ngomong-ngomong di novel ini ada unsur bisbolnya (Iya lah covernya aja sudah menunjukkan). Kebetulan saya cukup familiar dengan olahraga softball, meskipun memiliki perbedaan tapi prinsipnya sama lah jadi tidak membuat saya bingung dengan istilah-istilah dan adegan di dalam novel. Namun mungkin untuk beberapa orang yang kurang familiar dengan olahraga ini cukup kebingungan, tapi bisa googling kalau penasaran.

Alur cerita novel ini tidak ketebak, itu memberikan sensasi tersendiri. Kalian tidak akan berhenti membaca sampai semua pertanyaan di kepala kalian terjawab. Saya suka cerita yang penuh misteri, jadi novel ini cocok banget sama tipe saya (Eh dikira pilih cowok, pake tipe-tipean segala). Tokoh-tokoh di cerita ini juga kuat, sangat membekas setelah selesai membaca. Menurut saya tokoh Pasha itu memiliki karisma yang tidak tertandingi. Sedangkan tokoh Sella menurut saya cool, walaupun dia adalah sosok Rapunzel di dunia nyata.

Padahal tanpa disadari, kita juga butuh orang lain untuk melakukan hal-hal yang tidak bisa kita lakukan sendiri.

The Hate U Give (THUG)

20 Januari 2019 13:45 baru saja selesai membaca THUG
Penulis : Angie Thomas
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Halaman : 488
Tahun terbit : 2018

Memenangkan Goodreads Choice Awards 2017 untuk kategori YA Fiction dan Debut Author, novel THUG ini sangat fenomenal guys, terlebih karena tema yang diusung. Novel ini juga merupakan The New York Times Bestseller lho. Keren ya!

Bercerita tentang gadis kulit hitam berusia enam belas tahun, Starr Carter, yang tinggal di lingkungan kumuh. Dia bersekolah di SMA bergengsi di pinggiran kota. Lingkungan tempat tinggal dan sekolah, keduanya adalah dunia yang berbeda seratus delapan puluh derajat. Dia berusaha menjaga keseimbangan di antara keduanya, tapi berantakan ketika dia menjadi satu-satunya saksi mata atas tragedi penembakan oleh polisi terhadap sahabatnya, Khalil.

Kasus tersebut langsung menjadi tajuk utama, tapi justru Khalil disebut-sebut sebagai pengedar narkoba. Lalu terjadi demo besar-besaran untuk menuntut keadilan. Banyak orang yang ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Khalil. Hanya Starr yang bisa menjawab semua itu, tapi tidak mudah baginya untuk berbicara. Bisa jadi pengakuannya akan menghancurkan lingkungannya, bahkan dia dan keluarganya.

Isu rasis memang masih menjadi PR di dunia ini, tidak terkecuali Amerika di Indonesia juga. Novel ini menurut saya menjadi contoh betapa berharganya setiap individu tidak peduli apa agama, ras, atau suku mereka. Setiap individu berhak memperoleh keadilan seadil-adilnya. Selain itu novel ini juga mengajarkan bahwa kita harus berani berbicara sejujurnya demi perubahan yang lebih baik. Terkadang memang banyak tekanan, apalagi jika kita kaum minoritas. Inilah yang dirasakan Starr.

Novel ini juga sudah difilmkan dengan judul yang sama, release Oktober 2018. Tokoh Starr diperankan oleh Amandla Stenberg. Saya ingat banget Amandla ini yang main di Hunger Games, jadi Rue (Dia sudah gede sekarang, kayanya baru tahun kapan sih Hunger Games. Seketika saya merasa tua). Apakah film dengan novelnya sama persis? Saya kurang tahu, belum nonton. Haha...

Karakter yang paling saya sukai di sini tentu saja Starr, tapi saya juga suka Seven gimana dia berusaha menjaga adik-adiknya, sungguh sweet. Dan yang tidak ketebak karakter Chris, kupikir dia akan menjadi berbalik arah kalau tahu hal-hal yang disembunyikan oleh Starr. Syukurlah dia tetap menjadi baik hingga akhir. Saya apresiasi karakter Chris. Dia ini bagaikan oasis, karena dia sama sekali tidak rasis meskipun orang berusaha rasis terhadapnya sekali pun.

Selain dari segi moral value yang deep banget, alur cerita, dan tokoh, saya juga sangat suka judul novel ini. THUG tidak hanya sekadar judul, ada arti lebih dalam dari The Hate U Give (Benci yang Kautanam). Thug secara harafiah memiliki beberapa arti kalau dilihat di kamus bahasa inggris, bisa berarti penjahat atau membunuh. Arti lebih dalam yang dimaksud di dalam novel ini adalah kebencian yang masyarakat berikan pada generasi masa kini akan berbalik kepada mereka. Judul saja sudah keren apalagi isinya. Kalian harus baca, worth it sekali!

Berani bukan berarti kau tidak takut. Tapi tetap mau melanjutkan walaupun kau takut.

Animal Farm

23 Januari 2019 13:35 baru saja selesai membaca Animal Farm
Penulis : George Orwell
Penerbit : Bentang Pustaka
Halaman : 144
Tahun terbit : 2015

Animal Farm adalah karya legendaris Orwell yang dianugerahi Retro Hugo Award (1996) untuk novela terbaik dan Prometheus Hall of Fame Award (2011). Novel alegori politik ini mampu membuat pembaca terhenyak, sesekali juga jadi kesal. Menurut saya pesan yang disampaikan melalui novel ini juga masih relevan dengan dunia politik zaman sekarang (Kadang saya mikir ke mana-mana apalagi tahun 2019 ini adalah tahun politik. Ups... Abaikan!).

Animal Farm berkisah tentang pemberontakan binatang terhadap manusia yang akan terjadi di masa akan datang. Si babi tua bernama Major lah yang meramalkan hal tersebut. Tak lama setelah itu kekuasaan manusia digulingkan oleh dua babi cerdas bernama Snowball dan Napoleon. Namun kemerdekaan binatang-binatang itu tidak bertahan lama, ketika salah satu di antara pemimpin mengambil alih kekuasaan dan menggulingkan pemimpin lainnya dengan cara kotor (Iya guys kotor sekali! Saya ngetiknya sambil kesal lho ini!).

Menggunakan sudut pandang orang ketiga, jadi penuturan cerita lebih luas. Itu juga yang membuat pembaca segera tahu fakta-fakta yang binatang-binatang itu tidak ketahui. Di situ saya merasa kesal, tapi gimana juga mereka kan binatang.

Makhluk-makhluk di luar memandang dari babi ke manusia, dan dari manusia ke babi lagi; tetapi mustahil mengatakan mana yang satu dan mana yang lainnya.

Segitu dulu ulasan kali ini, bulan depan saya akan kembali dengan ulasan buku yang saya baca bulan Februari. Yang belum membaca ketiga buku di atas, silakan segera beli dan baca, recommended sekali. Dan jangan segan-segan untuk meninggalkan jejak di kolom komentar, saya tunggu.

Comment