MELALUI RUANG

Thursday, April 1, 2021

Review Novel 24 Jam Bersama Gaspar

April 01, 2021 0
Review Novel 24 Jam Bersama Gaspar
Penulis : Sabda Armandio
Penerbit : Buku Mojok
Halaman : 228
Tahun terbit : 2017

Blurb 
Tiga lelaki. Tiga perempuan. Dan satu motor berencana merampok toko emas. Semua karena sebuah kotak hitam.

“Ringan dan menyenangkan. Ia menghadirkan individu-individu yang sepintas tampak sepele namun sesungguhnya kaya dan mengayakan; mengandung kesadaran sekaligus kritik atas konvensi cerita detektif. Dialog tokoh-tokohnya tampak berbobot, mengena, dengan alusi yang mengarah ke semesta dunia.” (Dewan Juri Sayembara Novel, Dewan Kesenian Jakarta 2016) 

Novel 24 Jam Bersama Gaspar
Novel 24 Jam Bersama Gaspar ©

Setelah sekian lama memasukkan 24 Jam Bersama Gaspar dalam wishlist, akhirnya buku ini berada di tangan saya dan selesai saya baca bulan Maret lalu. Mengingat saya menyukai Kamu (Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya), makanya saya memburu karya lain Sabda Armandio.

Novel 24 Jam Bersama Gaspar mengisahkan tentang perjalanan Gaspar dan teman-temannya dalam merencanakan sebuah perampokan toko emas (tidak benar-benar merencanakan sih). Setiap tokoh memiliki motivasi sendiri kenapa mereka mau merampok. Dan dalam perjalanan itu, ada cerita-cerita masa lampau yang dikuak.

Novel 24 Jam Bersama Gaspar ini menjadi salah satu naskah unggulan dalam kompetisi Dewan Kesenian Jakarta tahun 2016. Tidak heran, karena novel ini memiliki ‘penyajian’ unik dan cerita yang menyihir. Saya sebut menyihir karena saat saya membaca 24 Jam Bersama Gaspar, saya merasa ikut serta dalam perjalanan Gaspar. Saya dengan tenang mengikuti jalan-jalan yang dilalui Gaspar, walaupun dia sulit dimengerti. Entahlah, saya percaya (seperti halnya orang-orang yang mengikuti dia) akan ada jawaban di akhir cerita atau setidaknya kejelasan tentang apa yang sebenarnya sedang dia perjuangkan (goal si tokoh yang sesungguhnya). 

Tokoh-tokoh di dalam cerita memiliki karakter yang kuat dan suara yang berbeda. Karakter mereka digambarkan melalui Gaspar yang bernarasi ataupun dialog-dialog antar tokoh. Walaupun si Gaspar ini suka mengganti-ganti nama temannya, tapi saya tidak tersesat (syukurlah). Toh tokoh-tokohnya mudah dibedakan, karena memiliki karakter khasnya masing-masing. 

Saya suka bagaimana unsur-unsur dari cerita fiksi lainnya dimasukkan ke dalam cerita. Salah satunya cerita persembahan kepada Dewa Indra (Ya, saya mengetahui cerita itu karena nonton Krisna versi animasi.), atau para detektif dan pola ceritanya. Btw, cerita yang dibubuhkan atau diembel-embeli dengan tulisan “Sebuah Cerita Detektif”’, tidak lantas menjadikan cerita itu adalah cerita detektif. Tampaknya ini salah satu hal yang mau ditegaskan dalam 24 Jam Bersama Gaspar. Tidak semua hal bisa diartikan secara harafiah.

Ada pertentangan antara baik dan buruk yang diselipkan secara halus di dalam cerita. Baik dan buruk itu begitu fleksibel sehingga orang-orang bisa menggunakannya sesuai kebutuhan, tentunya dengan persepsi masing-masing. Dan bisa jadi dibalik-balik.

Overall, novel 24 Jam Bersama Gaspar ini memberikan 'after taste' yang susah dilupakan, terutama di akhir cerita yang mencengangkan (plot twist-nya bikin speechless); sedih sekaligus miris.

Ia hanya orang gila, sepertinya, yang mengulang-ngulang kegiatan sama dengan cara yang sama tetapi mengharapkan hasil berbeda.
...betapa liatnya kesepian, membungkus hari-harimu dengan kelembaman yang berpotensi membuatmu membusuk di ranjang.

Wednesday, March 17, 2021

Review Novel Fish in the Water (Lee Chan Hyuk)

March 17, 2021 2
Review Novel Fish in the Water (Lee Chan Hyuk)
Judul: Fish in the Water
Penulis: Lee Chan Hyuk
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2021
Jumlah halaman: 176

Blurb
Fish in the Water bertutur tentang kisah intens yang menjungkirbalikkan imajinasi, dengan komposisi kuat untuk menunjukkan pertentangan antara ambisi dan ketakutan, kebebasan dan kendali, kebahagiaan dari cinta dan luka dari kehilangan, serta arti kehidupan, terkadang dengan tenang dan terkadang dengan fantastis. Penulis berharap pembaca bisa dengan bebas menemukan arti dari novel ini tanpa interpretasi yang tergesa-gesa. Silakan menyelami novel ini, tarik napas dalam-dalam, lalu ajukan pertanyaan dan berikan jawaban tentang hidup.

Novel ini dipenuhi emosi yang terpatri halus dalam setiap kalimatnya, kesan jelas yang menenangkan hati dan menjernihkan pikiran, serta topik-topik filosofis yang membuat pembaca berpikir dengan saksama. Jika kalian adalah pembaca yang pernah menikmati dunia penulis melalui lirik-lirik lagunya yang singkat dan masih menginginkan lebih, semoga kalian menikmati dunia luas yang dibentangkannya dalam novel ini.
Novel Fish in the Water ©

Baca Fish in the Water sambil mendengarkan album Sailing-nya AKMU benar-benar bikin terhanyut. Saya merasa tenggelam ke dalam buku ini. Kisah Seon dalam menemukan jawaban atas berbagai pertanyaan dalam pikirannya sangat menarik untuk diikuti. Walaupun buku ini tidak tebal dan bisa diselesaikan dalam sekali duduk, tapi pengalaman setelah membaca buku ini masih melekat dan sebagai pembaca saya puas menelusuri setiap halamannya.

Ketika membaca Fish in the Water saya merasa tersihir, sama halnya saat Seon tersihir dengan sosok Haeya. Sesuai dengan blurb-nya, kalimat-kalimat dalam buku ini dirangkai dengan indah, tanpa mempersulit pembaca untuk memahaminya. Menurut saya banyak perumpamaan yang bisa diintepretasikan oleh pembaca sesuai versi mereka. Dan saya sangat merasa takjub dengan perumpamaan-perumpamaan itu. Kadang merasa relate dengan kisah yang dituturkan, walapun saya bukan musisi. Karena perasaan yang melingkupi tokoh itu bisa jadi pernah dialami banyak orang. Misalnya, perasaan tentang perpisahan, lalu pertentangan antara mimpi dan realita, serta keinginan untuk bebas.

Di dalam buku Fish in the Water ini juga pembaca akan diajak melihat perubahan cara pandang tokoh tentang kehidupan. Bagaimana hal-hal di sekitarnya berpengaruh terhadap dirinya. Serta bagaimana dia jatuh, bertahan, dan bangkit; katakanlah proses healing si tokoh.

Di setiap bagian terselip juga lirik-lirik yang ada di album Sailing. Bahkan judul bagian novelnya adalah judul-judul lagu di album Sailing. Saya suka dengan lirik-liriknya dan ada beberapa quote yang menurut saya menarik.

Nilai kebahagiaan berbeda bagi setiap orang. Bagi sebagian orang kebahagiaan adalah cinta, tetapi bagi orang lain kebahagiaan adalah kekayaan. Kita tidak mungkin mewujudkan kebahagiaan begitu banyak orang. (Fish in the Water, hl. 103)

Saya sempat berandai-andai, jika Fish in the Water dijadikan film pasti menarik. Terus Seon akan cocok diperankan oleh Im Siwan dan Haeya diperankan IU (untuk Yangi belum kepikiran). Pasti bakal nonton sih kalau benar dijadikan film.

Overall, novel Fish in the Water yang ditulis oleh salah satu personil AKMU ini sangat worth it untuk dibaca. Personally saya menemukan banyak insight baru.

Saturday, March 6, 2021

Review Drama Korea Strangers from Hell

March 06, 2021 2
Review Drama Korea Strangers from Hell
Sebenarnya saya sudah sering lihat Strangers from Hell nongol di antara drama Korea lainnya di Viu, tapi saya belum kepikiran buat nonton. Akhirnya, habis baca thread rekomendasi drama Korea dengan jumlah episode kurang dari 12, saya memutuskan nonton Strangers from Hell.

Strangers from Hell atau disebut juga The Hell is Other People, release tahun 2019. Drama psychological thriller ini diadaptasi dari webtoon. Para aktor yang memainkan peran utama adalah Im Siwan (sebagai Yoon Jong Woo) dan Lee Dong Wook (sebagai Seo Moon Jo).

Strangers from Hell memang cuma memiliki 10 episode, tapi setiap episode tidak henti memberikan ketegangan kepada penonton. Selain itu juga untuk menjaga konsistensi ketegangannya (dan kalau kelamaan episodenya yang nonton bisa ikutan tertekan, probably kan). Jujur saja waktu nonton dua episode awal, saya merasa tidak kuat. Rasanya stressful lihat kondisi kos Eden, mengingatkan saya sama film The Stanford  Prison Experiment. Kos Eden udah kayak penjara saja. Ruangan tertutup, sempit, minim cahaya dan sirkulasi udara. Siapa pun tidak bakal betah tinggal di sana, tapi Jong Woo seorang penulis terpaksa tinggal di sana karena masalah ekonomi. Ia belum memiliki penghasilan tetap, karena baru datang ke Seoul dan magang di sebuah perusahaan milik seniornya.

Jong Woo menempati kamar nomor 303 di kos Eden. Belum ada sehari Jong Woo tinggal di kos Eden saja, ia sudah tidak betah, tapi tidak memiliki pilihan selain bertahan. Bagaimana bisa betah, selain lingkungan  kos Eden yang kumuh dan lokasinya tidak strategis, tetangga-tetangga Jong Woo sangat mengintimidasi. Dimulai dari tetangga di kamar nomor 313 (Nam Bok) yang suka menatapnya dan membuat Jong Woo risih dengan kebiasaan tetangganya itu. Lalu, si kembar  Deuk Jong dan Deuk Soo yang suka cekikikan seakan menganggap Jong Woo lelucon. Kemudian, ada tetangga di kamar nomor 302 (Gi Hyeok) yang selalu bersikap dingin dan misterius. Dan, cuma tetangga di kamar nomor 310 yang ngobrol dengan Jong Woo. Ia sempat mengingatkan Jong Woo agar pindah. Ia pun juga berniat pindah dalam waktu dekat. Selain penghuni, ada tokoh ibu kos yang tidak kalah anehnya dan menyebalkan. Ia seolah bersikap baik dan netral, tapi sebenarnya ada yang ia sembunyikan.

Hari demi hari kejadian buruk dan aneh terus terjadi di sekitar Jong Woo. Semakin lama tinggal di kos Eden, Jong Woo merasa tertekan. Ia merasa tetangga-tetangganya aneh dan mungkin saja adalah psikopat. Terlebih ada dua orang penghuni kos yang tiba-tiba menghilang. Setiap kali jam kantor Jong Woo berakhir, ia akan menghabiskan waktu di luar dan pulang larut. Itu ia lakukan karena ia tidak ingin pulang. Ia ingin langsung tidur saja ketika sampai di kos Eden. Namun, setiap malam Jong Woo selalu mimpi buruk dan ia merasa tidak tenang.

Suatu hari muncul penghuni baru bernama Seo Moon Jo (penghuni kamar nomor 304) yang merupakan dokter gigi dan terlihat baik di depan banyak orang, tapi menyimpan banyak rahasia. Keberadaan Moon Jo justru membuat Jong Woo semakin takut dan tertekan. Daripada penghuni lainnya, Moon Jo lah yang paling menakutkan bagi Jong Woo. Selama ini Jong Woo mengira neraka adalah tempat (kos Eden), tapi ia semakin sadar bahwa orang-orang di sekitarnya bisa saja adalah neraka itu sendiri. Bukan hanya orang-orang di kos Eden, bahkan orang-orang di kantornya juga.

Nah, selama nonton Strangers from Hell ini penonton akan ditunjukkan bagaimana psikologis Jong Woo berubah dari hari ke hari, bagaimana hal-hal di sekelilingnya mengubah dirinya. Setelah mengalami banyak tekanan Jong Woo merasa bingung dengan dirinya sendiri. Ada pertentangan di dalam dirinya tentang pemikiran, perilaku dan sikap. Jong Woo yang tadinya bersikap tenang dan bisa menahan luapan emosinya, mulai menunjukkan sikap agresif. Menurut saya ngeri banget gimana Moon Jo memanipulasi Jong Woo. Gimana cara Moon Jo membangkitkan monster di dalam diri Jong Woo. Bisa dibilang tokoh Jong Woo mengalami perkembangan karakter, tapi jadi lebih buruk.

Saran saya kalau mau nonton Strangers from Hell jangan dalam kondisi lagi capek badan dan pikiran, karena menurut saya itu ngaruh banget sama pengalaman yang akan dirasakan waktu nonton Strangers from Hell. Selain itu ada banyak adegan sadis juga, terlebih memasuki episode-episode terakhir.

Last but not least, saya takjub banget sama akting para aktornya. Dong Wook bisa membawakan tokoh Moon Jo yang manipulatif, dingin, dan tidak punya empati. Tatapan dan senyuman Dong Wook itu berbicara banget. Ngeri. Sementara itu, Im Siwan juga bisa menunjukkan gimana perubahan psikologis tokoh Jong Woo, waktu ia tertekan dan takut. Tokoh lainnya adalah si kembar Deuk Jong/Deuk Soo yang diperankan oleh Park Jong Hwan. Salut saya sama Park Jong Hwan yang bisa menjadi dua tokoh dengan karakter berbeda. Deuk Jong itu digambarkan sebagai orang berkebutuhan khusus dan Deuk Soo tentu saja kebalikannya.

Btw, bakal kayak gimana ya kalau Strangers from Hell ada season 2-nya. Ending-nya potensi buat dibikin season 2 sih.

Monday, March 1, 2021

Review Novel Persona (Penerbit Gramedia)

March 01, 2021 0
Review Novel Persona (Penerbit Gramedia)
Judul: Persona
Penulis: Fakhrisina Amalia
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 248
Tahun terbit: 2016

Blurb
Namanya Altair, seperti salah satu bintang terang di rasi Aquila yang membentuk segitiga musim panas. Azura mengenalnya di sekolah sebagai murid baru blasteran Jepang yang kesulitan menyebut huruf K pada namanya sendirinya.

Azura merasa hidupnya yang berantakan perlahan membaik dengan kehadiran Altair. Keberadaan Altair lambat laun membuat perasaan Azura terhadap Kak Nara yang sudah lama dipendam pun luntur.

Namun, saat dia mulai jatuh cinta pada Altair, cowok itu justru menghilang tanpa kabar. Bukan hanya kehilangan Altair, Azura juga harus menghadapi kenyataan bahwa orangtuanya memiliki banyak rahasia, yang mulai terungkap satu demi satu. Dan pada saat itu, Kak Nara-lah tempat Azura berlindung.

Ketika Azura merasa kehidupannya mulai berjalan normal, Altair kembali lagi. Dan kali ini Azura dihadapkan pada kenyataan untuk memilih antara Altair atau Kak Nara.
Novel Persona oleh Fakhrisina Amalia (Gramedia Pustaka Utama)
Novel Persona ©

Persona menurut KKBI adalah orang atau pribadi (kata benda). Tapi bisa diartikan juga sebagai orang atau benda yang berperanan dalam pembicaraan. Arti lainnya adalah topeng, wajah, ciri khas seseorang, identik dengan pribadinya.

Mari membahas sedikit tentang tokoh-tokoh dalam novel Persona, sebelum membahas jalan ceritanya.  Tokoh protagonis di novel Persona adalah Azura, cewek penyendiri dan suka menutup diri. Azura memiliki latar belakang keluarga yang kurang harmonis. Itu yang banyak mempengaruhi masa-masa remajanya. Lalu, tokoh Altair yang tiba-tiba datang seakan memberi angin segar bagi Azura. Altair itu digambarkan sebagai seorang blasteran Jepang. Ia satu-satunya orang yang mau berteman dengan Azura. Seakan Altair sangat memahami Azura, bahkan tanpa Azura bersusah-susah bercerita, cowok itu akan selalu ada dan menenangkannya. Namun, ada sesuatu yang salah dengan Altair. Apa itu? Baca Personal deh.

Oya, sedikit informasi, novel Persona ini bisa dijadikan contoh novel yang antagonisnya adalah keadaan, bukan berupa tokoh. Jadi, antagonis itu tidak selalu berwujud manusia. Sesuatu keadaan yang menghalangi tokoh protagonis itu juga bisa disebut sebagai antagonis.

Pada awal bab novel Persona, pembaca langsung disuguhi suatu permasalahan yang dihadapi oleh tokoh protagonis (Azura). Pembaca diajak bertanya-tanya sebenarnya apa yang dialami oleh tokoh. Itu yang membuat saya terus membaca bab-bab berikutnya.

Cara penulis menunjukkan perubahan psikologis Azura itu smooth banget, tidak secara tiba-tiba berubah gitu saja. Ada faktor-faktor yang menyebabkan perubahan itu. Selain itu, walaupun alur cerita Persona maju mundur, tapi adegan ceritanya tidak patah dan bikin bingung. Dan memang ada bulan serta tahun di setiap bab sebagai patokan agar pembaca tidak tersesat.

Gaya bahasa Persona bisa dibilang campur-campur. Waktu tokoh Azura ngobrol dengan Altair, ia akan cenderung menggunakan gaya bahasa seperti novel terjemahan. Namun, kalau tokoh berbicara dengan tokoh Yara misalnya, gaya bahasanya akan cenderung santai. Personally, saya tidak mempermasalahkan gaya bahasa, selama tulisannya bisa dinikmati.

Sejak awal membaca judul novel ini, saya merasa tidak boleh serta merta memercayai apa yang tertulis di bab-bab awal. Dan memang bakal ada plot twist. Plot twist-nya itu bukannya bikin kaget sih, tapi bikin sedih; walaupun awalnya sudah sempat menduga. Namun, itu memang yang harus dilewati oleh tokoh untuk kembali menemukan dirinya dan melanjutkan hidup. Overall, kalau kalian membaca novel sekaligus ingin belajar gimana perubahan karakter tokoh secara psikologis, novel Persona ini recommended. Btw, ada  lagi satu novel Fakhrisina yang berjudul Represi, yang dari 'bau-bau' judulnya juga bakal berhubungan sama psikologis tokoh.

Di satu waktu kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan atau apa yang kita inginkan. Tapi kemudian di waktu berikutnya tiba-tiba kita sudah menemukan jawabannya.

Friday, February 19, 2021

Review Drama Korea Mr. Queen

February 19, 2021 0
Review Drama Korea Mr. Queen
Drama Korea Mr. Queen adalah salah satu drama yang saya tonton ketika masih on going, selain drama True Beauty (Tapi, True Beauty sampai sekarang belum selesai saya tonton, antusias saya menurun di pertengahan episode). Berbeda dengan Mr. Queen, saya selalu antusias menanti episode selanjutnya. Drama Korea Mr. Queen diadaptasi dari drama mandarin dengan judul Go Princess Go. Drama bergenre romance comedy ini berjumlah 20 episode dengan durasi rata-rata 1 jam. Saat ini Mr. Queen sudah tamat, tapi kabarnya akan ada spin off, entah kapan akan tayang.

Premis Mr. Queen

Mr. Queen menceritakan seorang Chef di Rumah Biru bernama Jang Bong Hwan (diperankan oleh Choi Jin Hyuk), yang difitnah oleh rekannya sehingga harus berurusan dengan polisi. Ketika Bong Hwan mencoba kabur dari polisi, ia justru terjatuh dari apartemennya dan tercebur ke dalam kolam renang di bawah apartemen. Di waktu dan ruang berbeda, seorang calon ratu bernama Kim So Yong melompat ke dalam danau kerajaan. Saat itulah jiwa mereka bertemu. Jiwa Bong Hwan pun masuk ke tubuh So Yong. Sementara itu tubuh Bong Hwan di dunia masa kini mengalami koma. Mendapati dirinya bangun dengan sosok yang berbeda, Bong Hwan mencoba untuk kembali, tapi usahanya gagal. Ia terpaksa harus hidup sebagai Ratu dan terseret ke dunia politik kerajaan yang penuh dengan intrik.

Menurut saya premis Mr. Queen ini menarik, terlepas dari adegan tercebur ke kolam (ataupun danau, sungai) agar tokoh bisa pindah ruang dan waktu, yang sudah beberapa kali ada di drama sageuk. Namun, Mr. Queen ini dikemas berbeda. Karakter Bong Hwan yang kocak dalam wujud ratu ini memberi warna tersendiri, membuat ceritanya berbeda dari drama sageuk umumnya. Meskipun drama sageuk tidak lepas dari dunia politik, tapi Mr. Queen ini tidak selalu bikin tegang kok. Ada momen-momen yang bikin ngakak, karena saking lucunya. 

Selama saya nonton Mr. Queen jalan ceritanya tidak bikin bosan, walaupun disisipi adegan tokoh pendukung lain yang sebenarnya tidak ngaruh ke plot. Tapi, saya pikir porsinya juga tidak berlebihan, jadi tidak masalah. Transisi antara adegan juga mulus, tidak terkesan patah.

Tokoh-tokoh Mr. Queen

Para aktor di Mr. Queen ini patut diacungi jempol. Saya sangat terkesan dengan peran Shin Hye Sun sebagai Ratu/Kim So Yong. Shin Hye Sun sangat menjiwai karakter Ratu yang dirasuki jiwa Bong Hwan yang genit dan slengekan. Sementara kalau ingat peran Shin Hye Sun di Stranger itu ya ampun bagaikan langit dan bumi. Ini menunjukkan kalau kemampuan akting Shin Hye Sun memang keren.

Akting Kim Jung Hyun sebagai Raja Cheoljong juga keren. Diceritakan bahwa Raja Cheoljong memiliki 'dua wajah'. Wajah pertama adalah yang dia tunjukkan ke orang umum, wajah lainnya adalah yang hanya ditunjukkan ke orang-orang yang dia percayai. Dua wajah itu sangat kontras berbeda dan Kim Jung Hyun menunjukkan perubahan itu melalui ekspresi, tatapan, gerak-gerik dengan sangat baik.

Selain dua tokoh utama yang mencuri perhatian, beberapa tokoh pendukung juga tidak kalah menarik perhatian, misalnya tokoh Dayang Choi dan Hong Yeon. Mereka adalah dayang yang setia ada di sisi Ratu. Dayang Choi adalah dayang paling cerewet yang selalu menasihati Ratu agar bersikap lebih sopan dan jangan melakukan keanehan-kanehan. Ekspresi Dayang Choi hampir selalu datar, tapi sebenarnya dia menyimpan kekesalan yang akan dia luapkan dengan berteriak-teriak di tempat sepi (Asli adegan ini bikin ngakak).

Sementara itu, Hong Yeon adalah dayang muda yang sejak kecil sudah tinggal bersama Ratu, sehingga tahu bagaimana Ratu sejak dulu. Hong Yeon adalah dayang pertama yang dilihat Bong Hwan saat dia terbangun dalam wujud Ratu. Hong Yeon sempat terlibat cinta segitiga antara Kim Hwan dan Byeolgam Hong (Tapi bromance-nya Kim Hwan sama Byeolgam Hong itu kuat banget). Saya berharap banget spin-off Mr. Queen akan menceritakan kisah Hong Yeon.

Tokoh pendukung lain, yang ada di sisi Raja adalah Pangeran Yeongpyeong, Byeolgam Hong, dan Selir Jo Hwa Jin. Mereka adalah orang-orang kepercayaan Raja yang mengetahui wajah asli raja dan tujuannya. Mereka membantu dan mendukung Raja untuk mewujudkan impian Raja.

Selanjutnya ngomongin tokoh antagonis yang perannya untuk menghalangi tujuan tokoh utama terwujud. Mereka adalah beberapa orang dari klan Andong Kim dan klan Poongyang Jo yang korupsi dan haus akan kekuasaan. Klan Andong Kim digerakan oleh Kim Jwa Geun yang juga adik dari Ibu Suri Agung. Dia sekaligus berperan dalam mempertahankan posisi Ibu Suri Agung di dunia politik. Kim Jwa Geun memiliki putra angkat bernama Kim Byeong In. Sejak kecil Byeong In dan So Yong tumbuh bersama. Sejak itu juga dia menyukai So Yong, tapi dia memendam perasaannya itu. Awalnya saya tidak terkesan sih sama tokoh Byeong In, tapi memasuki episode 19 entah kenapa saya sedih lihat nasib Byeong In (ya gitu nasibnya second lead di drama sageuk).

Overall, drama Mr. Queen memuaskan. Ending-nya juga cukup adil (mungkin tidak untuk Byeong In) dan tidak dipaksakan. Tokoh-tokohnya memiliki karakter yang kuat. Karakter tokoh Bong Hwan memberikan angin segar, sehingga Mr. Queen tidak tampak seperti drama sageuk umumnya. (Seluruh episodenya bisa kalian tonton di Viu ya.)

Monday, February 15, 2021

Review Drama Korea At Eighteen (Moment of Eighteen)

February 15, 2021 0
Review Drama Korea At Eighteen (Moment of Eighteen)
Drama korea At Eighteen atau Moment of Eighteen release tahun 2019. At Eighteen memiliki jumlah 16 episode dengan durasi rata-rata 1 jam. Drama ini diperankan oleh Ong Seong Wu (sebagai Choi Jun Woo), Kim Hyang Gi (sebagai Yoo Soo Bin), Shin Seung Ho (Ma Hwi Young) dan Kang Ki Young (sebagai Guru Oh).

At Eighteen berkisah tentang seorang murid bernama Choi Jun Woo yang dipaksa pindah, karena kasus kekerasan dan pencurian di sekolah. Lalu, Jun Woo bersekolah di SMA Cheonbong. Namun, kehidupan sekolahnya tidak berjalan lancar. Jun Woo memiliki masalah dengan ketua kelas, Ma Hwi Young. Tadinya ia sempat ingin kabur seperti yang selama ini ia lakukan, tapi berkat teman sekelasnya bernama Yoo Soo Bin, ia mengurungkan niat untuk kabur. Terlebih ada Guru Oh sangat percaya kepadanya dan terus membantunya saat dalam kesulitan. Bahkan Guru Oh mendorongnya agar lebih aktif di sekolah, salah satunya dengan menjadi wakil ketua kelas.

Sejujurnya tertarik nonton At Eighteen karena suka sama aktingnya Kim Hyang Gi, sejak saya nonton Along with the Gods. Dan tentu saja, akting Kim Hyang Gi di At Eighteen sama sekali tidak mengecewakan. Saya sangat suka dengan chemistry para tokohnya, termasuk chemistry tokoh protagonis dengan antagonis.

At Eighteen ini manis banget, tapi secara bersamaan juga sedih. Sesuai dengan judulnya, drama At Eighteen menggambarkan momen di masa remaja yang mulai memiliki konflik serius dengan teman, bahkan orang tua; mulai jatuh cinta; dan pencarian jati diri. Semua aspek itu melebur dalam jalan cerita yang smooth, tidak melebih-lebihkan. Khas remaja banget.

Selama menonton At Eighteen, saya bisa senyum-senyum sendiri saking gemesnya sama Jun Woo dan Soo Bin. Tapi, di waktu lain merasa sedih, karena hubungan mereka yang penuh rintangan. Dalam perjalanan cerita, saya melihat bahwa hubungan mereka ini tidak hanya soal cinta-cintaan anak remaja. Hubungan mereka lebih dari itu. Mereka saling menguatkan, mendukung, dan membuat nyaman satu sama lain. Bahkan, mereka tidak segan untuk meminta maaf saat melakukan kesalahan. Cinta mereka ini masih pure (eh malahan orang dewasa di sekitar mereka mengontaminasi dengan asumsi negatif). Selain itu saya suka banget dengan tatapan mata mereka. Tatapan mata mereka itu saling berbicara.

Selain chemistry Jun Woo dan Soo Bin yang kuat, tokoh lain seperti Song Hee, ibu Soo Bin, (diperankan Kim Sun Young) juga memiliki karakter kuat. Saya terkesan dengan akting Kim Sun Young. Ia berhasil membawakan peran seorang wanita karir sekaligus seorang ibu yang tangguh, keras kepala, dan mandiri. Tapi, di sisi lain Song Hee memiliki banyak kekhawatiran jika sudah menyangkut putrinya. Begitu pula dengan ibu Jun Woo, Yeon Woo, yang juga digambarkan sebagai seorang ibu tangguh yang membesarkan putranya sendiri dengan segala keterbatasan. Yeon Woo begitu mengkhawatirkan kehidupan sekolah Jun Woo, terlebih setelah Jun Woo dipaksa pindah sekolah.

Tokoh menarik lainnya, tentu saja Guru Oh. Guru Oh adalah sosok guru yang peduli terhadap muridnya. Bahkan saat Hwi Young melakukan kesalahan, Guru Oh tidak berpaling darinya ataupun melakukan penghakiman. Ia tetap mendampingi hingga akhir.

Sementara itu, tokoh Hwi Young digambarkan memiliki karakter yang sombong, suka mengatur, dan mempengaruhi orang lain agar melakukan segala hal sesuai keinginannya (bisa dibilang manipulatif lah). Hwi Young ini selalu dijadikan panutan oleh murid-murid lain, karena ia memiliki nilai tertinggi dan aktif di sekolah. Namun, ada satu murid yang bisa melampaui Hwi Young dalam pelajaran matematika, yaitu Sang Hoon. Hwi Young dan Sang Hoon menjadi rival tidak hanya di sekolah, tapi juga di tempat kursus. Perasaan iri terus menguasai Hwi Young, sehingga ia melakukan kesalahan fatal yang berbuntut panjang. Namun, apa yang dialami Hwi Young tidak terlepas dari peran orang tuanya yang selalu menuntut agar Hwi Young mendapat nilai sempurna. Bahkan, mereka tidak segan-segan bermain kotor.

Sebenarnya Hwi Young ini sadar tidak ya, kalau menjadikan Jun Woo sebagai musuhnya itu serem. Secara Jun Woo ini tidak akan membalas atau menyerang secara terang-terangan, (kecuali saat teman semasa kecilnya meninggal). Ia lebih memilih bermain kalem dan membiarkan musuhnya merasa bersalah. Jun Woo juga tidak gegabah dalam bertindak. Daripada balas dendam, ia lebih memilih untuk membuktikan dirinya tidak bersalah atas tuduhan yang ia terima di sekolah. Apalagi ucapan dan tindakannya itu selalu on point dan bikin musuhnya cuma terdiam.

Di sisi lain sikap Jun Woo yang tampak cuek dan pendiam, sebenarnya ia memiliki kepedulian yang tinggi. Contohnya saat Hwi Young menghilang dan Ki Tae sangat mencemaskannya, Jun Woo ikut membantu Ki Tae mencari Hwi Young, walaupun ia masih benci sama Hwi Young. Lalu, saat rumor tentang Oh Je tersebar di sekolah, Jun Woo tetap ada di samping Oh Je sebagai sahabat.

Overall, At Eighteen memiliki cerita yang menyentuh dan manis banget (Saya jadi ingin balik ke masa sekolah dulu). Karakter para tokoh dan hubungan antara tokoh sangat kuat. Para aktor bisa meniupkan nyawa ke tokoh yang mereka perankan, sehingga tokoh-tokohnya begitu hidup. Semua permasalahan diselesaikan dengan masuk akal. Dan sedikit spoiler, ending At Eighteen ini menurut saya termasuk open ending. Tapi, ya memang semestinya begitu sih, karena kalau happy ending rasanya terlalu dipaksakan, sedangkan kalau sad ending kok kejam banget.

Last but not least, soundtrack yang paling saya sukai dari At Eighteen berjudul Moments yang dinyanyikan oleh Christopher Nissen. Lagunya lembut dan liriknya menyentuh, cocok dengan jalan cerita At Eighteen.

Saturday, February 6, 2021

Cara Menulis Premis Cerita Fiksi

February 06, 2021 0
Cara Menulis Premis Cerita Fiksi
Sebelum mengikuti kelas skenario, saya tidak pernah menulis premis untuk setiap naskah cerita yang salah tulis. Semua cuma berangkat dari ide kasar. Bahkan tidak pernah memetakan dan bikin outline cerita. Tapi, buat saya yang suka ngada-ngada kalau bikin cerita, premis dan outline itu jadi penting, karena bisa digunakan sebagai patokan sekaligus pagar. Selain itu, belakangan ini banyak lomba menulis novel yang mengharuskan mencantumkan premis.

Menurut KBBI premis adalah apa yang dianggap benar sebagai landasan kesimpulan; dasar pemikiran; alasan, asumsi, dan bisa disebut sebagai kalimat atau proposisi yang dijadikan dasar penarikan kesimpulan di dalam logika. Kalau sederhananya menurut saya, premis itu bentuk singkat yang memuat garis besar dari cerita yang kita tulis (lebih singkat dari sinopsis).

Menulis premis ini susah menurut saya, karena kita harus bisa menulis satu kalimat yang menggambarkan keseluruhan cerita. Tapi kalimat itu harus menarik dan mampu membuat editor tertarik dengan cerita yang kita tulis.

Sebenarnya ada banyak versi cara menulis premis. Tapi saya akan membagikan cara menulis yang biasa saya lakukan dan cara ini saya dapatkan dari kelas-kelas menulis yang pernah saya ikuti. Pada dasarnya, premis berisi tokoh yang memiliki tujuan, tapi terhalang oleh sesuatu, lalu tokoh melakukan tindakan agar menemukan penyelesaian masalah.

Contoh:
  1. Nia (tokoh) sangat ingin memenangkan kompetisi menyanyi (tujuan), tapi rivalnya berbuat curang dan memfitnah Nia (halangan), lalu Nia berusaha mengungkapkan kebenaran (tindakan) agar dia bisa kembali berkompetisi dan menang (penyelesaian).
  2. Sekelompok hewan ternak (tokoh) sangat menginginkan kesetaraan dan kebebasan (tujuan), tapi pemilik peternakan amat berkuasa dan jahat (halangan), lalu mereka berusaha mengusir pemilik peternakan (tindakan), agar mereka bisa mendapat kehidupan yang setara dan bebas (penyelesaian).

Perlu diingat, tujuan tokoh mesti jelas dan jangan terlalu general. Dulu saya pernah menulis tujuan yang terlalu abstrak, misalnya: "ingin hidup bahagia", "ingin kehidupannya lebih baik", "ingin memperbaiki nasib". Lalu, halangan tokoh bisa bermacam-macam, tidak cuma dalam bentuk tokoh antagonis, tapi bisa suatu keadaan yang menghalangi. Dan, resolusi atau penyelesaian itu tidak sama dengan tokoh berhasil mencapai tujuan. Misalnya, resolusi tokoh di contoh premis 1 adalah bisa kembali berkompetisi dan menang. Nah, bisa saja nanti di cerita dituliskan ternyata Nia bisa berkompetisi kembali, tapi dia tetap tidak menang.

Kurang lebih begitu cara menulis premis. Yang terpenting setelah mengetahui teorinya adalah rajin berlatih menulis premis. Bisa juga coba membuat premis dari novel yang sudah terbit.

Comment